
Gini saja, sementara kamu tinggal di rumah ibu, nanti kalau suami kamu sudah bisa bekerja. kamu boleh cari tempat tinggal yang lain. Gimana?" ucap Rifki mengusulkan gagasan.
Tania sedikit menimbang-nimbang usulan Rifki.
"Baiklah," ucapnya kemudian.
Tiba-tiba handphonenya bergetar, ia melihat siapa yang menelponnya saat itu, nomor tidak dikenal. Tania hendak menggeser ikon warna hijau, namun ketika panggilan itu hendak diangkat, ternyata sudah berhenti. Mereka melanjutkan obrolan.
Sementara di luar ruangan, dua orang pegawai sedang berbisik-bisik.
"Tuh lihat, anak baru mau cari muka sama Mas Rifki," kata Sita pada temannya melirik ke arah ruangan Rifki.
"Iya, kita yang lebih lama dari dia saja tidak pernah masuk ke ruangan Mas Rifki, kecuali dia memanggil kita," timpal Rina membalas.
Dari depan Erika datang menghampiri, dan berhenti di hadapan mereka.
"Heh, ghibah saja kerjaan kalian," decak Erika sambil menepuk pundak salah satu dari mereka.
"Astaga, Mbak Erika ngagetin dech," sergah Sita.
"Mbak Erika nggak tahu kan, itu anak baru dekat-tekat sama Mas Rifki," timpal Rina.
"Itu bukan urusan kalian ya. Mendingan kalian ke kasir, kasihan Mbak Icha dari tadi belum istirahat tuh," Erika memberi nasehat pada kedua temannya tersebut.
Erika kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan dua gadis yang kurang kerjaan tersebut menuju ke ruangan Rifki.
Tok tok tok,
Erika mengetuk pintu, kemudian langsung masuk ke dalam ruangan menghampiri Rifki dan Tania. Meletakkan bungkusan yang ia bawa di atas meja.
Melihat kedatangan Erika, Tania berpindah duduk ke samping kanan. Erika menempati kursi yang tadi diduduki Tania.
"Telur dadarnya habis, Mas," Lapor Erika pada Rifki.
"Memang kamu belinya di mana?" tanya Rifki memandang gadis tersebut sambil membuka Nasi kotak yang di ambilnya.
"Di tempat biasalah, Mas. Rumah makan Padang yang ada di sebelah toko ini," jawab Erika menjelaskan.
"Kirain di warteg," ucap Rifki, Erika mencebik dan ditanggapi sunggingan senyum oleh Rifki. "Ayo, Tania. Dimakan nasinya, mumpung masih hangat," ujar Rifki pada Tania.
"Oh ya, Tan. Bagaimana keadaan suami kamu?" tanya Erika pada Tania sembari membuka kotak nasinya.
Tania juga mengambil satu kotak nasi dan membukanya.
"Alhamdulillah. Dia tadi malam sudah siuman, Mbak. Tapi kakinya belum bisa digerakkan. Nanti siang jadwal dia foto Rontgen dan CT-scan." tutur Tania menjawab pertanyaan Erika.
Mereka berbincang-bincang sambil menyuap nasi ke mulut mereka masing-masing.
"Maaf ya, Tan. Mbak belum bisa menjenguk suamimu," ucap Erika memohon maaf.
"Tidak apa-apa kok, Mbak. Aku tahu kalian sibuk," sahut Tania sambil mengunyah makanannya. "Lagian, suamiku juga nggak kenal juga sama Mbak Erika," tambah Tania tersenyum.
"Kamu Heb.." ucapan Erika terputus.
"Sudah ngobrolnya! Habiskan dulu makanannya, Ay. Nanti bisa dilanjut lagi," tukas Rifki pada Erika yang diperhatikan enggak habis-habis ngobrol dengan Tania.
Erikapun terdiam tidak menyahut ucapan Rifki.
Tiba-tiba handphone Tania bergetar lagi.
"Maaf, Mas. Aku mau mengangkat telepon dulu ya," Tania meminta ijin untuk mengangkat telepon kepada Rifki di sela makannya.
"Silahkan, Tan," sahut Rifki mempersilahkan.
Tania memundurkan kursi yang didudukinya, bangun dari kursi tersebut kemudian keluar dari ruangan untuk mencari signal.
"Kenapa itu bibir, kok tiba-tiba manyun gitu?" tanya Rifki melihat perubahan mimik wajah pada Erika. "Kamu marah, Ay? Ck, gitu saja marah," imbuhnya melayangkan lengan hendak mengusap bibir Erika. Namun belum sampai menyentuhnya, lengan tersebut sudah ditepis oleh Erika.
