
Cinta adalah dimana kamu selalu punya alasan untuk kembali meski kamu sudah berjalan begitu jauh.
Dalam cinta, menyerah tak selalu berarti kamu lemah. Kadang itu hanya berarti kamu cukup kuat tuk melepaskannya.
💦💦💦💦💦
Keluar dari dalam toilet, wajah Tania nampak pucat pasi. Ia berpegangan pada dinding, tubuhnya seakan lemah seperti jelly, tidak bertulang. Tenaganya seperti terkuras habis ikut larut bersama semua cairan yang terbuang.
Rayan melihatnya menjadi bertambah merasa bersalah. Ia menyodorkan air mineral yang selalu tidak pernah absen terselip di kantong luar tas punggungnya.
"Minumlah!" perintahnya.
Tania menyerahkan kembali botol air mineral kepada Rayan setelah ia meneguknya beberapa tegukan. Rayan memapahnya untuk duduk di sebuah bangku yang ada di sana. Menunggu sesaat untuk Tania mengumpulkan sedikit tenaganya, sampai ia siap kembali melanjutkan tujuannya datang ke kampus tersebut.
"Masih mual, Tan?" tanya Rayan Khawatir.
"Dikit," jawab Tania.
"Kita ke kantin dulu ya? Biar perut kamu terisi," tawar Rayan.
"Langsung ke bagian administrasi saja, Mas. Habis itu kita pulang, aku sudah pengen istirahat," ucap Tania memutuskan.
"Kamu masih bisa jalan kan?" tanya Rayan memastikan.
"Masih kok, Mas. Asal jalannya pelan enggak usah tergesa-gesa," jawab Tania.
Tania bangkit dari duduknya hendak melangkah ke arah anak tangga.
"Kita naik lift saja, Tan. Aku takut kamu sempoyongan menuruni anak tangga," ajak Rayan.
Kalau ada lift kenapa engga dari tadi naik lift. Udah capek-capek manjat tangga ternyata ada lift, huh!" gerutu Tania dalam hati.
Tania berbalik ke arah Rayan yang menunggunya untuk diikuti. Mereka berada di depan pintu lift, pintu lift terbuka setelah Rayan memencet tombol, mereka masuk dan menghilang setelah pintu tertutup.
"Kamu yakin kita mau langsung ke Bagian administrasi?" Tanya Rayan ketika mereka telah keluar dari lift.
"Iya," jawab Tania malas.
Mereka kembali melangkah menyusuri koridor kampus, sampai tidak jauh dari pintu gerbang ada loket yang di atasnya terpampang bagian administrasi. Rayan meminta berkas-berkas kelengkapan milik Tania.
"Kamu duduk saja di sini, biar aku yang urus," titah Rayan. Tania hanya mengangguk lemah bersandar pada sandaran bangku yang ada di depan ruang bagian administrasi. Ada sebuah bangku panjang dan tiga buah bangku kecil melingkar, di tengah ada meja.
Rayan menghampiri petugas bagian administrasi. "Mbak, saya bawa berkas pendaftaran punyanya Tania, titipannya Tuan Ardi," ucap Rayan pada petugas.
"Bentar-bentar, Mas. Ini tolong diisi formulirnya, nanti dijadikan satu sama berkasnya," pinta petugas tersebut.
Rayan mengambil formulir dan mengambil kembali file berkas milik Tania, lalu melangkah kembali ke tempat Tania duduk. Rayan duduk berhadapan dengan Tania, ada meja yang membatasi mereka.
Rayan menyalin data-data yang telah ada di file ke dalam formulir, sementara yang belum ada dia menanyakannya kepada Tania.
"Status pernikahan?" tanya Rayan pada Tania.
"Menikah," jawab Tania singkat dengan malas.
"Tanggal pernikahan?"
"Sembilan September,"
"Nama suami?"
"Muhammad Azhar Firdaus,"
"Maharnya?"
"Hah? Memangnya ada pertanyaan kayak gitu?" tanya Tania merasa curiga.
"Tidak ada, cuma ngetes doank. Hahaha..." jawab Rayan.
"Sialah, berani sekali kamu ngerjain bosmu!" hardik Tania.
Rayan hanya tertawa, "Aku kira kamu masih gadis, ternyata aku udah telat," ucapnya. Tania hanya mencebik kesal.
