
π¦π¦π¦π¦π¦
"Anak?" tanya Bram dan Rayan bersamaan.
"Aku sudah menduga waktu itu kamu muntah-muntah karena hamil, Tan. Bukan karena aku putar-putarin tubuh kamu," sergah Rayan.
Tania hanya mencebik, "Mama sih, pakai bilang-bilang. Tania kan malu, Ma," gerutunya menyembunyikan wajahnya di ketiak sang Mama.
Dewi tersenyum, "Kenapa mesti malu, Sayang? Kamu kan udah punya suami," sanggahnya.
"Itu kunyuk-kunyuk di depan pasti ngejekin Tania," jawab Tania mencebik. Dewi hanya tertawa mendengar putrinya menyebut Bram dan Rayan sebagai kunyuk.
"Nggak sopan kamu, mereka itu lebih tua dari kamu, Sayang," hardik Dewi.
Bayi yang dikandung Tania pastilah anakku, aku harus mendapatkan mereka, batin Bram.
Rayan mengemudikan mobil menuju rumah Erika untuk mengantar Niken dan Bram karena mobil mereka ada di sana. Sampai di jalan gang masuk menuju rumah Erika sudah tidak begitu ramai seperti tadi pagi, para tamu undangan sudah banyak yang pulang sehingga Rayan bisa membawa mobil yang dikemudikannya masuk sampai di depan rumah. Bram dan Niken keluar dari mobil, Taniapun juga turut ikut ke luar dari mobil.
"Tania, tidak usah ikut turun, Sayang! kita langsung pulang," cegah Dewi.
"Tania mau ambil sepatu Tania, Ma," sahut Tania mengurungkan niatnya.
"Ya udah sana ambil, ini pakai sandal jepit, nanti kaki kamu sakit lagi," titah Dewi.
Tania menuruti apa yang diperintahkan oleh sang Mama, ia memakai sandal jepit pemberian sang Mama, kemudian melangkah ke luar dari mobil menuju ke rumah Erika. Tania termenung untuk beberapa saat di depan teras hingga seseorang mengagetkannya.
"Tania, sedang apa kamu kok melamun sendirian di pojokan? Gimana keadaan kamu?" tanya Bu Retno yang keluar dari dalam hendak pulang.
"Tania baik-baik saja kok, Bu. Tania lagi mencari sepatu Tania, tadi Tania taruh di sini tapi kok sekarang tidak ada, ya?" jawab Tania.
"Oh, tadi kayaknya ada yang menyimpan. Ayo ibu coba bantu cari, di dalam ada rak sepatu," Bu Retno menawarkan diri untuk mencarikan sepatu milik Tania.
Mereka masuk ke dalam rumah lewat pintu samping, di samping rumah Erika ada carport, di sana menempel di dinding sebuah rak sepatu. Tania mencari sepatu miliknya di rak sepatu tersebut. Tania senang menemukan sepatu miliknya bertengger di antara sepatu dan sandal milik keluarga Erika.
"Nah, ini punya Tania, Bu. Makasih, Tania udah dibantu mencari."
Tania mengucapkan sepatunya sambil mengenakan sepatunya.
"Alhamdulillah, ketemu. Ayo kita pulang," ucap Bu Retno.
"Ibu pulang naik apa? Bapak mana? Ibu pulang bareng Tania saja ya! Nanti siang minta antar Mas Rayan buat ke hotel tempat Mas Rifki resepsi," ajak Tania tanpa menunggu jawaban dari yang ditanya.
Mereka keluar dari tempat tersebut, Bu Retno menyeimbangi langkah Tania, menurut saja kemauan gadis yang sudah dianggap sebagai anaknya.
"Itu Bapak, tadi kami numpang mobil punya tetangga. Mobil itu sekarang sudah dibawa pulang oleh pemiliknya. Tadi rencananya kami mau pulang naik angkot, atau ojek online, tapi ibu nggak punya aplikasinya," ucap Bu Retno menunjuk keberadaan Pak Rasyid yang sedang duduk berbincang-bincang dengan tamu lainnya.
"Hahaha, Ibu ini ada-ada saja. Terus gimana cara pesannya kalau enggak ada aplikasi?" seloroh Tania.
"Ibu juga bingung, untung kamu kemari lagi. Gimana keadaan kamu? Kok tadi tiba-tiba pingsan?" tanya Bu Retno.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kok, Bu. Tania baik-baik saja. Tania hamil, Bu," jawab Tania.
