
Hampir dua jam mereka berada di kedai kopi. Aswin menggandeng tangan Kayla keluar dari kedai kopi tersebut.
“Kamu harus rajin belajar supaya dapat beasiswa seperti kakak.” Ucap Aswin.
“Iya kak. Kak Aswin juga belajar yang rajin biar tidak lama-lama di Amerika.” Balas Kayla.
“Iya, doain kakak ya.” Ucap Aswin sambil mengusap rambut Kayla.
Aswin berhenti di parkiran lalu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Kayla.
Aswin tak sengaja melihat ke arah wajah Kayla dan melihat ada sisa saos di bibir nya.
“Dasar gadis kecil, makan gitu saja pada belepotan.” Ucap Aswin sambil mengusap di bibir Kayla.
“Emang aku masih anak kecil kak. Aku saja masih kelas empat SD.” Balas Kayla dengan manja.
“Iya iya, kakak tahu kalau kamu masih kelas empat SD.” Ucap Aswin.
Aswin melihat ke arah jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan jam empat sore.
“Ayo pulang nanti aunty Anum khawatir sama kita.” Ucap Aswin.
__ADS_1
Kay langsung naik ke sepeda yang di ayun oleh Aswin.
Setelah cukup lama mengayun, akhirnya tiba di villa. Archie yang melihat kedatangan mereka berdua pun tersenyum.
“Kalian berdua dari mana? Apa kalian berdua sudah makan siang?” tanya Archie.
“Habis keliling terus mampir ke kedai kopi.” Jawab Aswin. Sedangkan Kayla hanya diam saja.
“Jadi, hari ini kamu ngajak gadis kecil ini ke kedai kopi mu?” tanya Archie. Kayla yang mendengarnya pun terkejut.
“Pantas saja kak Aswin bolehin tiap hari sabtu atau minggu aku datang ke kedai kopi. Ternyata kedai kopi itu milik kak Aswin.” Batin Kayla.
“Kay, apa kamu masih ada rasa takut sama kak Aswin?” tanya Archie sedangkan yang di tanya hanya menunduk.
Kayla yang di tanya seperti itu langsung mengangkat kepala. Kay memandang wajah Aswin yang dingin.
“Iya…” jawab Kayla lirih. Aswin terkejut.
“Dasar gadis kecil.” Gerutu Aswin lalu beranjak pergi.
Di dapur Anum, Aine dan Ajeng sedang sibuk mengolah makanan untuk makan malam.
__ADS_1
Anum dan Ajeng paling pandai dalam urusan masak. Sedangkan Aine hanya membantu saja.
“Mbak Ajeng juga pintar masak seperti aunty Anum.” Ucap Aine sambil mengupas kentang dan wortel.
“Enggak juga non, di sini yang pintar masak ya mbak Anum.” Jawab Ajeng sambil merajang wortel dan kentang.
“Kalau aunty Anum mah enggak perlu diragukan lagi. Masakannya selalu enak. Coba dulu aunty Anum mau nikah sama papi. Pasti tiap hari aku makan masakannya aunty Anum tiap hari.” Ucap Aine. Anum yang mendengar pengakuan Aine pun terkejut.
“Lho, kenapa mbak Anum enggak mau menikah sama pak Archie. Jadi penasaran aku sama kamu mba Num. Wong jelas-jelas ada orang mapan kok malah milih yang enggak mapan.” Ucap Ajeng. Aine pun terkejut saat mendengarnya.
“Maksudnya mbak Ajeng ada yang mapan kok milih yang enggak mapan?” Tanya Aine penasaran dengan kehidupan Anum selama di kota M.
Anum menghela nafas ketika Aine penasaran dengan kehidupannya.
“Jujur saja mbak Num sama nona Aine. Sapa tahu menjadi istri atau menjadi bundanya masih berlaku.” Ucap Ajeng.
Ajeng yang sejak tadi ngomong terus di hadiahi pukulan oleh Anum di lengannya.
“Ngawur kamu tuh. Pak Archie itu cintanya hanya untuk almarhum ibu Vania.” Ucap Anum.
“Sudah non jangan di dengerin mbak Ajeng. Nanti aunty Anum jelaskan maksudnya mbak Ajeng tadi.” Ucap Anum.
__ADS_1