Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 38 : Tawaran Kuliah Imut


__ADS_3

Sudah sebulan Archie mencari keberadaan Vania dan asistennya. Namun sampai saat ini Archie belum menemukan keberadaan Vania dan asistennya. Sebulan juga Vania sudah kuliah di salah satu kampus swasta di kota S.


Dan pagi ini Archie sarapan di temani Rey.


“Rey, kenapa sampai detik ini kamu belum menemukan keberadaan Vania?” ucap Archie dengan dingin.


“Maaf, Pak! Secepatnya anak buah yang saya gerakan untuk mencari nona Vania segera menemukan keberadaan nona Vania dan asistennya.” Jawab Rey dengan yakin.


“Baiklah kalau begitu, sekarang tolong kamu bacakan jadwalku hari ini?” tanya Archie.


“Hari ini tidak ada jadwal kemana-mana hanya mengecek cafe baru saja apa sudah sesuai atau belum.” Jawab Rey.


“Baiklah, hari ini kita pergi ke cafe saja. Aku ingin cafe itu segera diresmikan.” Ucap Archie kemudian beranjak dari kursinya.


----------


Pukul 09.00 Archie dan Rey tiba di cafenya. Mereka berdua pun keliling melihat isi dalam cafenya sudah sesuai temanya.


Saat Vania berbincang dengan salah satu siswa tanpa sengaja asisten Rey melihatnya. Rey pun langsung berjalan menuju di mana Archie sedang bicara dengan salah satu pekerja yang ada di cafe.


Rey pun membisikkan di telinganya.


“Kamu yakin kalau itu Vania?” ucap Archie.


“Aku yakin pak kalau itu nona Vania.” Jawab Rey.


Archie pun keluar dari cafe dan di ikuti Rey di belakangnya. Archie pun mencari keberadaan Vania sesuai yang Rey katakan.


“Dimana Rey?” tanya Archie.


“Tadi nona Vania di sini, Pak! Sepertinya nona Vania kuliah di kampus itu, Pak.” Ucap Rey meyakinkan.


“Akhirnya aku akan bertemu kamu,” batin Archie.


“Kamu kasih tau anak buahmu untuk mencari Vania di daerah ini.” Perintah Archie kepada Rey.

__ADS_1


“Baik, Pak.” Jawab Rey mengangguk.


----------


Sedangkan di tempat lain, Vania dan Imut sedang menata barang-barang yang akan di jual offline.


“Kira-kira ada yang kurang ga ya mbak dari penataan toko ini?” tanya Vani pada Imut.


“Sepertinya tidak, Mbak. Ini sudah pas Mbak.” Jawab Imut.


Di dapur Mbak Lastri sedang sibuk memasak untuk mereka bertiga. Hari ini tiba-tiba Vania ingin makan daging rendang, padahal selama ini Vania tidak suka sama yang namanya daging.


Setelah selesai masak dan menata di meja makan, Mbak Lastri memanggil Vania dan Imut untuk makan.


“Nona Vania, Imut makan dulu baru di lanjut lagi,” ucap Mbak Lastri.


“Iya, Bu.” Jawab Vania dan Imut bersamaan.


Hampir delapan bulan Vania memanggil Mbak Lastri dengan sebutan Ibu. Dan selama itu Mbak Lastri tidak keberatan dengan sebutan Ibu oleh Vania.


Matahari sudah hampir tenggelam dan digantikan oleh bulan dan bintang-bintang di langit, saat ini mereka bertiga bercengkrama dan berbincang-bincang di ruang tamu sambil tertawa-tawa.


“Kalau boleh jujur saya mau-mau saja Mbak? Tapi saya harus mengumpulkan uang terlebih dulu.” Jawab Imut dengan senang.


“Kalau Mbak Imut mau boleh kok tahun depan kuliah, nanti aku yang akan biayai uang kuliah kamu dari hasil penjualan toko ini.” Ucap Vania sambil tersenyum.


“Jangan nona Vania, nona Vania sudah terlalu baik sama kita.” Ucap Mbak Lastri gak enak karena selama ini keluarga Vania selalu membantu keluarganya yang ada di desa.


“Enggak apa-apa, Bu. Ini semua tak sebanding dengan yang Ibu lakukan untuk menjaga ku selama ini, aku pun sudah menganggap Mbak Imut seperti kakak ku sendiri.” Ucap Vania.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, kini mereka bertiga ada didalam kamar masing-masing.


----------


Pagi harinya, Vania berjalan menuju dapur. Setibanya di dapur Vania melihat Mbak Lastri dan Imut sedang menyajikan makanan di atas meja.

__ADS_1


“Pagi Bu, Mbak Imut.” Sapa Vania saat melihat Mbak Lastri dan Mbak Imut ada di dapur.


“Pagi nona Vania.” Jawab mbak Lastri.


“Pagi Mbak Vania.” Jawab Imut.


Kini mereka duduk di meja makan untuk sarapan pagi.


Tring…tring…tring terdengar suara ponsel nyaring, Vania langsung mengambil di dalam tasnya.


“Halo…Assalamualaikum.” Jawab Vania.


“Waalaikumsalam, Vania sepertinya ada perubahan jadwal pelajaran ekonomi. 30 menit lagi kelas masuk, cepetan kamu berangkat.” Ucap Eni.


“Oke oke, aku segera berangkat.” Jawab Vania.


“Maaf Bu, Mbak aku tidak jadi sarapan bareng kalian, barusan teman kuliahku memberitahu kalau ada pelajaran yang di majukan. Aku berangkat ke kampus dulu, assalamualaikum.” Ucap Vania.


Vania pun berjalan terburu-buru menuju kampus.


Sedangkan Archie memilih menunggu Vania di depan cafe sambil berdiri dan melihat banyaknya orang-orang berlarian menuju kampus .


Vania terkejut saat melihat pamannya yang sedang berdiri di depan cafe yang bertuliskan Van cafe.


“Om Archie…”


“Vania…”


Vania pun berlarian masuk ke kampus sambil mengusap air matanya. Vania pun langsung masuk ke toilet wanita.


Hiks…hiks…hiks air mata Vania mengalir deras, ia sudah tidak tahan lagi, tubuhnya gemetar, jantungnya berdetak kencang, pundaknya pun bergoncang, semua tangis Vania karena rasa sakit hatinya.


Eni yang melihat Vania berlarian ke toilet wanita pun mengikutinya.


“Kamu kenapa, Vania? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Apa kamu ada masalah?” tanya Eni penuh curiga.

__ADS_1


Eni pun memberikan tisu kepada Vania.


“Sudah jangan nangis lagi, 10 menit lagi dosennya masuk kelas. Cepetan kamu perbaiki riasan mu.” Ucap


__ADS_2