"Tanda tangani!" titah Rayan meletakkan formulir pendaftaran di hadapan Tania.
Tania menandatangani formulir tersebut. Rayan mengambil kembali formulir tersebut dan menyerahkan kepada petugas pendaftaran di bagian administrasi. Menunggu mungkin hingga lima menit untuk di proses.
Rayan kembali menghampiri Tania dan menyerahkan sebuah amplop kepadanya. Tania menerima amplop tersebut dan memasukkan ke dalam tas, ia bangkit dari dari duduknya. Melangkah beriringan menuju ke area parkir.
"Benar, ini mau langsung pulang?" tanya Rayan sekali lagi setelah mereka berada di dalam mobil.
"Ehm.., Mampir ke depan gang rumahnya Mas Rifki yang tadi ya, Mas. Aku mau makan bakso mercon," pinta Tania.
"Siap, Boss," sahut Rayan.
Mobil melaju pelan meninggalkan area parkir kampus menuju ke tempat yang diminta oleh Tania. Dua puluh menit kemudian mereka baru sampai di dekat warung bakso mercon seperti yang dimaksud oleh Tania.
__ADS_1
"Aku heran sama kamu, Tan. Orang kaya kok mau makan di tempat kayak gini," tutur Rayan saat mereka duduk di bangku di dalam tenda warung bakso mercon.
"Aku bukan orang kaya, yang kaya itu mama sama papa tiriku," sahut Tania.
"Tan, kalau kamu beneran udah nikah, kenapa di jarimu enggak ada cincin yang melingkar?" tanya Rayan lagi yang masih ingin tahu tentang Tania.
"Dalam syarat Syah dan rukun nikah, memangnya harus ada cincin? enggak ada kan?" Tania menjawab pertanyaan Rayan dengan balik bertanya.
"Enggak ada sih, tapi itu kan sudah tradisi," sangkal Rayan.
"Tradisi itu bagi orang kaya yang bergelimang harta, sementara aku orang miskin enggak perlu pakai cincin, yang penting sah di mata hukum, agama dan masyarakat," tutur Tania.
Rayan bisa menerima apa yang dipaparkan oleh Tania, sekarang yang menjadi pertanyaan dalam benaknya, seperti apa sosok suami Tania? Kenapa ia tidak pernah melihat orang tersebut.
"Lalu suami kamu di mana sekarang? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" tanya Rayan.
Pesanan Tania datang, Tania segera melahapnya hingga ke cabe-cabenya tanpa ampun.
"Mas Rayan enggak mau? Ini enak banget lho," tanya Tania sengaja menghindari menjawab pertanyaan Rayan. Pertanyaan yang sepele, namun butuh tenaga ekstra untuk menjawabnya.
"Aku enggak bisa makan makanan kayak gini," jawab Rayan.
"Dasar orang kaya! Aku pesanin pasti ketagihan kalau udah nyicipin," ujar Tania. "Bang, bakso uratnya satu!" serunya pada si penjual.
"Pakai mi apa, Mbak?" tanya si penjual.
"Apa?" tanya Tania pada Rayan.
"Apa?" Yang ditanya malah balik bertanya.
"Mi nya Mas Rayan mau kuning atau putih?" tanya Tania memperjelas.
"Nggak usah," jawab Rayan.
"Nggak usah pakai mi, Bang," seru Tania.
"Nggak usah pesan maksudku," terang Rayan.
"Udah terlanjur, Wek," ledek Tania.
Pesanan langsung datang. Namun Rayan belum mau memakannya, dia merasa jijik untuk jajan di pinggir jalan, air yang digunakan untuk mencuci piring apa ya bersih, pikirnya. Terus kalau ingat berita di televisi, dalam rebusan air ditemukan celana dalam, ih jijik banget.
"Ayo dimakan! Kalau enggak mau makan hari ini terakhir kamu jadi supirku!" tukas Tania.
"Ih, jangan-jangan. Iya kumakan nih," ucap Rayan yang dengan terpaksa harus memakan bakso yang dipesankan Tania.
"Ini mau kumakan, Bos," ucap Rayan mendekatkan mangkok bakso dan mulai memakan bola daging dengan garpu ke mulutnya.
"Gimana rasanya?" tanya Tania masih dalam mode jutek.
