Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 18 : Restu Ayah


__ADS_3

Vania melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah dengan wajah terlihat sedikit pucat karena sedari malam ia menunggu telepon dari Archie.


“Assalamualaikum, maaf semalam Om tidak jadi telepon kamu, karena pekerjaan Om yang belum selesai. Gimana denganmu hari ini? Jangan lupa sarapan dan minum obat.”


Vania tersenyum senang ketika membaca pesan dari pamannya. Ia pun membalas pesannya.


“Waalaikumsalam, iya Om gak apa-apa, semoga dipermudah semua urusannya di sana agar cepat balik”


Karena pesan yang di kirim cuma centang dua, Vania memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Vania mengedarkan penglihatannya untuk mencari keberadaan Cahaya dan Azam sampai akhirnya langkah kaki Vania berhenti di depan kelasnya.


Saat Vania masuk kelas, semua teman-temannya menatap Vania dengan heran.


“Kamu sakit?” Cahaya dan Azam mendekati Vania.


Vania menggelengkan kepala.


“Wajahmu pucat.” Azam menimpali.


Cahaya langsung menggandeng tangan Vania dan di bawa ke kursi duduknya.

__ADS_1


“Kalau kamu sakit kenapa harus masuk sekolah? Kenapa gak istirahat di rumah saja. Kan bisa ijin.” Ucap Cahaya kepada Vania.


Vania tersenyum senang melihat kedua sahabatnya begitu mengkhawatirkannya.


Dan tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Semua murid-murid masuk ke kelas masing-masing.


----------


“Archie…” Suara yang sudah sangat ia kenali itu memanggil namanya. Sontak Archie membalikkan badannya ke belakang.


“Apa aku boleh bareng sama kamu? Kebetulan supirku barusan menghubungi aku katanya mobilnya belum selesai di servis.” Ucap Nita berbohong.


“Maaf, sepertinya kali ini aku tidak bisa memberi tumpangan kepada siapapun. Silahkan kamu memesan taksi saja.” Ucap Archie dengan dingin.


“Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Antara aku dan kamu sudah tidak ada yang dibicarakan lagi. Aku sangat senang dengan keputusan Ayahku yang sudah menarik semua saham dari perusahaan keluarga mu.” Ucap Archie kemudian meninggalkan Nita begitu saja dengan tangan mengepal.


Dengan langkah kakinya yang jenjang Archie segera masuk ke dalam mobil. Sedangkan Ayahnya sejak tadi duduk di dalam mobil hanya mengamati nya.


“Maaf sudah membuat Ayah menunggu lama.” Ucap Archie dengan bersalah karena sudah membuat Ayahnya menunggu lama di dalam mobil.


“Tidak apa-apa. Ayo Pak Dedy kita langsung pulang ke rumah saja.” Ucap Ayah Archie.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Ayahnya selalu bertanya tentang Vania.


“Kapan kamu akan mempertemukan Ayah dengan calon menantu ku.” Ucapan Ayahnya membuat Archie melotot kan kedua matanya tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“Apa Ayah serius.” Ucap Archie dengan tak percaya.


“Iya, Ayah ingin bertemu dengannya. Ayah akan memberikan restu untuk hubungan kalian berdua. Cukup Ayah kehilangan mas mu Dhani, dan Ayah tidak ingin kehilangan kamu gara-gara keegoisan Ayah.” Ucap Ayah dan seketika itu Archie langsung memeluk tubuh Ayahnya.


“Terima kasih, Yah. Terima kasih karena Ayah sudah memberikan restu untuk aku dan Vania.” Ucap Archie.


Ayah Pras mengangguk dan ikut merasa bahagia saat melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah putra bungsunya.


“Lusa kita bisa kembali. Kalau tidak keberatan tolong besok antarkan Ayah jalan-jalan ke pusat oleh-oleh, Ayah ingin membelikan oleh-oleh untuk calon menantu Ayah.” Pinta Ayahnya.


“Baik, Yah.” Jawab Archie dengan tersenyum senang.


Dan tak lama kemudian, mobil mereka tiba di depan rumahnya. Mereka berdua langsung turun dari mobil.


“Pak Dedy terima kasih sudah seharian mengantarkan kita. Tolong besok pagi jemput kemari ya.” Ucap Archie kepada Dedy.


“Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit ke rumah belakang.” Jawab Dedy dengan sopan.

__ADS_1


Setelah kedua majikannya turun dari mobil, Dedy langsung memarkirkan mobilnya dengan rapi.


Ketika hendak turun dari mobil, tiba-tiba Dedy mendengar suara getaran. Dedy menyadari bahwa ponsel majikannya tertinggal di dalam mobil. Dedy kembali ke rumah utama dan mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.


__ADS_2