"Ih, Mas Rifki jorok. Itu jari kena sambal, nanti bibirku bengkak lagi," cebik Erika.
"Habis bibir kamu manyun gitu bikin gemas." sahut Rifki. "Kamu mau ngomong apa tadi?" tanyanya mengungkit omongan Erika yang terputus.
__ADS_1
"Yang mana?" tanya Erika.
"Tadi yang terputus," jawab Rifki.
"Lupa," jawab Erika pura-pura lupa. "Tadi saja di potong sekarang ditanyain," sindir Erika makin memanyunkan bibirnya.
"Sudah ngobrolnya! Habiskan dulu makanannya, Ay. Nanti bisa dilanjut lagi." ucap lirih Erika menirukan ucapan Rifki sambil di manyun-manyunkan bibirnya yang sontak membuat Rifki tertawa.
Tidak lama kemudian Rifki menetralisir ekspresi wajahnya.
"Ayang, Mas harap kamu tidak cemburu sama Tania. Mas cuma kasihan sama dia, dan Mas sudah anggap dia itu seperti adik Mas sendiri. Di hadapan kita dia itu gadis yang kuat, tegar, tangguh dan selalu menampilkan keceriaan. Tapi Mas tahu, sebenarnya dia itu gadis yang rapuh. Beberapa kali Mas memergoki dia habis menangis. Kalau bukan kita yang membantunya, siapa lagi?" ungkap Rifki panjang lebar.
"Iya, Mas. Aku akan berusaha menerimanya, asalkan Mas janji tidak keterlaluan," pinta Erika.
Rifki mengernyitkan keningnya.
"Keterlaluan gimana maksudmu?" tanya Rifki.
"Mas lebih perhatian sama dia dan mengabaikan aku," jawab Erika.
"Enggaklah, Ay. Kamu yang paling utama buat Mas, nggak akan tergeser oleh siapapun," Tukas Rifki membuat Erika tersenyum
Tania masuk kembali ke dalam ruangan Rifki.
"Mas, Mbak, aku minta ijin pulang cepat ya, mau ke rumah sakit. Barusan sudah ditelpon oleh pihak rumah sakit, aku disuruh ke sana," Tania meminta ijin kepada Rifki dan Erika.
"Iya, Tan tidak apa-apa," jawab Erika.
"Habiskan dulu nasinya, biar nanti kuantar," ucap Rifki mencegah Tania.
Tania pun duduk kembali di kursi yang tadi dia duduki, dan melanjutkan makan siangnya.
"Terimakasih ya Mas Rifki dan Mbak Erika, ternyata di kota besar seperti ini masih ada orang baik seperti kalian," ucap Tania dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan ngomong seperti itu, Tania. Sesama manusia kita harus saling membantu. Suatu saat kami juga pasti butuh bantuan dari orang lain," sanggah Erika.
"Oh ya, kalian kenapa nggak menikah saja sih," tanya Tania tanpa rasa malu. "Segera lah, Mas. Kalian kan sudah punya pekerjaan tetap. Edos nggak kerja saja berani menikahiku, masa Mas Rifki yang udah kerja takut nikah," cerita Tania membanggakan suaminya.
"Ih, Mas Rifki. Kenapa jadi aku? Mbak Erika juga udah ingin cepat-cepat kamu nikahi tahu. Tapi dia kan perempuan, malu kalau jujur," ucap Tania memojokkan Rifki. Erika hanya tersenyum.
"Siapa juga yang enggak ingin menikah? Mas Rifki juga mau kali. Nikah itu gampang, Tan, Yang enggak gampang itu setelah nikahnya. Buktinya kamu, apa enaknya coba setelah nikah? Apakah kamu sudah merasa bahagia? Kita harus punya pemikiran yang matang sebelum menikah, Tania."
Rifki memiliki pemikiran yang dewasa, ia mengungkapkan alasannya kenapa sampai sekarang dia belum menikah. Tania terdiam, ucapan Rifki memang benar adanya. Setelah menikah dengan Edos memang dia belum merasakan kebahagiaan.
Namun Tania tidak menyesal telah menikah dengan orang yang selama ini dicintainya, walaupun kebahagiaan belum mau mengunjunginya. Namun ia yakin suatu saat kebahagiaan itu pasti akan hadir dalam kehidupannya.
There will be rainbows after the rainstorm subsides.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Abizar baru kembali dari rumah paman Hisyam, dia turun dari mobil langsung bergegas menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Ia nampak mencari sesuatu di dalam laci lemari pakaiannya.
Sebuah buku agenda berwarna hijau army dia temukan di kotak laci tersebut. Diambilnya buku itu, kemudian melangkah menghampiri ranjang, ia duduk bersandar pada sandaran ranjang.
