Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
Extra Part 2 : Seperti Keluarga


__ADS_3

Archie mengendarai mobil yang selalu membawa kedua anaknya kemana-mana, kini melaju ke makam tanpa di temani kedua anaknya. Sesampainya di makam Archie belum melihat mobil yang membawa kedua anaknya dan Anum.


Sesaat ia memejamkan matanya sambil menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Bayangan saat melihat wajah sedih pada kedua anaknya membuat Archie merasa bersalah.


“Ar, kenapa si kembar sama Anum belum tiba juga?” Tanya Patricia.


Archie membuka matanya lalu kembali posisi duduk dan menoleh ke arah Patricia.


“Pat, sepertinya anak-anakku salah faham tentang hubungan kita. Mereka mengira kalau kamu calon pengganti bundanya.” Ucap Archie tanpa menjawab pertanyaan Patricia.


Patricia memegang lengan Archie untuk meyakinkan kalau dirinya layak menjadi ibu sambungnya.


“Aku memang ingin menjadi bunda untuk kedua anakmu. Kenapa kamu tidak meyakinkan pada kedua anakmu.” Ucap Patricia.


Archie terkejut saat mendengar ucapan Patricia yang begitu menginginkan untuk menjadi istri dan ibu sambung untuk kedua anaknya.


“Sudah berapa kali aku katakan sama kamu kalau hubungan kita hanya teman dan tidak lebih.” Ucap Archie.


Tak lama kemudian mobil yang membawa kedua anaknya dan Anum tiba di depan makam. Archie yang tidak ingin kedua anaknya semakin salah faham pun langsung keluar dari mobil lalu berjalan untuk menghampirinya.


Archie membuka pintu sembari membantu kedua anaknya untuk keluar dari mobil.

__ADS_1


“Ayo.” Ajak Archie pada kedua anaknya dan Anum. Sedangkan mata Aswin melihat Patricia berjalan ke arahnya pun berhenti seketika.


“Papi ajak aunty Patricia ke makam bunda?” tanya Aswin dengan tatapan tak suka.


Tiba-tiba ponsel Archie berdering. Seseorang telah menghubungi dan menyelamatkan Archie dari pertanyaan anaknya. Archie tersenyum saat melihat siapa yang menghubungi nya.


“Bentar ya, papi mau angkat telepon aunty Imut.” Ucap Archie sambil mengusap kepala Aswin dengan lembut.


Anum langsung membawa Aine dan Aswin masuk ke dalam makam tanpa menghiraukan keberadaan Patricia yang saat ini ingin mendekat.


Patricia terdiam. Ia tidak berani bicara saat melihat tatapan mata Aswin yang terlihat tidak menyukai nya. Ia akhirnya memutuskan pergi dari makam.


Anum, Aine dan Aswin sudah berada di depan makam yang tanahnya sudah rata dan bertaburan bunga. Mereka bertiga langsung berjongkok.


“Bunda… Apakah bunda merindukan kita semuanya. Hari ini Aine dan Aswin diami papi, karena papi sudah tidak sayang lagi sama bunda.


“Iya bunda, hari ini papi benar-benar bikin kita sedih. Papi sudah tidak sayang sama bunda. Tadi saja papi ngajak Tante Patricia. Aswin sama kak Aine tidak mau kalau Tante Patricia jadi bunda kita.”


Bulir-bulir air mata Anum jatuh saat melihat dan mendengarkan keluh kesah si kembar di depan makam bundanya sambil menitihkan air mata. Sedangkan Archie yang sejak tadi mendengarnya pun merasa semakin bersalah karena ini pertama kalinya si kembar menangis.


“Bunda tenang di sana ya. Aswin sama kak Aine akan melindungi papi dari Tante Patricia. Aswin tidak akan pernah mengijinkan Tante Patricia menjadi bunda Aswin dan kak Aine.”

__ADS_1


Aswin dan Aine mendekatkan kepalanya tepat di atas batu nisan bundanya. Perlahan mereka mengecup batu nisan seakan mereka mengecup kening bundanya.


“Aswin sangat mencintai bunda.”


“Aine juga sangat mencintai bunda.”


Archie dan Anum yang melihat Aswin dan Aine mengecup nisan bundanya dengan durasi begitu lamanya pun ikut menitihkan air mata. Archie lalu berjongkok dan mendekap kedua anaknya dari belakang.


“Maafkan papi sudah membuat kalian menangis di hari istimewa ini.” Ucap Archie.


Archie menatap batu nisan istrinya yang ada di hadapannya. Archie mengusap lalu mencium batu nisan tak kalah lama durasinya.


“Maafkan aku sayang karena hari ini aku sudah membuat si kembar nangis. Ini akan menjadi pertama dan terakhir. Itu janjiku.” Ucap Archie.


“Tuan, sepertinya nya sebentar lagi akan turun hujan. Mari kita pulang.”


“Tunggulah sebentar. Aku akan membawa si kembar ke makam kakek dan neneknya.”


Anum pun mengangguk. Mereka berempat beranjak dari makam bundanya lalu menuju makam kakek neneknya. Mereka berempat langsung membaca doa dan tak lupa taburan bunga mereka taburkan.


“Ayo kita pulang.” Ajak Archie.

__ADS_1


Mereka berempat berempat mulai mengayunkan kakinya meninggalkan makam.


Tak jauh dari tempat mereka berempat, nampak dua orang tersenyum senang saat melihat Archie dan Anum berjalan menggandeng si kembar seperti keluarga yang bahagia.


__ADS_2