
“Wahh...ini benar-benar kabar yang baik untuk Ayah.” Ayah Pras tiba-tiba bersuara masuk ke apartemen Archie.
“Ayah...” Archie terkejut saat melihat kedatangan Ayahnya yang tiba-tiba.
“Kakek...” gumam Vania tak kala terkejut campur takut saat melihat kedatangan kakeknya.
Mbak Lastri dan Imut yang tadinya duduk dengan santai akhirnya berdiri melihat kedatangan Pak Pras dengan tiba-tiba.
Ayah Pras yang sudah tua dan sering sakit-sakitan memilih langsung duduk di sofa dan di bantu oleh asisten Haris.
Dalam keterkejutannya, tangan Archie langsung menggandeng tangan Vania dengan erat, Archie membawa Vania untuk mendekat dimana Ayah Pras duduk.
“Ayah, kenapa enggak bilang sama aku kalau mau datang kemari? Kan aku bisa jemput Ayah.”
Ayah Pras tersenyum saat mendengar ocehan putranya, ditambah melihat Vania hanya menunduk saja.
“Kan sudah ada asisten Haris yang selalu mengantarkan dan menemani kemana-mana Ayah pergi? Lagian juga kalau Ayah minta kamu yang anter atau jemput belum tentu kamu bisa kan?”
“Kan memang kita tidak sekota Ayah? Maksudnya itu Ayah kalau datang kemari kasih tau aku biar aku yang jemput Ayah.”
Ayah Pras memilih diam dan males meladeni ocehan Archie, karena sampai saat ini Ayah Pras tidak bisa meyakinkan Archie untuk tinggal bersama di desa dengan alasan perusahaan yang ada di kota membutuhkannya.
Pandangan kedua mata Ayah Pras beralih memandang Vania yang sejak tadi hanya menunduk.
“Vania, kemari dan duduklah dekat Ayah.” Seru Ayah Pras meminta Vania duduk di sampingnya.
Vania yang sejak tadi hanya menunduk langsung mengangkat wajah saat Ayah Pras memintanya untuk duduk di sampingnya.
Archie melihat Vania hanya diam mematung pun langsung membawanya duduk di samping Ayah Pras. Vania mencium telapak tangan Ayah Pras dengan perasaan yang sulit untuk di ungkapkan.
Asisten Haris menggeser tubuhnya dan memberikan kesempatan kepada Vania agar lebih dekat dan berbincang-bincang dengan Ayah Pras.
Kedua mata Archie berselancar mencari keberadaan asistennya.
“Jangan-jangan memang dia tidak tahu kalau Ayah Pras datang kemari.” Batin Archie.
“Gimana kabar tuan Pras?” sapa Mbak Lastri penuh hati-hati.
“Alhamdulilah kabar baik, Mbak Lastri.” Jawab Ayah Pras.
“Ngomong-ngomong gadis cantik ini siapa?” Ayah Pras pun balik tanya.
“Dia Imut, Pak! Putri saya yang dulu tinggal di desa sebelah kampung almarhum ayahnya Pak Pras. Karena di desa sudah tidak ada siapa-siapa dia nyusul ke kota dan sekarang dia kerja di toko milik nona Vania.” Ucap Mbak Lastri sambil menjelaskan.
__ADS_1
Imut hanya mengangguk dan tersenyum ketika menyapanya ayah Pras.
“Senang bisa bertemu dengan Ayahnya Pak Archie dan Mbak Vania.” Jawab Imut dengan gugup karena ini pertama kali melihatnya.
“Imut boleh Ibu minta tolong?” ucap Ibunya.
“Iya, Bu! Apa yang bisa Imut bantu, Bu?” Imut pun balik tanya.
“Tolong buatkan wedang jahe untuk Pak Pras dan Pak Haris, gulanya cukup dua sendok teh peres saja.” Ucapnya.
Imut langsung berjalan menuju dapur dan langsung membuatkan wedang jahe sesuai perintah Ibunya, beberapa menit kemudian Imut kembali ke ruang tamu sambil membawa dua cangkir wedang jahe.
“Silahkan Pak!” ucap Mbak Lastri sambil meletakkan gelas di atas meja.
“Terima kasih.” Ucap Ayah Pras dan asisten Haris bersamaan.
Kini mereka berenam duduk di sofa. Ayah Pras mengawali membuka suara dan bertanya kepada Archie tentang apa yang barusan di dengar tentang pernikahannya dengan Vania.
“Archie, apa benar kamu akan menikahi Vania?” tanya Ayah Pras menatap Archie.
Sedangkan Vania dari tadi diam sambil memainkan ujung bajunya yang di plintir-plintir terus.
