
Vania mulai membuka kedua matanya, sayup-sayup ia melihat ruangan begitu asing baginya. Vania mengangkat dan melihat tangannya terpasang infus. Perlahan-lahan ia mulai mengumpulkan kesadarannya dan mengingat apa yang terjadi sebelum dia pingsan.
“Alhamdulillah, akhirnya nona Vania sadar.” Ucap Mbak Lastri saat keluar dari kamar mandi.
Vania hanya diam tanpa menjawab. Ia pun teringat kedua orang tuanya. Tak terasa air mata kembali menetes. Ia pun berusaha bangkit dari tempat tidur.
“Aku ingin ke makam ibu dan ayah.” Ucap Vania sambil terisak.
Mbak Lastri pun iku menangis saat melihat kesedihan yang teramat dalam di wajah Vania.
“Mbak panggilkan dokter Arif dulu ya nona.” Ucap Mbak Lastri sambil menyeka air matanya.
Sementara itu
Archie yang mendengar kabar Vania sudah siuman langsung menuju rumah sakit.
“Rey, tolong batalkan semua jadwal meeting ku hari ini dan sampai tiga hari ke depan.” Ucap Archie memberi perintah.
“Tapi, Pak! Hari ini meeting dengan Ibu Desi tidak bisa di batalkan begitu saja.” Ucap Rey.
__ADS_1
“Kalau begitu, kamu sama Rini saja yang menggantikan meeting itu. Aku harus pergi ke rumah sakit. Arif barusan memberitahu kalau Vania sudah sadar.” Ucap Archie sambil memakai jas kerjanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Rey, Archie langsung meninggalkan ruang meeting, setelah itu Archie menuju tempat parkir.
Desi tak sengaja berpapasan dengan Archie yang tengah berjalan sambil terburu-buru masuk mobilnya.
“Bukankah itu Pak Archie, Bu.” Ucap asisten Desi.
Desi dan asistennya tetap berjalan masuk ke West Group.
Sesampainya di lantai 10 Desi dan asistennya langsung menuju ruang meeting. Desi merasa kecewa karena Archie sudah menyuruh asisten dan sekertarisnya untu menggantikan meeting.
“Baiklah, Bu. Akan saya sampaikan kepada atasan saya. Dan kami mohon maaf jika meeting ini membuat Bu Desi kecewa.” Ucap Rey sambil menyindir.
---------------
Setibanya di ruang rawat Vania, Archie begitu sedih saat melihat Vania sedang memohon kepada dokter Arif.
“Dokter, tolong ijinkan saya pergi dari rumah sakit ini. Saya ingin ke pemakaman kedua orang tua saya.” Ucap Vania.
__ADS_1
Mbak Lastri yang melihat bagaimana keadaan Vania pun tak tega.
“Nona Vania jangan seperti ini. Nona Vania masih sembuh dulu baru kita pergi ke makam almarhum ayah dan ibu nona Vania.” Ucap Mbak Lastri meyakinkan Vania.
Archie menghampiri Vania. Dia langsung mengangkat tubuh Vania yang semakin kurus. Archie langsung membawa dekapannya.
“Biar Om bicara dulu sama dokter Arif. Kamu tenangkan dulu jangan sampai asma kamu kambuh. Kamu percaya kan sam om.” Ucap Archie sambil mengusap air mata di kedua pipinya yang tirus.
Tiba-tiba Vania pingsan lagi. Archie langsung membawa dan menidurkan di ranjang rumah sakit. Dokter Arif langsung memeriksa keadaan Vania.
“Dia belum benar-benar kuat, tubuhnya masih lemas. Kepergian kedua orang tuanya benar-benar sudah membuat dia terpuruk dan terpukul. Aku terpaksa memasang infus lagi.”
Archie langsung mengangguk. Sedangkan Mbak Lastri mengusap-usap kening Vania.
Tak lama kemudian dokter Arif memasang infus di tangan Vania. Mbak Lastri yang duduk di samping Vania memilih mundur.
Archie memanggil Mbak Lastri.
"Mbak Lastri gak usah khawatir. Dokter Arif akan memberikan yang terbaik untuk Vania. Malam ini biarkan saya yang menjaganya. Mbak Lastri pulang dan istirahat, besok pagi Mbak Lastri datang kemari." ucap Archie.
__ADS_1
Mbak Lastri pun mengangguk.