Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 13 : Mulai Ada Rasa


__ADS_3

Pagi harinya Vania sudah terbangun dari tidurnya, dan menggerak-gerakkan tangannya.


Pandangannya langsung tertuju ke sosok pria yang ia kagumi.


“Kenapa Om Archie ada di sini. Apa dari semalam Om Archie yang menjagaku.” batin Vania sambil mandangin wajah Archie yang masih tertidur.


Tok tok tok


Archie terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara ketukan pintu.


Archie gemas melihat Vania yang tiba-tiba salah tingkah dan malu-malu.


“Selamat pagi.” Sapa dokter Arif saat masuk ke dalam ruang rawat Vania dan di ikutin perawat yang berjalan dibelakangnya.


“Pagi juga, Dok.” jawab Archie sambil merapikan rambutnya.


“Pagi juga, Dok.” Jawab Vania dengan suara lirih.


Dokter Arif langsung mendekat ke ranjang Vania untuk memeriksanya.


“Bagaimana kondisinya, Rif? Apa dia sudah bisa pulang?” tanya Archie setelah dokter Arif selesai memeriksa Vania.


“Kondisinya sudah membaik, Archie. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Jelas dokter Arif.


Archie bisa bernafas lega karena ini hari ke lima Vania berada di rumah sakit.


“Kira-kira kapan saya bisa keluar dari rumah sakit, Dok? Saya sudah bosan di rumah sakit, saya sudah kangen rumah dan teman-teman ku.” Ucap Vania sambil merajuk, matanya pun berkaca-kaca.


Archie semakin gemas dengan gadis yang ada di hadapannya.


"Hari ini mbak Vania sudah boleh pulang. Saya berpesan kepada mbak Vania jangan sampai kelelahan, jangan terlalu banyak pikiran, banyakin istirahatnya, dan jangan sampai lupa obatnya di minum rutin supaya mbak Vania cepat sembuh." ucap dokter Arif pada Vania.


Vania mengangguk. Terdiam dan menunduk. Tiba-tiba ia menangis teringat dengan kedua orang tuanya sudah tiada, bahkan di saat pemakaman Vania pingsan, dia harus dilarikan ke rumah sakit. Archie melihat Vania menangis langsung merengkuh ke dalam dekapannya.


"Sudah jangan menangis lagi, nanti asmanya kambuh." ucap Archie sambil merenggangkan pelukannya kemudian Archie mengusap air mata Vania dengan tangannya.


Dokter Arif tersenyum melihat perlakuan Archie kepada gadis yang hampir seminggu di rawat di rumah sakit.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Arif dengan membisikkan ke telinga Archie. Vania yang mendengar samar-samar pun merona pipinya. Lalu dokter Arif beranjak menjauh dari ranjang Vania.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya harus membersihkan mbak Vania dan melepaskan selang infus yang ada di tangannya." ucap perawat pada Archie dengan ramah.


"Iya, suster." Jawab Archie sambil mengelus pipi Vania yang tirus. Archie pun mengecup kening Vania. Kemudian beranjak mendekati dokter Arif yang duduk di sofa.


"Perhatian mu dengan gadis kecil ini sudah melihatkan kalau kamu menyukainya. Apalagi kamu begitu mengkhawatirkannya." Ucap dokter Arif pada Archie.


Archie terkekeh dan mengangguk apa yang di katakan dokter Arif sekaligus sahabatnya itu semuanya benar.


“Dia masih kecil, Archie. Apa kamu tidak takut dikatain pedofil.” Ucap dokter Arif terkekeh.


Archie semakin terkekeh saat mendengar ucapan dokter Arif.


Vania terlihat bingung saat melihat pamannya dan dokter Arif yang sama-sama terkekeh.


Setelah perawat selesai melepas selang infus ia memberikan map rekam medisnya Vania. Lalu dokter Arif begitu juga Archie mendekat ke ranjang Vania lagi.


"Kalau sudah tidak pusing mbak Vania boleh pulang. Ingat pesan saya." ucap dokter Arif mengingatkan.


Vania mengangguk


“Senang ya akhirnya bisa pulang.” Ucap Archie sambil mengelus pipi Vania.


Vania langsung menundukkan wajahnya karena pipinya pasti merah seperti tomat. Jantungnya berdetak semakin kencang karena perlakuan pamannya yang begitu berlebihan.


"Archie, sebelum keluar dari rumah sakit tolong kamu selesaikan administrasi di kasir. Ini aku buatkan resep obat untuk Vania yang harus di tebus. Dan ingatkan dia jangan sampai telat minum obatnya." ucap dokter Arif.


Archie mengangguk


"Terima kasih, Rif. Aku akan selalu mengingatkan." ucap Archie.


Tak lama kemudian pengantar makanan datang. Sedangkan dokter Arif dan perawat pamit keluar dari ruang rawat Vania.


Setelah kepergian dokter Arif, perawat dan pengantar makanan. Archie membantu Vania mengemasi barang-barang miliknya.


"Sini biar Om saja yang mengemasi. Kamu duduk saja di ranjang" ucap Archie membawa Vania duduk di ranjang rumah sakit.


Vania yang masih malu hanya menunduk dan mengangguk. Archie menyadari mengalihkan pembicaraan.


“Kamu bisa kan makan sendiri buburnya. Om keluar sebentar untuk urus administrasi rumah sakit kamu.” Ucap Archie pada Vania.

__ADS_1


Vania mengangguk. Sebelum keluar Archie meletakkan gelas dan obatnya di meja samping ranjang rumah sakit.


"Setelah selesai makan jangan lupa obatnya juga di minum.” Ucap Archie kemudian keluar dari ruangan Vania.


 


Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit dan menebus obat Vania. Archie kembali ke ruang rawat Vania.


"Kamu sudah siap, Vania?" tanya Archie saat masuk kedalam ruang rawat Vania.


"Eh, iya om sudah." jawab Vania dengan gugup.


Archie mendekat ke arah ranjang Vania. Archie melihat obat Vania masih di atas meja pun menggelengkan kepala.


"Kenapa obatnya belum di minum?" tanya Archie pada Vania.


Vania menggelengkan kepala.


"Obatnya terlalu besar Om." jawab Vania.


Archie mengernyitkan dahinya.


"Obatnya terlalu besar?" tanya Archie mengulang kata Vania.


Vania mengangguk.


"Kalau ada mbak Lastri pasti obatnya sudah gerus." Ucap Vania sambil memandang pamannya dengan wajah memelas.


"Apa tiap kali kamu minum obat selalu di gerus?" tanya Archie.


Vania mengangguk


"Aku dari dulu enggak bisa minum obat kalau tidak di gerus." jawab Vania


“Dasar anak kecil." ucap Archie sedangkan Vania hanya diam.


Akhirnya Archie membantu menggerus obat untuk Vania.


"Ayo di minum obatnya, setelah itu kita pulang.” Ucap Archie sambil menyodorkan obat dan air putih..

__ADS_1


Dengan di bantu Archie Vania langsung meminum obatnya.


Archie meletakkan gelas itu kembali di atas meja.


__ADS_2