Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 15 : Pergi Tanpa Pamit


__ADS_3

Archie langsung membawa Vania masuk ke dalam mobil. Ia langsung membawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit Archie menghubungi dokter Arif.


“Dokter Arif sepertinya ada telepon.” Kata suster saat mendengar suara getaran.


Dokter Arif langsung merogoh sakunya dan menerima telepon. Dokter Arif terkejut siapa yang menghubunginya.


“Suster Ana, tolong segera siapkan oksigen, sebentar lagi ada pasien atas nama Vania datang.”


Tak lama kemudian, Vania di bawa ke ruang pemeriksaan. Dokter Arif langsung masuk dan memeriksa Vania dengan menggunakan stetoskop.


Sepuluh menit kemudian dokter Arif keluar.


“Bagaimana keadaannya, Rif?” tanya Archie.


“Dia baik-baik saja. Kenapa dia sampai pingsan? Padahal aku sudah berpesan jangan kelelahan, atau banyak pikiran. Sebentar lagi dia pasti siuman.” Jawab dokter Arif sambil tersenyum.


“Maafkan aku karena sudah lalai. Di” Ucap Archie.


Suster yang ada di dalam pemeriksaan pun membawa Vania keluar. Archie dan Mbak Lastri tersenyum senang karena tidak terjadi apa-apa dengan Vani.


----------

__ADS_1


Satu tahun kemudian


Seperti hari-hari biasa, Mbak Lastri selalu memasak dan menghidangkan makan setelah Vania pulang dari sekolah.


Benar, Mbak Lastri adalah seorang asisten rumah tangga. Tapi, semenjak kedua orang tua Vania meninggal Mbak Lastri sudah di anggap seperti keluarga sendiri oleh Vania.


Dan sore ini, Mbak Lastri melihat Vania pulang dari sekolah langsung masuk ke kamar sambil menangis.


“Nona Vania…” panggil Mbak Lastri dari arah pintu dapur yang terhubung ruang tengah. Namun, Vania tak menghiraukan panggilannya.


Mbak Lastri langsung menghampiri kamar Vania.


Tok Tok Tok


“Iya Mbak, masuk saja.” Jawab Vania sambil menangis.


Mbak Lastri langsung mendekati Vania yang sedang telungkup di atas kasur sambil menangis.


“Kenapa nona Vania menangis? Tidak seperti biasanya yang pulang selalu cerita.” tanya Mbak Lastri sambil mengusap punggungnya.


Vania bangun dari telungkupnya lalu duduk bersila dan menghadap ke Mbak Lastri dengan raut wajahnya yang penuh genangan air mata. Mbak Lastri yang melihat air matanya langsung di usap dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Ini kenapa air matanya banyak keluar? Apa ada yang menyakiti nona Vania?” tanya Mbak Lastri.


Vania mengangguk sambil terisak. Kemudian memeluk tubuh Mbak Lastri.


----------


Archie yang ada didalam pesawat pun merasa tak tenang. Ia pergi ke luar negeri dengan jangka waktu yang begitu lama pun pergi tanpa pamit ke Vania.


“Apa kamu sedang memikirkan Vania?” tanya Ayah nya yang sejak tadi melihat Archie diam tak tenang.


Archie terdiam, hanya helaan nafas yang mengiringi tatapan Archie ke awan langit.


“Apa kamu mulai menyayanginya lebih dari keponakanmu? Atau bahkan kamu benar-benar sudah menyukainya? Tapi kamu membongi dirimu sendiri?” cecar Ayahnya pada Archie yang sejak tadi duduk tak tenang.


“Kalaupun aku sudah menyayangi dan menyukai Vania belum tentu ayah akan menyetujui hubungan ini.” Kali ini Archie memberanikan diri untuk mengakui di hadapan Ayahnya.


“Kenapa? Kenapa kamu mengatakan kalau Ayah tidak akan menyetujui hubungan mu dengan Vania?” Ucap Ayahnya.


Archie tak bersuara lagi. Ia tak ingin berdebat dengan Ayahnya. Rasa sayang dan cintanya kepada Vania akan ia simpan di dalam hatinya.


----------

__ADS_1


Selepas menangis karena kepergian pamannya tanpa pamit, Vania mulai menyentuh satu per satu makanan yang sudah di siapkan oleh Mbak Lastri.


Lagi-lagi sesak menerjang dadanya. Butiran bening mulai menghiasi bola mata yang sedang memandang masakan yang ada di meja makan.


__ADS_2