2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Tak Terduga


__ADS_3

Masih Flashback


Tujuh tahun kemudian, setelah perekonomian mereka mengalami peningkatan dan setelah kelahiran putranya yang ke dua yang diberi nama Muhammad Azhar Firdaus, Nurlita bisa sedikit melupakan kesedihannya.


Berawal dari pekerjaan Burhan sebagai makelar jual beli apa saja yang penting bisa mendapatkan bagi hasil, seperti rumah, tanah, hasil kebun, sepeda motor, Mobil dan lain sebagainya.


Suatu ketika ada investor dari negara Jepang, namanya Mr. Hiro yang hendak berinvestasi dengan memberikan bantuan berupa bibit teh dan mesin pembuat teh bubuk. Dan hasilnya nanti sebanyak 90% dijual kepada Mr. Hiro dan 10% dijual di dalam negeri.


Dengan menyewa lahan milik Perhutani yang sudah ditanami pinus dan karet, pada awalnya Burhan memperkerjakan 2 orang tetangganya untuk membantu menanami hutan pinus dan karet tersebut dengan sistim tumpang sari.


Beberapa bulan kemudian pucuk daun teh yang ditanam sudah bisa dipetik hasilnya. Karena belum mengetahui cara kerja mesin pembuat teh bantuan dari Mr. Hiro tadi, untuk sementara pembuatan teh masih menggunakan cara tradisional.


Pembuatan teh ini disangrai dengan kuali besar di atas tungku dan bara api supaya teh yang dihasilkan tidak gosong. Meskipun cara ini memakan waktu yang lama, tetapi hasilnya lumayan.


Ternyata konsumen di Jepang lebih menyukai teh yang dibuat dengan cara tradisional tersebut ketimbang teh buatan pabrik yang ada di pasaran. Namun karena produk yang dihasilkan terbatas dan memakan waktu yang cukup lama, Burhan berencana untuk meningkatkan jumlah produknya.


Burhan baru pulang dari pabriknya, ia memasuki rumah dan mendudukkan pantatnya di kursi kayu.


Nurlita yang baru selesai menyusui, meletakkan si kecil di tempat tidur, mendengar deritan kursi yang dihempas bergegas keluar. Ia menghampiri suaminya.


"Udah pulang, Mas? capek ya?" tanyanya basa-basi sambil memegang pundak suaminya, memijitnya pelan. Nurlita sejenak menghentikan aksinya.


"Sebentar ya, Mas. Lita Ambilkan teh hangat biar relax," pamitnya pada suaminya yang hanya dijawab anggukan oleh Burhan.


Tubuhnya menghilang di balik pintu, tidak lama kemudian Nurlita muncul dengan membawa secangkir teh hangat di tangannya. Diberikannya teh tersebut kepada suaminya. Burhan pun menerimanya.


"Diminum tehnya, Mas," ucapnya.


"Terimakasih, Sayang." Burhan segera menyeruput teh buatan istrinya. "Enak," ucapnya, menyeruput lagi, "wanginya pas," simpulnya mengenai teh yang baru diminumnya.


"Ini teh buatan kita, Sayang?" tanyanya pada Nurlita dengan senyum yang mengembang.


Burhan meletakkan cangkir yang ia pegang di meja.


"Bukan, Mas," sahut Nurlita memandang suaminya. Seketika senyuman Burhan menghilang. "Itu teh dari bingkisan walimah kenduri tadi malam, teh buatan kita kan masih murni, belum ada tambahan bunga melati, Mas," tambah Nurlita.


Burhan berfikir sejenak,


"Sepertinya bagus kalau ditambah bunga melati untuk konsumsi lokal sementara yang kita jual kepada Mr. Hiro masih tetap yang teh murni," ucapnya manggut-manggut. "Oh, ya. Minggu depan Mas mau study banding ke pabrik milik Mr. Hiro di Jepang, kamu mau ikut?" ungkapnya.


"Berapa hari di sana? Lita sih pengen ikut, tapi kasihan Azhar masih kecil," jawab Nurlita dengan sedikit kecewa.


"Kita satu minggu di sana, benar kamu nggak mau ikut. Kalau iya besok Mas buatin visa sekalian," bujuk Burhan.


"Pasti akan butuh biaya banyak, Mas. Mendingan yang buat aku uangnya ditabung," tolak Nurlita.


"Seluruh biaya, biaya perjalanan dan biaya selama di sana sudah ditanggung perusahaan, Sayang. Kita sudah tercatat sebagai pegawai tidak tetap di sana," papar Burhan.

__ADS_1


"Iyakah? Tapi Lita takut nanti terjadi apa-apa sama Azhar. Suatu saat saja kalau anak kita sudah besar ya, Mas," masih berusaha menolak.


"Ya udah, kalau kamu enggak mau. Tapi kamu nggak apa-apa kan, Mas tinggal selama 1 minggu?" tanya Burhan Khawatir.


"Nggak apa-apa, cuma satu minggu tok kan, Mas. Jangan-jangan Mas lagi yang apa-apa," jawab Nurlita terkekeh.


Burhan mengerutkan keningnya tidak faham yang dimaksud istrinya.


