
Vania begitu senang saat bertemu dengan sahabatnya Azam. Sedangkan Cahaya pura-pura tidak mengenal.
“Kamu kok ada di sini? Bukankah waktu itu kamu bilang kalau mau melanjutkan kuliah di luar negeri?” tanya Vania.
“Kebetulan beberapa hari ini aku ada sedikit pekerjaan di kota ini.” Balas Azam sambil menatap pundak wanita yang tak lain adalah Cahaya.
Sampai akhirnya ada seorang wanita cantik menghampiri Azam. Vania pun menatap wanita tersebut yang sedang mendekat ke Azam.
Wanita tersebut membisikkan sesuatu ke telinga Azam hingga membuat Vania membulatkan kedua bola matanya.
“Bukankan waktu itu Azam sedang mengejar kak Widia? Lalu wanita yang barusan siapa?” Vania membatin.
“Apa dia Cahaya? Kalau memang dia kenapa dia tidak menyapaku.” Azam pun membatin juga.
“Aku berharap kamu tidak mengenali aku. Aku tidak membuka luka lama.” Batin Cahaya.
“Van, apa boleh aku minta nomor telepon kamu yang baru?” tanya Azam sambil menyodorkan ponsel miliknya sebelum dia pergi dari tempatnya.
Vania langsung mengetik nomornya ke ponsel milik Azam, kemudian Azam menghubungi nomor Vania.
“Semoga malam ini pekerjaan ku selesai, biar besok siang aku bisa menghubungi mu. Dan maaf sepertinya aku harus pergi.” Ucap Azam dengan nada sedikit dikeraskan, berharap wanita yang ada di depannya menoleh.
Azam menghela nafas panjang karena tidak sesuai dengan harapannya. Azam mengharap wanita yang duduk membelakanginya menoleh.
“Aku akan menunggu telepon dari kamu karena banyak hal yang ingin aku tanyakan.” Balas Vania.
Sebelum beranjak Azam menatap wanita yang sejak tadi duduk membelakanginya.
Cahaya mengangkat kepala setelah mendengar langkah kaki Azam pergi meninggalkan tempatnya. Cahaya langsung menatap kepergian Azam penuh kesedihan karena Azam berjalan dengan wanita cantik.
Dalam hati Cahaya berkata “Entah itu kak Widia atau wanita yang saat ini bersama mu, semoga kamu bahagia.”
__ADS_1
Cahaya pun meneteskan air mata tanpa.
Archie yang dari toilet pun melihat istrinya sedang berdiri.
"Kenapa kalian gak langsung makan." ucap Azam.
Cahaya langsung mengusap air matanya agar sahabatnya Vania tidak melihat kalau dirinya menangis.
----------
Makan malam di cafe selesai, hujan di luar juga sudah reda. Archie langsung mengajak istrinya beserta sahabatnya Cahaya pulang ke rumah.
“Ayo sayang.” Ajak Archie. Vania dan Cahaya langsung beranjak dari tempat duduknya.
Sebelum meninggalkan cafe, Cahaya menatap Azam yang saat ini sedang duduk dengan seorang wanita cantik dan dua pria. Hati Cahaya begitu sakit saat melihatnya.
Sedangkan Vania begitu bahagia karena dipertemukan kembali dengan teman kecilnya. Hampir dua tahun mereka berdua tidak ada kabar karena waktu itu kedua orang tua Azam pindah ke luar negeri.
Vania langsung mendongak menatap wajah suaminya sambil tersenyum manis
“Karena aku akan menyatukan Cahaya dengan Azam. Aku yakin kalau keduanya sama-sama ada rasa. Kira-kira mas mau bantu?” ucap Vania dengan nada manja. Meskipun dibelakang ada Cahaya yang mengekor.
“Iya, mas akan bantu, asal kamu jaga kandungan ini jangan sampai kamu kelelahan.” Balas Archie sambil mengusap perutnya.
Tiba di tempat parkiran, mereka bertiga langsung masuk ke dalam mobil. Archie langsung melajukan mobilnya menuju rumah Vania.
----------
Sementara itu di rumah sederhana, terlihat mbak Lastri, Imut dan Rey tengah menunggu kedatangan Archie dan Vania.
“Mendingan Ibu istirahat saja di kamar! Nanti klo mbak Vania datang aku akan memberitahu ibu.” Ucap Imut.
__ADS_1
“Iya Bu, biar saya sama Imut saja yang menunggunya.” Rey pun menimpalinya.
Mbak Lastri pun beranjak masuk ke dalam kamar. Sedangkan Imut dan Rey bercengkrama di ruang tengah.
Tangan Rey menggenggam tangan Imut. “Besok pagi kita langsung ke rumah Ibu ya?” ucap Archie memohon.
Imut menatap wajah Rey.”Jangan pagi ya mas? Sore saja kita pulangnya.” Jawab Imut dengan memohon.
Mendengar ucapan istrinya Rey langsung mengangguk.
Cup
Rey mengecup kening Imut dengan begitu lembut dan memeluk tubuh Imut. Dan seketika itu ada mobil yang berhenti di halaman rumah.
“Sepertinya mbak Vania sama mas Archie sudah datang, Mas.” Ucap Imut sambil melonggarkan pelukannya.
Tidak menunggu lama, Imut langsung membukakan pintu.
“Mbak Imut.” Ucap Vania begitu terkejut saat melihat ada di hadapannya.
Seketika itu Vania memeluk Imut, tak lupa Vania pun mengenalkan Imut dengan Cahaya.
Cahaya pun mengulurkan tangannya dan mengenalkan dirinya kepada Imut. Archie menepuk pundak asistennya dan membisikkan sesuatu ke telinga. “Kenapa tidak memberi tahu kalau kalian balik dari kampung.”
“Maaf Tuan, karena Imut ingin memberi kejutan kepada nona Vania.” Balas Rey dengan lirih
“Dan akhirnya istriku lupa dengan aku.” Ucap Archie.
Rey tertawa mendengar ucapan tuanya.
Malam semakin larut. Mereka berlima mengakhiri perbincangan yang tidak akan ada habisnya. Mereka berlima berjalan menuju kamar masing-masing.
__ADS_1