
"Bram, sampai kapan kamu mau sembunyi di Bandung?" tanya Ardi pada putra sulungnya dalam sambungan telepon suatu sore.
"Bram tidak sembunyi kok, Pa, tetapi Niken belum mau diajak pulang ke Jakarta," sahut Bram.
"Besok ada meeting dengan klien penting dari perusahaan suplayer, tolong kamu gantikan Papa meeting. Papa harus menemani Mama ke Pekalongan mungkin sampai satu minggu. Adik kamu mau melahirkan di sana," tutur Ardi.
"Tania mau melahirkan, Pa? In sya Allah Bram akan gantikan Papa," sahut Bram menyanggupi.
"Sekalian bujuk Niken supaya mau kamu ajak kembali menempati rumah kalian, kalau tidak ditinggali lama-lama bisa ditinggali mahluk lain itu rumah, sayangkan? Sementara banyak orang miskin yang membutuhkan tempat tinggal, kamu malah membiarkan rumah kamu ditempati mahluk lain," pesan Ardi.
"Siap, Pa!" sahut Bram.
"Ya sudah, Papa tutup teleponnya. Mama sudah menunggu. Assalamu'alaikum," Ardi mengakhiri panggilan.
"Wa'alaikumussalam," jawab Bram.
Bram kini mengalihkan pandangannya kepada Niken yang sedang asik menggambar. "Kamu dengar kan, Papa ngomong apa barusan?" tanyanya.
"Dengar, kan ponsel Mas lodspeaker," jawab Niken tanpa mengalihkan pandangan.
"Beneran kamu enggak mau ikut Mas ke Jakarta? Mas mungkin ke sini lagi satu atau dua bulan lagi," Bram masih mencoba membujuk Niken.
Niken menghentikan kegiatannya dan memandang ke arah suaminya. "Kalau Niken kangen gimana? Debay kan pengen Deket papanya."
"Makanya, ayo ikut Mas pulang!"
"Ya udah, Niken juga sudah kangen banget sama Jakarta, tetapi Mas Bram nyetir sendiri ya!" harapnya.
"Kalau naik pesawat kamu enggak mau?" tanya Bram.
"Mau aja, tetapi mobil Niken di sini kan nganggur enggak ada yang pakai. Tadi Mas bilang ke sininya sebulan atau dua bulan lagi," sahut Niken.
"Kok enggak ada yang pakai? Kamu bilang Feri mau ke sini, nanti biar dipakai Feri saja."
Niken mendesah pelan, "Itu mobil kesayangan Niken, Mas." ucap Niken tidak rela mobilnya diserahkan kepada Feri.
"Nanti Mas belikan yang lebih bagus lagi dech," bujuk Bram.
"Serius, Mas? janji lho!" harap Niken.
"Serius, Sayang. Kamu lupa kalau suamimu ini Presdir ARD's Corp?" tanya Bram.
"Aku malah baru ingat kalau aku punya suami sih," ledek Niken tersenyum.
"Mulai dech," cebik Bram yang malah dibalas tawa oleh Niken. Bram membungkam tawa istrinya tersebut dengan menciumnya. "Berani tertawa lagi aku cium kamu," ancamnya.
"Ih, takut," sahut Niken pura-pura bergidik dengan tawa makin kencang yang langsung dibungkam oleh Bram kembali. Niken mendorong tubuh Bram karena tidak bisa bernafas. "Mas, ini rancangannya hampir selesai. Sudah ditunggu untuk segera diproses pengerjaannya." gerutunya.
"Mas enggak peduli, kamu sendiri yang udah bangunin macan tidur," sanggah Bram.
"Ih, kok aku. Mas suka fitnah ei. Aku aja dari tadi enggak ngapa-ngapain," sangkal Niken.
"Kamu enggak pakai kerudung, rambut dikuncir asal gini sudah mancing hasrat Mas tahu," ucap Bram yang kembali memberikan cupangan di leher Niken.
__ADS_1
"Jangan di leher ih, nanti dilihat anak-anak kan malu," tolak Niken.
"Dilihat dari mana? Orang kamu keluar kamar pakai kerudung kok," sergah Bram tanpa menghentikan aksinya.
"Mas bilang kita mau pulang ke Jakarta, sekarang saja siap-siap," masih berusaha menolak.
"Sudah terlambat, Sayang. Punya Mas udah tegak, kita pulang besok pagi saja. Atau kamu mau jadi istri durhaka karena menolak keinginan suami," tutur Bram.
