
Matahari nampak tepat di atas kepala, panasnya kian menyengat kulit. Suara azan bertalu-talu, memanggil orang-orang untuk rehat sejenak dari segala aktifitasnya, meskipun hanya sekedar untuk berkomunikasi dengan Sang Khaliq, dan mengisi suplemen untuk bekal melanjutkan kegiatan.
Di rumah Ardi,
Aris memarkirkan mobil yang dikemudikannya dengan sempurna di halaman rumah keluarga Ardiansyah. Dua orang asisten rumah tangga keluar untuk menyambut kedatangan mereka.
Dewi, meskipun punya suami kaya raya tetapi kehidupannya sederhana. Ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri, meskipun Ardi sudah sering kali melarangnya.
Di rumahnya hanya ada Siti dan Karim serta dua orang satpam yang bekerja menjaga pintu gerbang secara bergantian sift siang dan malam.
Untuk menyambut kedatangan keluarga kakaknya, Burhanudin. Dia meminta kepada manajer hotel untuk mengirimkan 4 orang pelayan dan seorang koki.
Aris keluar dari mobil, membuka pintu bagian belakang untuk mengeluarkan seluruh barang bawaan mereka. Aghni dan Abizar keluar, menyalami semua yang datang. Tak terkecuali Dewi yang datang belakangan.
"Ini siapa?" Tanya Nurlita pada gadis yang mencium punggung tangannya.
"Saya Aghni, Bude," jawab Aghni melampirkan senyum dan lesung pipinya.
"Mirip Tania," ucap Nurlita.
Kini Nurlita, Burhan dan Dewi berkumpul di ruang tamu, sementara Abizar, Sisi, Aris dan Aghni, mereka tengah berkumpul di ruang tengah.
"Semua telah berkumpul di sini, namun kenapa tidak ada Azhar dan Tania," sesal Dewi menahan pedih di matanya.
"Dewi, apa saat ayahnya Tania meninggal, kamu mengetahui kabarnya?" tanya Nurlita pada Dewi.
"Mas Burhan yang memberi tahuku waktu itu, namun aku belum berani untuk menemuinya lagi, Mbak" jawab Dewi.
Sementara di ruang tengah,
"Aris, kamu ini belum ada ikatan apa-apa sudah bawa anak gadis orang menginap berminggu-minggu!" hardik Abizar.
"Ye, orang tuanya saja ngijinin, kenapa Mas Bizar yang sewot?" protes Aris.
"Awas kalau sampai kamu apa-apain Sisi, aku yang akan mencincang burungmu nanti," ancam Abizar.
"Bilang saja kalau Mas Bizar iri, Aris yang masih muda udah punya gandengan sementara Mas Bizar yang sudah tua belum punya, hahaha," ejek Aris sambil tertawa.
"Enak saja dua puluh lima tahun kamu bilang tua," ucap Abizar sewot.
"Sisi, kita ke kamarku saja yuk!" ajak Aghni pada Sisi.
"Ayo, biar saja mereka berantem di sini, aku juga mau numpang sholat," jawab Sisi menerima ajakan Aghni.
"Sholat di kamarku saja, bawa juga tuh minuman dan cemilannya," ujar Aghni.
Aghni dan Sisi meninggalkan ruang tengah menuju ke kamar Aghni di lantai dua.
"Tuh kan, gara-gara kamu mereka jadi pergi, Mas."
"Kamu tadi dengar kan, cewek kamu mau sholat? Sepertinya aku harus menimbang-nimbang lagi dech untuk menjadikan kamu sebagai asisten pribadiku," ancam Abizar.
"Jangan donk, Mas. Cari kerjaan sekarang susah, terus bagaimana aku bisa melamar Sisi nanti kalau aku cuma jadi seorang supir lepas?" rengek Aris.
"Mana ada asisten pribadi yang suka membangkang? asisten pribadi itu menurut sama majikannya," sangkal Abizar.
Pukul satu siang, seorang pelayan memberi tahukan kepada mereka bahwa makan siang sudah siap.
Kini mereka telah berkumpul di ruang makan kecuali Sisi dan Aghni. Karena pelayan tidak berani naik ke lantai atas. Ini menjadi tugas Siti.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar Aghni. Aghni membuka pintu. Tampak Siti berdiri di ambang pintu.
"Ada apa, Mbak Siti?" tanya Aghni pada Siti.
"Makan siangnya sudah siap, Mbak Aghni," jawab Siti memberitahukan.
"Oh iya, Terimakasih. Nanti kami akan turun, Sisi lagi sholat, Mbak Siti," jawab Aghni.
