
Dewi hanya diam terpaku, tidak percaya dengan apa yang dilakukan majikannya, ia benar-benar tidak menyangka.
"Maaf, Wi. Mungkin ini terlalu cepat buat kamu. Tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa, kamu juga tidak harus menjawabnya sekarang," tutur Ardi.
Dewi masih diam menunduk.
"Lupakan saja, tidurlah sudah malam, dan jangan menangis lagi,"
Ardi mengoreksi ucapannya lalu melepaskan genggaman tangannya, berdiri dan melangkah keluar dari kamar Dewi. Namun belum sempat ia meraih gagang pintu untuk membukanya.
"Pak, tunggu!" panggil Dewi.
Ardi menghentikan langkahnya. Dewi berlari mengejar Ardi dan memeluknya dari belakang. Menyembunyikan wajahnya di punggung pria berusia tiga puluh lima tahun tersebut. Ardi masih menunggu apa sebenarnya yang akan diucapkan oleh Dewi.
"Ada apa?" tanya Ardi karena ia merasa sudah cukup menunggu.
"Saya mau," ucap Dewi.
Dewi tidak tahu mendapatkan keberanian ini dari mana. Ardi memutar tubuhnya 180Β°, kini mereka berhadapan dan sangat dekat.
"Mau apa?" goda Ardi dengan tersenyum jahil.
Dewi hanya menunduk malu dibuatnya, wajahnya sekarang mungkin sudah seperti udang rebus saat ini. Ia memilih untuk mengurungkan niatnya yang sudah kepalang tanggung itu.
"Tidak mau apa-apa, maaf," ucap Dewi yang merasa sangat malu dan bodoh.
Ia hendak menarik kembali tubuhnya, dan melangkah kembali ke dipan. Namun tangan kirinya ditarik oleh Ardi sehingga mau tidak mau Dewi kembali harus mentok ke pelukan Ardi dan,
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Dewi.
"Terimakasih, Sayang. Aku akan urus semuanya," ucap Ardi.
Dewi membelalakkan matanya, menatap diam majikannya. Sayang?
"Bulan depan kita menikah," tutur Ardi lagi.
Mata Dewi kembali membasah.
"Dibilang jangan nangis lagi, muka kamu jadi jelek tahu," ucap Ardi sembari jari tangannya menyeka air mata yang mengalir di pipi Dewi.
Ardi membimbing tubuh Dewi ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana.
"Tidur ya," ucapnya mengusap rambut Dewi. lalu berdiri menekan saklar.
Ardi berjalan dalam kegelapan keluar dari kamar Dewi, menutup pintu dan bergegas pergi menuju ke kamarnya. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk menenangkan juniornya yang sejak tadi meronta-ronta. Sabar, tunggu sebulan lagi ya, cung.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sebulan kemudian akad nikah dilaksanakan sangat sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dan teman terdekat. Dari keluarga Dewi, hadir Burhan dan Juragan Thohir sebagai wali nikah.
Sebenarnya pernah mendengar seorang ustadz mengatakan bahwa seorang janda bisa menjadi wali nikah untuk dirinya sendiri, tapi Dewi kurang yakin akan pendapat tersebut. Akhirnya ia menghubungi kakaknya lewat wartel yang ada di dekat kampung suaminya.
Dewi meminta kepada petugas wartel untuk menyampaikan kepada kakaknya Burhan, untuk datang pada acara akad nikahnya dan mengajak Juragan Thohir ayahnya. Dewi juga menyertakan nomor telepon rumah Ardi.
Usai akad pernikahan, semua orang telah pulang ke rumah masing-masing, kecuali Burhan dan Juragan Thohir yang menginap. Ardi membawa istrinya ke kamar mereka. Kamar yang selama tujuh bulan ini setiap hari dimasuki oleh Dewi, untuk membangunkan majikannya.
Dewi berdiri terpaku memandangi foto pernikahan Ardi dengan istri pertamanya yang masih terpajang di dinding kamar. Sementara Ardi duduk di kasur. Ardi memandangi wanita yang telah sah menjadi istrinya tersebut.
"Namanya Prita Larasati, dia meninggal setahun yang lalu. Kalau kamu tidak suka, kamu boleh membuangnya," tutur Ardi.
Dewi hanya membalas dengan senyuman perkataan suaminya. Lalu duduk di sampingnya.
"Kamu tidak cemburu dengan dia?" tanya Ardi lagi.
Dewi menoleh ke arah orang yang mengajak bicara yang tak lain adalah Ardi, suaminya.
