2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Kehamilan Simpatik


__ADS_3

Setelah kurang lebih dari dua minggu, Tania dan keluarganya menghabiskan waktu di kampung. Hari ini Tania dan anggota keluarga yang lain akan bertolak ke Jakarta. Hati Edos pun luluh, ia tidak tega membiarkan istrinya termenung melamun setiap hari karena kecewa ia larang untuk meneruskan kuliahnya. Mereka berangkat dari rumah Juragan Burhan.


"Kalian hati-hati di jalan, enggak usah ngebut nyetirnya ya, Aris!" pesan Nurlita.


"Iya, Bu," sahut Aris.


"Tania pamit, Ma, Pa," pamit Tania pada juragan Burhan dan Nurlita secara bergantian.


"Hati-hati ya, Nak. Jaga cucu Mama!" ucap Nurlita mengelus lembut perut Tania.


Juragan Burhan dan Nurlita melepas kepergian anak-anak, menantu dan adiknya sampai di halaman.


"Kak Tania ikut mobil Papa ya," pinta Aghni.


"Kakak bareng Kak Edos saja, Dek," tolak Tania.


"Kak Edos biar bareng Kak Bizar saja, dia kan udah besar. Pasti Kak Tanianya aja yang enggak mau jauh dari dia," cebik Aghni.


"Emang, terus kamu mau apa?" tantang Tania


"Mau apa? ya mau pulang lah," jawab Aghni asal.


Tiba-tiba Aghni berjalan ke arah Edos dan memeluknya. "Kak Edos bareng Aghni saja, biar kak Tania ikut Kak Aris dan Kak Bizar."


Edos tersenyum kikuk diam saja dipeluk Aghni. "Nanti kalau Kak Tania nangis bagaimana?" tanyanya.


Melihat suaminya diam saja dipeluk adiknya, Tania menghentak-hentakkan kakinya kasar menuju mobil yang sudah duduk Aris di sana, Masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan keras, hingga semua orang yang melihatnya pun kaget, termasuk Aris dan Abizar yang sudah duduk di kursi depan.


Abizar menoleh ke belakang, tersenyum melihat Tania yang mengerucutkan bibirnya. "Kenapa cemberut gitu? Pengen dipeluk juga? Sini kakak peluk! Kakak juga kangen, sudah lama enggak peluk kamu," ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya.


"Kakak, Tania ini sudah bukan anak kecil lagi!" cebik Tania.


"Bukan anak kecil tapi cemberut gitu seperti anak kecil. Tania, Aghni sama Azhar itu sama seperti Kakak sama kamu," jelas Abizar.


"Bedalah, Edos kan sudah menikah, Kakak belum," tepis Tania


Abizar terdiam, ia tidak tahu lagi harus berkata apa untuk menghibur hati adik sepupunya yang sedang dilanda cemburu ini.


"Aghni, ayo masuk! Atau kamu masih mau menginap di rumah Bude? Mama tinggal nih," seru Dewi memanggil putri bungsunya.


"Ih, jangan donk, Ma! Aghni mau pulang," seru Aghni.


Aghni pun mengurai pelukannya dan dengan segera masuk ke dalam mobil papanya.


Edos masuk ke dalam mobilnya, duduk di samping Tania. Terkejut di dalam mobil tidak ada yang bicara, diam dalam pikiran masing-masing.


"Duhh, yang lagi senang habis dipeluk cewek cantik," sindir Tania pada suaminya.


Edos menoleh ke arah istrinya, menangkup kedua pipinya, pandangan mereka bertemu. "Duhh, yang lagi cemburu sama adik sendiri," ucapnya.


"Apaan sih?" sergah Tania menepis tangan Edos, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran.


Edos ganti memeluk tubuh Tania,"Jangan gini donk, Say! Maafkan suamimu ini. Walaupun Tuhan kasih aku seribu adik sepupu cantik, tapi di hatiku cuma satu yang akan kucintai sampai mati, sepupuku yang sekarang menjadi istriku, I love you," ucapnya tulus. Namun Tania masih bergeming.


Edos melepas pelukannya, ia menunduk, mengelus-elus dan mencium perut Tania seraya berkata, "Dek, bujuk bunda donk biar enggak marah sama Ayah. Ayah sudah membujuknya, sudah meminta maaf, tapi bunda enggak mau maafin ayah," ucap Edos seakan mengadu pada calon anaknya.


Karena merasa geli dengan sentuhan-sentuhan di perutnya, tawa Taniapun lepas juga, "udah ah, Yank. Geli tahu," tepis Tania.


"Tapi kamu maafin aku, kan?" tanya Edos memastikan.


"Iya," jawab Tania masih sambil tertawa.


Dua mobil itupun berangkat beriringan. Ada dua buah rombongan mobil, mobil satu berisi Ardi, Dewi, Aghni dan sopirnya. Sedangkan dua berisi Edos, Tania, Abizar dan Aris sebagai sopir.


