
“Mbak Imut hubungi bagian distributor kosmetik saja dan tolong buatkan janji sama mereka nanti sore. Setelah selesai kuliah aku akan menemuinya.”
“Iya Mbak. Kira-kira Mbak Vania akan menemui di mana?”
“Di mall saja Mbak. Nanti kita langsung ketemu di sana saja.”
“Baiklah Mbak! Nanti aku akan mengirimkan pesan kalau sudah ada jawaban.”
Vania mengangguk dan setelah itu Vania pamit berangkat kuliah.
“Bu, saya berangkat kuliah dulu. Setelah kuliah saya sama Mbak Imut akan pergi menemui seseorang di mall.” Pamit Vania kepada Mbak Lastri.
“Iya nona.”
Vania terkejut karena melihat pamannya dan asistennya masih berdiri di depan mobilnya.
“Ayo biar Om yang antar kamu ke kampus, setelah itu Om berangkat ke kantor.” Ajak Archie.
Vania tak ingin ambil pusing, apalagi jam masuk kelas sudah mepet.
Asisten Rey membuka pintu mobil untuk Archie dan Vania. Vania langsung masuk kedalam mobil dan di susul Archie. Pandangan mata Vania menatap keluar jendela, sedangkan Archie selalu mencuri pandang ke arah Vania dengan sesekali tersenyum.
Asisten Rey sesekali melirik mereka berdua lewat kaca spion mobil hanya bisa tersenyum senang.
Selama dalam perjalanan menuju kampus tak ada satupun percakapan yang terjadi hingga mobil berhenti di depan gerbang kampus. Vania yang hendak turun akhirnya mendengar pesan dari pamannya.
“Gak usa lari-larian, ingat kesehatan mu.” Ucap Archie sambil memandangi wajah Vania.
Vania mengangguk sambil tersenyum. Archie mengulurkan tangannya.
Vania terkejut saat Archie mengulurkan tangannya. Vania langsung menerima dengan mencium punggung tangannya Archie sebelum masuk kampus.
“Mas Rey hati-hati kalau bawa mobil, jangan ngebut ngebut. Om Archie aku masuk dulu sebentar lagi dosennya akan datang, assalamualaikum.” Ucap Vania lalu turun dari mobil.
Vania pun mengelus dada dan bersyukur karena semua mahasiswa sudah masuk ke kelasnya.
Archie tersenyum senang saat mengingat Vania mencium punggung tangannya. Asisten Rey langsung melajukan mobil menuju kantor.
Mobil tepat berhenti di depan pintu lobby. Archie dan asisten Rey turun dari mobil. Mereka berdua langsung naik lift yang langsung terhubung dengan ruangannya.
“Selamat pagi, Pak! Selamat pagi asisten Rey?” sapa sekertaris barunya.
“Hem, selamat pagi sekertaris Nia.” Jawab mereka berdua bersamaan.
“Rey, kamu ikut ke ruangan ku.” Pinta Archie dan di anggukan Rey.
Kini mereka berdua ada di dalam ruangannya.
__ADS_1
“Aku minta kamu ganti sekertaris Nia dengan laki-laki. Aku tidak ingin ada wanita di lantai ini, dan untuk sekertaris Nia kamu pindahkan di bagian apa yang cocok untuknya.”
“Baik Pak kalau itu kemauan bapak. Saya akan mencari sekertaris laki-laki untuk bapak, maaf kalau boleh tau saya harus mencari usia berapa, Pak?”
“Tidak terlalu tua dan tidak terlalu mudah.”
“Baik, Pak! Apa masih ada yang ingin bapak sampaikan sama saya?”
“Tidak ada. Sekarang kamu bisa pergi dari ruangan saya.”
“Kenapa jantungku ini selalu berdebar saat berdekatan dengan Om Archie, apa aku memang belum bisa melupakannya.” Batin Vania saat berjalan menuju kelasnya.
Vania senyum-senyum sendiri, tanpa ia sadari Ririn dan Eni pun berjalan di samping Vania.
“Ririn Eni sejak kapan kalian ada di sini?” tanya Vania heran saat melihat kedua temannya berjalan beriringan.
“Kamu tuh ya kalau senang bagi-bagi sama kita. Lagian dari tadi kamu tuh ya senyum-senyum sendiri.” Ucap Eni.