Mereka saling menyebut Mbak satu sama lain, Siti memanggil Mbak kepada Aghni karena menghormati anak majikannya yang berasal dari Jawa, sedangkan Aghni memanggil Mbak kepada Siti karena menghormati yang lebih tua.
Sisi telah selesai melaksanakan sholat dhuhur, Aghni mengajaknya untuk turun ke bawah untuk makan siang.
"Ini siapa?" tanya Dewi menunjuk kepada Sisi yang baru saja duduk bersebrangan dengannya.
"Ini Sisi anaknya Hisyam, Kamu masih ingat Hisyam Adiknya Syarif kan?" jawab Burhan memperkenalkan Sisi. Sisipun mengangguk.
"Jadi Sisi adik sepupu Tania," simpul Dewi bertambah sedih mengingat nama Tania.
Semuanya berkumpul di sini, Nak. Kenapa tidak ada kamu.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam hari di kediaman Bu Retno,
Sepulang kerja, Tania masih menampakan wajah kesalnya. Ia duduk di sofa di samping suaminya, tetapi pandangannya liar entah kemana tak tentu arah, matanya nyalang berkaca-kaca menahan amarah.
"Ada apa lagi, Sayang?" tanya Edos melihati gelagat istrinya yang kurang baik.
"Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Tania tidak mengalihkan pandangannya matanya berkilau seperti bendungan yang hampir pecah.
"Tidak ada apa-apa, tetapi mimik wajahmu seperti ada apa-apa,"
Tania hanya diam, ia merebahkan kepalanya menghadap ke samping di pangkuan Edos. Sementara kakinya dinaikkan dan meringkuk.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau menceritakan masalahmu, aku tidak memaksa," tutur Edos lembut, tangannya membelai rambut Tania.
Mereka terdiam, Pak Rasyid dan Bu Retno yang hendak menanyakan tentang sisa makanan ringan dan bahan makanan yang kata Tania mau dibawa hari ini pun menjadi segan.
"Apa kamu sudah sholat isya, Say?" tanya Edos kemudian.
"Belum," jawab Tania singkat.
"Sholatlah dulu, biar pikiranmu tenang!" suruh Edos. "Ayo bangun," titahnya lagi.
"Bentar, Yank. Aku masih nyaman seperti ini," tolak Tania.
"Pcets, nanti malah ketiduran, jadi malas sholat. Ayo, gagian!" paksa Edos.
__ADS_1
Tidak ada pergerakan.
"Tania!" panggil Edos.
"Aku masih capek, Yank. Huft.." tolak Tania.
Edos pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku kerja enggak ada hasilnya, hiks hiks." Seketika air mata Tania lolos tak dapat dibendung lagi.
Edos tak menyela lagi ucapan Tania, ia membiarkan istrinya mengeluarkan semua uneg-uneg yang mengganjal di dadanya.
"Tadi pagi, saat aku ke gudang hendak mengambil sisa makanan ringan yang kutinggalkan kemarin malam, sudah tidak ada," ucap Tania pelan.
"Sabar, mungkin belum rejeki kita, Nak." Bu Retno mulai membuka suara. "Anggap sebagai shodaqoh, insya Allah suatu saat akan diganti rizki yang lebih besar lagi," imbuh Bu Retno optimis.
"Kamu jadi minta lihat CCTV?" tanya Edos
"Ruangannya privasi, enggak bisa sembarangan orang boleh masuk. Yang di bagian situ si Firman, tapi beberapa hari ini dia tidak masuk, dengar-dengar Firman sudah pindah tugas, tapi tidak ada yang tahu dia pindah ke mana, dan belum ada penggantinya," papar Tania menjelaskan.
"Kok bisa begitu, aneh," simpul Edos.
Tania juga berfikiran sama, tapi ya sudahlah, dia bisa apa, benar kata Bu Retno, ikhlasin saja.
"Sayang," panggil Tania.
"Hmmm.."
"Kamu nggak ada niat mau ngantar aku beli bakso mercon lagi apa?"
"Enggak," jawab Edos singkat.
"Huh, menyebalkan," ucapnya mengerucutkan bibirnya.
"Pftttt.. hahaha," Edos tidak bisa menahan tawanya. "Ayo!" ajaknya.
"Mau kemana?" Tania malah balik tanya.
"Ke bulan," jawab Edos asal. "Kamu bilang mau beli bakso," sergahnya.
Tania reflek bangun dari tidurannya.
"Yuk!" ajaknya menghadap suaminya.
Tania mengambilkan kursi roda Edos, membantunya untuk duduk di kursi roda tersebut. Lalu berpamitan dengan orangtua angkatnya untuk keluar membeli bakso seperti kemarin malam.
