2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Ke Rumah Mama


__ADS_3

Hai hai hai selamat jumpa kembali dengan author remahan rempeyek kacang tanah. Satu bab dulu buat pengobat rindu. I Miss you para reader kuuh 😘😘😘


******


Selesai sarapan bubur ayam, Bram dan Niken kembali ke unit apartemen mereka. Bram mengganti kaosnya dengan kemeja. Sementara Niken membuka walk in closet milik Bram, mencari-cari pakaian ganti untuk nanti malam dan juga pakaian kerja suaminya tersebut untuk besok pagi beserta **********.


"Mas, ini pakaian ganti Mas Bram buat nanti malam dan besok pagi ya?" tanya Niken memastikan pada suaminya menunjukkan barang-barang yang dipilihnya.


"Terserah kamu saja, Sayang. Apa pun pilihan kamu pasti aku akan menyukainya," sahut Bram mencubit hidung Niken. "Ini tolong pakaikan dasi Mas dulu!" pintanya kemudian menyodorkan sehelai dasi kepada Niken.


Niken meraih dasi itu dan mulai melingkarkan benda tersebut di leher Bram. "Memangnya biasanya siapa yang memakaikan?" tanyanya sambil membuat simpul dasi di leher suaminya tersebut.


"Biasanya sendiri, 'kan sekarang sudah ada istri, ya minta tolong istri lah. Ternyata begini ya enaknya punya istri, hanya dipakaikan dasi saja rasanya sudah bahagia sekali," jawab Bram sambil terus memandangi wajah gadis yang sejak kecil memujanya.


Setelah selesai memakaikan dasi, Niken meraih jas yang sudah dipersiapkannya sejak tadi dan langsung memakaikan kembali ke tubuh Bram.


"Ternyata begini rasanya punya istri, semua kebutuhan kita ada yang melayani. Mas menyesal kenapa tidak dari dulu Mas menerima kamu sebagai istri yang sesungguhnya," kembali Bram bergumam yang masih dapat didengar oleh Niken.


Niken hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Hal ini malah membuat Bram tidak kuasa untuk ******* bibir yang sedang tersenyum manis tersebut.


Sesaat kemudian Bram melepaskan kembali lumatannya. "Nanti mau Mas anterin kemana, Sayang? Atau kamu mau bawa mobil sendiri? Biar Mas berangkat minta dijemput sama Rifki." Bram bertanya tanpa pandangannya beralih dari wanita yang kini menjadi prioritas utama menggantikan mama tiri dan adiknya.


"Anterin Niken ke butik saja, Mas. Nanti habis duhur Niken ke rumah Mama sendiri naik taksi saja," jawab Niken yang malah mengalungkan tangannya pada laki-laki yang kini telah mengisi hari-harinya.


"Ya udah, ayo kita berangkat sekarang," ajak Bram.


Niken pun mengangguk lalu menarik tangannya kembali. Ia menarik koper yang berisi pakaiannya dan pakaian suaminya.


"Biar Mas yang bawakan kopernya sampai di mobil sayang. Kamu cukup gandeng tangan Mas lain yang nganggur ini," ucap Bram mengulurkan tangannya saat ia telah memakai jasnya.


"Mas cemburu sama koper ya?" goda Niken tersipu malu.


"Masa koper saja dicemburui? Mas cuma enggak mau kamu capek bawa-bawa koper ini," timpal Bram.


"Nanti ke rumah Mama juga aku yang bawa kan, Mas," ucap Niken mengingatkan.


"Kalau begitu Mas antar kamu ke rumah Mama saja dulu, naruh tas di situ terus kita langsung ke butik," cetus Bram.


"Apa Mama nanti enggak berkoar-koar sama kita, Mas? Baru tiba sudah langsung pergi lagi," sergah Niken.


"Ya udah, kamu ngalah saja. Ke butiknya nanti agak siangan, gimana? Lagian kamu sudah lama enggak ketemu orang tua kamu kok malah lebih kangen sama butik sih?" cetus Bram memberikan penawaran terbaik pada Istrinya.


"Iya deh, begitu lebih baik. Aku ke butik nanti sore saja," ucap Niken akhirnya menyetujui usulan Bram.


Mereka telah sampai di basemen parkir apartemen. Bram kopernya di jok belakang, lalu masuk dan duduk di kursi kemudi. Di sampingnya Niken sudah duduk menunggu sang sopir yang tidak lain dan tidak bukan adalah suaminya sendiri, membawanya ke tempat tujuan, rumah orang tuanya yang sudah lama tidak dikunjunginya.


Mobil Bram bergerak pelan meninggalkan basemen parkir apartemen, menyusuri jalan ibukota yang semakin ramai pada saat jam-jam seperti sekarang ini. Tidak dapat dihindari, mereka saat ini harus terjebak kemacetan jalan raya.