Bu Retno tersenyum senang, dia reflek memeluk Tania. "Selamat ya, Nak. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu," ucapnya.
"Terimakasih, Bu. Tapi Tania enggak tahu harus senang atau sedih," ucap Tania bimbang.
Bu Retno memahami perasaan Tania, ia menggenggam telapak tangan Tania untuk memberinya semangat. "Tidak usah sedih, Nak. Anak itu anugerah dari Allah, siapapun orang tuanya itu bukan kesalahannya, dia tidak berdosa. Ibu mau menemui bapak dulu ya, kamu tunggu di mobil," ucap Bu Retno, Tania mengangguk.
Bu Retno menghampiri Pak Rasyid, sementara Tania terus berjalan menghampiri mobilnya. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Dewi duduk.
"Sebentar, Mas Rayan. Ibu sama Bapak mau ikut pulang bareng kita," ungkap Tania.
Rayan mengernyitkan keningnya, "Ibu sama Bapak?" tanyanya dalam kebingungan.
"Sayang, Mas Rayan kan enggak tahu yang dimaksud kamu bapak sama ibu kamu itu siapa," tutur Dewi.
"Eh, maksudku Bu Retno sama Pak Rasyid, Mas. Ibunya Mas Rifki. Mereka yang selama ini menjadi orang tuaku dari pertama aku di Jakarta sebelum bertemu dengan Mama." Tania menjelaskan kepada Rayan. Kini Rayan menjadi paham kenapa Tania begitu dekat dengan keluarga Rifki.
Pak Rasyid masuk ke dalam mobil, duduk di samping Rayan. Sementara Bu Retno duduk di samping Tania.
"Pakai sabuk pengamannya, Pak," pinta Rayan. Pak Rasyid segera melakukan apa yang diminta oleh Rayan. Mobil melaju pelan.
"Tania," panggil Rayan.
Tania memandang ke depan, "Ya, ada apa, Mas?" tanyanya.
"Eh, nanti saja deh di rumah kamu," ucapnya mengoreksi.
Pulang dari rumah Erika mereka mampir di minimarket untuk membeli susu. Setelah itu mengantarkan Pak Rasyid dan Bu Retno di depan gang rumahnya, selanjutnya pulang ke rumah.
__ADS_1
*******
"Mas Rayan mau ngomong apa tadi?" tanya Tania yang belum keluar dari mobil.
"Tania, ajak Mas Rayan masuk rumah dulu gih," suruh Dewi.
"Baiklah, ayo ke taman belakang rumah saja, Mas Rayan," ajak Tania.
Rayan mengikuti langkah Tania menuju ke taman belakang rumah. Mereka duduk di gazebo.
"Tania, aku mau resign jadi sopir kamu, maaf. Perusahaan papaku terbengkalai, Tan," tutur Rayan mengungkapkan maksudnya.
"Tidak boleh!" tukas Tania.
"Tan, aku mohon. Perusahaan papaku sedang butuh perhatian lebih dariku, sementara kakakku belum mau mengurus perusahaan secara total," ucap Rayan memohon.
"Pokoknya tidak boleh! Kalau Mas Rayan tetap memaksa, Tania enggak akan kasih restu buat Mas untuk mendekati Prima," Tukas Tania lagi.
Rayan menyugar rambutnya kasar,
"Tan, kamu bisa cari sopir yang lain, banyak dari mereka yang membutuhkan pekerjaan ini." Rayan mencoba menerangkan.
"Aku enggak mau beradaptasi lagi dengan sopir yang baru, Mas. Pokoknya kamu harus tetap jadi sopir aku sampai suamiku kembali," tukas Tania kekeuh tidak bisa dibantah. "Masalah di kantor Mas Rayan, aku akan bantu apa yang aku bisa, kita kan kerjasama saling menguntungkan," imbuhnya.
"Terserah kamu dech, Tan. Aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi," ucap Rayan pasrah meninggalkan Tania sendirian.
"Jangan lupa nanti jam satu jemput aku untuk menghadiri resepsi pernikahan Mas Rifki lho, Mas Rayan!" cegah Tania.
"Kalau enggak lupa," serunya tanpa menoleh pada yang diajak bicara.
"Salah sendiri pakai ngelamar jadi sopir," gerutu Tania.