"Maksud kamu apa-apa, apa?"


"Itunya puasa," jawab Nurlita dengan mata menunjuk ke arah benda pusaka milik Burhan.


Burhan meraih kedua pundak Nurlita.


"Hai wanitanya Mas Burhan yang paling cantik. Dengar ya, Mas kamu ini puasa 40 hari, eh 2 bulan ya? dua bulan saja kuat, apalagi cuma seminggu. Kecil," papar Burhan.


Ia teringat pasca melahirkan Edos hingga 40 hari masa nifas istrinya ternyata belum selesai, masih ada flek-flek kecoklatan sehingga buka tabirnya sampai ditangguhkan hingga 2 bulan.


"Awas saja kalau sampai Mas kecantol cewek sana!" Ancam Nurlita.


"Mas nggak akan kecantol, Sayang," janjinya. "Paling cuma kesenggol," ledeknya tertawa dan langsung mendapat cubitan di pinggangnya.


"Aw, sakit Yang," pekik Burhan."Makanya kasih Mas bekal donk," rengeknya.


Burhan segera membopong tubuh istrinya ala bridal style. Nurlita melingkarkan lengannya di leher suaminya.


"Siapa juga yang minta dibopong?" decak Nurlita.


"Biar kelihatan romantis," ucapnya lalu menurunkan Nurlita di kasur dengan hati-hati.


"Memang siapa yang mau melihat?"


"Ssttt.. Jangan berisik nanti Azhar bangun!" lirihnya lalu memindahkan Azhar kecil ke dalam box bayi.


"Mas nggak mandi dulu?" tanya Nurlita dengan mata masih mengikuti suaminya.


Yang ditanya mendekat,


"Nanti saja sekalian," sahutnya.


Burhan mulai melancarkan aksinya, bibirnya mendarat di bibir istrinya yang sensual, ia akui beberapa bulan setelah melahirkan putra ke duanya tubuh Nurlita yang tambah berisi semakin sexy, berbeda dengan sebelumnya kurus kering seperti papan gilas cucian.


Tangan Burhan sudah bergerilya memainkan mpon-mpon Nurlita di balik rok. Jari-jari tangan kanan Nurlita juga memainkan benda pusaka milik suaminya.


Burhan melepas pag*utannya, bibirnya kini menyusuri leher hingga dada istrinya, membuat tanda kepemilikan di sana.


"Mas," panggil Nurlita dengan suara parau.

__ADS_1


"Ya, sayang," sahut Burhan tak kalah paraunya.


"Sekarang, Mas. Aku mau keluar nich," pinta Nurlita.


"Ngapain keluar, malu dilihat orang."


"Ih," Nurlita memukul pundak suaminya membuat Burhan terkekeh.


Burhan segera melepas celananya kemudian memasukkan benda pusakanya kedalam mpon-mpon istrinya di balik roknya yang tersingkap. Sekarang mereka terlihat seperti dua orang yang sedang membelah kayu dengan gergaji besar tradisional. Desahan dan bunyi kecipak yang saling bersahutan terdengar syahdu.


Nurlita merasakan gelenyar yang aneh di sekujur tubuhnya, ia merasakan tubuhnya melayang bersamaan dengan cairan kenikmatan keluar dari lubang surgawinya. Ia hanya tinggal menerima suaminya menyelesaikannya.


Tubuh Burhan terkulai di atas tubuh Nurlita hingga benda pusakanya terlepas dengan sendirinya. Nafas keduanya sudah terdengar teratur. Mereka terlelap bersama setelah proses penyatuan berakhir.


Nurlita terbangun karena badannya terasa tertindih beban berat. Ia mendorong tubuh suaminya hingga berguling ke samping. Ia kembali memeluk suaminya dan melanjutkan tidurnya.


Tiba-tiba Edos kecil menangis,


Burhan bangkit dan memakai sarung dengan secepat kilat, kemudian meraih Edos kecil dari dalam box untuk mendiamkannya. Tetapi Edos kecil tidak mau diam.


"Lita, bangun Sayang. Azharnya nggak mau diam nih, mungkin dia lapar mau ne*en," bujuk Burhan menggoyang-goyang punggung istrinya.


Mata Nurlita mengerjap-ngerjap, sejenak terdiam mengumpulkan nyawanya, sementara Edos kecil masih tetap menangis. Nurlita bangkit dan duduk, menyatukan rambutnya yang acak-acakan, kemudian menerima Edos kecil dari tangan suaminya lalu menyusuinya.


Burhan duduk di samping istrinya.


"Laper ya, Dek," ucapnya membelai kepala Edos kecil memperhatikan anaknya yang lahap menyusu. Hingga Burhan juga menelan salivanya menyaksikan hal itu.


"Papa mandi dulu gih! Nanti gantian jagain dedeknya," pinta Nurlita.


"Iya Mama bawel," sahut juragan Burhan memetot hidung istrinya dengan gemas.


Burhan bangkit menyambar handuk yang menggantung di kapstok dan keluar menuju kamar mandi yang terletak di belakang.


.


.


.


Happy reading


Semoga suka,


jangan lupa like n komen


tararengkiuuh 😘 😘😘

__ADS_1


__ADS_2