"Mas, lihat itu!" tiba-tiba Niken mencolek lengan suaminya.


"Yang mana, Sayang?" tanya Bram yang belum paham apa maksud Niken.


"Itu truk di depan kita," tunjuk Niken lagi.


Bram mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa dengan truk itu?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Truk itu memuat drum minyak, apa badanku dulu sebesar dan enggak punya pinggang seperti drum itu?" tanya Niken memanyunkan bibirnya teringat julukan yang selalu diberikan oleh Bram sedari kecil kepadanya.


Bram diam sejenak, ia merasa bersalah dengan perlakuannya di masa lalu kepada Niken. Ia meraih tangan Niken dan menciumnya. "Mungkin dulu iya, tapi sekarang kamu adalah wanita yang seksi. Kamu sekarang adalah wanita yang sempurna buat Mas. Apalagi sekarang ada calon anak kita di sini," Imbuhnya mengelus perut Niken dengan tangan kanannya.


Tangan kiri Bram terulur untuk meraih kepala Niken yang tertutup kerudung dan menciumnya. "Tolong jangan ungkit itu lagi! Karena Mas akan dihantui rasa bersalah jika kamu terus mengingat akan hal itu. Maafkan atas perlakuan semua masa lalu Mas terhadap kamu!" ucapnya memohon seraya mengelus-elus.


"Maafkan Niken juga, Mas. Bukan maksud Niken untuk membuat Mas Bram merasa bersalah," ucap Niken.


Bram langsung tancap gas setelah ada sela untuk mobilnya lewat. Tiga puluh menit mereka baru sampai di rumah orang tua Niken.


Bram membawa mobilnya memasuki rumah yang baru sekali dikunjunginya itu, saat pernikahan mereka.


"Ayo turun, Mas. Mama pasti senang melihat kedatangan kita," ajak Niken yang duluan keluar dari dalam mobil.


Bram dengan ragu-ragu keluar dari mobil. Niken dengan setia menunggu dan meraih tangan suaminya untuk digandeng masuk ke dalam rumah tersebut.


"Tapi Mas enggak bisa lama-lama ya, Sayang," ucap Bram.


"Iya, Niken tahu kok. Niken cuma mau Mas Bram nitipin Niken kepada Mama, kalau Papa pasti sudah berangkat ke kantor," sahut Niken.


Sampai di teras, Niken menekan bel beberapa kali. Tidak lama kemudian terdengar seseorang membuka kunci pintu dari dalam. Pintu pun perlahan-lahan dibuka.


"Non Niken! Apa kabar?" seru Tina yang langsung menghambur memeluk anak majikannnya yang sudah lama tidak kelihatan batang hidungnya tersebut.


"Alhamdulillah baik, Mbak Tinah," sahut Niken.


Bram hanya berdiri tersenyum mematung, memandangi kedua insan yang sedang melepas rindu tersebut.


"Eh ini kapan launching, Non?" tanya Tina mengelus perut Niken yang semakin terlihat buncit tersebut.


"Tiga lagi enggak lama loh, Non," timpal Tinah.


"Emm ... Mama ada, Mbak?" Tanya Tinah kemudian.


"Ada, masuk yuk. Yuk Mas Bram masuk!" ajak Tinah.


"Sayang, Mas langsung cabut ke kantor saja ya, udah telat nih," sela Bram pamit, sesekali ia melihat jam di pergelangan tangannya.


"Ah iya, Mas. Hati-hati di jalan!" sahut Niken mengingatkan suaminya, kemudian ia meraih dan mencium punggung tangan kanan suaminya. Bram pun tanpa diminta meraih tengkuk dan mencium kening istrinya.


"Kamu juga hati-hati, jangan ceroboh!" ucap Bram balas mengingatkan. Ia berjongkok, "Jangan rewel sama mama ya, Sayang," ucapnya beralih pada bayi yang ada di dalam perut Niken.


Niken pun tersenyum melihat tindakan suaminya. Ia mengantar kembali suaminya sampai di halaman, melambaikan tangan hingga mobil Bram hilang di balik pintu gerbang.


"Niken!" panggil Mama Zaida dari ambang pintu.


"Mama!" Niken pun menghambur ke pelukan sang Mama, seakan ia lupa kalau sedang hamil.


"Ini sudah berapa bulan, Sayang?" tanya Mama Zaida mengelus perut Niken yang terlihat membuncit.


"Mau enam bulan, Ma," sahut Niken.


"Mana suami kamu?" tanya Mama Zaida lagi yang kembali mendapatkan Niken sendirian saat pulang ke rumah orang tuanya.