Malam ini langit begitu cerah, hanya sedikit awan putih yang menghiasi cakrawala seperti kapas yang terhampar, bulan nampak tersenyum malu mengintip di balik awan tipis, bintang pun tampak gembira melengkapi malam yang kian syahdu.
Setelah Tania menghabiskan bakso, mereka tidak langsung pulang.
"Kita ke taman dulu ya, Yank," ajak Tania.
Edospun mengangguk tanda setuju. Tania mendorong kursi roda suaminya menuju ke taman. Membantu suaminya untuk duduk di kursi taman. Sendirinya pun duduk di samping Edos. Menyandarkan kepalanya di pundak dan memeluk lengan suaminya tersebut.
"Sejak kita di kota, baru kali ini aku lihat bulan," tutur Tania.
"Dari aku kecil, cahaya bulan itu tetap sama tidak berubah. Cahayanya sederhana, tenang tidak menyilaukan, seperti cintanya Tania terhadap Edos," ucap Tania pelan.
Edos melepaskan lengannya yang dipeluk Tania, memeluk kembali tubuh Tania dengan tangannya tersebut. Mengecup puncak kepala istrinya tersebut berulang-ulang.
"Yang, kita duduk di rerumputan itu, yuk!" ajak Tania.
Tania membimbing suaminya untuk duduk di rerumputan.
"Sayang," panggil Edos.
"Hemm.."
"Suatu saat nanti, jika aku meninggal lebih dulu, apa kamu akan menikah lagi?" Pertanyaan Edos seketika membuat Tania membulatkan matanya, ia reflek memukul paha suaminya.
"Aw, sakit sayang," pekik Edos.
"Makanya jangan ngomong sembarangan!" hardiknya.
"Kematian itu pasti, Sayang. Kita tinggal menunggu giliran kapan itu tiba," tutur Edos.
"Tapi aku enggak suka kamu ngomong kayak gitu, aku nggak mau mendengarnya. Mendingan kalau berandai-andai itu mbok yang indah-indah, andai suatu saat nanti kita dikaruniai anak, kaki kamu sembuh, kita jadi orang kaya kek, gitu," cerocos Tania.
"Iya, iya. Lupakan!" tukas Edos.
Sebelum jam sepuluh malam mereka telah sampai di rumah, Tania terlebih dahulu membersihkan diri dan sholat isya. Edos sudah menunggunya di kasur springbed, duduk bersandar di dinding sibuk dengan ponselnya.
Tania beringsut mendekati suaminya.
"Kamu udah aktifin WA nomor HP lama kamu, Yank?" tanya Tania.
"Udah, ini dua kartu SIM dari pada tidak diisi. Kenapa?"
"Tidak apa-apa," sahut Tania singkat.
"Kamu masih takut ya?" goda Edos mencubit hidung Tania.
"Tidak, ngapain mesti takut," jawab Tania menepis tangan suaminya.
"Bilang saja takut, teman-teman nanyain kamu tuh, kamu enggak kangen mereka?"
"Kangen, coba lihat HP kamu saja!" pinta Tania.
Edos memberikan HP nya. Tania mulai membuka pesan WhatsApp di HP tersebut.
"Ini, dua kartu sim bisa aktif di WA semua, Yank?" tanya Tania
"Kan pakai aplikasi klon," sahut Edos sambil memerosotkan tubuhnya, sehingga posisinya kini terlentang.
Tania membuka grup WhatsApp "SEDULURAN SAK LAWASE", ini adalah grup teman-teman sekelasnya saat di SMA.
"Masih ramai ya," tutur Tania.
__ADS_1
Anda
[Assalamu'alaikum, Teman-teman. Ini Tania, gimana kabar kalian?]
Devi
[Wa'alaikumussalam, Tania. Alhamdulillah kabar baik. Udah jadi Nyonya Edos sekarang sombong ya nggak ada kabar.]
Risti
[Tania, aku kangen beb πππ, katanya kamu di Jakarta juga ya? Di mana, Tan?]
Anda
[Aku kerja di sebuah minimarket di Jakarta Timur, Beb.]
Devi
[Aku juga di Jakarta timur, Tan. Kapan-kapan kita ketemuan ya!]
"Udah malam, tidur Yank. Besok kamu kerja kan?" perintah Edos.
Anda
[Iya, Dev. Maaf semua, aku udah ngantuk nich, lanjut besok ya, papayπππ]
Tania meletakkan HP Edos di lantai di samping springbed. Ia memerosotkan tubuhnya berbaring di samping suaminya. Mengecup singkat kening Edos. Edos memiringkan tubuhnya menghadap Tania.
