
Pagi harinya, di sela-sela sarapan Vania berkata.
“Mas.” Panggil Vania.
“Iya sayang?” Jawab Archie dengan lembut.
“Em, kira-kira mas mau gak anterin aku ke makam ayah bunda?” Tanya Vania.
“Kamu mau ke makam ayah bunda?” Tanya Archie.
“Iya mas, sebelum lahiran aku pengen ke makam ayah bunda. Lama aku tidak berkunjung ke makam ayah bunda” ucap Vania lirih.
“Ya sudah, nanti kita ke makam ayah bunda. Nanti sebelum ke makam kita beli bunga.” Jawab Archie.
Vania tersenyum senang karena suaminya mau di ajak berkunjung ke makam kedua orang tuanya.
“Terima kasih mas.” Balas Vania dengan mata berkaca-kaca. Archie pun berdiri lalu memeluk Vania.
Archie pun melepaskan pelukannya lalu mengusap kedua mata istrinya dengan lembut. Archie tidak ingin istrinya sedih dan berdampak ke kehamilannya.
“Ya sudah, gimana kalau kita berangkat sekarang? Biar nanti kembalinya nggak terlalu malam.” Ucap Archie.
“Baik mas, kalau begitu aku siap-siap.” Balas Vania.
__ADS_1
Vania langsung beranjak masuk ke kamar untuk ganti baju dan mengambil tas.
“Mbak, nanti siang nggak usah di siapkan makan siang soalnya hari ini aku sama Vania mau berkunjung ke makam ayah bunda.” Ucap Archie.
“Apa nggak bahaya mas kalau nona Vania pergi jarak jauh dengan hamil besar?” tanya Mbak Lastri.
“Insya Allah enggak mba? Oh iya mbak nanti nggak usah nungguin kita pulang kemungkinan aku ajak Vania menginap di rumah lamanya.” Ucap Archie yang keceplosan.
“Rumah lama? Bukannya rumah lama nona Vania sudah di jual?” Tanya mbak Lastri yang penasaran.
Lima belas menit kemudian Vania keluar dari kamar dan menuju di mana mbak Lastri sedang ngobrol dengan suaminya.
“Ayo mas kita pergi sekarang?” ajak Vania. Sedangkan mbak Lastri bertanya tanya dalam hatinya apa yang di maksud rumah lama itu rumah Vania.
Cup
Selama perjalanan Vania tertidur pulas. Archie melirik jam tangannya. Ia pun berhenti di toko bunga. Sekitar 20 menit Archie dan Vania tiba di pemakaman.
Archie dan Vania turun dari mobil. Archie menggandeng tangan Vania berjalan menuju makam kedua orang tua Vania sekaligus kakaknya Archie.
Dengan mata berkaca-kaca Vania dan Archie menaburkan bunga yang ia beli di toko bunga. Archie dan Vania berdoa dengan khusyuk.
“Ayah Bunda ini om Archie suamiku. Ngomong-ngomong Ayah sama Bunda di sana pasti sedang ngetawain aku ya? Kok bisa aku nikah sama om Archie. Hehehe, setidaknya om Archie sama Ayah tidak saudara kandung. Sekarang aku hamil anaknya om Archie.” Ucap Archie sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
“Ayah Bunda meskipun aku jarang berkunjung, aku selalu mendoakan Ayah Bunda dari sini.” Archie mendengar isak tangis Vania pun ikut menangis.
Tak terasa hampir 30 menit berada di depan makam kedua orang tua Vania untuk melepas rindu keduanya berpamitan untuk pulang.
Tak terasa cuaca sudah mulai gelap. Archie melirik jam dipergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 17.35. Archie langsung membawa Vania pulang ke rumah lamanya.
Tiba di depan rumah, betapa terkejutnya Vania saat berada di depan rumah lamanya.
“Kenapa kita berhenti di sini mas?” tanya Vania dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya Archie langsung menggandeng tangan Vania.
“Tunggu mas.” Cegah Vania dengan kepala menggeleng. Tapi, Archie tetap menggandeng tangan Vania.
“Selamat datang di rumah masa kecilmu sayang.” Ucap Archie sambil tersenyum menyambut istrinya.
Runtu juga air mata Vania mendengar ucapan suaminya. Namun dengan cepat Archie mengetahui. Archie membawa Vania dalam dekapannya.
Dengan kedua tangan Archie langsung menghapus air mata Vania.
“Stttt, jangan menangis lagi sayang. Maafkan mas yang tidak memberi tahu sebenarnya tentang rumah ini. Rumah ini sekarang menjadi milik mu. Jadi, mas mohon kamu jangan menangis.” Ucap Archie sambil memeluk Vania dengan erat.
“Terima kasih mas.” Jawab Vania sambil membalas pelukan suaminya.
__ADS_1