Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 19 : Mimisan


__ADS_3

Sepulang sekolah Vania mengajak Cahaya dan Azam pergi ke mall untuk makan es krim di sebuah kedai langganan mereka.


“Kalian pesan dulu ya, aku mau ke toilet sebentar, “ ucap Vania saat mereka akan mencari tempat duduk.


Selang kepergian Vania, seorang pelayanan menghampiri Cahaya dan Azam sambil membawa buku menu. Cahaya dan Azam memilih es krim kesukaannya, tak lupa Cahaya pun langsung memesan kan untuk Vania.


Tidak berapa lama, Vania datang bersaman dengan pesanannya datang. Azam dan Cahaya menyambut makanan dan minuman nya dengan semangat dan senang.


“Yeyy, akhirnya datang juga,” ucap Cahaya dengan girang sambil bertepuk tangan.


“Vania! Kamu tuh sudah sakit malah ngajak kita berdua jalan-jalan ke mall bukannya pulang terus istirahat, eh malah makan es krim.“ ucap Azam sambil memakan makanan yang ia pesan. Sedangkan Vania menikmati es krim rasa coklat berkombinasi kacang.


“Iya ini, harusnya kamu tuh pulang sekolah langsung pulang terus istirahat, bukanya malah makan es krim begini.” Ucap Cahaya.


“Iya, maafkan aku. Sekarang cepetan kalian habiskan es krimnya entar keburu meleleh es krimnya.” Balas Vania.


Mereka bertiga menghabiskan es krimnya. Setelah membayar mereka bertiga menuju tempat parkir.


“Bug… “


Cahaya dan Azam melihat Vania di tabrak hingga tubuhnya terpental jauh dari tempatnya membuat Cahaya naik pitam sehingga marah-marah pada laki-laki yang sudah menabrak Vania.


“Hei, kalau jalan itu pakai mata, uda tau gedenya orang begini asal nabrak saja,” ucap Cahaya dengan marah-marah.


“Maaf… “ balas pria tersebut kemudian membantu Vania berdiri.


“Kamu tidak apa-apa?” Tanya pria tersebut sambil menyeringai karena Vania tidak mengenali.


“Atau perlu saya antar kamu ke rumah sakit?” tanya Pria tersebut kepada Vania.


Vania yang merasa aneh pada pria yang ada di hadapannya langsung menolak.


“Saya tidak apa-apa om, terima kasih sudah menawarkan bantuan untuk membawa saya ke rumah saki.” Balas Vania lalu menggandeng tangan Cahaya pergi ke parkiran.


Dalam perjalanan pulang, Cahaya masih marah-marah tak jelas. Azam dan Vania saling menggelengkan kepala, selama menjadi sahabatnya ini pertama kalinya Azam dan Vania melihat Cahaya marah.


Kemudian Azam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Vania.


“Sudah jangan marah-marah nanti wajah mu keriput.” Ucap Azam menggoda Cahaya, sedangkan Vania tersenyum saat melihat wajah Cahaya berubah manis.


“Habis, kalau ingat laki-laki tadi bawaannya pengen marah.” Ucap Cahaya sambil tersenyum.


Sepuluh menit kemudian mobil Azam tiba di depan rumah Vania. Vania langsung turun dari mobil Azam.


“Terima kasih ya sudah mau menemaniku makan es krim. Kamu jangan marah-marah, nanti kalau pas berjodoh gimana?” goda Vania.


“Hati-hati kalau bawa mobil gak usa ngebut yang penting sampai rumah dengan selamat. “ ucap Vania pada Azam.

__ADS_1


Azam pun mengangguk, “Iya, makasih uda mentraktir kita berdua.” Ucapan Azam dan Cahaya.


“Sama-sama. Aku juga terima kasih karena kalian berdua sudah mau nganterin dan nemani aku makan es krim bahkan sudah mengantar aku pulang sampai rumah juga.” Ucap Vania kepada Azam.


“Iya sama-sama, sana masuk ke rumah, jangan lupa minum obat dan istirahat. Sampai bertemu besok. Assalamualaikum.” Ucap Cahaya pada Vania.


“Waalaikumsalam, bye.” Jawab Vania sambil melambaikan tangannya.


Vania masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Azam melanjutkan perjalanannya menuju rumah Cahaya.


----------


Widia berjalan keluar dari pintu penerbangan tiba. Ia pun tersenyum saat melihat seorang Ibu sedang melambaikan tangan kepadanya.


Widia pun membalas melambaikan tangan kepada Ibunya kemudian bergegas menghampiri.


