
Flashback…
Lima bulan menjalani rumah tangga dengan Juna, Sri tidak pernah ditatap, bahkan berbicara langsung dengan suaminya pun harus berhati-hati.
Menginjak usia pernikahan ke tujuh bulan Juna mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.
Sri duduk sambil termenung, kepahitan yang ia rasakan selama menikah dengan Juna kembali teruji. Matanya menatap ruang operasi. Meski diperlakukan tidak baik oleh suaminya tidak di pungkiri diam diam Sri telah menyimpan rasa pada suaminya.
“Nak, gimana keadaan Juna?”
Sri terkejut saat bahunya ditepuk. Sri menoleh lalu tersenyum saat melihat Ibu mertuanya datang.
Ibu mertuanya mendekat lalu duduk di samping Sri. Ibunya Juna merasa gagal yang sudah menjodohkan Juna dengan Sri gadis baik-baik. Bahkan kabarnya selama ini Juna tak pernah anggap Sri ada, itupun dari mulut asistennya.
Ibu mertuanya akan menyetujui jika suatu saat Sri meminta cerai dari Juna.
“Maafkan Ibu, Nak.” Tetesan bening pun jatuh membasahi wajahnya yang sudah terlihat keriput.
“Kenapa Ibu meminta maaf sama saya?” Sri menggenggam tangan mertuanya.
“Maaf kalau selama ini putra Ibu tidak pernah menganggap kamu sebagai istrinya.” Ucap Ibu mertuanya.
Deg… jantung Sri berdetak kencang, dari mana ibunya tahu kalau suaminya tidak pernah menganggap dia ada.
“Ibu jangan menangis, aku sama mas Juna selama ini bai-baik saja.” Ucap Sri dengan berbohong.
Mendengar ucapan Sri, Ibunya Juna tak mampu menahan dan pada akhirnya Ibunya Juna menumpahkan air mata.
Pintu ruang operasi terbuka lebar. Sri langsung beranjak dari tempat duduk dan di susul ibu mertuanya.
__ADS_1
“Gimana dengan suami saya, Dok?” tanya Sri.
“Operasinya berjalan dengan lancar, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat.” Jawab dokter yang menangani operasi suaminya.
Setelah selesai operasi, Juna langsung di pindahkan ke ruang rawat.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan kondisi Juna semakin membaik karena Sri begitu telaten merawat dan lambat-laun Juna pun menyadari kalau Juna sudah jatuh cinta dengan istrinya. Istri yang selalu tak di anggap ada.
----------
Air mata Sri perlahan terjatuh saat menceritakan awal-awal pernikahannya dengan Juna. Istri yang selalu tak di anggap ada.
“Sekarang kamu menikmati hasil dari kesabaran mu, Sri. Mas Juna sudah cinta mati sama kamu.” Vania berucap sambil mengusap telapak tangan Sri.
Demi menjaga persahabatannya dengan Sri Vania tidak mau mengungkit masa lalunya dengan Joni meskipun dalam hati kecilnya Vania ingin tahu kenapa Sri tidak jadi menikah dengan Joni.
“Gimana kabar kamu Ay?” tanya Azam penuh perhatian.
“Kabar aku baik-baik saja, Zam? Kabar kamu sendiri gimana?”balas Cahaya dengan nada biasa.
Azam menghela nafas berat. Azam tetap menatap lurus ke arah Cahaya tanpa ada yang menghalanginya.
“Kamu sekarang tinggal di mana?” tanya Azam.
“Aku sekarang tinggal di kota m.” jawab Cahaya singkat.
“Kamu sebenarnya kenapa Ay? Gak seperti biasanya kamu seperti ini sama aku.” Ucap Azam.
“Lah, memangnya aku kenapa, Zam?” tanya Cahaya balik.
__ADS_1
“Kamu berubah.” Jawab Azam. Azam teringat kembali saat pertemuan terakhirnya dengan Cahaya.
Kali ini Cahaya terdiam. Pikirannya kembali teringat akan ucapan Azam. Cahaya tersenyum tipis saat mendengar ucapan Azam yang ngatain dirinya berubah.
“Maaf Zam, sepertinya saya harus balik, dan maaf sepertinya pertemuan kita sampai di sini..” Ucap Cahaya
Azam menghela nafas, memberanikan untuk bertanya. “Apa kamu sudah tidak menyukaiku lagi?”
Sejenak Cahaya terpaku. Cahaya kembali teringat dua tahun yang lalu
“Sampai kapanpun kita adalah sahabat. Ya, sampai kapanpun kita berdua adalah sahabat.”
“Oh iya, aku harus pulang.” Ucap Cahaya beranjak dan meninggalkan Azam seorang diri.
Namun perjuangan Azam belum berakhir. Dengan segera Azam mengejar Cahaya.
Ditempat lain, Archie dan Vania siap siap meninggalkan kampung halaman.
“Jaga kedua cucu kakek.” Ucap Ayah We
Vania mengangguk. “Iya yah, ayah juga jaga kesehatan, jangan lupa obatnya di minum rutin.”
“Maaf pak, mobilnya sudah siap.”
Archie dan Azam pamit meninggalkan ayahnya.
“Kalian hati hati di jalan. Segera kabar ayah kalau sudah sampai.”
“Iya yah.”
__ADS_1