"Ehm.. enak, Tan. Ini sich enak banget," ucap Rayan yang mulai melahap baksonya.
"Hemmmh..," Tania mencebik.
Sok-sokan jijik lah, enggak doyan lah, dasar**!
"Mas Rayan!" panggil Tania.
"Hemmm," sahut Rayan memandang sekilas masih menikmati baksonya.
"Kenapa Mas Rayan mau bekerja sebagai sopir? Padahal keluarga Mas Rayan kan orang kaya?" tanya Tania heran.
"Karena aku ambil penelitian tentang sopir, jadi aku harus terjun langsung, enggak cuma wawancara saja," jawab Rayan yang masih mengunyah bakso.
"Terus tadi kenapa harus pakai acara adegan kitiran segala? Seneng banget kayaknya, berhasil kenapa?" tanya Tania lagi.
"Oh tadi, skripsiku diACC," jawab Rayan.
"Aduh, skripsi diACC saja udah bikin kepalaku pusing, apalagi lamarannya yang diacc," gerutu Tania.
"Maaf, tadi reflek. Aku enggak ingat kalau kamu Tania,"
Setelah menghabiskan bakso dan membayarnya, mereka langsung pergi meninggalkan area tersebut. Rayan mengantar Tania pulang ke rumah kediaman keluarga Ardiansyah. Setelah itu ia pulang dengan mengendarai motornya.
Tania masuk ke dalam rumah, disambut senyuman dan pelukan hangat sang Mama. Mereka duduk di sofa ruang tengah.
"Bagaimana hari ini, Sayang? Sudah mulai kuliah?" tanya Dewi.
"Belum, Ma. Tadi baru mendaftar doang," jawab Tania.
Tania merebahkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di pangkuan sang Mama, badannya meringkuk miring. Dewi membelai kepala putri sulungnya.
"Makan dulu yuk, Sayang. setelah itu kamu bisa istirahat," ajak Dewi.
"Tania masih kenyang, Ma. Sebelum pulang kami sudah makan bakso." Tania menolak ajakan sang Mama.
__ADS_1
"Tapi mukamu pucat sekali," sergah Dewi menelisik wajah Tania.
"Tadi Tania nungguin Mas Rayan bimbingan skripsi lama banget, eh pas keluar senang banget, tiba-tiba di ngangkat tubuh Tania sambil berputar-putar, untung tidak jatuh. Tapi Tania jadi pusing dan mual, sampai keluar semua isi perut Tania, Ma," papar Tania.
"Ada-ada tuh anak, main peluk-peluk istri orang. Parah," umpat Dewi.
Anak tiri kamu bahkan lebih parah, Ma. Dia menggagahi istri orang, batin Tania.
Tania bangkit dari posisi rebahannya, " Tania mau istirahat di kamar saja, Ma," pamitnya pada Dewi.
"Iya, Sayang. Mama juga mau sholat dulu," sahut Dewi mengingat waktu sudah hampir dhuhur.
Tania beranjak berdiri dan melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Ia memasuki kamar langsung membuka pintu yang menghubungkan kamar ke balkon. Tania duduk bersandar di kursi balkon, memandang lepas ke arah taman yang ada di belakang rumah, sedang kakinya ia luruskan bertumpu pada kursi yang ada di depannya.
Entah apa yang ia pikirkan saat ini, terasa begitu singkat perjalanan yang ia lalui namun begitu banyak peristiwa yang terjadi. Dari sendiri kini ia sendiri lagi. Ia kadang harus menepis untuk angan yang berharap Edos akan kembali padanya setelah apa yang terjadi.
Ia begitu rindu pada suaminya, namun kedua nomor ponsel Edos sekarang sudah jarang aktif. Mereka sekarang jarang berkomunikasi, bahkan hanya sekali malam itu. Sudahlah, apa yang akan terjadi maka terjadilah. Tidak perlu lagi ada tetesan air mata atas semua yang telah digariskan oleh-Nya. Tania harus bangkit.
Semilir angin yang berhembus seakan mendukung apa yang difikirkan oleh Tania, membelainya hingga ia terlena dalam mimpi sesaat, hingga panggilan suara azan di tengah hari menggema membangunkannya. Tania bangkit dan melangkah ke toilet untuk mengambil air lalu melaksanakan sholat dhuhur di kamarnya.
