
Setelah berpamitan dengan dokter Sifa, Tania dan Nadia diantar oleh suster asisten dokter Sifa ke bagian pendaftaran rawat inap untuk memilih kamar. Setelah itu mereka keluar dari gedung rumah sakit.
"Pipim di mana sih? Kok tidak nampak batang hidungnya?" gumam Nadia bertanya.
"Kamu langsung ambil mobil aja gih, Nad. Aku nunggu di sini aja sekalian telepon Pipim," cetus Tania.
"Assiap, Bos!" sahut Nadia lalu segera pergi ke area parkir rumah sakit.
Tania merogoh kembali ponselnya yang sempat ia simpan ke dalam tas. Ia lalu melakukan panggilan terhadap Prima.
"Kenapa, Tan? Udah selesai periksa kandungannya? Aku lagi di kantin rumah sakit nih. Ada mi level pedas yang mantap di sini," cerocos Prima dari seberang sana.
"Mau ikut pulang enggak? Atau kamu mau pesan ojek online?" tanya Tania tanpa menghiraukan cerocosan Prima.
"Ikut lah, ngirit ongkos. Kamu beneran enggak pengen makan di sini?," sahut Prima.
"Enggak, cepetan kalau mau ikut, kalau enggak -"
"Iya-iya!" Prima langsung memutus panggilan secara sepihak.
Nadia menghentikan mobil yang dikendarainya di depan tempat Tania berdiri. "Kenapa? Sepertinya senang sekali. Pipimnya ada di mana sekarang?" ucapnya saat Tania telah masuk dan duduk di kursi penumpang.
"Di kantin, lagi otewe kemari. Padahal mau ku ancam jika satu menit gak sampai sini mau ku tinggal, eh keburu ditutup secara sepihak teleponnya, hahaha," ucap Tania.
"Hahaha, jahara banget kamu jadi teman, Tan," timpal Nadia tertawa.
Prima masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan keras. Setelahnya Nadia langsung melakukan mobil meninggalkan rumah sakit. Sampai di rumah Tania langsung mencari keberadaan sang mama.
"Ma! Ma!" serunya berulang kali memanggil. "Pasti di dapur," terkanya.
"Ada apa sih teriak-teriak? Atar baru saja bobo siang," tanya Dewi dengan santai sambil membantu Siti menyiangi sayuran.
Tania duduk di sebuah kursi lalu menjawab pertanyaan Dewi. "Tania dipaksa Cesar secepatnya, Ma. Tania jawab besok lusa," sahutnya.
"Apa? HPLnya kan masih hampir sebulanan, Sayang," tanya Dewi.
"Dokter Sifa bilang Tania salah ngitung, Ma. Katanya usia kandungan Tania udah 39 minggu," timpal Tania.
"Kamu belum beli keperluan buat Dede bayi, Nak," ucap Dewi.
"Iya, Ma. Maka dari itu Tania sanggupnya jawab besok lusa, biar malam ini kita bisa siap-siap. Bekas bayinya Atar juga enggak banyak yang dibawa dari kampung, sisanya udah Tania kasihkan ke tetangga," timpal Tania.
"Ya udah kamu enggak usah khawatir. Kamu persiapkan fisik dan mental kamu saja, Sayang. Biar keperluan adik bayi Mama yang akan urus," ucap Dewi.
"Terima kasih, Ma," ucap Tania sumringah.
"Beres lah itu. Sekarang istirahat lah, kamu pasti capek. Nanti turun setelah makan malam siap," suruh Dewi.
"Iya, Ma, Tania ke kamar dulu ya," pamit Tania.
Tania pun menuruti apa yang dikatakan mamanya. Masuk ke dalam kamar untuk mandi dan istirahat menunggu datangnya waktu shalat Maghrib.
"Mendingan aku nyiapin buat keperluan ku sendiri deh," gumamnya setelah Tania masuk ke dalam kamar.
Sementara di dalam kamar Dewi dan Ardi.
__ADS_1
"Pa, manager Ardimart pusat sekarang siapa? Atau asistennya juga enggak apa-apa?" tanya Dewi kepada suaminya.
Ardi mengangkat sebelah alisnya. Tumben-tumbennya istrinya ini bertanya tentang mini market. Biasanya dia juga tidak pernah peduli.