Perkataan Bram membuat mulut Niken bungkam seketika. Tidak dapat dipungkiri kalau ia juga menikmati sentuhan Bram walau mulut berkata tidak. Niken semakin terlena dalam buaian kasih sayang yang Bram berikan. Setiap hari setiap waktu yang mereka lakukan hanyalah mereguk kasih sayang yang sempat tertunda karena keangkuhan Bram. Setelah mereka bersama, kini mereka dendam dengan waktu yang terbuang sia-sia. Pagi, siang, sore, mereka dapat melakukan kapan saja semau mereka.
Niken tidak menyangka, Bram yang dulu bersikap dingin ternyata berubah menjadi pribadi yang hangat, apalagi dalam urusan ranjang. Ditambah Niken yang mungkin karena hormon kehamilannya semakin bertambah gairahnya dalam bercinta. Sehingga dapat mengimbangi suaminya.
🔥🔥🔥🔥🔥
Malam menjelang menggantikan senja. Segerombolan itik nampak berbaris rapi memasuki kandang. Bintang mulai menyapa dengan mengedipkan pandangan. Sedangkan sang rembulan belum menampakkan wajahnya yang memesona.
Nadia baru saja pulang dari sholat berjamaah di masjid yang dekat dengan rumahnya. Eh maksudku rumah mamaknya. Sampai di dalam kamar ia mendapati ponselnya berdering. Belum sempat ia melepaskan mukenanya, Ia hanya melongok untuk memastikan siapa yang menelepon saat waktu shalat begini? Ia belum sempat melepas mukenanya. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Nadia mengambil ponselnya mencoba melihat lebih dekat.
Setelah sadar bahwa matanya belum rabun, seketika Nadia melempar ponselnya ke atas kasur, mau melempar ke lantai sayang, tidak punya uang untuk beli lagi. Kontak yang biasanya hanya ia gunakan untuk mengirim pesan meminta izin kalau ia tidak masuk kuliah supaya tidak mendapat nilai C, sekarang meneleponnya.
Nadia menepuk-nepuk pipinya sendiri, berharap ini semua hanya mimpi. "Ah, sakit," pekiknya. Ia melepas mukenanya sambil membayangkan wajah Pak Rasya. Melipatnya dengan rapi dan menyimpan di atas meja. Ketika ia sudah memantapkan hati untuk menjawab panggilan tersebut, suara dan getar ponselnya telah berhenti. Ia merasa kecewa.
"Apa aku telepon balik saja ya? Tapi aku malu," gumamnya ragu.
"Nad, ayo makan nanti tidak kebagian lauknya!" teriak Mimik dari luar kamar.
"Iya sebentar, Mik," sahut Nadia.
Ketika Nadia hendak melangkah ke luar kamar, tiba-tiba ponselnya berdering kembali. Nadia pun mengurungkan langkahnya, kembali meraih ponsel yang masih tergeletak di kasur kapuknya. Dengan tangan gemetar dan jantung berdebar ia menggeser ikon berwarna hijau di layar ponsel tersebut.
"Nanad, kenapa lama sekali angkat teleponnya?" cecar Rasya.
"Nanad? Sok akrab sekali panggilannya, biasanya juga Asa," batin Nadia.
"Nanad? Kenapa diam?" seru Rasya.
"Eh, maaf. Ini beneran Pak Rasya?" bukannya menjawab Nadia malah balik bertanya.
"Iya, Nanad. Saya sudah di depan kantor kecamatan Losarang Indramayu, tolong kamu share loc, biar saya mudah mencari alamat rumah kamu," tutur Rasya.
"Apa?" pekik Nadia tidak percaya.
"Apa perlu saya ulangi? Saya sudah ... ," Rasya hendak kembali mengulang kalimatnya.
"Eh tidak usah, Pak. Iya-iya saya share loc sekarang," potong Nadia.
"Cepat ya, saya tutup teleponnya, Assalamu'alaikum," pamit Rasya.
"Wa'alaikumussalam, Pak," sahut Nadia.
Nadia masih belum percaya sepenuhnya jika yang menelepon barusan adalah Rasya. Ia masih berdiskusi dengan perasaannya sendiri sehingga ia lupa kalau ia harus segera share loc. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Ternyata Rasya lagi yang masih menunggu share loc dari Nadia.
"Ah iya, aku lupa kalau Pak Rasya minta share loc," gumam Nadia sambil menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
Nadia pun membuka pesan WhatsApp dari Rasya yang ternyata banyak chat "ping" berkali-kali dan langsung mengirim lokasi terkini.
