
Tiga jam kemudian....
Archie mondar-mandir di depan ruang persalinan, demi menunggu sang istri yang sedang berjuang untuk melahirkan buah hatinya. Dia selalu berdoa semoga istri dan kedua buah hatinya terselamatkan.
Tangan Archie selalu mengusap wajahnya dengan kasar karena tidak satupun Dokter maupun suster yang membantu kelahiran istrinya keluar.
"Ahhhh... Kenapa lama sekali? Semoga kalian baik-baik saja. Maafkan aku sayang, seharusnya aku menemani mu berjuang demi anak-anak kita. batin Archie.
Dan tak lama kemudian pintu ruang operasi terbuka. Salah satu perawat pun memanggil salah satu keluarga Vania.
"Suami dari ibu Vania." Panggilnya.
"Iya suster. Saya suami dari ibu Vania" jawab Archie.
"Silahkan masuk Pak. Ada yang ingin dokter Rizka sampaikan mengenai istri bapak.” Ucap salah satu perawat.
"Kenapa dengan istri dan kedua anak saya sus?" Tanya Archie penasaran.
"Maaf Pak. Silahkan masuk saja, biar dokter Rizka yang akan menjelaskan tentang istri bapak?" Ucap perawat tersebut. Lalu membawa Archie masuk kedalam ruang dokter Rizka.
Kini Archie berada didalam ruang dokter Rizka. Archie langsung duduk berhadapan menghadap Dokter Rizka. Perasaan Archie semakin tidak tenang saat melihat wajah dokter Rizka.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri dan anak-anak saya dokter?” tanya Archie.
Dokter Rizka menghirup nafas sebelum menyampaikan dan menjelaskan ke Archie suami dari sahabatnya sendiri. Dengan berat hati dokter Rizka menyampaikan penyesalan karena tidak bisa menolong sahabat nya saat berjuang demi melahirkan kedua bayinya dan penyakitnya.
Di hadapan suami dari sahabatnya, dokter Rizka langsung menjelaskan secara detail. Archie terkejut saat mendengar penjelasan dari dokter Rizka. Jadi, selama ini Archie tidak tahu kalau Vania memiliki riwayat penyakit.
"Kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Vania. Sekali lagi, kami mohon maaf sebesar-besarnya, dan kami sampaikan turut berduka cita atas meninggalnya Vania." ucap dokter Rizka.
Kaget dan tubuhnya langsung lemas di tempat duduknya, separuh nyawanya tiba-tiba pergi meninggalkan untuk selama-lamanya. Apakah ini akhir dari sebuah cinta.
“Aku harap kamu tabah menerima kenyataan sepahit ini. Kamu harus ingat ada dua bayi yang masih membutuhkan mu.” Dokter Rizka pun mengingatkan.
“Apa saya boleh melihat istri saya untuk yang terakhir kalinya, Dok?” Tanya Archie. Dokter Rizka pun mengangguk.
Archie pun berjalan mengikuti dokter Rizka. Pandangan Archie langsung tertuju dimana istrinya sedang berbaring tanpa bergerak. Archie memandangi dan menciumi wajah istrinya untuk terakhir kalinya. Wajah yang cantik, adem dan senyum manis yang selalu menghiasi hari-harinya.
"Kamu begitu pintar menyembunyikan penyakitmu sayang, bahkan kamu tak pernah menunjukkan di depanku saat kamu merasakan kesakitan. Maafkan suami ini yang kurang peka."
"I love you istriku. Terima kasih karena sudah memberikan baby yang cantik dan tampan, doaku selalu untukmu sayang. Kamu tenang di sana bersama ibu dan ayah. Semoga ditempatkan di surgaNya." ucap Archie. Lalu menutup wajah Vania dengan kain.
Setelah menutup kain, air mata Archie akhirnya tumpah. Dan, beberapa menit Archie mendengar suara tangis. Archie membelai dan mencium kedua bayinya. Tak lupa mengumandangkan adzan dan iqomah untuk kedua bayinya.
_____
Sedangkan dikediaman Archie. Imut, Anum dan pak Yadi mondar mandir menunggu kabar. Hampir Dua jam lamanya, sejak mendapat kabar Vania mengalami pendarahan dan langsung di larikan ke rumah sakit. Imut langsung datang ke kediaman Archie.