"Aris, nanti kalau sampai di rest area Cirebon, mampir ya," pinta Tania sama Aris yang sedang mengemudi saat mobil mulai memasuki jalan tol.


"Siap, Mbak," jawab Aris.


"Mau ngapain di rest area Cirebon?" tanya Edos penasaran dengan permintaan istrinya.


"Pengen beli tape ketan buat oleh-oleh, Yank," jawab Tania.

__ADS_1


"Ingat, kamu enggak boleh makan tape banyak-banyak, nanas juga. Kandungan kamu ini masih rawan," Edos mengingatkan.


"Iya, paling cuma nuruti pengen doank, tiga, lima atau 10 bungkus," sahut Tania.


"Sepuluh? itu namanya banyak, Say. Tape itu mengandung kadar alkohol, enggak baik buat kandungan."


"Ya udah, lima aja. Aku kan pengen, Yank. Daripada nanti dedeknya ngences, gimana hayo?" ancam Tania memelas menunjukkan mata puppy eyes.


"Enggak sekalian mampir di rest area Brebes juga sebelum sampai di Cirebon?" tanya Edos mengetes.


"Mau ngapain?" tanya Tania.


"Beli bawang merah sama telur asin," jawab Edos.


"Wah, boleh juga tuh. Iya, nanti aku mau kulakan bawang satu kwintal sekalian," ucap Tania yang mendapat pelototan dari Edos, tidak percaya dengan jawaban istrinya tersebut.


"Buat apa beli bawang sebanyak itu?" tanya Edos.


"Buat dijual, Pak. Saya butuh uang untuk bertahan hidup, habis suami saya tidak pernah kasih saya uang jatah, Pak," jawab Tania bercanda.


"Jahat sekali suami kamu, Mbak. Memang suami kamu orang mana?" tanya Edos meladeni candaan Tania.


"Orang-orangan sawah kali," jawab Tania asal.


Edos merasa tertampar dengan candaan Tania yang seperti sengaja untuk menyindir. Ia mengeluarkan kartu ATM yang memang sudah dipersiapkannya untuk istrinya, namun belum sempat ia sampaikan.


"Ini, Mbak. Titipan dari suami Mbak, kode pinnya katanya tanggal lahirnya Mbaknya," ucap Edos yang banyak akhiran -nya sambil menyelipkan kartu ATM ke tangan Tania.


Aris dan Abizar terkikik geli mendengar candaan pasangan muda yang duduk di kursi penumpang di belakang mereka tersebut.


"Ternyata Bapak kenal dengan suami saya juga," ucap Tania menerima kartu tersebut. "Ini beneran buatku, Yank?" tanyanya memastikan.


"Beneran, masa bohong. Itu sudah kubuat dari kemarin-kemarin.Tapi aku lupa ngasih ke kamu. Maaf, ya."


"Aku jadi enggak enak, Yank. Padahal aku cuma bercanda. Maaf ya, Yank. Sebenarnya aku sudah punya dikasih Papa Ardi,"


"Itu kan dari Papa Ardi, kalau ini kan nafkah dari suamimu, untuk keperluanku dan calon anak kita. Isinya mungkin tidak sebanyak punya Papa Ardi, tapi nanti gaji aku akan aku transfer ke situ tiap bulan."


"Nggak berasa, lagi dong!" pinta Edos.


"Apanya?" tanya Tania tersipu.


"Ciumannya, Yank," ucap Edos memonyongkan bibirnya.


"Ih, malu sama Kakak dan Aris," cebik Tania lirih.


Orang aku nyiumnya nyuri-nyuri, takut kalau Kak Bizar sama Aris melihat. Eh, dia yang dikasih hati malah merogoh ampela, gerutu Tania dalam hati.


"Ya udah, kalau kamu enggak mau cium, aku yang cium nih,"



"Yank, malu ih! Kamu enggak lihat ada orang apa?" pekik Tania seraya mendorong tubuh Edos.


"Biarin, cuma cium pipi, Yank. Kita kan udah halal. Sah-sah saja kan cium istri sendiri."


"Tapi kan enggak di depan umum juga kali, Bapak," cebik Tania.


Tania akhirnya menurut saja, berdebat dengan Edos sejak dulu memang enggak ada untungnya, lebih baik diam.


.


.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Setelah kejadian mabuk, dan kedapatan tidur bersama istrinya, Niken. Bram sudah tidak lagi mabuk-mabukan. Dia takut kedapatan tidur dengan Niken kembali, padahal Niken sudah pindah ke Bandung, tidak tahu saja kamu Bram.


Pagi ini Rifki sudah siap berada di apartemen Bram, menjemput bosnya tersebut yang juga telah siap untuk berangkat ke kantor. Mereka keluar dari apartemen dengan langkah pasti.


