2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Menjemput Rindu


__ADS_3

Rasya menghembuskan napas lalu menyugar rambutnya dengan kasar.


"Astaghfirullah al'adzim, Nadia. Kenapa harus aku yang selalu menjadi penyebab penderitaan kamu?"


Rasya kembali menekan tombol interkom untuk menghubungi Ifada.


"Ya, Pak Rasya?" sapa Ifada.


"Tolong kamu cetak biodata Asa Nahdiana, lalu segera bawa ke ruangan saya!" titah Rasya.


"Baik, Pak," jawab Ifada. Rasya langsung memutus sambungan.


"Aku harus menemui gadis itu secepatnya," Gumam Rasya. Beberapa saat kemudian.


Tok tok tok


"Masuk!" perintah Rasya.


Seorang perempuan berhijab dengan pakaian kerja dan stofmap di tangannya masuk ke dalam ruangan. "Ini data yang anda minta, Pak." ucapnya.


"Silahkan duduk, Ifada!" perintah Rasya lagi.


Ifada meletakkan stofmap yang ia pegang di atas meja di hadapan Rasya.


"Dalam persyaratan pemberian beasiswa memang seorang mahasiswa penerima beasiswa tidak boleh mengajukan cuti, Pak," jelas Ifada.


"Iya, Saya tahu. Semua biaya kuliahnya hingga ia tamat saya yang akan menanggungnya, ambil dari gaji saya, dan beritahu kepada mahasiswi tersebut jika beasiswanya telah dikembalikan. Tolong rahasiakan ini, jangan sampai gadis itu tahu kalau ini dari saya," tutur Rasya.


"Baik, Pak. Maaf Pak, saya kok jadi penasaran. Sebenarnya siapa gadis itu? Sepertinya bapak peduli sekali dengan dia," tanya Ifada.


"Kamu ini mau tahu banget atau mau tau aja?" jawab Rasya berbelit-belit.


"Ih, Pak Rasya ternyata suka berteka-teki," ucap Ifada terkekeh.


"Kamu pernah dengar tentang berita penusukan yang melibatkan mantan istri saya kan, Ifada?" tanya Rasya.


"Iya, Pak. Itu sekitar dua bulan yang lalu."


"Gadis yang kamu cabut beasiswanya itu korban penusukan tersebut," jawab Rasya.


"Astaghfirullah al'adzim," lirih Ifada.


"Dia terpaksa cuti kuliah karena mengalami koma selama sebulan lebih dan masih butuh untuk masa penyembuhan. Saya yang harus bertanggung jawab dengan musibah yang menimpanya," imbuh Rasya.


"O, begitu. Tapi saya seperti menangkap sesuatu yang lain di mata Bapak," tebak Ifada.


"Ah, sok tahu kamu," elak Rasya.


"Hahaha, Pak Rasya tidak mau jujur sama diri-sendiri. Raya permisi dulu dech, Pak," pamit Ifada.


"Silahkan, Ifada. Terima kasih sudah membantu saya," sahut Rasya.


"Kembali kasih, eh Maksud saya sama-sama, Pak," jawab Ifada terkekeh lalu keluar dari ruangan tersebut. Rasya hanya tersenyum menanggapinya.


Sepeninggal Ifada, Rasya membuka stofmap yang berisi selembar biodata Nadia. Rasya membaca dengan teliti setiap detail data tersebut.


"Indramayu," gumam Rasya. Ia lalu meraih ponselnya yang terletak di meja di hadapannya, mengambil foto alamat Nadia dengan kamera ponselnya tersebut. Lalu menelpon seseorang.


"Assalamu'alaikum, Mas Rasya," suara Pak Supri, sopir pribadi Pak Baskoro terdengar dari ujung telepon.


"Wa'alaikumussalam, Pak. Nanti jam empat sore antarkan saya ke Indramayu ya, Pak. Kita ketemu di rumah," tutur Rasya.

__ADS_1


"Baik, Mas Rasya," sahut Pak Supri.


Rasya pun menutup panggilan setelah mengucap salam. Azan Dzuhur baru saja berkumandang. Namun sepertinya Rasya sudah tidak betah untuk menunggu hingga pukul empat sore untuk pergi ke Indramayu. Sebenarnya pukul satu siang ia masih ada jadwal untuk mengisi kuliah di ruang kelas semester VII, tetapi karena ia sudah tidak bisa konsentrasi, ia meminta Asdosnya untuk mengisi jam kuliahnya.


Rasya melajukan mobilnya keluar dari gerbang kampus. Ia membawa mobilnya tersebut menuju ke sebuah rumah sakit, memarkirkan di area parkir. Dengan tergesa-gesa Rasya berjalan melewati koridor menuju ke ruang rawat inap khusus anak-anak.