"Ngapain cemburu sama orang yang meninggal, bagaimana juga dia kan ibunya Mas Bram," jawab Dewi.
"Sebentar, kamu panggil Bram apa tadi?" tanya Ardi.
"Mas Bram," jawab Dewi.
"Lalu panggil aku apa?" tanya Ardi lagi.
"Bapak, Pak Ardi," jawab Dewi lagi.
"Sekarang yang jadi suamimu itu siapa? Kenapa yang dipanggil mas si Bram?" tanya Ardi protes.
"Saya panggil Mas Bram kan karena dia anak majikan saya. Dan saya panggil Pak juga karena waktu itu Bapak yang minta. Bapak sendiri yang bilang enggak mau dipanggil Tuan," seringai Dewi.
"Sekarang aku udah jadi suamimu, masa masih panggil Pak," protes Ardi lagi. "Panggil Mas donk!" pintanya
"Mas Ardi? Hahaha aneh," seru Dewi tertawa.
Bisa tertawa juga kamu, Dewi. Batin Ardi.
"Panggil papa mama saja ya, Pak?" usul Dewi.
"Papa, aku berasa jadi papa kamu," ucap Ardi.
"Memang masih pantas kan, kalau saya jadi anak Papa," ledek Dewi.
__ADS_1
"Iya-iya, Mama," Ardi mengiyakan sembari tangannya mencubit hidung Dewi.
"Tuh, kan lebih pas, Pa," sahut Dewi tersenyum.
Iya, Sayang. Itu lebih baik daripada melihat kamu nangis terus. Batin Ardi memandangi wajah Dewi.
Setelah menikahi Dewi, usaha yang dijalankan oleh Ardi kini mengalami perkembangan yang pesat. Cabang-cabang toko swalayan nya berdiri di setiap kecamatan. Bahkan ia bisa mendirikan sebuah Hotel yang khusus dipersembahkan untuk istrinya. Nama hotel tersebut diambil dari nama belakang Dewi yaitu Merysta.
Kebahagiaan mereka semakin lengkap ketika satu tahun kemudian lahirlah putri cantik dari hasil pernikahan mereka. Putri cantik yang diberi nama Aghni Kamalia.
Flashback off
Dewi masih menangis sesenggukan di taman rumah sakit tempat Tania di rawat, tiba-tiba ada yang mengelus lembut bahunya, ia seperti mengenal orang tersebut. Ia menoleh ke arah orang tersebut, dan memeluknya ketika tahu siapa orang yang mengelus bahunya.
Orang tersebut tidak lain adalah Ardi, suami Dewi. Dewi membenamkan wajahnya pada bidang milik suaminya. Ardi berkali-kali mengelus punggung dan mengecup puncak kepala istrinya.
"Sabar, Sayang. Mungkin terlalu cepat untuk Tania menyadari keberadaan kamu sebagai ibunya, Karena yang selama ini ia tahu bahwa ibunya telah meninggal dunia," ucap Ardi menenangkan hati istrinya.
"Mama akan sabar, Pa. Tapi Mama tidak tega melihat penderitaan yang dialaminya. Semua penderitaan yang dialaminya terjadi karena Mama. Coba kalau dulu Mama bawa dia saat pergi ke Jakarta, pasti dia tidak akan menjadi pelayan di toko dan hotel milik Ayah tirinya sendiri. Dan ia tidak akan mengalami kejadian naas itu, Pa," papar Dewi sedih.
"Kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita, Ma. Semua yang kita alami ini sudah digariskan oleh Sang Yang Maha Kuasa dan tertulis di Lauhul Mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan di dunia ini. Mama jangan menyalahkan diri sendiri begini," bujuk Ardi.
Ardi mengajak istrinya kembali ke ruang rawat inap Tania. Sampai di dalam ruangan Tania belum juga mau makan. Bu Retno masih setia membujuknya untuk makan.
"Aku enggak mau makan masakan rumah sakit, rasanya enggak enak, Bu," Tania mulai mengatakan apa maunya.
"Terus kamu mau makan apa, Nak? Biar ibu belikan. Mau makan bakso mercon seperti kemarin-kemarin? Gado-gado buatan ibu atau apa?" tawar Bu Retno.
"Aku mau makan nasi sama panggang uleg, Bu," jawab Tania.
"Panggang uleg? Sejenis makanan apa itu?" tanya Bu Retno.
Dewi mendekat, "Oh, itu ikan asap yang diuleg sama sambal tomat, Bu. Di rumah Bunda ada kok, Sayang. Mama mertuamu yang bawa. Bentar ya, Bunda suruh Siti yang buatin," kata Dewi menenangkan Tania.
