2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Mudik


__ADS_3

Setelah melewati waktu perjalanan selama kurang lebih dua jam, rombongan mudik Nadia dan Tania kini sampai di Indramayu, kota kelahiran Nadia. Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang halamannya sangat luas, penuh dengan jemuran padi.


Mamaknya Nadia seorang juragan padi, dia memiliki dua buah pabrik penggilingan padi di dua kecamatan yang berbeda. Sedangkan ibunya seorang pengurus rumah tangga biasa. Nadia adalah anak kedua dari 5 bersaudara, kakaknya laki-laki sedang menyelesaikan skripsi di sebuah universitas di Bandung. Sedang ketiga adiknya masih sekolah di SD, SMP dan SMA.


"Tunggu sebentar ya, Pak Sopir!" pinta Mimik setelah keluar dari dalam mobil.


Mimik segera masuk ke dalam rumah, sementara Mamak dan Edos membantu menurunkan barang-barang milik Nadia dan milik Mamak sendiri.


"Tan, mampir ke rumah yuk. Menginap barang satu malam, pulang ke Pekalongan besok lagi. Aku masih pengen bareng kamu," tawar Nadia pada Tania.


"Terimakasih, Nad. Lain kali saja kalau ada kesempatan," sahut Tania. Seketika Tania memeluk Nadia dengan menangis sesenggukan.


"Eh, ini kenapa?" tanya Nadia yang kaget.


"Terimakasih ya, Nad. Kamu telah mengorbankan nyawa kamu untuk aku dan anak yang aku kandung. Entah apa yang akan terjadi denganku jika kamu tidak menghalanginya waktu itu, aku berhutang nyawa sama kamu, Nad."


"Semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa, Tan. Jika bukan aku yang menyelamatkan kamu, mungkin orang lain juga akan menyelamatkanmu, berterimakasihlah pada Allah."


"Tetap saja kamu yang sudah menyelamatkan aku."


Mimik datang mendekat membawa sebuah kardus mi instan. Di belakangnya seorang anak laki-laki seusia anak SMP mengikutinya, kemungkinan itu adik Nadia.


"Eh, ada apa ini? Kok pada melo-melo?" tanya Mimik saat jaraknya tidak jauh dari Tania dan Nadia berdiri.


"Biasa, Mik. Tania tidak mau pisah dari Nadia," jawab Nadia berbohong. Eh, puasa-puasa kok bohong sih, Nad.


"Ini ada sedikit mangga cengkir buat pak supir, kebetulan kami sudah mulai panen mangga sendiri," ucap Mimik.


"Wah, Terima kasih banyak, Bu. Taruh di jok depan saja, Bu, sudah kosong," sahut pak sopir.


Mimik menaruh kardus tersebut di jok depan di samping kursi kemudi. Kemudian beralih ke Tania dan Nadia. "Kalau Neng Tania enggak mau berpisah dengan Nadia, mendingan menginap di sini saja, pulang besok-besok lagi," ucapnya.


Tania melepas pelukannya dari Nadia, "Enggak ah, Mik. Nanti kalau bayi Tania mbrojol di sini malah merepotkan," tolak Tania membuat yang lain jadi tertawa.


Edos menghampiri Tania, "Sudah, Yank? Ayo masuk. Biar sampai di rumah sebelum maghrib," ajak Edos.


"Kami pamit ya, Mimik, Mamak," pamit Tania pada kedua orang tua Nadia.


"Mimik, ini taruh mana?" tanya adik Nadia yang masih membopong sebuah kardus berisi mangga.


"Oh, iya. Ini mangga buat neng Tania Mimik taruh di jok belakang ya?" pamit Mimik yang langsung meletakkan kardus tersebut di kursi paling belakang.


"Iya, Mik. Terima kasih banyak ya," sahut Tania dan Edos serempak.


"Kami juga mengucapkan terima kasih, sudah dikasih tumpangan gratis," ucap Mimik.


Tania dan Edos serta pak sopir sudah masuk ke dalam mobil, mobil segera melaju meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan ke kampung halaman Tania.


