2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Telepon dari Niken


__ADS_3

Tania sudah mulai kembali masuk kuliah. Abizar sudah kembali ke Jepang dan Farhan sudah tinggal di asrama sekolah yang dipilihkan oleh Ardiansyah. Ehm ... sudah apalagi ya? Eh iya, Aghni sudah kembali ke Bandung.


Sebenarnya Tania belum selesai masa Iddahnya, tetapi jika ia harus menunggu sampai selesai masa Iddah tersebut, tentu akan banyak sekali pekerjaan dan tugas-tugas yang harus ia pikul terbengkalai. Dalam keadaan darurat tak apalah, yang penting ia tidak memakai pakaian yang mewah, mencolok dan tidak bersolek menurutnya. Ia hanya perlu mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas selama menjalani kuliah.


Tania juga harus mengulang SKS yang tertinggal karena ia harus mengambil cuti saat melahirkan Attar. Ia mengambil kelas siang. Untung saja Nadia mau menemaninya saat ia ikut kelas siang dan mau membantu mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk.


Saat waktu jeda, Tania dan kawan-kawan keluar area kampus hendak makan siang sekalian mengerjakan tugas di kafe depan kampus. Kafe tersebut memang didesain dan disediakan untuk para pelajar dan mahasiswa. Saat mobilnya keluar gerbang, Tania melihat seorang pedagang kaki lima menjajakan dagangannya di trotoar samping gerbang. Tania jadi teringat dulu saat duduk di bangku SMA, ia juga jualan kaos dan underwear lainnya. Ia terpaksa melakoni pekerjaan tersebut untuk kelangsungan hidupnya, membantu membiayai sekolahnya sendiri. Ia tidak enak kalau seluruh kebutuhan hidupnya ditanggung oleh sang paman. Sementara Hisyam pamannya juga bukan orang yang berkecukupan materi.


"Kaos kakinya, Mbak. Murah aja, 10 ribu tiga pasang. Yang jempol lima ribuan," tawar pemuda penjual itu yang ditaksir usianya mungkin sebaya dengan Tania dan kawan-kawan. Sebenarnya kafenya dekat, hanya menyeberang jalan saja. Namun, karena hari ini cuaca sangat terik, mereka memutuskan untuk membawa mobil saja, meskipun harus memutar jalan.


"Kamu kenapa, Tan? Dari tadi melirik ke jendela terus," sela Prima yang duduk di belakang. Sementara Tania duduk di kursi depan, di samping Nadia yang sedang fokus nyetir.


"Aku cuma ingat, dulu aku juga pernah jualan kaos kaki seperti cowok tadi," sahut Tania.


"Masa?" tanya Prima tak percaya.


"Kamu pikir aku ini udah kaya dari lahir. Aku bahkan pernah jadi buruh petik daun teh di perkebunan papanya Edos," sahut Tania yang seketika kembali muram karena teringat almarhum suaminya.


"Maaf, Tan! Aku nggak ada maksud membuat kamu teringat kembali pada almarhum," ucap Prima merasa tidak enak.


"Enggak apa-apa kok, Pim. Santai aja," ucap Tania menimpali.


Sampai di kafe yang mereka tuju, mereka langsung menuju ke ruangan yang sudah mereka reservasi. Sepertinya Nadia memesan ruangan privat yang ada di lantai 5 kafe tersebut.


"Eh, Nad, cowok-cowok yang satu kelompok sama kita nanti ikut gabung ke sini juga?" tanya Tania kepada Nadia saat mereka berjalan di lobi.


"Enggak tahu, tapi nanti kita ngerjain bareng-bareng via google doc kok. Jadi enggak harus ketemu juga. Memangnya kenapa?" sahut Nadia.


"Aku ngerasa enggak enak aja kalau harus kumpul-kumpul sama lawan jenis. Kamu kan tahu sendiri aku lagi masa Iddah. Lagian kamu emangnya udah dapat ijin dari bojo mu?"


"Aku udah ijin tadi via chat WhatsApp, tapi aku nggak ngasih tahu kalau kumpul-kumpulnya bareng cowok sih. Aku cuma bilang kita bertiga doang. Aku kira nggak apa-apa deh, ini kan ngerjain tugas kuliah," papar Nadia.


