2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Menemukanmu


__ADS_3

Aku memang mengharapkan kehadiranmu di dalam hidupku, tapi sekarang aku bingung harus bersikap sedih ataukan senang ketika kamu akan segera hadir, aku tidak tega membiarkanmu hadir di hidupku yang tidak sempurna.


💦💦💦💦💦


Di Bandung Niken harus dirawat di rumah sakit. Begitupun Bram yang berada di Jakarta, kondisi tubuhnya drop. Ia juga harus dilarikan ke rumah sakit karena kekurangan cairan, tubuhnya kurus karena kurang asupan makanan.


Setiap hari tidak ada makanan yang berhasil masuk ke dalam perutnya, karena setiap makanan yang masuk ke kerongkongannya selalu langsung dimuntahkannya.


Di ruangan VVIP sebuah rumah sakit di Jakarta, Bram tergolek lemah di atas Brangkar, dengan selang infus yang mengalirkan cairan infus ke tubuhnya. Cairan tersebut menetes dengan deras. Matanya terpejam.


Dewi yang duduk di kursi di samping brangkar nampak memandang iba dengan keadaan anak tirinya yang ada di hadapannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, nada dering lagu dangdut mengalun di sana. Dirogohnya dari dalam tas yang ia letakkan di sofa.


"Aghni?" ucapnya membaca nama yang tertera di layar ponsel. Ia pun menggeser icon berwarna hijau.


"Assalamu'alaikum, Sayang."


"Wa'alaikumussalam, Ma," sahut Aghni.


"Mama lagi nungguin Mas Bram di rumah sakit, Sayang," tutur Dewi.


"Apa? Kak Bram sakit?" tanya Aghni kaget.


Kok sama kayak Kak Niken, ya? ucapnya dalam hati.


"Iya, ada apa kamu telepon mama, pasti bukan karena kamu kangen sama Mama, kan?"


"Mama keluar dari ruangan Kak Bram dulu deh, ada kabar gembira yang pingin Aghni omongin ke Mama," ungkap Aghni.


Mata Bram memang terpejam, tapi dia dalam keadaan terjaga, jadi dia memasang telinganya dengan baik, siapa tahu ada kabar tentang Niken. Bram merasa kecewa karena Mamanya ternyata meninggalkannya di ruangan.


Dewi duduk di bangku yang berada di depan kamar, namun tetap saja Bram tidak dapat mendengar percakapan antara adik dan mama tirinya tersebut.


"Mama sudah berada di luar ruangannya Mas Bram nih, kamu mau menyampaikan apa?" tanya Dewi setelah memberitahukan keberadaannya.


"Ma, sebentar lagi Mama akan dapat cucu dari anak Mama selain Kak Tania," tutur Aghni.


"Apa?" Bukannya bahagia, Dewi malah terkejut dan shock. Tangannya lemas terkulai, tidak mampu menahan telepon seluler yang dipegangnya.


Plukk ...


HP tersebut jatuh ke lantai. Dewi juga tidak mampu menahan beban berat badannya, ia bersandar di kursi. Rasanya seperti tidak bertulang, lembek seperti jelly. Ia menangis tersedu-sedu.


"Astaghfirullah al'adzim, Ya Allah ampuni hamba Mu ini yang telah gagal menjadi orang tua, hamba memang menginginkan seorang cucu, tapi bukan dari hasil hubungan perzinahan," ucap Dewi dalam tangisnya.


"Ma, Mama ..." Berulangkali Aghni memanggil Mamanya dalam sambungan telepon tersebut namun tidak ada sahutan.


Ardi yang kebetulan menggunakan jam istirahat makan siang untuk menjenguk putra sulungnya, Bram. Mendapati mendekati istrinya yang menangis tersedu-sedu duduk terkulai di kursi pun menghampirinya.


Dengan raut wajah penasaran akan apa yang terjadi dengan ibu sambung Bram tersebut. Ia duduk di samping Dewi, meraih tubuh lemah itu ke dalam pelukannya. Ia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh istrinya.


"Ada apa, Ma?" tanya Ardi mengecup lembut puncak kepala istrinya.


"Mama telah gagal mendidik anak, Pa," jawab Dewi.


"Maksud Mama apa?" Bingung dengan ucapan istrinya.


"Aghni hamil, Pa. Mama malu telah gagal menjadi seorang ibu."