Kini Imut, Anum dan pak Yadi semakin tidak tenang tiba-tiba melihat bingkai foto pernikahan Vania dan Archie jatuh di lantai begitu saja.
__ADS_1
"Astagfirullah. Pertanda apa ini. Kenapa foto pernikahan mbak Vania dan mas Archie jatuh. Semoga mbak Vania dan kedua bayinya baik-baik saja." doa Imut dalam hatinya.
Anum yang melihat foto pernikahan majikan nya yang jatuh ke lantai cepat-cepat membersihkan pecahan beling agar tidak mengenai kaki. Sedangkan perasaan Imut semakin tak tenang.
"Kenapa Ibu sama mas Rey tidak ada kabar. Apa terjadi sesuatu sama mbak Vania dan kedua bayinya.” Ucap Imut lirih dan masih di dengar oleh Anum. Sedangkan Pak Yadi menunggu di depan teras.
Tiba-tiba air mata Imut keluar begitu saja dan membasahi pipinya. Anum yang baru sebulan kerja ikut Vania pun ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
"Mbak Imut yang tenang ya. Ingat mbak Imut juga sedang hamil. Kalau mbak Imut sedih kasihan dedek yang ada di dalam perut mbak Imut. Insya Allah nona Vania dan kedua bayinya baik-baik saja." ucap Anum menenangkan Imut agar tidak semakin bersedih.
"Gimana mbak bisa tenang, Num. Ini sudah hampir empat jam mereka berada di rumah sakit dan dari mereka tidak ada yang mengabari tentang keadaan mbak Vania. Mas Rey juga belum bisa di hubungi." ucap Imut dengan tangisnya.
_____
Imut dan Anum mendengar suara sirin ambulan yang memasuki kediaman Archie. Imut dan Anum beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar untuk melihat. Keduanya berpandangan memberikan isyarat pertanyaan.
Archie turun dari mobil ambulan. Dan mobil belakangnya Rey menuntun ibu mertuanya lalu di susul dua perawat yang membawa bayi.
Kaki Imut seketika lemas saat melihat peti jenazah keluar dari mobil ambulan. Anum yang sejak tadi menemani Imut pun langsung membawa Imut masuk ke dalam rumah.
“Mbak di sini saja. Anum mau bantuin di depan dulu.” Ucap Anum lalu pergi meninggalkan Imut di dalam kamar.
Anum berjalan mendekati dua perawat yang sedang membawa bayi majikan nya.
“Mbak, bisa minta tolong tunjukkan kamar untuk kedua bayi ini?” Tanya salah satu perawat tersebut.
"Mari sus saya antar ke kamar baby" ajak Anum. Kedua suster langsung mengikuti Anum sambil menggendong bayi majikannya.
Setelah semua keluarga berkumpul dan waktu semakin malam, jenazah Vania langsung di bawa ke pemakaman agar segera di makamkan. Kini jenazah Vania dimasukkan ke liang lahat, tangisan dari orang-orang yang menyayanginya Vania membuat Archie semakin sesak di dada. Taburan bunga pun di mulai dari Archie dan di ikuti oleh semua keluarga dan kerabat lainnya.
Kini terlihat gundukan tanah dan bertaburkan bunga yang begitu cantik. Satu per satu keluarga maupun kerabat meninggalkan makam.
Archie yang menangis di depan gundukan tanah pun tak henti-hentinya.
"Ikhlaskan kepergian istrimu agar dia tenang di sana. Jangan pernah kau sesali. Ini semua sudah menjadi kehendakNya. Yang perlu kamu ingat ada dua baby yang membutuhkan mu." nasehat kakaknya Vely kepada sang adik.
"Kenapa Vania begitu cepat pergi meninggalkanku dan kedua anakku kak. Aku dan kedua anakku masih sangat membutuhkannya. Aku pasti sangat merindukan Vania kak" jawab Archie dengan isak tangis.
Vely pun menarik tubuh Archie lalu memeluknya.
"Sudah malam, ayo kita pulang. Kasihan kedua anakku sudah lama kamu tinggal sendirian di rumah. Kamu yang tegar dan jangan pernah menyalakan kedua bayimu. Vania pergi karena sudah takdirnya.” Vely menasehati Archie terus menerus, karena Vely tidak ingin Archie menyalahkan kedua bayinya yang membuat Vania pergi untuk selama-lamanya.