Dengan pelan Rasya membuka pintu sebuah ruangan. Nampak seorang gadis kecil tergolek lemah di sebuah brangkar dengan selang infus menempel di kaki kanannya. Bu Nastiti duduk di kursi samping brangkar.


Rasya melangkah mendekat menghampiri brangkar lalu mencium kening Tiara yang masih terlelap beberapa saat. Raut kesedihan nampak di wajahnya. "Maafkan Papa, Nak," ucapnya.


Pandangan Rasya beralih ke Bu Nastiti. "Apa Tiara sudah mau makan, Bu?" tanyanya.


"Tadi pagi cuma minum jus apel saja," jawab Bu Nastiti. "Kamu jam segini sudah pulang, apa tidak ada jam mengajar?" tanyanya.


"Perasaan Rasya tidak tenang, Bu. Rasya minta asisten dosen untuk menggantikan tugas Rasya," jawab Rasya.


"Kapan kamu siap untuk menjemput Nadia?" tanya Bu Nastiti to the poin.


"Nanti sore bakda Ashar, in sya Allah Rasya minta Pak Supri untuk diantar ke sana, Bu. Sekarang Rasya mau sholat dan langsung istirahat di rumah," jawab Rasya. "Ibu pasti belum sholat dan makan siang? Ibu sholat dan makan siang dulu saja, biar Rasya yang jaga Tiara di sini," imbuhnya.


"Baiklah, Ibu keluar dulu ya. Ibu mau sholat di mushola rumah sakit saja," pamit Bu Nastiti, Rasya mengangguk. Bu Nastiti mengambil mukena, lalu keluar dari ruangan tersebut.


Rasya duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Bu Nastiti. Ia membelai lembut rambut putri semata wayangnya sambil menyandarkan kepalanya di bantal di samping Tiara.


Tiara membuka matanya karena merasa terusik. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beradaptasi dengan ruangan. "Papa," panggilnya dengan suara lemah.


"Iya sayang," Rasya menegakkan kepalanya. "Papa mau jemput Mama Nanad untuk Tiara," tuturnya.


"Benalan, Pa?" tanyanya girang dengan senyum menghiasi wajah pucat imutnya.


"Tapi ada syaratnya," timpal Rasya.


Wajah sumringah Tiara kini berubah cemberut. "Salat apa, Pa?" tanyanya.


"Iya, Pa. Aya mau makan," jawab Tiara antusias kembali tersenyum.


"Papa suapi ya?" Tiara mengangguk. Rasya membantu Tiara untuk duduk. Ia lalu mengambil baki yang ada di atas nakas, lalu kembali duduk di kursi semula. "Baca do'a sebelum makan dulu, Sayang," pintanya.


Tiara membaca do'a yang diminta oleh papanya dengan lancar walaupun dalam logat khas cadelnya. Setelah selesai, Rasya mulai menyuapkan air putih dengan sendok ke mulut Tiara supaya tidak tersedak, kemudian menyuapkan bubur yang disediakan oleh rumah sakit. Tiara dengan antusias menerima sesuap demi sesuap bubur yang diberikan oleh papanya.


'Ternyata gadis itu memberikan pengaruh yang besar bagi anakku,' batin Rasya sambil terus menyuapkan bubur ke mulut Tiara.


"Pesawat ke enam segera meluncur ke markas, uwinguwinguwing..." ucapnya dengan suara keras, mengangkat sendok dengan gerakan berkelok-kelok menuju ke mulut Tiara. Setelah Tiara kembali membuka mulutnya, Rasya malah menyuapkan bubur tersebut ke mulutnya sendiri.


"Papa culang, Papa lapal?" seru Tiara tersenyum.


"Iya, Papa lapar. Makanya ayo habiskan buburnya sebelum Papa yang makan, Sayang," sahut Rasya. Namun ketika Rasya menyuapkan kembali ke mulut Tiara, Tiara sudah mengunci rapat mulutnya, ia sudah tidak berselera makan lagi.


"Tiara sudah kenyang?" tanya Rasya lagi. Tiara hanya mengangguk. "Ya sudah, habiskan dulu minumnya, setelah itu Tiara bobok lagi ya, Sayang!" perintahnya. Rasya mengambil gelas yang berisi air putih, lalu mendekatkan ke bibir Tiara. Tiara hanya meminumnya sedikit.


Rasya membantu putrinya berbaring. ia mengelus-elus kening Tiara hingga ke rambut. Namun Tiara sudah tidak mengantuk lagi. Hingga Bu Nastiti masuk kembali ke dalam ruangan.


"E ... , cucu Eyang sudah bangun," tutur Bu Nastiti.


"Udah donk, udah makan juga lho, Eyang," timpal Rasya.


