Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 24 : Cincin Untuk Vania


__ADS_3

Setelah sarapan semuanya masuk ke kamar masing-masing. Lima menit kemudian Vania keluar sambil bawa tas ransel.


Vania yang sudah memakai seragam sekolah membuat Archie bingung mencari alasan supaya Vania tidak berangkat ke sekolah.


“Kamu tuh ya kalau di suruh istirahat satu hari lagi saja susahnya minta ampun.” Ucap Archie dengan sewot.


“Vania sudah sering ijin tidak masuk kelas Om. Dan hari ini ada ulangan harian, tidak mungkin kan aku harus ijin, lagian juga aku sekarang sudah baikan kok.” Jawab Vania dengan meyakinkan pamannya.


“Kalau begitu ijinkan aku mengantar dan menjempumu.” Ucap Archie dengan tegas.


Vania tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


“Gimana caranya Om Archie mengantarkan dan menjemput aku ke sekolah?” tanya Vania sekenanya.


“Ya pakai mobil.” Jawab Archie juga sekenanya.


“Memangnya Om Archie kemarin datang dari London terus kemari naik mobil gitu.” Ucap Vania dengan kebodohan yang di buat-buat.


Archie mengusap rambut Vania sambil tersenyum.

__ADS_1


“Tunggu! Om ambil kunci mobil dulu.” Ucap Archie kemudian lari masuk ke kamar.


Dan tak lama kemudian Archie kembali sambil bawa kunci mobilnya.


“Ayo berangkat! Katanya ada ulangan.” Ajak Archie kemudian menggandeng tangan Vania.


“Mbak aku berangkat ke sekolah.” Pamit Vania dengan suara di keraskan.


Mbak Lastri yang melihat Vania gandengan tangan dengan Archie pun hanya tersenyum.


“Semoga kebahagiaan selalu ada untukmu nona. Sudah cukup kamu bersedih karena kehilangan kedua orang tuamu.” Batin mbak Lastri dengan menitikkan air matanya.


Mobil Archie tiba di depan gerbang sekolah Vania bertepatan dengan bel masuk berbunyi. Vania langsung melepas seatbelt dan terburu-buru keluar dari mobil.


“Ada apa Om. Vania harus masuk kelas. Nanti Vania terlambat.” Ucap Vania dengan nafas tersengal-sengal.


Archie langsung menggenggam tangan Vania. Kemudian meminta Vania untuk tarik nafas setelah itu menyuruh memakai alat bantu untuk menghilangkan sesaknya.


“Makanya jangan terburu-buru. Lagian juga baru bunyi belnya.” Nasehat Archie untuk Vania.

__ADS_1


Setelah nafas Vania stabil dan tidak sesak Archie mengeluarkan kotak warna merah.


“Ijinkan aku memasangkan cincin ini di jari manis mu? Maaf, seharusnya semalam cincin ini aku pakaikan di jari manis mu pas Ayah meminta mu menjadi istri dan pendamping ku? Apalagi, aku tidak ingin ada laki-laki yang melirik.” Ucap Archie sambil mengelus pipinya.


Vania tersenyum dan mengangguk.


“Terima kasih Om. Cincinnya bagus. Nanti kalau Om Archie sibuk nggak usa jemput aku. Aku bisa naik angkutan umum atau bareng sama Cahaya. “ Ucap Cahaya dengan baik.


“Ya sudah


Setelah mengantar Vania ke sekolah, Archie langsung menuju cafe. Mulai saat ini Archie akan mempercayakan cafenya kepada Toni dan akan diberi hak penuh atas semuanya.


Toni yang duduk di kursi samping Archie tidak bersuara sama sekali. Toni tidak percaya dengan semua apa yang di dengarnya. Atasannya Archie terlalu baik untuknya.


“Untuk kelanjutan cafe ini aku akan menyerahkan semuanya kepada mu. Dan, mulai saat ini kamu punya hak untuk memutuskan segala sesuatu untuk kemajuan cafe ini.” Ucap Archie pada Toni.


“Tapi, Pak!


“Tidak ada tapi tapian. Aku percaya sama kamu, lagian juga kamu sudah pernah membuktikan kepada saya.” Ucap Archie sambil menepuk pundaknya Toni.

__ADS_1


“Terima kasih, Pak. Karena sudah memberi percayaan kembali kepada saya untuk mengelola cafe ini. Saya janji tidak akan menyalahgunakan kepercayaan yang sudah bapak berikan.” Ucap Toni dengan percaya diri.


Selesai ngobrol dengan Toni Archie pun meninggalkan cafe miliknya.


__ADS_2