Abizar membuka halaman demi halaman buku tersebut, ia tidak berniat untuk membaca, tetapi ada sesuatu yang dia cari. Akhirnya dia menemukannya juga, sebuah foto dirinya bersama gadis kecil dengan potongan rambut berponi, ia mengusap foto gadis kecil tersebut.
"Tania, seperti apa wajahmu sekarang? Apa benar kamu yang telah menikah dengan Edos? Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu? Kenapa kamu tidak membagikan kebahagiaanmu dengan kakakmu ini? Apa kamu sudah melupakanku?" seberondong pertanyaan ia lontarkan kepada foto hitam putih yang ia pegang tersebut.
Tentu saja tidak ada jawaban dari dalam foto tersebut.
Abizar teringat sesuatu, ia mengambil dan membuka gawainya. Tidak ada aplikasi sosmed apapun disana, kecuali WhatsApp. Tetapi karena ia ingin mengetahui sesuatu maka ia mengunduh salah satu aplikasi yang berwarna biru.
Tidak sampai satu menit, aplikasi tersebut sekarang sudah menghiasi beranda ponselnya. Abizar mulai membuka-buka aplikasi tersebut. Mencari saran teman yang terhubung dengan kontaknya. Akhirnya dia menemukan profil Edos. Dia buka profil adiknya tersebut.
"Kalian terlihat sangat bahagia."
"Mas Bizar kok ngomong sendiri."
__ADS_1
Tiba-tiba suara sumbang terdengar menyahut.
Abizar kaget dan memalingkan muka ke arah sumber suara. Aris sudah tidur terlentang dengan kaki ongkang-ongkang ke lantai di hadapannya.
"Dasar supir tidak tahu diri, masuk kamar orang tanpa permisi, mau aku pecat kamu?" hardik Abizar. Dia segera menyembunyikan foto dan buku agendanya di balik bantal.
"Siapa bilang? aku sudah berulang kali mengetuk pintu tahu. Karena pintu tidak dikunci ya aku masuk saja," kilah Aris. "Eh, Mas Bizar nyembunyiin apa itu dibalik bantal?" tanyanya kemudian.
"Bukan urusan kamu!" tukas Abizar.
"Aku laporin ibu loh, biar dinikahkan sekalian," ancam Aris. Abizar tidak menanggapi serius adik sepupunya, keponakan dari Mamanya tersebut.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Abizar yang sudah bisa membaca gelagat Aris.
"Mas, bagi duit donk!" pinta Aris.
"Buat apa? bukannya kemarin kamu baru terima pocokan?" Rifki membalas permintaan Aris dengan pertanyaan.
"Buat nembak Sisi. Sudah habis, Mas. Buat bayar semester," sahut Aris serius.
"Ck, Sisi kan masih sekolah, Ris," Abizar berdecak.
"Kalau nggak segera di tembak, takut keburu diambil orang, Mas. Yang ada nyesel nanti," kilah Aris.
"Aku kasih kamu duit, tapi ada syaratnya, mau?" tawar Abizar.
"Ealah, Mas. Sama saudara sendiri kok gitu sih," cerca Aris.
"Dengar dulu, belum apa-apa sudah suudzon saja, kamu," pinta Abizar.
"Apa?" tanya Aris tidak sabar.
"Kamu ikut aku ke Jepang, menggantikan posisi yang seharusnya kusiapkan untuk Edos." ucap Abizar memberikan syarat pada Aris.
"Yah, pisah dari Sisi donk," sesal Aris.
"Mau, nggak?" tanya Abizar meminta ketegasan.
"Iya mau, Mas. Tapi nunggu aku wisuda ya," jawab Aris.
"Kapan wisudanya?" tanya Abizar.
"Akhir bulan ini baru ujian sidang, bulan Mei tahun depan wisudanya," jawab Aris.
"Oke," ucap Abizar mantap.
"Mana duitnya." Tanya Aris teringat kembali tujuan semula masuk ke kamar Abizar.
"Sabar!" suruh Abizar.
Abizar nampak membuka HP nya, dan mengetikkan sesuatu di sana.
"Sudah masuk, kamu sudah bisa cek," tukas Abizar.
Aris membuka notifikasi I banking di HP nya.
"Udah masuk, Mas. Wow banyak sekali, dari dulu kek kayak begini. Terimakasih, Mas," ucap Aris yang kemudian langsung pergi setelah mendapatkan apa yang ia mau.
Abizar beranjak dari tempat tidur, ia menyimpan kembali buku agendanya ke dalam lemari.
.
.
.
Happy reading
semoga suka
terimakasih like, komen dan vote kalian ya.
__ADS_1
πππ