"Wah peningkatan, mau ketemu sama Mama Nanad ya harus mau makan biar cepat sehat. Ya kan, Sayang?" Tiara mengangguk senang.


"Ibu sudah di sini, sana pulang! Katanya mau istirahat," suruh Bu Nastiti.


"Ibu sudah makan?" tanya Rasya.

__ADS_1


"Sudah barusan di kantin rumah sakit," jawab Bu Nastiti.


"Kok cepat sekali?" tanya Rasya.


"Ibu takut kamu kelamaan menunggu."


"Ya sudah, Papa mau jemput Mama Nanad ya, Sayang. Tiara baik-baik sama Eyang ya!" pamit Rasya pada putrinya. Tiara mengangguk, Rasya mencium keningnya.


"Rasya pamit, Bu," pamit Rasya mencium punggung tangan Bu Nastiti.


"Hati-hati ya, sampaikan salam Ibu buat Nadia dan keluarganya," pesan Bu Nastiti.


"In sya Allah, Bu," sahut Rasya. Ia pun segera keluar dari ruangan tersebut. Kini di ruang rawat inap Tiara hanya tinggal Tiara dan Bu Nastiti.


"Nanti kalau Mama Nanad sampai, Tiara jangan minta gendong ya, Sayang. Pinggang Mama Nanad kan baru sembuh," tutur Bu Nastiti pada cucunya. Tiara mengangguk.


"Aya mau Mama Nanad nina bobo tulus baca celita," sahut Tiara.


"Tiara harus berdo'a supaya supaya Papa bisa membujuk Mama Nanad untuk tinggal bareng Tiara, syukur-syukur Papa mau nikah sama Mama Nanad, biar Mama Nanad jadi Mama Tiara beneran," bujuk Bu Nastiti. Tiara hanya mengangguk walaupun ia sebenarnya belum mengerti apa yang diucapkan Bu Nastiti.


💕💕💕💕💕


Edos dan Tania keluar dari ruang periksa poli obgyn. Di luar ruangan Nurlita sudah menyambut dengan perasaan tidak menentu. Nurlita berdiri dan bertanya pada Edos dan Tania, "bagaimana hasilnya?"


"Kita bicarakan di mobil saja, Ma. Sekarang kita pulang, kasihan Tania sudah lelah," sahut Edos.


"Ayo, tapi mampir di rumah makan ya. Tania kan juga pasti lapar," ajak Nurlita. Mereka keluar dari rumah sakit menunggu di halaman. Tidak berapa lama mobil yang dikemudikan Aris pun berhenti di depan mereka. Mereka segera masuk ke dalam mobil.


"Jadi bagaimana hasilnya?" Nurlita kembali menagih janji Edos.


Edos pun mulai menceritakan sedetail mungkin apa yang terjadi tadi di dalam ruangan poly Obgyn.


"Tubuh bayi belum berbalik ini, Mbak. Kepalanya belum dibawah. Padahal usia kandungannya sudah 39 Minggu," tutur dokter Heru sambil melihat monitor. Ia lalu kembali ke tempat duduknya dimana di hadapannya Edos duduk.


Tania merapikan kembali pakaiannya setelah perawat membersihkan gel di perutnya. Ia turun dari brangkar dan duduk kembali di samping Edos.


"Lalu bagaimana, dok? Apa yang harus kami lakukan?" tanya Edos.


"Harus segera dioperasi, usia kandungan ibu juga sudah siap untuk dioperasi, minimal usia kandungan 37 minggu sudah bisa dilaksanakan operasi Cesar," jawab dokter.


Edos menggenggam tangan Tania yang terasa dingin. "Kapan dokter bisa mengoperasi istri saya?" tanyanya.


"Hari ini jadwal operasi saya padat, besok siang bisa. Ini saya buatkan surat pengantar, besok bisa langsung mendaftar operasi Cesar di bagian pendaftaran," jawab dokter Heru.


"Lalu apa yang harus dilakukan istri saya sebelum operasi, dok?" tanya Edos lagi.


"Persiapan fisik dan mental itu perlu, selanjutnya empat jam sebelum operasi harus puasa, kemudian kebutuhan pakaian ibu dan bayi pasca operasi juga harus dipersiapkan dari rumah."


"Saya rasa cukup, dok. Kami akan kembali besok pagi. Terima kasih atas waktunya."


"Sama-sama, Mas. Ini surat pengantarnya," ucap dokter Heru menyerahkan sebuah kertas.


Edos menerima kertas tersebut dan menyelipkan ke dalam buku pink lalu memasukkan ke dalam tas selempangnya. Lalu keluar menggandeng Tania ke luar dari ruangan poly Obgyn.


.


.


.


TBC

__ADS_1


Tararengkiuuh 😘😘😘


__ADS_2