
Siang hari, di saat jam makan siang. Archie mengajak sekertaris Rini ke mall mencari kado ulang tahun untuk Vania.
Sekertaris Rini tersenyum saat melihat wajah atasannya begitu serius saat mencari kado. Bahkan pegawai toko yang ikut memberi masukan tanpa ia gubris. Archie masih asyik-asyiknya memilih.
“Maaf, Pak! Sebenarnya bapak mencari kado untuk siapa dan seperti apa?” Tanya sekertaris Rini saat melihat atasannya mulai bingung.
“Untuk gadis kecilku, dan kalau bisa sangat bermanfaat untuknya.” Jawab Archie sambil tersenyum saat mengingat wajah cantiknya.
Sedangkan sekertaris Rini semakin tidak mengerti apa yang baru di ucapkan oleh atasannya.
“Menurut kamu ini apa ini yang cocok untuk gadis kecilku, Rini?” tanya Archie sambil menunjuk jam tangan cewek yang modelnya seperti anak-anak remaja pada umumnya.
“Jangan-jangan Pak Archie punya sugar baby. Dan hadiah ini pasti untuk sugar baby-nya.” Batin Vania.
Sekertaris Rini langsung mengernyitkan dahinya. Ia tak percaya kalau yang dimaksud gadis kecil itu sugar baby dan masih anak remaja.
“Rini!” panggil Archie dan seketika itu lamunan sekertaris Rini buyar.
“Ah iya, Pak.” Jawab sekertaris Rini dengan gelagapan.
“Kamu tuh ya dari tadi aku ajak bicara malah melamun saja.” Ucap Archie.
“Kalau menurut saya ini yang lebih bagus, Pak.” Jawab sekertaris Rini sambil menunjuk jam tangan.
__ADS_1
“Bungkus yang itu saja, Mbak!” Tunjuk Archie.
Kemudian Archie mengeluarkan kartu debit dari dompetnya dan memberikan kepada pegawai toko.
Kini Vania, Azam dan Cahaya duduk dikelasnya menunggu jam pelajaran pertama di mulai.
Saat tengah asyik ngobrol dengan kedua sahabatnya, tiba-tiba terdengar suara Reza memanggilnya.
“Vania, kamu di suruh ke ruang guru sekarang juga.” kata Reza ketua kelas XI_IPA_A.
“Kenapa kamu di suruh ke ruang guru?” tanya Cahaya panik karena Cahaya melihat wajah Vania masih pucat dan belum sembuh total.
Langkah kaki Vania semakin dekat dengan ruang guru. Perasaannya semakin penasaran kenapa sebenarnya dia disuruh datang ke ruang guru. Setibanya di pintu ruang guru.
“Assalammualaikum” salam Vania saat masuk kedalam ruang guru.
”Waalaikumsalam” dengan bersamaan para guru-guru menjawab salam Vania.
“Ayo Vania duduk dulu,” kata Bu Sandra mempersilahkan Vania duduk.
Vania tersenyum kemudian duduk di sofa yang berada di ruangan. Sebelum duduk pandangannya sekilas melihat beberapa buku matematika yang tertata rapi di atas meja.
__ADS_1
“Vania!” panggil wali kelasnya, Vania pun langsung menoleh.
“Iya, Bu! Ada apa ya Ibu Sandra memanggil saya?” tanya Vania dengan sopan.
“Ibu menyuruhmu kesini karena hal ada yang ingin Ibu sampaikan ke kamu.” Ucap Bu Sandra sambil melihat wajah Vania yang terlihat pucat.
“Kamu sakit?” tanya Bu Sandra tiba-tiba.
Vania tersenyum saat mendengar wali kelasnya menanyakan sakitnya.
“Perihal apa yang ingin Ibu sampaikan kepada saya?” tanya Vania mengalihkan pembicaraan tentang sakitnya.
“Dua setengah bulan lagi ada olimpiade matematika. Bapak Ibu guru sudah sepakat menunjuk kamu untuk mewakili sekolah ini.” Ucap Bu Sandra.
Vania terkejut saat mendengar keputusan dari para guru. Vania tersenyum kecut.
“Maaf, Bu! Bukannya saya tidak mau mewakili sekolah ini. Alangkah baiknya Bapak Ibu guru menyeleksi beberapa murid yang ada di sini. Barangkali ada murid yang lebih pantas mewakili lomba olimpiade matematika ini.” Ucap Vania memberikan saran.
Ibu Sandra tersenyum. Ia tak percaya kalau Vania mengatakan itu.
“Baiklah. Ibu akan menyampaikan ide mu ini ke semua guru. Tapi, jika murid-murid yang ikut seleksi hasilnya tidak memuaskan para guru. Kami akan kembali ke keputusan pertama yaitu kamu.” Ucap Ibu Sandra.
Vania menganggukkan kepala yang artinya menyetujui keputusan gurunya.
__ADS_1