Tania masih betah berada di taman sendirian. Ia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini menanggapi kehadiran calon bayi yang sekarang tumbuh bersarang di dalam rahimnya. Ada perasaan bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu.
Namun perasaan bahagia tersebut seketika lenyap manakala muncul pikiran tentang siapa ayah dari calon anaknya tersebut. Apakah janin yang saat ini tumbuh di dalam rahimnya tersebut adalah benih yang tumbuh dari Laila majnun itu, ataukah buah cinta dengan sang suami di malam sebelumnya.
Tak terasa bulir-bulir bening mengalir dari pelupuk matanya membentuk anakan sungai. Tania mengelus-elus perutnya yang masih rata. "Kenapa kamu harus hadir saat ini, Nak. Di saat Mama belum bisa menerima kenyataan tentang kejadian malam itu, sekarang Mama harus bisa menerima kehadiranmu," keluhTania.
Tiba-tiba kedua teman Tania datang menghampiri, siapa lagi kalau bukan Prima dan Nadia.
"Tania!" seru Nadia memeluk Tania.
"Katanya sakit, kenapa di sini?" tanya Prima sambil memeluk Tania.
"Aku enggak sakit," sanggah Tania.
Prima memandang lekat-lekat tubuh Tania dari atas sampai bawah. "Kalau enggak sakit kenapa sampai pingsan?" tanyanya lagi.
"Kata orang, itu akibatnya jika seorang istri berani sama suami," jawab Tania menahan tawa.
Prima dan Nadia membulatkan matanya tidak mengerti maksud ucapan sahabat mereka tersebut.
"Aku enggak menyangka, kalau temanku yang kelihatannya pol*s ini ternyata seorang istri yang durhaka," simpul Prima.
"Enak aja ngatain aku istri durhaka, punya bukti apa kamu?" cebik Tania.
"Lah, itu tadi kamu sendiri yang bilang berani sama suami," Prima mengembalikan pernyataan Tania.
"Berani yang bagaimana dulu, donk?" tanya Tania.
"Berani melawan suami kan? itu namanya istri durhaka, Tania," terang Prima.
Sedang Nadia hanya tersenyum menanggapi perdebatan mereka.
"Maksudku berani melakukannya dengan suami, melakukannya pakai tanda kutip, Non," ucap Tania dengan sedikit penegasan.
Prima terdiam mencerna ucapan Tania.
"Apa aku harus menjelaskan secara gamblang? Apa yang dilakukan seorang istri pada suaminya?" Tania bertanya sedikit menggoda pada temannya yang masih jomblo tersebut.
Dengan cepat Prima menanggapi, "Tidak-tidak!" ucapnya cepat. "Jadi kalau enggak sakit, kamu kenapa?" tanyanya kemudian.
"Tania itu sedang hamil, Prima. Iya kan, Tan?" Nadia mengambil kesimpulan dan menanyakan jawaban pasti dari Tania dan diangguki oleh Tania.
"Beneran kamu hamil, tinggal bilang hamil saja pakai muter-muter," gerutu Prima.
"Heleh kamu, begitu saja enggak paham," Tania balas menggerutu.
"Lalu kenapa tadi kamu menangis? Apa yang kamu sedihkan? Suami kamu sudah kamu kasih tahu?" tanya Prima beruntun yang hanya mendapat gelengan kepala dari Tania. Enggak mungkin kan kalau Tania menceritakan semuanya kepada mereka.
__ADS_1
"Mana ponselmu, kita Videocall suamimu sekarang," pinta Prima.
Tania merogoh ponselnya dari dalam tas selempangnya, ia mencari kontak nomor WhatsApp Edos, cukup lama Tania menunggu hingga panggilan itu dijawab. Mata Tania kembali berkaca-kaca memandang wajah suaminya yang sekarang berada di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, wahai istriku yang cantik," Edos menyapa dengan tersenyum manis terlihat di layar ponsel Tania.
"Wa, Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh, suamiku," Tania menjawab dengan terbata-bata.
"Lagi apa, Sayang?" tanya Edos.
"Lagi duduk-duduk di taman belakang rumah, Yank. Kamu apa kabar? Bagaimana kaki kamu udah bisa jalan, Yank?" tanya Tania.
"Aku baik-baik saya, Sayang. Bahkan lebih baik. Tunggu ya, aku kasih lihat ke kamu," jawab Edos.
