Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 56 : Ayam Sambel Terasi


__ADS_3

Sesampainya di apartemen suasana nampak sepi. Archie pun membuka pintu kamar untuk mencari keberadaan istrinya.


“Sayang…sayang…” panggil Archie.


Namun yang di panggil-panggil tidak ada sautan sama sekali. Kedua mata Archie tertuju pada meja yang terdapat tulisan yang isinya mengatakan Vania pamit keluar sebentar.


“Kemana dia? Tidak seperti biasanya dia keluar.” Tanya Archie dalam hatinya.


Setelah selesai membaca memo dari istrinya Archie langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket karena hari ini udaranya benar-benar panas sekali. Apalagi ditambah melihat Nita yang datang ke kantornya.


Sementara itu di seberang jalan di depan apartemennya Vania sedang mengantri di sebuah rumah makan yang menjual berbagai macam olahan Indonesia. Vania hari ini terpaksa membeli makan malam di luar karena seharian ini Vania sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.


“Silahkan dipilih mbak…ini menunya.” Sapa seorang pelayan dengan ramah sambil menyodorkan buku menu di hadapan Vania.


“Mbak saya pesan ayam paha jumbonya dua porsi pakai sambel terasi sama cah kangkung satu porsi.” Pesan Vania pada pelayan. Pelayan itu langsung pergi setelah mencatat dan mengulangi pesanan Vania.


Lima belas menit kemudian pesanan Vania selesai di bungkus kemudian Vania menyelesaikan pembayarannya.


Sesampainya di apartemen Vania langsung mengeluarkan makanan dari bungkusnya lalu memindahkan ke piring dan menaruhnya di atas meja makan.


Setelah selesai menaruh makanan Vania masuk ke dalam kamar. Ia membuka pintu kamar dan mendapati suaminya yang tertidur telungkup.


“Mas bangun….” Panggil Vania sambil menggoyangkan badan Archie.


Archie yang merasa tidurnya terganggu akhirnya membalikkan badannya.


“Ayo makan dulu mas, tidurnya bisa di lanjut nanti, mumpung makanannya masih hangat. Dan maaf hari ini adek enggak masak. Adek beli makanan di seberang jalan depan apartemen ini.” Ajak Vania dengan lembut.


Archie mengernyitkan keningnya saat mendengar kata Adek yang keluar dari mulutnya. Archie pun duduk dan bersandarkan ujung ranjang.


“Kenapa enggak nunggu mas saja sih kalau mau beli makan di luar. Kan kita bisa makan di luar berdua.” Archie pun bertanya pada Vania.


Vania menarik tangan Archie sehingga mau tidak mau Archie beranjak dari tempat tidurnya lalu mengikuti langkah kakinya Vania menuju meja makan.

__ADS_1


Sesampainya di meja makan, Archie menggeser kursinya sedangkan Vania mengambil air putih untuk suaminya.


“Maaf ya mas malam ini makannya pakai sambel beli di luar juga.” Ucap Vania.


“Iya enggak apa-apa. Lagian adek juga enggak boleh kecapekan.” Jawab Archie sambil menikmati makan malamnya nasi ayam sambel terasi dan di tambah sayur cah kangkung.


Vania terdiam saat mendengar ucapan suaminya dua hari ini Vania benar-benar tidak bisa menjadi istri yang baik karena masih sibuk kuliah dan toko onlinenya.


“Maafkan aku mas yang belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk mu.” Batin Vania.


Archie menatap lekat wajah Vania yang tiba-tiba menunduk dan saat itu Archie merasa bersalah karena perkataannya.


“Kok diam? Kenapa enggak di makan? Apa perlu mas suapin pakai tangan ini.” Ucap Archie sembari menunjukkan tangannya yang sudah ia buat makan.


Vania mengangguk yang menandakan kalau Vania minta di suapin.


Archie semakin di buat gemas oleh wajah manja istrinya.


“Kalau minta di suapin langsung bilang sama mas saja ya. Enggak boleh pakai acara malas makan.” Ucap Archie mengingatkan.


Vania mengangguk sambil tersenyum malu-malu.


“Iya mas…” jawab Vania.


Setelah selesai makan malam Archie mengajak Vania untuk duduk di ruang tamu. Archie akan menanyakan pada Vania pesta seperti apa yang di inginkan karena acaranya kurang beberapa hari.


“Sayang…? Kalau boleh tahu adek ingin pesta pernikahan seperti apa?” tanya Archie setelah duduk di sofa.


Mendengar kata pesta, Vania teringat masa-masa dulu dimana Vania pernah berbincang-bincang dengan Ibunya.


Ibu Vania : Sayang, nanti kalau besar kamu ingin jadi apa?


Vania : Aku ingin menjadi dokter, Bu.

__ADS_1


Ibu Vania : Pernikahan seperti apa yang kamu inginkan kelak kalau kamu sudah besar.


Vania : Aku ingin pernikahan yang nuansanya serba warna pink, meskipun sederhana namun tetap terlihat cantik dan romantis dan Vania selalu berdoa kepada Allah SWT semoga Ayah sama Ibu selalu diberi kesehatan agar kelak dapat melihat dan menyaksikan Vania menikah. Ngomongin anak cita-cita Vania kelak ingin mejadi seorang istri, berwirausaha biar bisa merawat anak-anak, hehehe..


Ibu Vania : Aamiin…


Ibu Vania : Kenapa tiba-tiba tidak ingin menjadi dokter? Kenapa malah ingin berwirausaha di saat menjadi istri. Padahal menjadi dokter meskipun status istri juga gak apa-apa.


Vania : Kalau Vania menjadi dokter nanti sibuknya di rumah sakit, Bu. Terus waktu untuk mengurus suami dan anak juga terbatas. Kalau berwirausaha sendiri pasti banyak waktu untuk mengurus anak dan suami, hehehehe…


Suasana didalam ruang tamu itu mendadak hening karena tiba-tiba Vania menangis.


“Kok menangis sayang? Apa mas ada salah ucap?” tanya Archie sambil menggenggam kedua tangan Vania.


Vania menggelengkan kepalanya sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh.


“Aku terserah kamu saja mas. Aku akan menyukainya.” Jawab Vania.


“Kok terserah mas? Mungkin adek punya keinginan pestanya nanti seperti cerita dongeng ala-ala cinderella atau apalah gitu.” Ucap Archie.


“Tidak ada mas. Meskipun tanpa pesta pernikahan aku juga tidak apa-apa yang terpenting mas selalu ada di sampingku dan Ayah Pras sudah mau menerima aku masuk ke dalam keluarganya.” Ucap Vania.


Archie tersenyum saat mendengar apa yang barusan di ucapkan oleh istri kecilnya.


“Sesederhana itu keinginan mu sayang. Mas janji tidak akan meninggalkan mu lagi dan menyakitimu. Cukup yang dulu aku pernah pergi meninggalkan mu.” Batin Archie.


“Ya sudah kalau adek tidak punya ide. Besok siang setelah makan siang kita ketemuan sama orang WO. Ngomong-ngomong apa adek sudah bikin list siapa saja yang akan adek undang?”


“Hehe…tidak begitu banyak yang aku undang mas paling cuma beberapa saja. Oh ya mas kebetulan Azam sama Cahaya ada di sini apa boleh aku mengundang nya?”


“Boleh dong sayang lagian mereka juga temanmu. Oh ya, ngomong-ngomong kamu kok tahu kalau Cahaya juga ada di sini?”


“Iya mas, kemarin Ibu telepon dan kasih tau kalau di toko ada Cahaya.”

__ADS_1


__ADS_2