"Selamat tidur, Sayang!" ucapnya menyusupkan wajahnya ke dada bidang Edos.
"Belum mau tidur, kamu nggak pengen nyoba lagi yang semalam, Sayang?" tanya Edos.
"Tadi bilangnya suruh tidur," cebik Tania.
"Buat sangu tidur," ucap Edos dengan senyuman menggoda. Tangan kanannya mulai menyusup ke dalam piyama yang dipakai istrinya.
"Kalau masih tetap enggak bisa, bagaimana?" tanya Tania pesimis.
"Arisan Lagi lah," jawab Edos enteng.
Jari jemari Edos mulai merogoh dan memilin buah murbei yang masih terbungkus. sesekali meremas dua buah gundukan secara bergantian seperti bermain slaim.
Tania nampak menahan lirih desahannya, mengingat kamar yang mereka tempati hanya terbuat dari skat papan triplek. Edospun membungkam mulut Tania dengan menempelkan bibirnya ke bibir Tania mengeksplor lidahnya di sana, Tania pun membalas perlakuan suaminya.
Edos menghentikan aksi tangannya, mencari keberadaan tangan Tania dan membimbingnya untuk memainkan cucuk cerek miliknya.
Tania memejamkan matanya, merasakan gelenyar aneh saat Edos memainkan sesuatu di bagian bawah perutnya yang sudah membasah.
Edos memindahkan bibirnya menghisap dan menggigit buah murbei yang semakin menggoda, tubuh Tania menggelinjang hebat merasakan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan ini.
Edos menghentikan aksinya, ia kini terlentang dan memejamkan matanya. Membiarkan Tania menguasai dirinya. Ia terkejut manakala merasakan cucuk cerek miliknya seperti dimasukkan ke dalam sesuatu yang lembut dan memijit-mijit. Reflek ia menggerakkan tubuhnya.
"Ugh," pekik Tania yang berjongkok di atas Edos, air mata nampak menetes di pipinya.
"Sayang kenapa dimasukin, apa sudah tidak sakit?" tanya Edos agak berbisik.
"Diam! suruh diam juga ini cucuk cerekmu, ini sakit sekali tahu!" hardik Tania. Edos diam. "Aku penasaran, Yang. Lagian kita kan nggak dosa," imbuhnya. Benar Tania, yang dosa Author, tapi Author juga terpaksa karena segmen ini belum ada. Malam pertamamu π€π€π€
"Dari tadi aku diam, Sayang. Cuma nggak tahu itu cucuk cerek kenapa nggak bisa diam," papar Edos.
Tok tok tok
"Tania, belum tidur ada apa?" seru Rifki dari luar kamar mendengar suara berisik.
"Tidak ada apa-apa, Mas," jawab Tania agak keras masih pada posisi semula.
"Oo.., kirain ada apa, ya udah tidur gih sudah malam," suruh Rifki.
"Iya, Mas!"
Setelah terdengar Rifki menjauh, Tania mulai menggerakkan pinggulnya, naik-turun dan terkadang berputar putar. Ia mulai mencondongkan badannya ke depan. Hingga buah 2 buah pepayanya yang masih kecil-kecil menggantung.
Melihat pemandangan yang menggoda di depannya, Edos segera menghisap pucuk buah pepaya tersebut secara bergantian.
"Ughh, ini nikmat sekali, Sayang. Perih-perih gimana gitu" racau Tania .
Edos tidak menyahut, takut terkena semprot lagi.
"Yank," panggil Tania.
"Hemmm..," sahut Edos.
"Pengen pipis," rengeknya sambil terus bergerak.
"Pipis saja disitu, aku juga pingin pipis. Kita pipis sama-sama ya."
"Benar boleh pipis di sini? Nanti bau," tanya Tania lagi.
"Benar, Sayang, Ayo!" ajak Edos.
Tania semakin menambah kecepatan gerakannya dan tiba-tiba,
"Ahhh..," Mereka mengerang bersamaan. Tania menumbangkan tubuhnya di tubuh suaminya. Sesaat kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke samping.
Edos terduduk membersihkan sesuatu yang lengket dengan tisu, senyumnya mengembang manakala melihat tisu yang dia pegang berubah warna. Ia membungkuk mengecup kening istrinya.
"Kamu hebat! Terima kasih, Sayang." ucapnya.
Napas Tania sudah teratur. Edos membersihkan peluh dan sesuatu milik istrinya dengan tisu. Kemudian berbaring menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.
.
.
.
TBC
Happy readingπππ
__ADS_1