__ADS_1


"Darimana Mama tahu?"


"Barusan dia telepon." jawab Dewi.


"Memangnya dia bilang kalau dia hamil?" tanya Ardi lagi.


"Enggak, tapi dia bilang katanya Mama sebentar lagi Mama akan dapat cucu dari anak Mama selain Kak Tania. Terus maksudnya apa kalau dia enggak hamil, Pa?" tutur Dewi kembali menangis.


Ardi meraih ponsel istrinya yang masih tergeletak di lantai, untung saja ponsel tersebut dikasih pelindung sehingga tidak sampai pecah. Ardi mengecek panggilan terakhir yang tertera di dalam riwayat panggil.


"Assalamu'alaikum, Aghni,"


"Eh Papa, Wa'alaikumussalam. Mama mana, Pa? Aghni belum selesai ngomong."


"Ini lagi sama Papa. Mama shock mendengar kamu hamil."


"Astaghfirullah al'adzim, bukan Aghni yang hamil, Pa. Gosip dari mana itu? Hadeuh, bisa hancur reputasi ku kalau sampai berita ini menyebar luas."


"Sekarang ceritakan dengan jelas sama papa, maksud kamu yang sebenarnya apa?" pinta Ardi pada putrinya.


"Papa mau Aghni cerita secara kronologis atau intinya saja?" tanya Aghni sebelum cerita.


"Intinya saja," sahut Ardi.


"Kak Niken yang hamil, Pa. Aghni lagi di rumah sakit nungguin Kak Niken," jawab Aghni.


"Lho, Niken di Bandung?" tanya Ardi kaget.


"Iya, Pa. Kak Niken mendirikan butik cabangnya di sini.


"Ya udah, kamu jaga Kak Niken baik-baik. Kak Bram juga lagi dirawat di rumah sakit, papa enggak bisa ke sana," pinta Ardi.


"Papa tutup teleponnya ya, mau ngomong sama mamamu dulu biar dia lega, Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam, Pa," jawab Aghni.


Ardi menyerahkan ponsel kepada istrinya sesaat setelah menelpon dengan putrinya, Aghni.


"Mama cuma salah sangka, makanya dengerin dulu sampai Aghni selesai berbicara," tutur Ardi.


"Maksud Papa?" tanya Dewi penasaran.


"Yang hamil itu Niken, Ma. Bukan Aghni."


"Bukannya Aghni sudah kembali ke Bandung? Kok bisa sama Niken?" Dewi menyerbu dengan pertanyaan tidak sabar dengan penjelasan suaminya.


"Ternyata sudah satu bulan Niken tinggal di cabang butiknya yang ada di Bandung."


"Kita harus kasih tahu Mas Bram, Pa. Yuk!" ajak Dewi pada suaminya.


Mereka bangkit dan masuk ke dalam ruangan dimana Bram berbaring. Dewi duduk di kursi samping brangkar. Sementara Ardi yang sudah duduk di sofa memperhatikan putra sulungnya yang memprihatinkan dengan raut wajah kesedihan.


"Mas Bram, buka matamu! Mama akan suapi," pinta Dewi membelai lembut lengan putra sambungnya.


Bram membuka matanya karena ia memang tidak tidur. Dewi membimbingnya untuk duduk bersandar dan meninggikan sandaran. Mendekatkan gelas berisi air putih ke bibir Bram untuk minum. Dengan telaten Dewi menyuapi Bram dengan makanan yang disediakan oleh rumah sakit.


Bram menelan semua makanan yang disuapkan kepadanya. Karena rasanya saat ini sama saja, entah masakan chep dari restoran terkenal, entah masakan pinggir jalan atau masakan rumah sakit, semuanya rasanya sama, di lidahnya semua terasa pahit.

__ADS_1


"Mama sudah konsultasi sama orang pintar, katanya Mas Bram harus meminta maaf sama Niken biar sembuh," ungkap Dewi dengan mimik muka serius yang mengatasnamakan orang pintar padahal itu hanya karangannya sendiri. Tapi tidak apa-apa lah ya berbohong demi kebaikan.


"Bram sudah mencari Niken kemana-mana, Ma. Tetapi sampai sekarang Bram belum menemukan keberadaannya."


Bram menatap kosong lurus ke depan. Nampak raut kesedihan di wajahnya, sepertinya ia memang sudah bertaubat.