"A'ang Nadia! Kenapa lama sekali? Sudah ditunggu Mamak sama Mimik!" kali ini Nindya yang teriak dari luar kamar.
"Sebentar, Dik," sahut Nadia.
"Sebentar tapi dari tadi," cebik Nindya.
Nadia lalu membuka pintu kamar dan melangkah keluar menuju ruang makan. Di sana seluruh anggota keluarga sudah berkumpul kecuali kakaknya Nadia yang masih kuliah di Bandung.
"Mamak, Mimik, papanya Tiara barusan telepon. Dia bilang sedang menuju ke sini, katanya sudah sampai di depan kantor kecamatan," tutur Nadia pada mamak dan mimiknya.
"Oo, ya sudah makan malamnya kita tunda sampai papanya Tiara tiba," tutur Mamak.
"Tapi Nida sudah lapar sekali, Mamak," potong Nida, adik Nadia yang paling bungsu.
"Nida, Dito sama A'ang Nindy boleh makan duluan, tetapi jangan dihabiskan ya lauknya," pesan Mimik.
Mimik kembali ke dapur, membuka lemari dapur barangkali masih ada persediaan telur yang bisa didadar untuk tambahan lauk. Untung saja tadi sore Nindya menanak nasi banyak. Tinggal nambah lauk saja.
Tiba-tiba Nadia menghampiri Mimiknya. "Mik, tadi sore Ang Waqi'ah posting jualan masakan di status WAnya, barangkali masih ada," tutur Nadia.
"Masakan apa saja?" tanya mimik sambil membuka dan menutup pintu lemari.
"Banyak, Mik. Nih ada gombyang manyung, cecek, pedesan entog juga ada," tutur Nadia sambil memperlihatkan layar ponselnya.
Mimik menutup pintu lemari. "Ya sudah, mimik saja yang ke sana, kamu tunggu Pak Rasya datang," pesan Mimik.
Mimik melangkah menuju ke kamarnya untuk mengambil uang, sementara Nadia menuju ke depan rumah untuk menunggu kedatangan Pak Rasya. Jantung Nadia semakin berdebar kencang.
Hingga hampir satu jam berlalu, tetapi Rasya belum juga menampakkan batang hidungnya. Nadia tidak enak dengan kedua orangtuanya. Takut disangka kalau ia hanya berhalusinasi. Padahal ia sampai melewatkan untuk sholat isya' berjamaah di masjid, takut tidak mendapati saat Pak Rasya tiba.
Setelah Mimik dan mamaknya pulang dari melaksanakan sholat isya' berjamaah di masjid, Nadia pamit kepada kedua orangtuanya untuk melaksanakan sholat isya' di dalam kamar saja. Agar saat Pak Rasya tiba Mamak dan Mimik bisa menyambut kedatangannya.
Sementara itu, orang yang tengah ditunggu kedatangannya oleh Nadia dan keluarganya ternyata sedang menunggu pesanan martabak manis dan martabak telur untuk buah tangan setelah sebelumnya melaksanakan sholat isya' terlebih dahulu di masjid yang mereka lalui.
Sebenarnya mereka sudah hampir sampai di tempat yang dituju, tetapi saat mendengar suara azan isya', Rasya berfikir untuk mampir terlebih dahulu di masjid yang mereka lewati untuk melaksanakan sholat isya' sembari menenangkan hati yang gundah dan debaran jantungnya yang tiba-tiba terasa kencang.
"Apa sudah siap, Mas Rasya? Kita langsung ke rumah Non Nadia sekarang?" tanya Pak Supri usai mereka sholat isya'.
"Sebentar, Pak. Sepertinya di depan ada penjual martabak, kita beli untuk bawaan ya, Pak," cetus Rasya.
"Lho, tadi bukannya pas kita mampir di minimarket, Mas Rasya sudah belanja banyak sekali katanya untuk barang bawaan," sergah Pak Supri.
"Masih kurang, Pak," ucap Rasya gugup. Pak Supri hanya tersenyum menanggapinya.
"Mas Rasya ini seperti baru pertama kali jatuh cinta saja, padahal sudah pernah menikah," timpal Supri. "Ayolah kita jalan kaki saja ke tempat penjual martabaknya. Mobilnya biar terparkir di sini," ajak Supri.
.
.
.
__ADS_1
To be continued
Tararengkiuuh 😘😘😘