“Bunda… aku sangat merindukan Bunda, “ Widia langsung memeluk Bundanya.


Bunda Veli tersenyum sambil memeluk Widia dengan begitu erat.


“Terima kasih karena Bunda sudah mau menjemput. Ayah mana, Bunda?” tanya Widia sambil mencari-cari keberadaan ayahnya.


“Ayah hari ini ada meeting sama klien, jadi ayah gak bisa ikut menjemput. “ ucap Veli sambil menggenggam kedua tangan Widia.


Widia tersenyum saat mendengarnya.


“Kita langsung pulang saja, Bunda.” Jawab Widia pada Bundanya.


Dan akhirnya mereka berdua berjalan menuju tempat parkiran. Mereka berdua langsung meninggalkan bandara menuju rumahnya.


Widia dan Bundanya segera turun dari mobilnya. Asisten rumah tangga langsung membantu membawakan barang-barang milik Widia untuk di bawa masuk ke dalam.


----------


Malam harinya, Vania merasa tubuhnya lemas. Kepalanya pusing dan tiba-tiba hidungnya mimisan. Ia turun dari tempat tidur untuk mencari tisu agar segera membersihkan mimisannya.


Mbak Lastri masuk ke dalam kamar Vania sambil membawa susu coklat sebelum Vania tidur setiap harinya.


“Lho nona Vania kenapa? Nona Vania mimisan?” tanya Mbak Lastri yang mengkhawatirkan saat melihat Vania membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.


“Kepalaku pusing lagi Mbak? Dan tiba-tiba mimisan, “ jawab Vania lalu kembali duduk di tempat tidurnya dengan lemas.


Mbak Lastri langsung memegang kening Vania.


“Demam… “


Mbak Lastri keluar dari kamar Vania untuk mengambil obat penurun panas.

__ADS_1


Tak lama kemudian Mbak Lastri kembali masuk ke kamar Vania sambil membawa obat penurun panas dan air hangat.


“Sekarang nona Vania minum obat penurun panas. Setelah itu nona Vania istirahat biar besok enakan badannya, “ pinta Mbak Lastri pada Vania.


Vania menerima obat dan air hangat dari tangan Mbak Lastri kemudian meminum obat penurun panas.


Setelah itu Vania membaringkan tubuhnya di kasurnya. Dengan telaten Mbak Lastri mengompres Vania.


Dan akhirnya, Mbak Lastri tertidur di samping Vania hingga tengah malam terbangun karena mendengar suara getaran.


“Siapa malam-malam begini yang menghubungi nona Vania.” Batin Lastri


----------


Di dalam kamar, Widia mondar-mandir sambil menelpon. Namun, berkali-kali ia menghubungi, berkali-kali nomor yang ia tuju di luar servis area.


“Kenapa Vania susah dihubungi ya?” gumam Widia sehingga Bunda Veli mendengarnya.


“Mungkin dia sekarang sudah tidur? Sekarang kan sudah jam 11 malam.” Ucap Bunda Veli sambil menunjuk jam dinding kamarnya.


Widia mendengus kesal. Niat ingin memberi tahu kalau dia sudah tiba di rumah dan ingin bertemu dengannya besok .


----------


Keesokan harinya, saat jam pertama pelajaran dimulai Azam dan Cahaya saling berpandangan. Mereka berdua panik dan gelisah.


“Azam, Vania kemana?” tanya Cahaya.


“Aku gak tau.” Jawab Azam bisik-bisik.


Sementara itu, Vania di rumahnya sejak tadi hanya ditempat tidur karena badannya masih terasa lemas.


Tidak lama kemudian Mbak Lastri masuk sambil membawakan bubur halus untuk Vania.


“Nona Vania, ayo makan dulu mumpung buburnya masih hangat. Dari tadi perut nona Vania belum di isi.” Ucap Mbak.


“Vania tak nafsu makan Mbak.” Jawab Vania lemas.


Mbak Lastri lalu duduk di samping Vania.


“Nona Vania harus makan, ingat pesan dokter Arif. Biar Mbak Lastri saja yang menyuapinya.” Balas Mbak Lastri.


Vania pun kembali duduk di tepi kasur lalu menerima suapan bubur dari tangan Mbak Lastri.


Setelah selesai makan dan minum obat, Vania kembali membaringkan tubuhnya yang lemas dan kepalanya yang masih pusing.


Sementara itu Mbak Lastri keluar dari kamar Vania dan memberi tahu keadaan Vania kepada Archie.

__ADS_1


__ADS_2