Saat sedang khusyuk berdo'a, pintu kamarnya diketuk dari luar. Siti melongok ke dalam karena pintu tersebut memang tidak ditutup. Mengetahui sang pemilik kamar sedang mengisi presensi kepada sang khalik, Siti berdiri menunggu lalu mendudukkan bokongnya di sofa hingga Tania melepas mukenanya dan kembali memakai kerudungnya.
Tania menoleh ke arah Siti, "Ada apa, Mbak Siti?" tanyanya.
"Ada Mas Rifki sama Mbak Erika, Mbak Tania. Mereka menunggu di bawah," jawab Siti.
Tania mengerutkan keningnya, "Apa mereka tidak berangkat kerja?" gumamnya. "Buatkan jus jeruk ya, Mbak. Bawa ke Taman belakang!" ujarnya pada Siti.
Siti keluar dari kamar Tania, diikuti Tania yang keluar hendak menemui Rifki dan Erika.
"Halo, calon pasangan pengantin. Kalian sudah mulai cuti apa? Kok pada enggak berangkat kerja?" sapa Tania setelah sampai di ruang tamu pada Rifki dan Erika yang saat itu tengah di temani oleh Dewi.
"Mas Rifki mumpung masih waktu istirahat kok," sangkal Rifki.
"Mbak Erika mau sekalian berangkat ini," timpal Erika.
Tania duduk di samping mamanya. "Kalian enggak asik ah, tinggal minta cuti sekalian kenapa?" Tania mencebik.
"Kami dikasih cuti cuma satu Minggu doang, Tan. Yah, kita pakai untuk hati H dan setelahnya saja," sahut Rifki.
Tania memandang Dewi, memegang tangannya. "Ma, Tania mau pakai taman belakang rumah, boleh ya?" pamitnya pada mamanya.
"Boleh kok, Sayang, sudah tahu jalan ke sana?" sahut Dewi kemudian balik bertanya.
"Belum," jawab Tania seraya menggelengkan kepalanya.
Dewi bangkit menggandeng tangan Tania. "Ayo Mama tunjukkan!" ajaknya.
"Mbak Erika, Mas Rifki, ayok ke taman belakang rumah!" ajak Tania pada Rifki dan Erika, kedua calon pasangan pengantin tersebut bangkit membuntuti Tania, menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh Dewi menuju ke taman belakang rumah.
"Silahkan kalian ngobrol, Mama ada perlu," pamit Dewi ketika mereka telah sampai di depan pintu yang menghubungkan antara Rumah dan Taman.
"Terimakasih, Mbak Dewi," ucap Erika.
Tania menautkan kedua alisnya mendengar sapaan Erika kepada mamanya. Dewi masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka bertiga yang berjalan menuju ke taman. Siti datang membawa jus jeruk dalam sebuah teko kaca beserta tiga buah gelas dan camilan yang ditaruh di atas sebuah nampan.
"Siti taruh di gazebo ya, Mbak," pamit Siti saat melewati mereka bertiga yang berjalan santai.
"Iya, Mbak Siti. Terimakasih," seru Tania.
Siti langsung kembali ke dalam rumah setelah meletakkan nampan yang dibawanya. Mereka duduk di gazebo.
"Mbak Erika, kenapa panggil Mama dengan sebutan Mbak, bukannya Tante?" ungkap Tania yang masih penasaran.
"Oh, itu karena dulu saat SMA, Aku sering ketemu Mbak Dewi di rumah Niken ketika ada tugas kelompok, mamamu itu temannya Mbak Tinah, pembantu di rumah orangtuanya Niken," ungkap Erika.
"Mbak Tinah? Jadi kalian kenal Mama sudah lama?" tanya Tania lagi.
"Iya, sejak aku dan mas Rifki kelas dua SMA, iya kan, Mas?" jawab Erika meminta dukungan dari Rifki.
"Iya, Tan." jawab Rifki singkat. "Oh iya, Tania. kedatangan kami ke sini mau menyampaikan ini," imbuhnya mengutarakan maksud yang sebenarnya. Namun mendadak wajah Tania bertambah pucat.
.
.
.
TBC
Terimakasih yang udah baca
Jangan lupa tinggalin jejak ya
like dan komentar terbaik selalu author tunggu
__ADS_1
vote dan rate bintang 5 itu adalah bonus
Terimakasih banyak 😘😘😘