Edos meletakkan ponselnya pada sebuah tripod, ia lalu mundur beberapa langkah masih menghadap layar ponsel. bersandar pada sebuah dinding pembatas tangga.
Tangan kirinya ia masukan ke dalam saku, sementara lengan kanannya ia sandarkan pada dinding, kaki kirinya berjinjit.
Edos kembali mengambil ponselnya.
"Gimana, Yank? Udah lihat kan aku bisa berdiri dan jalan tanpa alat bantu?" tanya Edos tersenyum.
"Belum, belum lihat dengan mata kepala telanjang," jawab Tania dengan berurai air mata.
Nadia dan Prima memeluk Tania dari samping kiri dan kanan.
"Siapa mereka, Yank?" tanya Edos menanyakan orang yang berada di samping Tania.
"Mereka teman kuliahku, Yank. Merekalah yang sekarang menghibur dan menyemangati ku. Yang ini Nadia dan ini Prima," jawab Tania memperkenalkan kedua temannya pada suaminya.
"Sabar ya, Say. Aku masih ada sedikit urusan, aku akan menemui mu jika urusanku telah selesai," tutur Edos.
"Jangan lama-lama, Yank," pinta Tania.
"Enggak lama kok, Yang. Sabar ya," bujuk Edos lagi.
Setelah dirasa cukup untuk Tania melepas kerinduannya, mereka mengakhiri panggilan.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan kini dua bulan berlalu,Tania akan menghadapi ujian semester minggu yang akan datang. Selama ujian, Prima dan Nadia belajar bersama dan menginap di rumah Tania.
Kandungan Tania kini memasuki minggu awal di bulan ke empat, perutnya kini sudah agak berisi. Setelah usai ujian semester di rumah Ardiansyah akan diadakan tasyakuran empat bulan kehamilannya sekaligus tasyakuran ujian semester yang telah selesai di jalaninya.
Sudah tiga bulan berlalu, namun Edos belum menampakkan batang hidungnya sejak kepergiannya ke Singapura. Entah ia masih berada di Singapura ataukah sudah kembali ke Batang, atau mungkin ke Jepang membantu Abizar mengurus perusahaannya. Ia hanya beberapa kali nampak di Videocall, itupun Tania yang melakukannya.
Entah apa yang terjadi dengan Edos? Apakah dia sudah berubah pikiran? Apakah dia sudah mengetahui semua yang terjadi dengan Tania? Hingga ia memilih untuk meninggalkan Tania. Ataukah ada sesuatu lain yang terjadi pada dirinya. Selama dua bulan ini, pikiran-pikiran itu terus mengisi kepala Tania, namun Tania selalu menepisnya.
Kegiatan kuliah yang padat kadang hingga jam tiga sore, sepulang kuliah ia lebih sering hunting bahan-bahan atau buku referensi untuk mengerjakan tugasnya bersama dengan teman-temannya sehingga ia bisa melupakannya.
Selesai mengerjakan tugas hingga larut malam ia biasanya langsung tertidur nyenyak. Prima dan Nadia juga sering menemaninya tidur di kamarnya. Mereka selalu tidak lupa mengingatkan jadwal Tania untuk meminum susu khusus ibu hamil dan vitamin, juga menemani Tania untuk periksa ke dokter kandungan.
Ujian semester berjalan dengan lancar selama satu Minggu dan hari ini adalah hari terakhir Tania mengerjakan soal-soal ujian.
"Tatan, Pipim nanti setelah selesai ujian, kita jalan-jalan ke Mall ya," ajak Nadia pada Tania dan Prima.
Panggilan di antara mereka kini telah berubah menjadi Tatan, Nanad dan Pipim. ini terjadi semenjak Rayan jadian sama Prima, Prima memanggil Rayan dengan sebutan Mas Yayan, sedangkan Rayan menyebut Prima Ayang Pipim. Jadilah mereka ikut-ikutan memanggil teman-temannya dengan mengulang suku kata awal nama panggilan mereka.
"Boleh. Gimana, Tatan?" jawab Prima kemudian berbalik tanya pada Tania.
.
.
.
TBC
Terima kasih telah membaca dan berkunjung,
Terimakasih like, komen terbaiknya
Terimakasih vote dan hadiah nya
rate 5 juga tak lupa
πππ
__ADS_1