"Niken juga sedang sakit sama seperti kamu, Mas. Dia dirawat di rumah sakit di Bandung sekarang, Aghni sama dia."


Bram menatap serius sang Mama, ada sebersit binar di matanya. "Serius, Ma?" tanyanya dengan antusias. Dewi mengangguk.


"Makan yang banyak ya, Sayang. Biar cepat sembuh, biar bisa menyusul Niken ke Bandung," ucap Dewi membujuk Bram sambil menyuapkan makanan ke mulut putra tiri tersayangnya tersebut.


"Iyo, Mo," sahut Bram dengan mulut penuh makanan.


Dewi nampak tersenyum senang melihat perubahan kondisi Bram. Namun seketika Bram kembali bermuka muram.


"Ada apa lagi, Mas?" tanya Dewi.


"Apa Niken masih mau memaafkan aku, Ma?" tanya Bram ragu.


"Tidak ada salahnya dicoba, jika dia memang belum bisa memaafkan kamu jangan dipaksa. Pelan-pelan saja, kamu tunjukkan jika kamu memang punya niat tulus untuk berubah. Mama yakin suatu saat hatinya akan luluh," tutur Dewi menasehati.


"Iya, Ma. Bram ngerti. Bram akan lakukan apa yang Mama katakan," sahut Bram.


Setelah menghabiskan jatah makan siangnya, Bram kini masih tetap bersandar. Ia meraih tabletnya yang biasa dipegang oleh Rifki. Gagal mencari keberadaan Niken, ia kini mencari keberadaan Aghni dengan kemampuan IT yang dimilikinya.


Dalam waktu singkat, Bram telah mengetahui dimana Aghni berada, dan beberapa tempat yang ia kunjungi sebelumnya.


Bram nampak berfikir, "Kenapa Rifki berbohong, padahal dia tahu keberadaan Niken? Pakai bilang Niken menyusul Arya ke Australia lagi. Dasar asisten pribadi brengsek!"


"Lalu siapa yang telah membantu Niken untuk menyembunyikan data-datanya? Tidak mungkin kalau Niken sendiri yang melakukan. Apa dia sehebat itu? Dia itu cuma gadis rumahan, kerjanya saja cuma jadi tukang jahit baju, tidak mungkin bisa melakukan hal itu."


Ternyata Bram belum mengenal lebih jauh siapa istrinya sebenarnya. Beberapa minggu yang lalu saat ia mulai mencari keberadaan Niken, ia baru tahu kalau istrinya ternyata seorang designer dan mempunyai butik yang besar dan cabangnya berdiri di beberapa kota.


Dia mengira kalau Niken itu hanya seorang gadis rumahan yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mengandalkan kekayaan yang dimiliki oleh orangtuanya saja. Ternyata Bram salah besar, Niken bukanlah gadis cengeng yang mau ditindas. Pengalaman dari kecil selalu dibuli oleh teman-temannya, bahkan orang yang dicintainya juga selalu membulinya, membuat Niken tumbuh menjadi gadis yang kuat dan cerdas, hal ini juga ditunjang oleh kemampuan otaknya yang di atas rata-rata.


💦💦💦💦💦


Siang ini Tania dan kedua temannya pulang kuliah akan mencari buku sambil hang out ke Mall, tentu saja dengan Rayan yang menjadi bodyguard mereka, dan kali ini mereka mengajak serta si kecil Tiara.


Dari area parkir, Tiara meminta digendong oleh Tania. Tidak tahu kenapa hari ini sedikit manja. Karena perut Tania sudah semakin membesar, maka ia hanya bisa menggendong Tiara di punggungnya.


Dari balik dinding seseorang sedang mengintai mereka.


"Kamu lihat cewek yang sedang menggendong gadis kecil itu? Itu sasaran kita," ucap seseorang tersebut dalam sambungan telepon.


"Beres, Bos. Yang penting jatah kita dua kali lipat," sahut seseorang yang ditelpon.


Sampai di depan pintu masuk ke dalam mall, Tania menurunkan Tiara. Sekarang Tiara berpindah ke gendongan Nadia.


Tiara memeluk erat leher Nadia, menyembunyikan wajahnya tidak berani menoleh. "Mama Nanad, Aya atut ada olang jahat," ucapnya.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2