
Kini tinggallah mereka berdua di dalam apartemen. Sang supir sudah kembali ke kantor.
Terlihat Archie yang masih keras kepala tidak mau di panggilkan dokter maupun di bawa ke rumah sakit. Berbeda dengan Vania yang mendengus kesal.
Vania beranjak dari kamar pergi ke dapur untuk mengambil air hangat yang di campur dengan obat sakit kepala. Setelah itu Vania masuk ke dalam kamar dan meminta pamannya untuk segera di minum.
Di dalam kamar Archie memejamkan matanya setelah meminum air yang di campur obat. Vania menyentuh kening Archie. “Padahal masih panas begini di suruh minum obat saja susahnya minta ampun.” Gumam Vania.
Setelah itu Vania menyelimuti Archie dan beranjak lagi ke dapur untuk meraih wadah dan di isi dengan air hangat untuk mengompresnya kening Archie.
Sambil menunggu Archie bangun dari tidurnya, Vania membuatkan bubur. Setelah itu Vania juga membersihkan apartemen Archie.
Dua jam kemudian Vania kembali masuk ke dalam kamar Archie untuk melihat keadaan Archie.
“Om Archie sudah bangun?” tanya Vania setelah mendapati pamannya sedang duduk di tepi ranjangnya.
“Kamu masih ada di sini?” Archie pun bertanya balik.
“Iya Om aku masih ada di sini, aku gak tega kalau ninggalin Om Archie dalam kondisi badan Om Archie panas.” Jawab Vania sambil mendekat ke arah ranjang Archie.
Vania pun menyentuh kening Archie untuk memastikan apa panasnya sudah turun atau belum.
“Aku lapar? Apa kamu bisa memesankan makanan untuk kita berdua?” tanya Archie sambil memandangi wajah Vania.
Vania menggelengkan kepala.
“Aku sudah buatkan bubur, dan aku akan mengambilkan bubur untuk Om Archie.” Ucap Vania lalu beranjak ke dapur untuk mengambil bubur yang ia masak.
Archie tersenyum saat melihat Vania begitu perhatian dengannya. Terbesit dalam benaknya menyesali karena dulu sudah pernah pergi tanpa pamit karena takut menambah beban pikiran Vania.
Beberapa menit kemudian Vania kembali ke kamar sambil membawa semangkok bubur dan air putih. Vania membantu Archie duduk setelah itu Vania menyuapinya.
__ADS_1
“Sayang… terima kasih karena sudah merawat ku.” Ucap Archie, sebelah tangannya menyentuh jemari Vania lalu di cium dengan lembut.
“Maafkan aku yang dulu pernah berpikir kalau aku sakit kamu tidak mau merawat ku dan akan menjadi beban mu. Makanya dari itu aku langsung pergi begitu saja. Niat awalnya hanya ingin menyelesaikan masalah cabang, eh tidak taunya aku mengalami kecelakaan.” Ucap Archie dengan suara lirihnya.
Wajah Vania merah menahan rasa malu, karena ini pertama kalinya dia menerima sikap Archie yang manis, sedih karena harus mendengar kejujuran pamannya.
“Sekali lagi aku minta maaf, dan bersedia kah kamu menikah denganku, laki-laki tua dan cacat ini.” Ucap Archie dengan suara parau.
Vania mengangguk kedua matanya berkaca kaca.
“Iya, aku bersedia.” Jawab Vania lirih.
Archie yang mendengar jawaban dari mulut Vania langsung memeluk tubuh Vania dengan begitu erat.
“Terima kasih sayang, terima kasih sudah menerima ku lagi.” Ucap Archie lalu mengecup kening Vania begitu lama, tangan Vania pun membalas pelukan pamannya.
“Sayang, mulai sekarang jangan panggil aku Om ya? Cari panggilan apa gitu buat aku. Ntar kalau ada yang denger kamu panggil aku Om di kira kamu sugar baby dan Om bisa dikatain pedofil.” pinta Archie sambil memohon.
“Aku harus manggil Om Archie apa?” tanya balik Vania.
“Ya sudah aku panggil Om Archie mas saja ya.” Ucap Vania sambil tersenyum.
Archie mengangguk, “terserah kamu sayang, pokoknya jangan Om lagi.”
----------
Sementara di tempat lain…
“Bu, Mbak Vania kok belum ada telepon ya? Aku takut terjadi apa-apa sama mbak Vania.” Ucap Imut sambil membalas pesan pembelinya.
“Mungkin nona Vania masih mengurus mas Archie yang sedang sakit, jadinya nona Vania belum sempat kasih kabar sama kita.” Jawab Ibu Lastri.
__ADS_1
“Memangnya tadi pagi Mbak Vania itu buruh-buruh karena denger mas Archie sakit to bu?” ucap Imut.
Mbak Lastri mengangguk, “Ibu tinggal ke belakang dulu karena sebentar lagi sudah sore aku mau siapkan makanan dulu sapa tau nona Vania datang tiba-tiba.
“Iya Bu,” jawab Imut.
Sementara di West Group asisten Rey kepikiran terus dengan atasannya. Supir yang bernama Wahyu masuk kedalam ruangannya.
Tok…tok…tok…
“Masuk…” jawab asisten Rey dari dalam ruangannya.
“Selamat sore, Pak.” Ucap Wahyu saat membuka pintu dan seketika itu asisten Rey mengangkat kepalanya.
“Gimana keadaan Pak Archie, Pak?” tanya asisten Rey.
“Alhamdulilah pak Archie sudah ada yang merawat, Pak.” Jawab Wahyu.
“Sudah ada yang merawatnya?” gumaman asisten Rey sehingga di dengar oleh Pak Wahyu.
“Nona Vania yang sudah merawat Pak Archie, Pak.” Ucap Wahyu dan seketika itu asisten Rey bernafas lega.
“Syukur kalau nona Vania yang sudah merawat Pak Archie jadi aku sekarang bisa tenang.” Jawab asisten Rey.
“Maaf Pak, kalau sudah tidak ada yang bapak tanyakan lagi sama saya, saya mau kembali bekerja?” tanya Wahyu dengan sopan.
“Sudah tidak ada lagi, Pak. Terima kasih sudah membantu Pak Archie tadi.” Ucap asisten Rey.
“Sama-sama, Pak.” Jawab Wahyu lalu pergi meninggalkan ruangan asisten Rey.
Setelah mendengar kabar kalau sang bos baik-baik saja, asisten Rey menghubungi sekertaris Dino agar memberitahu ke semua karyawan bagian inti untuk meeting sekarang juga.
__ADS_1
Sekertaris Dino yang mendapatkan perintah dari asisten Rey langsung melaksanakannya. Beberapa menit kemudian semua karyawan inti langsung berada di ruang meeting.
Dua jam kemudian meeting selesai. Asisten Rey sangat puas dengan kinerja semua karyawan West Group.