
Siang ini Vania sudah berada di kampus. Vania langsung mengumpulkan tugas yang sudah ia kerjakan. Setelah itu Vania masuk kelas dan mengikuti mata kuliah akuntansi.
Menginjak tiga bulan usia kandungan tidak membuat Vania patah semangat. Apalagi sang suami selalu mendukung.
Eyang Winston sudah mengantisipasi agar Vania segera mengambil cuti. Selagi masih kuat Vania tidak akan pernah ambil cuti.
Hal ini juga sudah dibicarakan dengan suaminya. Bahkan, suaminya selalu mendukung semua keputusannya. Vania sedikit tenang saat suaminya berada di pihaknya.
Dua jam sudah Vania mengikuti mata kuliah akuntansi. Hari ini benar-benar lelah karena otaknya terkuras dengan angka-angka. Sisa dua mata kuliah lagi yang harus ia ikuti.
“Mbak Vania kok pucat?” tanya Imut saat menjemput Vania di kelasnya.
“Mm, hari ini aku benar-benar lelah mbak, dua jam otakku ini di penuhi angka-angka apalagi dosennya memberi tugas dan hari itu juga harus selesai. Semoga kelak anakku pinter, aamiin.” Ucap Vania sambil mengelus perutnya.
“Aamiin...” Imut pun ikutan mengamini.
“Ngomong-ngomong masih ada kuliah dua lagi? Kira-kira mbak Vania sanggup gak? Kalau enggak sanggup mbak Vania ijin saja?” ucap Imut memberi saran.
Vania menggelengkan kepalanya.
“Enggak mau ijin aku mbak, aku pengen cepet selesai kuliah ku.” Jawab Vania.
Pembicaraan mereka berdua terhenti karena Vania mendengar teleponnya berdering lalu ia mengangkat.
“Assalamualaikum....”
“--------------
“Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun? Kondisi Eyang gimana Pak?”
“--------------
“Iya Pak. Saya akan memberitahu mas Archie dan kita berdua segera berangkat ke kampung.”
“---------------
“Waalaikumsalam wr wb....”
__ADS_1
Setelah menutup pembicaraan. Vania langsung menghubungi suaminya.
“Mbak ada apa? Kenapa mbak Vania tiba-tiba menangis?” tanya Imut penasaran.
“Eyang Winston sakit mbak. Barusan Pak Haris yang menghubungi.” Jawab Vania.
Sedangkan di kantor, Archie sedang sibuk dengan dokumen-dokumen yang ada di mejanya. Bahkan, Archie tidak mendengar suara telepon.
“Gimana mbak? Apa mas Archie sudah mengangkat?” tanya Imut. Vania langsung menggeleng.
“Kalau begitu biar aku saja menghubungi mas Rey.” Ucap Imut dan langsung di angguk i Vania.
Imut menekan nomor suaminya. Tiga kali berdering Imut langsung mendengar suara suaminya.
“Assalamualaikum, mas nona Vania ingin bicara?”
“---------------
Imut langsung memberikan ponselnya ke Vania.
“Assalamualaikum, mas... Bisa minta tolong ke ruangan mas Archie? Dari tadi aku menghubungi nomor nya kok tidak di angkat?”
“----------------
“---------------
Beberapa menit kemudian Rey balik ke ruangan atasannya dan menyampaikan pesan dari istrinya. Archie yang sedang menyandarkan punggungnya di kursi pun terkejut saat melihat asistennya langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
“Maaf Pak, barusan nona Vania menghubungi saya kalau nona Vania berkali-kali menghubungi tuan tidak bisa.” Ucap Rey.
Archie langsung mengambil ponselnya dan melihat begitu banyak panggilan dari istrinya dan asisten Haris. Archie langsung memilih menghubungi istrinya baru asisten Haris.
“Halo, Assalamualaikum...”
”----------------
“Iya sayang maaf, hari ini mas banyak kerjaan, ponselnya mas taruh di laci. Jangan marah gitu dong sayang, kan mas dari tadi enggak kemana-mana, mas dari tadi ada di ruang kerja sampai lupa makan siang.”
__ADS_1
“---------------
“Apa. Ayah sakit?”
“----------------
“Iya sayang, kamu langsung telpon mbak Lastri minta tolong buat nyiapan baju kita untuk beberapa hari dan sekarang kamu langsung ijin tidak ikut kuliah ya? Sekarang mas siap-siap jemput kamu.”
Archie bergegas pulang dan menjemput istrinya setelah itu mereka berdua akan berangkat ke kota T.
“Rey, selama saya tidak ada tolong kerjaan ini semuanya kamu yang hendle. Kalau butuh apa-apa kamu bisa hubungi saya. Tapi maaf jika selama saya di kota T tidak bisa di hubungi dan kamu butuh waktu cepat kamu boleh mengambil keputusan jika menurutmu itu baik.”
“Sebenarnya ada apa Pak? Kenapa Pak Archie tiba-tiba mau ke kota T?”
“Barusan asisten Haris menghubungi dan memberi tahu kalau Ayah sedang sakit dan kritis, maka dari itu saya sama Vania akan pergi kesana.”
“Kalau begitu, bapak jangan membawa mobil sendirian. Saya akan memerintah salah satu supir kantor buat mengantar bapak dan nona Vania.”
Archie mengangguk dan menurut apa yang disarankan asistennya.
30 menit kemudian supir sudah berada di depan pintu lobby. Archie langsung turun dari lantai 10 dan meminta sang supir langsung menuju kampus istrinya.
“Maaf Pak Di merepotkan.” Ucap Archie.
“Tidak kok Pak, dengan senang hati saya akan mengantarkan Tuan dan Nona pulang. Itung-itung saya bisa menjenguk istri dan anak saya di kampung Tuan.” Ucap Pak Di.
Pak Di, adalah seorang supir yang sudah direkomendasikan oleh Ayahnya. Pak Di termasuk tetangga kampung sebelah.
Beberapa menit kemudian mobil Archie tiba di depan kampus. Archie langsung menghubungi istrinya.
“Aku sudah di depan kampus sayang.” Ucap Archie.
Vania langsung berjalan keluar kampus. Archie melihat Vania berjalan mendekat ke mobilnya pun keluar dari mobilnya.
“Sayang jangan lari-lari. Kamu sedang hamil.” Ucap Archie mengingatkan kalau Vania sedang hamil kembar.
“Maaf.” Ucap Vania.
__ADS_1
“Lain kali jangan lari-larian.” Peringatan Archie.
Vania mmenganggu kemudian masuk kedalam mobil menuju rumahnya