
Pagi-pagi sekali Asisten Haris bangun karena mendengar suara ketukan pintu. Asisten Haris terkejut saat melihat siapa yang datang.
“Selamat pagi, Pak. Maaf sudah membangunkan.” Sapa Vania.
“Selamat pagi, nona.” Asisten Haris langsung beranjak dari sofa.
Vania tersenyum campur sedih saat melihat suaminya tidur sambil duduk di dekat kepala ayahnya. Vania mengusap lengan Archie dengan lembut.
Archie membuka matanya saat mendengar suara Vania. Archie terkejut saat mendapati istrinya pagi-pagi sudah berada di rumah sakit.
“Sayang, kamu ke sini di antar siapa?” tanya Archie lalu mengecup keningnya tak lupa Archie juga mencium perut Vania.
“Selamat pagi kesayangan papa.” Sapa Archie sambil mengusap perut Vania.
“Selamat pagi, papa.” Jawab Vania dengan suara khas anak kecil.
Asisten Haris melihat keromantisan tuan dan nona pun pamit. Asisten Harus memilih keluar dari ruang rawat inap menuju kamar sebelah untuk segera membersihkan tubuhnya.
Vania pun meminta agar Archie segera mandi dan mengganti bajunya dengan baju yang ia bawa.
“Mas sekarang mandi gi biar aku yang jaga ayah.” Titah Vania dan langsung di angguki Archie.
Setelah kepergian Archie, Vania segera mendekat dan duduk di samping ayahnya.
Mata ayah We mulai mengerjab. Sedikit demi sedikit ia membuka matanya. Ayah We tersenyum senang saat melihat Vania ada di sampingnya.
“Ayah…”
“Van… nia…”
“Iya, ini aku Vania. Alhamdulillah ayah sudah sadar.”
“Kamu kemari nak? Kamu datang ke rumah ayah?” tanya ayah We.
“Iya yah, maafkan Vania yang baru bisa menjenguk ayah.” Ucap Vania. Tak lama kemudian tangis Vania pecah karena merasa bersalah.
“Tidak nak. Kamu tidak perlu meminta maaf sama ayah. Dengan melihatmu ada di sini saja ayah sudah senang.”Balas ayah We.
Vania akhirnya mengangguk. “Iya yah. “
__ADS_1
“Ngomong-ngomong gimana dengan cucu-cucu ayah? Apa dia selalu menyusahkan mu?” tanya ayah We.
Vania menggelengkan kepala. “Tidak yah, mereka anak-anak baik. Mereka tahu kalau mamanya masih sekolah.” Jawab Vania sambil mengelus perutnya.
“Kakek We cepet sembuh ya, biar nanti bisa bermain-main dengan si kembar.” Ucap Vania dengan menirukan suara anak kecil.
“Iya, kakek pasti sembuh dan kakek janji akan bermain-main dengan si kembar.” Balas ayah We sambil ketawa.
Archie yang keluar dari kamar mandi pun tersenyum senang saat melihat dua orang yang beda generasi yang begitu ia sayangi sedang bersenda gurau. Inilah momen yang selama ini Archie tunggu. Di mana ayah dan istrinya saling memaafkan.
“Sini mas, ayah sudah sadar lho.” Ucap Vania begitu senang. Archie langsung berjalan ke arah ranjang ayahnya.
“Apa ada yang ayah keluhan sakit? Biar Archie panggilkan dokter sekarang?” tanya Archie saat melihat wajah ayahnya meringis.
Ayah We menggelengkan kepala. “Tidak ada, kamu ambillah kursi dan duduklah di samping istrimu. Ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan kepada kalian berdua.” Ucap ayah We dan setelah itu Archie mengambil kursi dan di di dekatkan dengan Vania.
Saat sedang ngobrol serius sebuah salam terucap.
“Assalamu’alaikum…” ucap asisten Haris saat masuk ke ruang rawat tuan We.
“Waalaikumsalam…” jawab mereka bareng.
“Tuan dan nona pasti belum sarapan kan?” tanya asisten Haris.
Vania langsung mengangguk, karena dia manusia yang ada di dalam perutnya sudah meronta-ronta untuk di isi. Padahal beberapa menit yang lalu Vania sudah makan roti yang ia bawa dari rumah.
“Pak Haris memang top. Di saat kedua anakku yang ada dalam perutku ini minta makan, pak Haris datang sambil membawa makanan begitu banyak.” Ucap Vania tanpa malu-malu.
“Sayang, ” Archie mengingatkan Vania dengan panggilan sayang.
“Gak papa tuan, namanya juga ibu hamil, bawaannya pasti pengen makan terus.” Ucap asisten Haris.
“Terima kasih pak sudah membawakan makanan untuk istri saya.” Ucap Archie.
“Sama-sama tuan.” Balas asisten Haris.
Kini mereka bertiga menikmati makanan yang dibawakan oleh asisten Haris. Archie melihat istrinya yang memakan dengan lahap pun menggelengkan kepala.
Setelah selesai makan mereka kembali mengobrol hingga terdengar suara dzan dhuhur.
__ADS_1
---------------
Selama di rawat di rumah sakit, ayah We selalu menurut apa yang diucapkan oleh Vania.
Satu minggu telah berlalu. Kini ayah We sudah dinyatakan sembuh dan sudah diperbolehkan pulang.
Setelah selesai berkemas kemas mereka langsung pulang ke rumah. Asisten Rey mengendari mobil dengan kecepatan sedang.
Saat tiba di rumah, asisten Haris turun membukakan pintu mobil, dan setelah itu membantu tuannya turun.
Archie terkejut saat melihat keberadaan Nita dan kedua orang tuanya. Nita yang melihat kedatangan mereka langsung menyambut dengan senang hati.
“Gimana kabar om We? Maafkan Nita yang baru menjenguk om We.” Ucap Nita.
Vania yang melihat kedekatan ayahnya dengan wanita lain pun berbisik ke telinga suaminya dan berkata.
“Dia siapa mas?”
Archie langsung menggandeng tangan Vania dan berjalan mendekat ke kedua orang tua Nita.
“Halo om tante.” Sapa Archie.
“Halo Ar,, lama lho kamu tidak pulang kampung?” balas ayah Nita.
“Iya om, karena ada kerjaan yang tidak biasa Archie tinggalkan. Oh ya om, tante kenalkan ini Vania istri Archie dan dia sekarang sedang hamil anak Archie.” Ucap Archie memperkenalkannya.
“Assalamu’alaikum tante, om.” Sapa Vania dan menyalami kedua tangan Nita.
“Cantik Ar istrimu? Masih muda juga. Gak salah kamu memilihnya.” Ucap mama Nita memujinya.
Archie tersenyum saat mendengar pujian tentang istrinya dari mulut mama Nita.
“Terima kasih tan.” Balas Archie.
Archie menggandeng tangan Vania dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ayah We tersenyum senang saat melihat Archie dan Ginna baik-baik saja.
Saat masuk ke dalam semua keluarga sudah berkumpul. Mereka langsung membawa Vania duduk dan gabung dengan keluarga lainnya.
Saat duduk, mata Vania mendelik ke arah Archie. Sedangkan Archie hanya mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1