Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 82 : Hampir Mencelakai


__ADS_3

Archie baru saja sampai di di sebuah gedung yang nampak menjulang tinggi. Semua karyawan menundukkan kepala saat melihat sang pimpinan berjalan ke arah lift.


Setibanya di lantai 10 Archie langsung ke meja sekertarisnya.


“Tuk..Tuk...Sepuluh menit aku tunggu kamu dan Rey di dalam ruangan ku dan jangan lupa membawa berkas untuk rapat pagi ini.” Ucap Archie sebelum memasuki ruang kerjanya.


Suara ketukan pintu terdengar. Archie pun memberi perintah untuk masuk.


Cekklekk…


Rey bersama sekertaris Indah masuk ke ruangan Archie.


Dahi Archie berkerut saat melihat wajah asisten Rey tampak menahan marah.


“Kamu kenapa Rey?” Tanya Archie.


“Kamu tanya aku kenapa?” Ucap Rey dengan sewot.


“Maaf karena tidak memberitahu pada kalian terlebih dulu.” Ucap Archie dengan santai.


“Sebentar lagi ada meeting? Apakah berkas yang aku minta sudah kamu siapkan?” tanya Archie sambil senyum.


“Sudah.” Jawab Rey sewot.


Setelah 3 jam akhirnya meeting selesai juga. Meeting dadakan berjalan dengan lancar. Archie kembali ke ruangannya. Asisten Rey langsung ke tempat klien yang akan bekerja sama dengan perusahaan WG. Sedangkan sekertaris Indah kembali ke mejanya untuk membuat laporan hasil meeting.


Archie duduk di kursinya, bola matanya tertuju pada layar laptop. Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu.


“Permisi pak, ini hasil rapat tadi.” Ucap Indah sembari menyodorkan map warna hijau.

__ADS_1


“Kamu taruh saja, nanti saya cek.” Jawab Archie tanpa mengangkat kepalanya.


Beberapa menit kemudian ponsel Archie berdering. Archie pun langsung melihat ponselnya


“Iya sayang, setelah ini mas pulang.”


Archie segera membereskan dokumen yang berserakan di atas meja kerjanya. Pintu ruangan sudah di tutup. Tak lupa Archie pamit kepada sekertarisnya.


“Indah, tolong sampaikan ke Rey untuk hasil rapat tadi suruh dia selesaikan hari ini.” Titahnya.


“Baik pak.” Jawab Indah.


----------------


Sesampai di rumah sakit Imut langsung ke bagian administrasi. Vania langsung di bawa ke ruang UGD dan langsung mendapatkan pertolongan pertama.


Archie berjalan melalui koridor rumah sakit dengan langkahnya yang terburu-buru. Tanpa sengaja Archie menabrak Imut.


Mereka berdua langsung berjalan menuju ruang UGD.


“Mbak, gimana keadaan Vania dan janinnya?” Archie menatap Mbak Lastri dalam. Ia tahu kalau Mbak Lastri saat ini sedang sedih dan khawatir.


“Nona Vania masih di dalam mas. Dokter sudah menanganinya.” Mbak Lastri berusaha menenangkan Archie.


“Ya Tuhan, tolong selamat istri dan anak-anakku.” Doa Archie dalam hatinya.


---------------


Perusahaan WG

__ADS_1


“Nona Indah, tolong copy kan laporan meeting tadi pagi ke flashdisk saya.” Titahnya


“Baik Tuan.”


Rey menghela nafas pelan-pelan sambil memijit pelipisnya. Karena begitu tiba di kantor Rey langsung dapat tugas lagi dari atasannya. Padahal hari ini dia benar-benar lelah.


“Sekertaris Indah. Apa anda tahu kemana bos Archie pergi? Tidak seperti biasa bos Archie meninggalkan kerjaan?” tanya Rey penasaran.


“Saya kurang tahu, Tuan. Setahu saya bos Archie waktu itu menerima telpon, setelah itu wajah bos Archie panik lalu pergi begitu saja.” Jawab sekertaris Indah.


Sedangkan di rumah sakit Archie duduk disebelah ranjang Vania. Hatinya begitu sakit saat melihat istrinya yang hamil sedang terbaring di rumah sakit.


“Sayang, maafkan mas…”


Archie senang saat melihat Vania sudah sadar. Vania melihat ruang sekelilingnya lali berkata, “Aku ada di mana mas? Kenapa ruangannya serba putih dan kenapa tanganku juga di infus.”


Mendengar suara istrinya begitu banyak pertanyaan membuat Archie semakin gemas. Archie mencium tangan Vania berkali-kali dan setelah itu mendaratkan kecupan di keningnya.


“Kamu ada di rumah sakit sayang.” Ucap Archie sambil membelai pipi Vania.


“Rumah sakit?” Vania berkata sambil menangis.


“Kok nangis?” ucap Archie mengusap air mata Vania.


“Maafkan aku mas yang ceroboh.” Ucap Vania.


“Iya sayang, mas maafkan kok, lain kali hati-hati ya sayang, jangan ikut angkat-angkat. Mulai hari ini kamu cukup memantau saja. Kalau begitu nambah satu orang buat teman Novi sama Candra.” Titahnya.


Vania kembali memejamkan mata. Ia mulai berbicara dengan hatinya sendiri, “Maafkan bunda yang sudah hampir mencelakai kalian berdua.”

__ADS_1


__ADS_2