Tiba-tiba Bram merasa perutnya seperti diaduk-aduk. Seketika ia berlari kembali ke apartemennya. Sudah payah membuka kunci pintu apartemen dengan memasukkan kode password, namun karena gugup maka pintu terbuka sangat lama, namun akhirnya terbuka juga.

__ADS_1


Buru-buru Bram menuju ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di wastafel. Rifki yang menyaksikan majikannya menatap heran. Ia menyusul Bram ke kamar mandi, mencoba membantu Bram dengan mengurut tengkuknya, menunggu sampai isi perut bosnya keluar semua


"Apa Pak Bram sakit?" tanya Rifki.


"Mungkin masuk angin," jawab Bram.


Rifki menuntun Bram keluar dari kamar mandi menuju ranjang. Rifki membaringkan tubuh Bram di sana.


"Apa perlu aku panggilkan dokter, Pak?" tawar Rifki.


"Tolong panggilkan Ryan, suruh kemari!" ucap Bram menjawab Rifki.


"Baik, Pak."


"Assalamu'alaikum, dokter Ryan. Maaf mengganggu pagi-pagi. Apa dokter bisa ke apartemen Pak Bram sekarang?" ucap Rifki saat panggilannya terhubung.


"Ada apa?" tanya dokter Ryan di dalam sambungan telepon.


"Pak Bram tiba-tiba muntah-muntah, dok," jawab Rifki.


"Baiklah, saya akan ke sana," ucap dokter Ryan menyanggupi.


Rifki keluar kamar, ia menunggu kedatangan dokter Ryan sambil membuka tablet milik Bram. Ryan adalah teman sekelas Bram saat SMA yang telah menjadi seorang dokter. 15 menit kemudian terdengar bel pintu berbunyi. Rifki segera membukanya.


"Silakan masuk, dokter. Pak Bram ada di kamarnya," ucap Rifki mempersilahkan dokter Rian.


"Terimakasih, Rifki. Memangnya kenapa si brengsek itu?" tanya dokter Ryan sambil melangkah ke kamar Bram.


"Tidak tahu dokter, tiba-tiba dia muntah-muntah," jawab Rifki yang mengikuti dokter Ryan di belakangnya.


"Bisa sakit juga ternyata,"


Sampai di dalam kamar, terlihat Bram masih terbaring di ranjangnya. dokter Ryan meletakkan tas di samping Bram dan mengeluarkan semua peralatan yang dibutuhkan. Kemudian melakukan pemeriksaan terhadap tubuh Bram.


"Aku sakit apa, Ryan?"


"Semuanya normal," jawab dokter Ryan.


"Jangan bercanda kamu, Ryan. Tadi tiba-tiba saja perutku mual-mual seperti diaduk-aduk, kepalaku juga tiba-tiba pusing. Mual dan pusingnya hilang saat aku sudah memuntahkan semua isi perutku," keluh Bram.


"Kok sama persis seperti yang dialami istri saya saat awal hamil ya? Apa jangan-jangan Pak Bram hamil juga?" tanya Rifki menggoda majikannya.


Seketika Bram melempar bantal ke arah Rifki seraya berkata dengan sarkas, "Jangan ngawur kamu, Rif. Aku ini laki-laki normal, bukan perempuan ataupun waria."


"Bisa jadi," simpul dokter Ryan.


"Apa maksudmu, Ryan. Kamu setuju karangan asisten brengsek itu kalau aku hamil?" sergah Bram.


"Bukan begitu Bram, yang dikatakan Rifki ada benarnya juga, mungkin kamu mengalami couvade syndrome atau sindrom kehamilan simpatik," jelas dokter Ryan.


"Apa itu?" Tanya Bram ingin tahu.


"Ketika seorang istri hamil, suaminya yang mengalami ngidam atau gejala-gejala yang dialami oleh wanita hamil pada umumnya, seperti pusing, muntah-muntah atau ingin makan sesuatu yang aneh lainnya," Terang Rifki.


Sindrom kehamilan simpatik terjadi, ketika suami ngidam dan mengalami gejala-gejala kehamilan seperti yang dialami istrinya ketika mengandung. Dalam dunia medis dikenal dengan nama couvade syndrome. Tidak hanya suami, teman dekat ibu hamil juga bisa mengalami sindrom ini.


Tania memang hamil, tapi kan sudah berusia empat bulan, masa aku baru mengalami sindrom itu sekarang? Atau jangan-jangan Niken juga hamil? Ternyata senjataku tokcer juga, sekali sentuh langsung pada hamil, Bram berbicara sendiri dalam hati.


"Kalau sudah tidak ada kepentingan lagi, aku permisi. Ini aku kasih obat anti mual," ucap dokter Ryan sembari menyerahkan beberapa strip obat.


.


.


.


TBC


Terimakasih sudah setia😍


budayakan like dan komen ya

__ADS_1


__ADS_2