Archie mengangguk, “Iya Ayah, dua minggu lagi aku akan menikahi Vania, tolong kasih restu sama kita.” Ucap Archie memohon.
Kini semua orang-orang yang ada di ruang tamu menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya Pak Pras.
“Kenapa harus menunggu dua Minggu?” Tanya Ayah Pras.
“Vania, apa kamu sudah siap menikah dengan anak ku?” pertanyaan Ayah Pras sontak membuat Vania terkejut.
Perlahan Vania menghela nafas panjang sambil memandangi wajah Ayah Pras. Dalam hati sejak tadi ia sudah di penuhi prasangka kalau Ayah Pras tidak akan menyetujui pernikahannya.
Setelah mendengar pertanyaan dari Ayah Pras, Vania langsung menjawab.
“Insyaallah saya sudah siap.” Jawab Vania dengan mantap.
Archie pun menghela nafas panjang dan mengeluarkan dengan pelan-pelan karena puas dengan jawaban yang keluar dari mulut Vania.
“Sekarang di hadapan Ayah dan banyak orang di sini ijinkan aku untuk melamar mu.” Ucap Archie dan menyematkan cincin ke jari manis Vania.
Mbak Lastri yang sejak tadi menahan tangis, dan seketika itu langsung pecah menyaksikan Archie menyematkan cincin di jari manis Vania. Imut juga ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar di wajah Vania.
“Karena kalian berdua sudah siap berumah tangga, maka tiga hari lagi kalian berdua akan menikah.” Ucap Ayah Pras dan membuat semua orang terkejut.
__ADS_1
“APA...” sontak mereka terkejut dengan apa yang Pak Pras katakan.
Cekleekk. Pintu terbuka dan nampak asisten Rey berjalan menuju ruang tamu.
Archie yang melihat kedatangan asisten Rey pun langsung melototi karena baru menampakkan wajahnya, dan seketika itu asisten Rey langsung mengerti.
“Maafkan saya, Pak! Saya tadi tidak sempat memberi tahu soal kedatangan Tuan Pras kemari karena Tuan Pras juga mendadak, dan tadi setibanya di lobby Tuan Pras langsung menyuruh saya antri membeli ini.” Ucap asisten Rey sambil menyodorkan paper bag ke Mbak Lastri.
“Mbak bisa minta tolong tatakan makanan ini untuk Tuan Pras?” tanya asisten Rey sambil melirik Imut yang hanya menunduk saat melihat dirinya.
Imut yang merasakan hangatnya suara asisten Rey hanya tersenyum dalam hati.
“Baik, Pak.” Mbak Lastri beranjak ke dapur, Imut pun membantu Ibunya.
Dan setelah itu semuanya kembali ke ruang makan. Setelah semuanya selesai Mbak Lastri pamit pulang.
“Mas Archie kan sudah sehat, sudah ada Pak Pras sama mas Haris, saya, nona Vania sama Imut pamit pulang.” Ucap Mbak Lastri.
“Kenapa Vania juga di bawa pulang Mbak?” tanya Archie dengan nada melas.
“Iya dong mas, nona Vania harus saya bawa pulang, nanti sebelum hari H mas Archie tidak boleh bertemu dengan nona Vania.” Ucap Mbak Lastri lagi.
“Kok gitu Mbak? Aku enggak bisa kalau sehari tidak bertemu dengannya.” Ucap Archie.
Ayah Pras geleng-geleng kepala melihat tingkah Archie seperti anak kecil.
“Mas yang sabar ya? Nanti kita kan bisa telepon-teleponan.” Ucap Vania sambil tersenyum.
“Apa kamu tidak pernah merindukan ku kalau tidak bertemu?” tanya Archie.
“Ya pasti aku merindukan mu mas? Apa mas lupa berapa lama aku menahan rasa rindu ini denganmu.” Ucap Vania berkaca-kaca.
Dihadapan orang banyak Archie memeluk tubuh Vania.
“Maafkan aku.” Ucap Archie lalu Archie memberikan kecupan manis di pipinya.
“Biar kalian di antar sama asisten Rey.” Ucap Archie sambil mengelus-elus pipinya.
Imut langsung membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Archie.
“Duh, kenapa harus si kutub es yang mengantarkan kita pulang. Kenapa kita gak naik taksi saja mbak Vania.” Batin Imut.
Selama dalam perjalanan pulang Imut di suruh duduk di kursi depan, sedangkan Vania dan Mbak Lastri duduk di kursi tengah. Kini detak jantung Imut semakin berdetak kencang.
__ADS_1