-----
Sebulan kemudian….
Archie pulang dari rumah sakit. Hari ini Archie membawa kedua bayinya untuk imunisasi. Setibanya di rumah Archie langsung membawa kedua bayinya masuk ke dalam kamar. Sebulan ini Archie memperkerjakan satu baby sister dan di bantu mbak Lastri dan Anum.
"Bik Lastri terima kasih sudah menjaga baby girls dan baby boy selama ini." ucap Archie.
__ADS_1
"Sama-sama mas. Nona Vania sudah saya anggap anak saya sendiri begitu juga princes dan boy sudah seperti cucu saya sendiri.” Ucap mbak Lastri.
Archie juga sudah menganggap mbak Lastri seperti keluarga sendiri meskipun Vania sudah tidak bersamanya lagi. Kini semua tinggal kenangan.
"Sekali lagi terima kasih. Terima kasih selalu ada untuk Vania dan sampai saqt ini.” ucap Archie dengan tulus.
Setelah selesai berbincang-bincang dengan mbak Lastri, Archie pergi menuju ruang kerja. Kini Archie duduk di hadapan laptopnya.
Archie hari ini benar-benar fokus untuk mencari nama untuk kedua bayinya. Karena kedua bayi tersebut belum memiliki nama. Sebulan ini Archie sudah kehilangan dua orang yang ia sayangi sekaligus. Istri dan ayahnya.
Satu jam berada di ruang kerja, setelah mantap akan memberikan nama untuk kedua bayinya. Archie langsung mencari keberadaan mbak Lastri.
“Num, apa kamu lihat bik Lastri?” tanya Archie saat melihat Anum yang keluar dari kamar bayinya.
“Em, bik Lastri ada di dalam kamar, Pak. Katanya kurang enak badan.” Balas Anum dengan sopan.
“Ya sudah, kalau sudah enakan bilang sama bik Lastri kalau aku mencarinya.” Pesan Archie pada Anum.
“Baik, Pak. Anum akan sampaikan. Permisi.” Jawab Anum lalu beranjak ke dapur untuk mencuci botol.
----------
Malam harinya, Rey dan Imut datang berkunjung ke kediaman Archie setelah mendapat kabar dari Anum kalau ibunya hari ini tidak enak badan.
Rey menggelengkan kepala saat melihat Imut turun dari mobil lalu berlarian masuk tanpa memperdulikan perutnya. Rey pun berteriak.
“Sayang, jangan lari, ingat di perut mu ada anak kita.”
Seketika itu Imut berhenti. Anum yang mendengar suara dari luar rumah pun beranjak untuk melihat siapa yang datang.
“Mbak Imut, kenapa mas Rey teriak-teriak?” tanya Anum. Sedangkan Imut yang di tanya malah cengengesan.
Rey langsung menggandeng tangan Imut masuk ke dalam.
“Jangan kamu ulangi lagi jika tidak ingin terjadi apa-apa sama anak kita.” Ucap Rey.
Sepasang mata Archie yang keluar dari ruang kerja terkejut saat melihat kedatangan asistennya bersama istrinya. Detik itu juga mbak Lastri juga keluar dari kamarnya karena ingin mengecek keadaan dua bayi Archie.
“Mari kita duduk di ruang tamu. Ada yang ingin saya sampaikan sama mbak Lastri soal princes dan boy.” Ucap Archie lalu berjalan ke ruang tamu. Rey, Imut dan mbak Lastri pun mengikuti.
Archie pun mempersilahkan Rey, Imut dan mbak Lastri untuk duduk. Tangan kanannya menyodorkan sebuah kertas bertuliskan nama kedua anaknya di hadapan mbak Lastri. Mbak Lastri tersenyum saat membaca tulisan tersebut.
"Menurut bik Lastri gimana?" tanya Archie. Sedangkan Imut dan Rey penasaran pada kertas yang di pegang ibunya.
"Hafizah Aine Arvani, Hikaru Aswin Arvani. Semoga menjadi anak yang soleh solihah.” Mbak Lastri akhirnya membaca tulisan yang di beri Archie.
Mereka berempat pun langsung mengaminkan.
🌟🌟🌟🌟🌟End🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1