Nadia melangkah tertatih-tatih menuju rumahnya, karena luka bekas jahitan di perut bagian kanannya masih menimbulkan rasa nyeri. Flek darah berwarna kecoklatan juga masih keluar dari dalam rahimnya seperti orang haid atau nifas, padahal ia tidak sedang mengalami kedua hal itu dan sudah satu bulan berlalu.


Sampai di dalam rumah Nadia duduk di sofa ruang tengah.


"Makan dulu, Sayang. Setelah itu istirahat di kamar. Kamu tidak puasa kan?" tanya Mimik.

__ADS_1


"Tidak, Mik. Masih ada flek coklat yang keluar," jawab Nadia.


Nadia menghampiri meja makan, mungkin ada makanan sisa sahur yang dimasak oleh adiknya. Ia membuka tudung saji meja makan tersebut.


"A'ang enggak puasa? Kalau mau makan, empal gentongnya masih di atas tungku, Ang," seru Nindya, adik Nadia secara tiba-tiba yang membuat Nadia kaget.


Nadia mengelus dadanya untuk menghilangkan rasa kagetnya. Tapi rasa kaget tersebut hilang seketika karena mendengar kata 'empal gentong.' Tumben-tumbennya Nindya masak empal gentong, masakan ini memang dikenal berasal dari Cirebon, namun masyarakat di Indramayu juga banyak yang memasak ini. Seperti nasi megono yang terkenal berasal dari daerah Pekalongan, padahal masyarakat di daerah Batang juga banyak.


"Empal gentong?"


"Iya, ambil sendiri ya, Ang. Ada pedesan entog juga lho," sahut Nindya.


Nadia dengan pelan membawa kakinya ke dapur kotor yang berada di rumah paling belakang, di sana terdapat tungku kayu yang biasa digunakan untuk memasak. Ia meraih mangkok yang terbuat dari gerabah tanah liat sebagai wadah empal gentong.


Setelah mengambil beberapa ciduk, Nadia kembali ke meja makan untuk menikmati masakan tersebut bersama nasi dan lauk lainnya.



Empal gentong



Pedesan entog


🌟🌟🌟🌟🌟


Di Kumala Butik Bandung.


"Mas, apa kita tidak mengadakan pengajian untuk mendoakan calon anak kita yang sudah mau empat bulan ini?" tanya Niken pada Bram, suaminya saat mereka bersama.


"Berapa orang pesertanya?"


"Yang aktif kata ustadz Hamid tidak banyak, sekitar 10 orang, ditambah orang-orang yang berdiam diri di masjid atau musyafir paling banyak 30 orang," jawab Bram.


"Kok mendadak besok? Terus kita pesan makanannya bagaimana?" tanya Niken khawatir.


"Kamu enggak usah khawatir, Mas sudah pesan 50 box nasi di restoran yang ada di depan butik ini. Untuk takjilnya mas sudah pesan jasa katering, besok sore akan diantar ke masjid langsung," jawab Bram yang membuat Niken lega.


"Alhamdulillah," ucap Niken masih mengelus perutnya.


"Besok sore kita tinggal hadir di masjid untuk mengikuti jalannya acara."


"Terima kasih ya, Mas. Kamu sudah menjadi suami yang siaga, yang perhatian padaku dan calon anak kita," ucap Niken terharu.


"Apaan sih kok kamu ngomongnya gitu? Mas akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak-anak kita, Sayang," ucap Bram tulus.


"Niken bahagia, Mas. Ternyata kesabaran Niken selama ini memperjuangkan cinta sendirian berbuah manis."


Bram merengkuh tubuh Niken ke dalam pelukannya. "Maafin Mas selama ini tidak pernah melihat ketulusan hati kamu, Sayang,"


"Mas, jangan kenceng-kenceng meluknya, kita lagi puasa. Takutnya punya Mas Bram ngamuk bisa batal puasa kita," ucap Niken mencoba melepaskan pelukan suaminya.


