Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 25 : Menjemput Vania


__ADS_3

Siang tiba. Sesuai janjinya untuk menjemput Vania pulang sekolah. Setelah dari cafe dan ngobrol dengan Toni Archie langsung membawa mobilnya menuju sekolah Vania.


Tak butuh waktu lama menunggu, Archie melihat Vania keluar dari gerbang sekolah bersama kedua temannya.


Archie pun memilih keluar dari mobilnya dan berdiri di depan mobilnya sambil bersendekap.


“Bukankah itu Om Archie?” Kata Cahaya dari kejauhan.


Mata Vania langsung berbinar setelah melihat keberadaan pamannya yang sudah ada di depan gerbang sekolahnya.


“Lah, katanya lagi pergi ke London? Kenapa sekarang ada di depan sekolah kita.” Azam pun menimpali perkataan Cahaya.


Vania tersenyum malu-malu karena kedua sahabatnya resek dengan semua pertanyaan yang ditanyakan kepadanya.


“Iya iya, aku yang salah karena tidak memberitahu ke kalian kalau Om Archie sudah balik dari London dari kemarin.” Ucap Vania dengan mengulum senyum malu-malu.


“Oh, pantes wajahnya dari tadi bersinar terang benderang seperti lampu yang ada di taman.” Ucap Cahaya asal.


Setibanya mereka bertiga di depan mobil Archie. Cahaya dan Azam langsung menyapanya dengan ramah.


“Hai Om Archie.” Sapa Cahaya dan Azam bareng.


“Hai juga,” jawab Archie sambil tersenyum.


“Jangan lupa sampai rumah obatnya diminum.” Ucap Cahaya sambil bisik-bisik. Namun masih terdengar oleh Archie.


“Apa kalian berdua mau bareng sama kita?”Archie pun menawarkan tumpangan kepada Cahaya dan Azam.


“Tidak Om, kita tidak mau mengganggu waktunya Vania sama Om Archie.” Jawab Cahaya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Vania hanya menggelengkan kepala.


“Kalau begitu kita pulang duluan ya.” Ucap Vania kepada kedua sahabatnya.


Cahaya dan Azam mengangguk.


“Hati-hati. Ingat pesan ku yang tadi.” Ucap Cahaya mengingatkan kembali.


“Iya bawel,” jawab Vania kemudian masuk ke dalam mobil Archie.

__ADS_1


Setelah berpamitan mobil Archie meninggalkan halaman sekolah Vania.


“Kamu lupa bawa obat?” tanya Archie.


Vania diam dan menunduk takut kena marah pamannya.


“Om tanya kenapa gak di jawab.” Ucap Archie sambil melirik Vania yang duduk di sebelahnya.


“Maaf, aku lupa membawanya.” Jawab Vania lirih.


Archie pun menghela nafas panjang dan mengeluarkan dengan perlahan.


“Sudah berapa kali Om Archie mengingatkan kamu untuk selalu menaruh obatnya di dalam tas? Kenapa kamu susah di bilangin.” Ucap Archie.


“Iya maaf.” Jawab Vania dengan lirih.


Tiba-tiba Vania terbatuk-batuk karena tersedak ludahnya. Archie langsung berhenti di depan swalayan untuk membeli air minum.


“Minum dulu,” kata Archie sambil menyodorkan botol minumnya.


Vania langsung meneguk air dengan pelan-pelan.


Vania pun mengambil alat bantu untuk meringankan nafasnya di dalam tas. Sedangkan Archie mengusap punggung Vania dengan lembut.


“Gimana? Apa sudah enakan?” tanya Archie.


Vania mengangguk, kemudian Archie melanjutkan perjalanannya menuju rumah Vania.


“Ngomong-ngomong kamu mau makan siang di luar atau di rumah?” tanya Archie.


“Di rumah saja Om. Mbak Lastri tadi sudah masak untuk kita bertiga.” Jawab Vania.


Archie manggut-manggut saja.


Mobil pun sampai di rumah. Archie langsung membukakan pintu untuk Vania.


“Terima kasih Om.”


“Sama-sama sayang,”

__ADS_1


Vania tersenyum saat mendengar Archie memanggilnya sayang.


Archie langsung menggandeng tangan Vania masuk ke dalam rumah kemudian di antar menuju kamarnya.


“Jangan lupa obatnya diminum setelah itu kamu istirahat. Om akan menemui Ayah sebelum kita balik ke rumah.” Ucap Archie.


Vania mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya. Kemudian Archie berjalan menuju kamar kakaknya untuk bertemu Ayahnya.


Sampai di depan kamar almarhum kakaknya. Archie bertemu dengan mbak Lastri.


“Mas Archie mau cari bapak?” tanyanya.


“Iya Mbak,” jawabnya


“Barusan bapak keluar. Katanya mau ke makam almarhum bapak dan ibu.” Jawab mbak Lastri.


“Makasih Mbak. Oh ya mbak ada yang ingin aku bicarakan dengan mbak Lastri. Apa Mbak Lastri bisa ikut saya ke ruang kerja?” tanya Archie pada Vania.


“Bisa mas.” Jawab Vania.


Kemudia mereka berdua beranjak ke ruang kerjanya.


“Sejak kapan Vania tidak membawa obatnya tiap kali ke sekolah, Mbak?” tanya Archie.


“Maaf mas. Saya juga baru tahu dari mas Archie ini.“ jawab Mbak Lastri.


Malam hari


Vania menikmati makan malamnya bersama paman dan kakeknya. Vania makan begitu lahap.


Selesai makan malam, Ayah Pras mengajak Vania duduk di ruang keluarga. Sedangkan Archie masuk ke ruang kerja karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini.


“Vania, kakek besok akan kembali ke kampung. Lima bulan lagi kakek akan kemari untuk menghadiri pernikahan kalian berdua.”


“Kenapa kakek tidak tinggal di sini saja? Bukankah di kampung kakek sudah tidak ada siapa-siapa?”


“Tentu saja kakek akan tinggal di sini bersama kalian setelah kalian berdua sah menjadi suami istri.”


Vania tersenyum malu ketika mendengar ucapan kakeknya.

__ADS_1


__ADS_2