Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 10 : Perasaan Apa Ini


__ADS_3

"Ada apa Vania sampai di panggil ke ruang guru?” tanya Azam kepada Reza.


"Aku juga tidak tahu, Azam. Aku hanya menyampaikan pesan dari Bu Sandra saja.” Jawab Reza kemudian duduk di kursinya.


Azam mengkhawatirkan Vania dan juga ikut penasaran kenapa Vania sampai di panggil keruang guru pagi-pagi. Padahal selama berteman dengan Vania, ia tidak pernah sekalipun membuat masalah atau bermasalah.


“Azam. Sampai jam pelajaran hampir selesai Vania kok belum balik ke kelas ya? Aku takut terjadi apa-apa sama dia.” Ucap Cahaya.


“Aku pun sama juga mengkhawatirkan Vania.” Jawab Azam.


Tak lama kemudian jam istirahat pertama berdering. Semua murid-murid keluar kelas. Azam dan Cahaya berdiri di depan pintu kelasnya.


Azam dan Cahaya berlarian mendekat ke Vania.


“Kita ke kantin yuks? Aku lapar dan aku harus minum obat juga.” Ajak Vania pada Cahaya dan Azam.


“Sebentar ya aku ambil bekalku dulu di kelas.” Ucap Cahaya lalu kembali masuk ke kelasnya.


“Tumben kamu makan di kantin? Tidak seperti biasanya lho kamu gak bawa bekal makan?” tanya Azam pada Vania.


“Iya, hari ini aku lupa bawa bekal. Tadi pagi aku buru-buru berangkat.” Jawab Vania pada Azam.


Dan tak lama setelah mereka langsung ke kantin. Mereka langsung mencari tempat duduk dan hari ini kantin terlihat sepi dan banyak kursi kosong.


Vania langsung memesan mie ayam sama teh hangat, Cahaya es jeruk, sedangkan Azam nasi goreng jawa dan es jeruk pada Mak Tutik.


Sepuluh menit pesanan mereka datang.


“Mie ayam, es teh untuk Mbak Vania, es jeruk untuk Mbak Cahaya, dan nasi goreng Jawa es jeruk untuk Mas Azam. Silahkan menikmati.” Ucap Mak Tutik.


“Terima kasih Mak Tutik.” Jawab mereka bertiga kompak.

__ADS_1


“Mbak Vania sakit ya? Kok wajahnya pucat?” tanya Mak Tutik. Azam dan Cahaya langsung memandang wajah Vania.


“Hehe, uda enakan kok Mak. Oh iya Mak saya bisa minta air putih hangat.” Ucap Vania pada Mak Tutik.


“Bisa Mbak.” Jawab Mak Tutik lalu pergi ke warung untuk mengambilkan air putih hangat. Tak butuh waktu lama Mak Tutik kembali ke mejanya.


“Ini Mbak.” Ucap Mak Tutik sambil menaruh gelas di meja.


“Terima kasih Mak.” Jawab Vania lalu ia minum obatnya.


Bel jam istirahat pun selesai. Mereka bertiga juga selesai makan siang. Azam membayar ke Mak Tutik dan setelah itu mereka kembali ke kelasnya.


“Sebenarnya aku tadi pagi di panggil Bu Sandra ke ruang guru karena mau di ikutkan olimpiade matematika.” Ucap Vania tiba-tiba membuka pembicaraan.


“Tapi, aku tidak langsung menyetujuinya,” ucap Vania lagi.


“Maksudnya gimana, Vania?” tanya Azam.


“Maksudnya itu, di SMA 5 ini kan banyak siswa-siswi yang lebih pintar matematika daripada aku.” Ucap Vania.


“Aku menyampaikan ide ke Bu Sandra agar semua siswa-siswi itu ikut seleksi matematika dan mencari siswa-siswi yang lebih pantas untuk mewakili SMA ikut lomba olimpiade matematika.” Ucap Vania pada Azam dan Cahaya.


“Benar itu, Vania. Tapi, seandainya dari sekian siswa-siswi yang di seleksi tidak ada yang bisa gimana, Van? Maksudku tidak sesuai harapan dari bapak ibu guru?” tanya Cahaya pada Vania.


“Nah itu yang membuatku bingung. Bu Sandra sudah memutuskan, seandainya dari sekian siswa-siswi SMA 5 yang ikut seleksi tidak sesuai harapan mereka. Dengan berat hati aku yang akan menjadi perwakilan SMA 5. Sedangkan aku sendiri juga tidak yakin akan membawa nama SMA 5 ini ke 3 besar.” Ucap Vania bersedih.


Cahaya langsung memeluk Vania. Ia tak percaya kalau Vania akan sesedih ini.


---------------


Archie mengernyitkan alisnya. Ia bolak-balik melihat ponselnya.

__ADS_1


“Kenapa Vania tidak membalas pesanku.” Batin Archie dengan kesal.


Archie pun menghempaskan tubuhnya di kursinya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


“Masuk,”


Asisten Rey membuka pintu dan masuk kedalam.


“Akhirnya kamu sudah kembali. Gimana dengan pembukaan restoran milik Mas Dhani besok? Apa semuanya sudah sesuai rencana?” tanya Archie sambil memijit pelipisnya.


“Semuanya sudah sesuai rencana, Pak! Semoga besok acaranya berjalan sesuai rencana dan harapan Pak Dhani.” Jawab asisten Rey.


“Kerja yang bagus. Setelah ini kamu dan sekertaris Rini mengambil alih tanggung jawab proyek Tuan Jordy.” Ucap Archie memberi perintah.


“Baik, Pak!” jawab asisten Rey dengan membungkukkan badannya.


Asisten Rey menatap heran kepada atasannya. Sejak dia datang atasannya selalu melihat ponselnya sambil memijit pelipisnya.


“Apa bapak sakit?” tanya asisten Rey dan seketika itu Archie mengangkat wajahnya.


“Tidak. Aku tidak sakit.” Jawab Archie.


“Kalau tidak sakit kenapa kamu memijit pelipis kamu terus?” Tanya asisten Rey sebagai teman.


“Aku juga tidak tau, Rey. Kenapa akhir-akhir ini aku memikirkan Vania anaknya mas Dhani.” Ucap Archie seketika.


“Jangan-jangan kamu jatuh hati sama gadis itu.” Ucap Rey sambil mengedipkan matanya.


“Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu.” Jawab Archie.

__ADS_1


“Kalau kamu suka bilang saja sama mas Dhani. Lagian juga kamu tidak ada hubungan darah sama mas Dhani. Siapa tahu ada restu untu kamu.” Ucap Rey sambil menggodanya.


Archie terdiam, ia pun berpikir sejenak. Apa yang di katakan Rey semua benar.


__ADS_2