Bram segera melepas pelukannya, "Hehe, Mas lupa, Sayang, Mas terbawa suasana." ucapnya.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟


Setelah hampir tiga jam perjalanan dari Indramayu, Tania dan Edos sampai di rumah peninggalan ayah Tania yang berada di Pekalongan. Hari telah sore, jarum pendek jam dinding sudah melewati angka 4. Tania merasakan tubuhnya sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh.


"Kalau tidak kuat, batalkan saja puasa kamu, Yank. Wajah kamu pucat sekali," ucap Edos khawatir.


"Ya kali? Tinggal satu jam lagi masa batal sih, Yank. Kalau mau batalin mendingan dari tadi kan pas di mobil," Tania mencebik.


" Mungkin saja kamu pengen segera menyantap mangga cengkir," Edos makin menggoda Tania.


"Sabar-sabar, sabar ya sayang. Sebentar lagi kita akan menikmati mangga adas," ucap Tania mengelus perutnya yang semakin besar.


"Mangga cengkir, Yank," Edos mengoreksi.


"Cengkir kalau di Indramayu, kalau di Pekalongan namanya mangga adas, Yank," jelas Tania.


"Cengkir lah, orang itu mangga dari Indramayu, kalau kita petik punya sendiri baru adas," Edos masih ngotot.


"Terserah kamu deh, Yank. Bisa batal puasa beneran nih meladeni omongan kamu yang bikin emosi jiwa," cebik Tania. "Dah ah, aku mau mandi saja biar fresh," ucapnya seraya melangkahkan kakinya menuju ke kamar.


Edos masih tertawa kecil memandangi punggung istrinya yang hilang di balik pintu kamar. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di sofa untuk mengurangi rasa lelah. Untuk menu buka puasa, mereka tadi sempat mampir untuk membeli nasi kotak di rumah makan yang mereka lewati saat pulang tadi. Dan takjil dapat gratis dari para pemuda yang membagikan takjil gratis di jalan yang mereka lewati pula.


"Yank," panggil Edos beberapa saat kemudian. Yang dipanggil tidak menyahut karena masih berada di kamar mandi.


"Belum selesai juga mandinya?" gumam Edos.


Beberapa saat kemudian Edos terlelap. Tania keluar kamar dengan handuk membalut rambutnya.


"Ada apa sih manggil? Sudah tahu istrinya lagi di kamar mandi juga. Aku kan nggak suka ngomong keras-keras kayak di hutan saja," cebik Tania. "Yank, belum mandi kok malah tidur," seru Tania membangunkan Edos.


Edos membuka mata, mengerjap-ngerjapkan matanya karena terasa pedas, baru terlelap dibangunkan.


"Sudah mau Maghrib, mandi dulu gih, Yank! Nanti keburu dingin udaranya, malah merinding," tutur Tania. Edos masih dalam mode kebingungan.


"Tadi manggil-manggil mau ngomong apa?" tanya Tania.


"Ngomong apa ya? Lupa, Yank. Nanti saja kalau sudah ingat," jawab Edos.


Edos bangkit duduk sebentar, "Handuknya siniin biar sekalian aku bawa ke dalam," pinta Edos menengadahkan tangan kanannya.


"Ini handuk sudah kotor dan basah, jangan kamu pakai lho!" cegah Tania.


"Enggak apa-apa, ngirit cucian kamu," jawabnya sambil melangkah pergi, tapi ia berhenti seketika dan menoleh kembali kepada Tania. "Oh iya, tadi aku mau bilang, jangan lupa kasih kabar kepada Mama Dewi kalau kita sudah sampai di rumah ini dengan selamat," ucapnya.


"Oh iya, Yank. Hampir saja lupa," timpal Tania.


Tania mencari keberadaan tas selempangnya, kemudian merogoh ponselnya untuk memberitahukan kepada sang Mama bahwa mereka telah sampai di rumah peninggalan almarhum ayahnya dengan selamat.


.


.


.

__ADS_1


Mak Kusay mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan, dan selamat berbuka puasa.


Terima kasih sudah setia menengok Tania 🥰🥰🥰


__ADS_2