"Tapi aku enggak mau Siti yang buatin, aku maunya Bunda yang buatin," pinta Tania.
"Oo, yaudah bunda pamit pulang dulu ya, Sayang, Bunda buatin panggang uleg buat kamu," pamit Dewi pada putri sulungnya.
Tania mengangguk.
"Ayo, Pa. Anterin Mama pulang," ajak Dewi pada Ardi.
Tanpa menjawab Ardipun menyanggupi ajakan Dewi. Mereka keluar dari ruang rawat Tania.
"Bu," panggil Tania pada Bu Retno.
"Mas Rifki kok enggak nyampe-nyampe ya, aku mau telpon Edos, sebenarnya dia di mana sekarang?" tanya Tania pada Bu Retno
"Mungkin lagi dalam perjalanan ke mari, Nak, sabar ya!" bujuk Bu Retno.
"Iya, Nak. Kemarin sore dijemput sama papa dan mamanya," jawab Bu Retno.
Tania kembali termenung memikirkan hubungannya dengan Edos. Akankan ia akan tetap bersama, jika Edos mengetahui semua ini. Hati Tania semakin teriris.
"Bu, aku mau pulang. Buat apa di sini, aku enggak lagi sakit?" rengek Tania
"Sabar, Nak. Nanti tunggu dokter dulu ya!" bujuk Bu Retno.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara itu di depan pintu rumah Bu Retno, Edos sedang membuka pintu rumah tersebut, akhirnya berhasil. Saat ia sampai di kamarnya mendapati kamarnya masih utuh seperti saat ia tinggalkan kemarin sore, ia mengambil kesimpulan bahwa Tania tidak pulang ke rumah.
"Tania, kamu di mana, Sayang? Kenapa kamu tidak pulang." Edos menyugar rambutnya dengan kasar.
Edos sekali lagi mencoba menghubungi Tania beberapa kali.
Edos mencari sesuatu yang mungkin di sembunyikan Tania di lemari pakaian mereka.
"Edos," panggil Nurlita.
"Sebentar, Ma," sahut Edos.
Edos memutuskan untuk menulis surat terlebih dahulu sebelum ia pergi meninggalkan rumah Bu Retno tersebut. Supaya Tania tidak merasa panik saat ia tidak menemukannya.
Edos mencari secarik kertas dan pulpen. Ia menulis surat beberapa saat. Kemudian ia letakkan surat tersebut di atas kasur. Edos keluar dari dalam kamar.
"Gimana? Dapat, Sayang?" tanya Nurlita saat Edos sampai di teras.
"Dapat, Ma. Kita langsung tebus saja ya, Ma. Takutnya kalau kelamaan cincin itu sudah dilelang sama pihak pegadaian," pinta Edos.
"Terserah kamu, Sayang. Keberangkatan kita juga masih lama," sahut Nurlita.
"Tolong tutupkan pintunya, Ma. Terus letakkan kuncinya di tempat tadi," ucap Edos meminta tolong kepada Nurlita.
Nurlita pun mengunci pintu rumah Bu Retno dan menyimpan kunci ke tempat persembunyiannya seperti semula.
"Ayo, Pa!" Ajak Nurlita pada suaminya untuk mesuk kembali ke mobil yang diparkir di depan gang.
Nurlita mendorong kursi roda yang diduduki Edos. Mereka berjalan bertiga menyusuri gang, sementara Aris menunggu di mobil.
"Sepertinya yang tadi kita lihat di rumah sakit benar-benar Bu Retno, warungnya juga tutup," tutur Nurlita. "Terus Tania juga sampai sekarang belum pulang, Hp nya ditelpon tidak diangkat, bahkan sekarang sudah tidak aktif. Mama kok curiga telah terjadi sesuatu sama dia yang kita tidak tahu," imbuhnya.
"Kita positif thinking saja, Ma. Jangan berfikiran yang tidak-tidak," nasehat Burhan.
__ADS_1
"Papa juga lihat tadi pagi kan? Niken pulang diantar sama si Rifki, padahal tadi malam perginya sama Bram. Semua seperti pada menyimpan misteri," cerocos Nurlita.
Mereka kini telah masuk ke dalam mobil.
"Kemana lagi kita?" tanya Aris siaga.
"Pegadaian, Ris," jawab Edos singkat.
"Siap, Bos," sahut Aris.
Mobil yang mereka tumpangi melaju pelan menyusuri jalanan menuju ke Perum Pegadaian. Kembali Edos ditemani oleh sang Mama masuk ke dalam.