"Buat apa?" tanyanya.
"Tania besok lusa mau operasi, Pa, tetapi dia belum ada persiapan sama sekali," sahut Dewi.
"Oo ... biar papa saja yang hubungi dia. Jam berapa operasinya?" cetus Ardi lalu bertanya.
"O begitu? Operasinya jam lima sore," ucap Dewi.
"Bayinya perempuan kan? Biar Papa minta yang paling bagus," timpal Ardi.
"Kalau begitu Mama tunggu di mushola ya, Pa. Kita sholat berjamaah," pamit Dewi.
"Hemm," sahut Ardi seraya mengangguk.
Setelah Dewi pergi, Ardi meraih ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Assalamu'alaikum, Om," sapa seseorang di seberang telepon.
"Wa'alaikumussalam, kamu apa kabar?" sahut Ardi lalu bertanya.
"Alhamdulillah sehat, Om sendiri bagaimana?" seseorang di bertanya.
"Alhamdulillah sehat juga. Begini, ada sesuatu yang ingin Om sampaikan," ucap Ardi.
"Apa itu, Om?"
"Jam berapa jadwal operasinya, Om?" tanya orang di telepon.
"Jam lima sore, kamu bisa datang kan?" tanya Ardi.
"In sya Allah saya akan datang, Om," sahut pemuda misterius tersebut.
"Baiklah, sampai ketemu besok lusa."
Ardi lalu mengakhiri panggilannya. Setelah itu ia menghubungi Manajer utama Ardimart. Memintanya untuk mengirimkan pakaian bayi serta keperluan bayi lainnya.
Di dalam kamar, Tania tidak langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia menghampiri lemari tempat menyimpan pakaian dan barang-barang milik Edos dan membukanya. Diraihnya figura yang di dalamnya terpasang foto Edos dari sana. Tania mengusap pelan permukaan kaca figura tersebut lalu memeluknya. Ia memejamkan matanya beberapa saat. Tania membuka matanya kembali dan menatap foto dalam figura itu kembali. Lalu membawanya duduk di tepi tempat tidur.
"Yang, besok lusa aku dioperasi. Anak kita yang kedua akan lahir ke dunia, Yang. Anak yang membuktikan bahwa kamu tidak mandul seperti kata orang. Kamu bahagia di sana kan, Yang?" Lirih Tania. "Tapi aku kesepian, Yang enggak ada kamu lagi di sisiku," lanjutnya. Tanpa sadar air bening lolos dari sudut mata wanita hamil tersebut.
Tania segera menghapus air matanya dan mencoba memutus kesedihannya. Ia pun merogoh ponsel dari dalam tas untuk menghubungi seseorang.
"Assalamu'alaikum, Tania. Ada apa?" tanya seseorang di seberang sana to the poin.
"Wa'alaikumussalam, Mas Rifki. Tania mau kasih tahu ke Mas Rifki kalau Tania besok lusa mau dioperasi Cesar. Mas Rifki datang ya buat azanin bayi Tania, Tania tidak tahu lagi mau minta tolong sama siapa lagi," ucap Tania memohon.
Mendengar permintaan Tania, Rifki merasa terenyuh. Di saat perempuan itu akan menghadapi peristiwa besar dalam hidupnya, tidak ada laki-laki di sampingnya yang bisa memberikan dukungan. Sementara ia sendiri harus mempersiapkan fisik dan psikis untuk menghadapi operasi besar tersebut.
"Iya, Mas Rifki akan datang," sahut Rifki menyanggupi. Padahal ia sendiri tidak tahu ada jadwal dan waktu longgar untuknya atau tidak.
"Terima kasih, Mas. Udah ya Tania tutup teleponnya. Tania baru pulang mau mandi dulu," ucap Tania.
__ADS_1
"Iya, Tan. Semoga operasinya lancar, dan sehat kamu serta anak yang lahir nanti," timpal Rifki.
"Aamiin ... terima kasih, Mas Rifki. Assalamu'alaikum," ucap Tania mengakhiri panggilannya, lalu menutup teleponnya.
Sepertinya sudah tidak ada lagi pria yang harus ia mintai tolong selain Rifki dan Papa Ardi. Farhan baru saja kembali ke pondok pesantren, Tania tidak ingin mengganggu kegiatan adiknya belajar.