"Mudah-mudahan," Tania berharap.


"Aamiin...."


Sampai di ruangan, Nadia langsung membuka laptopnya. Ia tampak fokus mengerjakan sesuatu.


"Aku buat grup WA untuk kelompok baru kita ya, Nad. Nanti kalau lembar kerjanya udah jadi, kamu langsung share linknya di grup WA aja," ucap Tania.


"Oke," sahut Nadia sambil tetap fokus pada layar laptop.


"Ini kita kudu ngapain sih, Tan, Nad. Kok aku enggak ngeh?" tanya Prima yang masih bingung.


"Makanya pas kuliah jangan tidur," hardik Tania. "Kamu serius mau iparan sama dia, Nad?" Tania beralih pada Nadia mengolok Prima.


"Sebenarnya ogah sih, tapi ya mau gimana lagi? Mau nolak nanti malah aku yang dideportasi ke Indramayu gimana dong? Kan dia duluan yang dapetin Mas Rayan dari pada aku dapetin pak dosen," sergah Nadia dengan santainya. Prima hanya mengerucutkan bibirnya.


"Kamu buka WhatsApp web dulu aja, Pim," ujar Tania.

__ADS_1


Grup WhatsApp yang beranggotakan 7 orang telah selesai dibuat oleh Tania. Notifikasi pesan masuk sudah gencar bersahutan.


[Kalian dimana @Tania, @Prima, @Nadia? Aku bareng sama Erik, Ozi dan Kata kumpul di perpus nih] Vina.


[Aku, Nadia sama Prima di kafe depan kampus gengs. Nadia lagi bikin lembar kerja, bentar lagi linknya di kirim di sini kok. Kalian buka WhatsApp web aja dulu ya sambil nunggu. Nanti kalau link udah dishare langsung eksekusi tugas kalian masing-masing] Tania.


[Jadi kita gak usah gabung ke situ nih?] Erik.


[Gak usah, Rik, daripada buang-buang waktu buat ke sini. Kita kumpul daring aja ya] Tania.


Saat sedang asyik berbalas pesan terlihat notifikasi permintaan panggilan video call dari Abizar di ponsel Tania.


"Boleh terima VC nggak, Nad?" tanya Tania pada Nadia.


"Dari siapa?" tanya balik Nadia.


"Kak Bizar," sahut Tania singkat.


Nadia melirik ke wajah Tania singkat. Sepertinya ada semburat keceriaan di wajah janda tersebut membuat Nadia tidak tega untuk melarang. "Jangan lama-lama, ini udah jadi lembar kerjanya. Kamu harus ke kelas tingkat 1 kan jam 2 nanti," cegahnya.


Nadia memang sudah selesai membuat lembar kerja dan sudah membagikan link ke grup WA.


"Oke, enggak lama kok," sahut Tania singkat lalu segera menggeser ikon warna hijau.


Terpampang lah di layar ponsel Tania wajah kuyu Abizar, tetapi tidak mengurangi kadar ketampanannya.


"Assalamu'alaikum, kakak sepupu," sapa Tania.


"Lagi di kafe nih, bareng sama Nanad dan Pipim. Kakak lagi di mana?"


"Di kantor, bentar lagi pulang. Kamu jangan lupa makan ya, biar tubuh kamu isi enggak kaya kutilang darat."


"Iya, ini kumpul di kafe juga mau makan siang sekalian ngerjain tugas kok."


"Oo, lagi ngerjain tugas. Kakak ganggu nih?"


"Iya, tadi juga udah diwanti-wanti jangan lama-lama sama ketua kelompok, hehe."


"O, ya udah kalau gitu kakak tutup aja. Kakak cuma ngingetin kamu jangan telat makan siang aja."


"Makasih udah diingetin ya, Kak."


"Iya, sama-sama. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Layar ponsel kini langsung menampilkan beranda. Dua orang pelayan masuk ke dalam ruangan membawakan makanan. Sepertinya Nadia sudah memesan sebelum sampai di kafe tersebut.


"Duh yang lagi LDR," sindir Prima.

__ADS_1


"Nyindir diri sendiri kamu, Pim," sergah Tania.


"Ah iya, lupa. Tapi itu wajah kamu ceria banget lho, Tan, setelan video call sama kakak sepupu," goda Prima lagi.