"Mbak mau menebus ini," ucap Edos menyerahkan kertas kepada salah seorang petugas.
"Baik, segera kami proses silahkan ditunggu sambil duduk-duduk dulu ya, Mas," ujar petugas dengan sangat ramah.
Setelah beberapa saat petugas kembali muncul di meja kasir.
"Atas nama nona Tania Sari Dewi," seru petugas.
Nurlita mendorong kursi roda Edos lagi menghampiri petugas.
"Iya, Mbak," sahut Edos.
"Nona Tania Sari Dewi ya? Jumlah pinjamannya lima puluh juta rupiah, bunganya 5 persen kali lima puluh juta jadi dua juta lima ratus ribu, dikali dua bulan jadi 5 juta, Jumlah totalnya jadi lima puluh lima juta rupiah, Mas," terang petugas.
Edos menyerahkan kartu kredit kepada petugas tersebut. Sejenak kemudian petugas tersebut mengembalikan kartu Edos.
"Ini barang yang digadaikan, silahkan di periksa!" ucap pedugas menyerahkan sebuah amplop tebal.
Edos membukanya, di dalamnya berisi sebuah cincin dan surat-surat pembeliannya.
"Iya ini sudah benar, Bu.Terimakasih," ucap Edos.
"Sama-sama, Mas. Terimakasih juga telah berkunjung," sahut petugas.
Setelah dari pegadaian mereka langsung pulang ke rumah keluarga Ardiansyah untuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke Singapura.
Sementara itu, Rifki baru tiba di hotel Merysta melangkah masuk ke dalam langsung menemui Devi yang menangani event untuk mengambilkan honor milik Tania, karena Tania pekerja tambahan jadi honornya tidak langsung masuk ke dalam rekening.
Rifki lalu mengambil tas dan pakaian Tania yang disimpan di loker setelah menanyakan keberadaanya pada Devi. Baru saja kakinya menginjak area parkir hotel, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo, Pak Bram. Ada apa?" tanya Rifki kepada sang penelpon yang ternyata adalah Bram.
"Kamu dimana?"
"Saya lagi di parkiran Hotel Merysta, Pak. Mau kembali ke rumah sakit," jawab Rifki.
"Eits, jangan ke rumah sakit dulu. Sekarang temui Rifan GM Hotel Merysta, minta ijin pada nya untuk memeriksa CCTV," tukas Bram.
"Ini kan hari Minggu, Pak. Apa dia enggak libur?" tanya Rifki.
"Hadeuh, kenapa harus hari Minggu sih?" tanya Bram frustasi menjambak rambutnya sendiri.
"Pak, pelakunya kan sudah jelas, kenapa kita tidak tangkap orangnya langsung sih?" tanya Rifki lagi.
"Kamu ini bego atau oon sih, Rifki? Kamu pikir nangkap orang kayak nangkap ayam, kan harus pakai barang bukti dodol," hardik Bram.
Sialan nih, Bos. Udah dibantuin pakai maki-maki orang, gerutu Rifki.
"Kamu coba temui saja Rifan dulu, siapa tahu hari Minggu pun dia berangkat," tukas Bram.
"Baik, Pak," jawab Rifki.
Rifki kembali masuk ke dalam hotel, ia menghampiri customer servis.
"Mbak, mau tanya ruangan GM Rifan di mana ya?" tanya Rifki pada customer servis.
"Apa anda sudah buat janji dengan beliau?" tanya petugas customer servis.
"Saya diperintah oleh Pak Bram untuk menemui beliau," jawab Rifki.
"Tidak bisa semudah itu, Mas. Anda harus buat janji dulu dengan Pak Rifan, lagi pula ini hari Minggu, beliau pasti sedang liburan," tukas CS tersebut.
"Huh, susah benar sih mau menemui orang penting," gerutu Rifki lagi.
Rifki menelpon Bram kembali, namun tidak diangkatnya. Setelah berulangkali Rifki men-dial kontak Bram, baru ia menjawab panggilan Rifki
"Ada apa lagi, Rifki?" tanya Bram dengan kesal.
"Pak Rifan tidak bisa ditemui kalau tidak punya janji dengan beliau, Pak Bram," jawab Rifki.
"Huh, kamu kerja begitu saja tidak becus. Masalah begitu saja harus saya sendiri yang menangani," gerutu Bram yang langsung menutup telpon.
.
.
.
TBC
Terimakasih atas kunjungan Anda,
__ADS_1
Terimakasih like, komen, vote n rate 5nya
πππ