Selesai shalat maghrib dan mengirim hadiah bacaan Alqur'an untuk almarhum Edos karena rasa rindu yang tiba-tiba mendera, Tania turun dan masuk ke kamar Atar. Berharap rasa rindu ini bisa terobati dengan memandangi wajah anak semata wayangnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakak dalam usia satu tahun tersebut.
"Atar, bunda kangen," ucap Tania mendekati Atar yang sedang disuapi makan oleh Nina.
"Ta ta ta" ucap Atar seakan menjawab ucapan sang bunda bahwa ia juga rindu. Atar lalu tersenyum memamerkan gigi mungilnya yang baru tumbuh masing-masing dua biji di atas dan di bawah.
Tania pun tidak peduli sekitar mulut Atar belepotan makanan. Ia memeluk dan menciumi wajah Atar dengan rakus. Setelah puas Tania melepaskan tubuh Atar kembali.
"Bunda mau makan malam dulu, Sayang. Atar mau enggak makan malam sama eyang Kakung dang eyang putri?" tanya Tania kepada laki-laki kecil tersebut yang dijawab Atar hanya dengan gelengan kepala.
"Baiklah, Bunda pamit keluar ya, Sayang. Baik-baik sama Mbak Siti ya," pamit Tania.
"Haa! Haa!" seru Atar sambil melambaikan tangan.
Tania kembali menoleh melihat anaknya. "Tadi enggak mau ikut?"
"Atar sama Mbak Nani saja ya," Nani langsung menyerobot tubuh Atar.
Tania sebenarnya rindu sekali ingin menggendong Atar, tetapi keadaanya yang sedang berbadan dua dan perut besar harus mengurang membawa beban berat. Akhirnya ia hanya bisa memandangi Atar yang meronta-ronta dan menangis ingin digendong olehnya.
Tania pun kembali mendekat. "Sini sama bunda. Enggak apa-apa Mbak Nani biar Atar sama Tania sebentar," pintanya.
Tania meraih tubuh Atar, menggendongnya lalu membawanya ke ruang makan.
"Sini Atar sama Oma," pinta Dewi. Tania mendekat ke arah Dewi dan mendudukkan Atar di pangkuannya.
Tania duduk di kursi yang kosong di samping kanan sang Mama, sementara Ardi duduk di samping Dewi.
"Besok lusa jam berapa operasinya, Sayang?" tanya Ardi.
Tania yang sedang menuang nasi ke atas piring pun menjawab. "Belum tahu, Pa. Mungkin tergantung kita datangnya jam berapa. Tania belum mendaftar kok, kan belum ada anggota keluarga yang tanda tangan berkas persetujuan operasi. Tania baru pesan kamar rawat saja," tuturnya panjang lebar.
"Apa pihak rumah sakit tahu kamu ini anak Papa?" tanya Ardi memastikan.
Tania seketika kaget mendengar pertanyaan Ardi. Selama ini ia memang lupa jika ia adalah anggota keluarga Ardiansyah. Ia tidak pernah menonjolkan bahwa ia adalah anak pemilik ARD's Corp meskipun hanya anak tiri. Ia tidak ingin terlena dengan sesuatu yang bukan miliknya. Ia tidak mau jika suatu saat ia terjaga dari mimpi yang mendapati dirinya bukan siapa-siapa.
"Ayolah, Tania. Kali ini biar Papa yang urus persalinan kamu. Kamu tidak perlu merasa tidak enak lagi dengan Edos, ia sudah meninggal. Kamu berhak menggunakan semua fasilitas yang Papa miliki," pinta Ardi.
Tania menunduk, ia tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya mengalir tak dapat dibendung lagi. "I-iya, Pa," ucapnya terbata.
"Papa sudah minta asisten Papa untuk mengurusnya. Besok kamu tinggal datang langsung untuk persiapan operasi, tidak perlu pusing tentang administrasi segala," tutur Ardi.
"Terima kasih, Pa," ucap Tania.
"Udah, makan dulu. Ngobrolnya bisa dilanjut nanti kalau sudah kenyang," ucap Dewi menyela.
*****
__ADS_1
Terimakasih buat pembaca yang udah menghiasi laporan mingguan ku 😘😘😘