“Maaf, nanti saja setelah mata kuliah ini selesai aku akan berbagi senang sama kalian berdua.” Ucap Vania.
Kemudian mereka bertiga masuk kelas dan duduk di bangku paling belakang karena mereka bertiga tidak suka dengan dosen mata pelajaran ini, dosennya terkenal killer.
Pelajaran akan segera di mulai, seketika itu semua mahasiswa diam, suasana kelas sedikit tegang dan tidak satupun mahasiswa berani mengeluarkan suara.
“Ke kantin yuk,” ajak Ririn dan di anggukan oleh Vania dan Ririn. Mereka bertiga langsung beranjak menuju kantin.
“Vania, jangan-jangan tadi pagi kamu senyum-senyum sendiri gara-gara laki-laki yang mengaku calon suami kamu?” tanya Ririn yang penasaran.
Vania mengangguk.
“Jadi, kamu benaran sudah bertunangan, tapi kenapa kamu tidak memakai cincin pertunangan mu?” tanya Ririn sambil memegang tangan Vania.
“Aku ada alasan kenapa aku tidak pakai cincin tunangan ku.” Jawab Vania sambil menatap ke depan sehingga Ririn dan Eni menoleh kebelakang lalu kembali menatap wajah Vania.
“Terus hubungannya dengan tadi pagi apa, Vania?” tanya Eni spontan.
Dan akhirnya Vania menceritakan semua tentang dirinya hingga saat ini.
“Uh so sweet banget.” Ucap Ririn dan Eni barengan.
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang juga. Mereka bertiga langsung memakan dengan lahap karena sebentar lagi mereka bertiga harus mengikuti mata kuliah yang kedua.
Sedangkan di kantor Archie sedang sibuk dengan pekerjaan yang beberapa bulan di tinggalkan. Banyaknya berkas-berkas dan laporan keuangan yang harus ia periksa.
__ADS_1
Seharian Archie di buat kesal dengan semua pekerjaannya. Namun, mengingat wajah Vania seolah rasa kesal terusir dari benaknya.
Archie pun melihat kontak Vania yang nampak online.
“Berarti nomorku sudah tidak di blokir lagi.” Gumam Archie.
Archie pun mengetik dan mengirimkan pesan ke Vania
“I love you so much future wife.”
30 menit kemudian Archie melihat ponselnya belum ada tanda-tanda pesan yang dikirim di balas oleh Vania.
Archie pun menghela nafas panjang.
“Aku berjanji akan selalu terbuka dengan hal-hal sekecil apapun.” Batin Archie.
Archie sudah merasa sangat lapar. Ia pun menghubungi office boy untuk membeli makanan untuknya.
Lima belas menit kemudian makanan datang. Archie langsung menyantap makanan itu sambil menatap ponselnya.
Setelah makan siang menjelang sore Archie kembali melihat ponselnya dan tidak ada balasan dari Vania.
“Apa dia masih marah sama aku, sampai pesanku tidak di balas sama sekali.” Batin Archie.
Archie pun mengirimkan pesan lagi ke Vania.
“Sayang, kamu baik-baik saja kan? Kenapa pesanku tidak kamu balas?”
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Vania dan Imut dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba Vania teringan tadi pas sedang berbincang-bincang dengan distributor ada pesan masuk di ponselnya. Vania langsung mengambil dari tasnya dan bersamaan pesan masuk dari pamannya.
Vania tersenyum saat membaca pesan yang pertama. Vania langsung membalas.
“I love you too my future husband. Maaf aku baru bisa membalas pesan Om Archie, aku baik-baik saja kok, tadi aku sama Imut sedang ketemuan sama distributor kosmetik di mall.”
Archie berjingkrak jingkrak saat membaca balasan pesan dari Vania. Archie langsung menghubungi.
Vania terkejut saat melihat nama panggilan yang tertera di ponselnya. Vania langsung menggeser tombol hijau.
“Halo, assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam…”
“Kok ramai? Kamu sekarang ada di mana?”
“Aku sekarang ada didalam taksi sama Mbak Imut perjalanan mau pulang. Om Archie bisa kan telepon aku nanti, sebentar lagi mau sampai rumah.”
“Iya,”
__ADS_1
Archie pun mengakhiri panggilannya.