"Terus aku harus pasang muka sedih terus gitu? Kamu kan tahu dia itu kakak sepupu sekaligus ipar aku," elak Tania.


"Yang bilang dia calon suami kamu siapa?" cicit Prima. 'Edos juga sepupu kamu kali, Tan? Tapi kalian nikah juga," Prima menambahkan di dalam hati saja, takut Tania kembali sedih mendengar nama Edos disebut lagi.


"Udah-udah, langsung kerjakan, Tan!" Nadia menginterupsi.


Setelah tugas selesai dikerjakan Nadia langsung mengirimkan ke email dosen pengampu. Nadia dan Tania kembali ke kampus karena ada mata kuliah di kelas tingkat 1 yang harus ia ikuti. Sementara Prima pulang terlebih dahulu.


Tania dan Nadia tiba di ruangan lebih awal sehingga ia bisa memilih tempat duduk yang nyaman.


"Tan, kamu seharian belum pumping kayaknya, emangnya enggak sakit?" tanya Nadia saat teringat sejak pagi Tania belum memerah ASI, sebab Tania seorang ibu menyusui.


"Aku pakai pompa ASI yang bahan silikon, jadi lebih praktis dan enggak ribet kayak pompa ASI biasa. Enggak harus mendekam di ruang menyusui lama juga," ungkap Tania.


"Oo," Nadia hanya ber-o ria.


Tiba-tiba ada mahasiswa yang duduk di bangku depan Tania. Tania terus memandangi cowok tersebut seperti pernah bertemu, tetapi ia lupa pernah bertemu dengan pemuda tersebut di mana.


"Permisi, saya boleh duduk di sini 'kan, Mbak?" tanya pemuda tersebut.


"Eh, i-iya boleh, Mas," ucap Tania tergagap.


"Kamu kenapa sih, Tan. Muka kamu kok aneh begitu?" tanya Nadia berbisik mendapati sikap aneh sahabatnya.


"Kayak pernah lihat cowok ini, tapi aku lupa di mana," sahut Tania berbisik pula.


Satu per satu mahasiswa masuk memenuhi ruangan. Di saat Tania tengah berfikir di mana ia pernah bertemu dengan cowok yang duduk di bangku depannya tersebut, ponsel yang ada di tangannya bergetar, ia memang menyetel ponselnya dengan mode silent.


"Mbak Niken? Ada apa telepon ya?" gumam Tania saat membaca nama Niken terpampang di layar ponsel. Untung dosen belum masuk.


"Assalamu'alaikum, Tan," ucap Niken saat durasi panggilan berjalan


"Wa'alaikumussalam, Mbak Niken," jawab Tania.


"Kamu lagi sibuk enggak, Tan? Ke rumah Erika yuk! Kamu belum ke sana 'kan?" tanya Niken.


"Aku lagi kuliah ini, Mbak. Ngulang SKS. Belum ke sana sih. Hari Minggu aja gimana? Soalnya aku sampai hari Sabtu juga nggak punya waktu," tawar Tania.


"Oh, kirain Mbak kamu udah pulang. Ya udah enggak apa-apa hari Minggu yang akan datang. Kamu jemput Mbak Niken ya. Sekalian ada sesuatu yang mau Mbak sampaiin ke kamu," timpal Niken.


"Sesuatu? Sesuatu apa, Mbak?" tanya Tania yang menjadi penasaran.


"Mbak enggak bisa nyampaiin di telepon, Tan. Maaf. Kamu sabar aja ya sampai hari Minggu tiba. Jangan lupa jemput Mbak ya!" sahut Niken.


"Iya, Mbak. In sya Allah," sahut Niken menyetujui, tetapi di dalam hati rasa penasaran itu kian kuat.

__ADS_1


Setelah mengucap salam Niken memutus sambungan telepon. Dosen pengampu kini telah memasuki ruangan dan tengah memberikan materi kuliah. Namun, Tania kini malah tidak fokus mengikuti kuliah tersebut. Pikirannya menjadi menerka-nerka apa yang akan disampaikan oleh Niken kepadanya. Apakah ini ada hubungannya dengan Bram? Tania kini menjadi tidak sabar untuk menunggu hari Minggu tiba.


__ADS_2