"Mas Bram ada meeting, Ma. Dia yang datang ke sini mengantarku kok. Nanti malam kami mau menginap di sini," tutur Niken. "Ini kami membawa baju ganti," imbuhnya menunjuk ke koper yang ditinggalkan oleh Bram di lantai.

__ADS_1


"Masuk yuk! Kebetulan mama punya manisan mangga," ungkap mama Zaida mengajak anak semata wayangnya untuk masuk. Ia membawakan koper Niken karena takut anaknya mengangkat berat-berat.


Zaida menaruh koper Niken di sisi ruang tengah, lalu mengajak putrinya untuk duduk di sofa ruangan tersebut. Ia meminta Tinah untuk mengambilkan manisan buah mangga yang dibuatnya di dari dalam kulkas.


Tidak berselang lama, Tinah pun membawakan nampan berisi segelas air putih dan mangkuk berisi manisan buah mangga. Niken mencicipi manisan buah bikinan sang Mama yang sudah begitu lama tidak ia rasakan.


Mereka mengobrol panjang lebar bercerita tentang kejadian apa saja yang terjadi semasa mereka berpisah. Namun, Niken tidak sedikitpun bercerita bahwa dulu Bram tidak memperlakukannya sebagai seorang istri. Niken akan menutup rapat-rapat semua itu di hadapan kedua orang tuanya. Niken akan mengubur dalam-dalam semua cerita itu Baginya yang penting sekarang dirinya dan bayi yang dikandungnya adalah prioritas utama bagi Bram. Suami yang begitu mencintainya dan bertekad ingin berubah menjadi imam bagi dirinya dan anak-anak mereka kelak.


*****


Setelah tiga hari di rumah sakit, Tania sudah diperbolehkan untuk pulang. Empat hari kemudian akan dilakukan pemotongan dua ekor kambing aqiqah untuk kelahiran baby Atar di rumah peninggalan ayah Syarif.


Hari itupun tiba, di rumah tersebut kini telah ramai, banyak kerabat saudara serta para tetangga dan sahabat Tania sudah berkumpul di rumah tersebut untuk datang membantu atau rewang. Tidak terkecuali Abizar yang sengaja datang dari Jepang demi melihat sang keponakan.


Para laki-laki sedang membantu proses penyembelihan kambing, sedangkan para wanita memasak di dapur.


Di kamar Tania, Dewi dan Nurlita duduk di tepi kasur. Mereka begitu bahagia dengan kehadiran cucu pertama bagi mereka berdua. Mereka kadang seperti anak kecil yang berebut mainan saat ingin menggendong baby Atar.



Baby Atar


"Aduh para nenek-nenek, mbok ya biarin Dede Atar tidur tenang, kenapa sih?" celetuk Tania yang tidak rela anaknya jadi bahan rebutan kedua mamanya.


"Durhaka kamu, Tan. Bilang kita nenek-nenek. Orang masih muda gini," elak Dewi yang tidak terima disebut nenek-nenek.


"Astaghfirullah Al'Adzim, Mama. Udah punya cucu, bahkan sebentar lagi mau launching yang ke dua, kok belum sadar juga kalau sudah jadi seorang nenek-nenek," tutur Tania mendekat dan duduk di samping mereka.


"Panggilannya jangan nenek ya, Atar Sayang. panggil Oma saja," Dewi beralih pada baby Atar yang sekarang sedang berada di pangkuannya.


Tiba-tiba Abizar nyelonong masuk dan langsung tidur di kasur di antara mereka.


"Ada Pak De Bizar nih, Sayang. Pak De Bizar kapan sampai?" tanya Dewi kepada keponakannya.


"Masa Pak De sih, Tan? Tua amat," protes Abizar tidak terima disebut Pak De.


"Lah, apa. Kamu kakaknya ayahnya Atar," timpal Nurlita.


"Om Bi atau Papa Bi boleh, aku kan belum punya anak sendiri masa dipanggil pak De, lagian aku juga belum tua-tua amat," jelas Abizar.


"Baiklah, Papa Bi. Kapan sampai dari Jepang?" tanya Dewi lagi mengulangi pertanyaan tadi.


"Baru sampai, Tante. Dari Bandara Ahmad Yani Semarang langsung meluncur ke sini," Jawab Abizar nampak lelah.


"Kalau mau istirahat di kamar sebelah saja yang sepi, Abizar," timpal Nurlita.


"Sebentar, Ma. Bizar pengen lihat Atar dulu," sahut Abizar yang kemudian mendekat ke arah baby Atar yang sedang dipangku oleh Dewi lalu menciumnya.


.


.


.


TBC

__ADS_1


Maaf masih slow update ya🙏


__ADS_2