
Setelah selesai acara peluncuran produk terbarunya, Veli meminta kepada asistennya Maya untuk selalu mengawasi dan memonitor serta memberikan perkembangan tentang produk yang saat ini ia luncurkan.
“Asisten Maya, aku harus pergi sekarang. Tolong kamu awasi tiap detik untuk perkembangan produk ini, dan jangan lupa untuk selalu memberikan info kepadaku.” Ucap Veli pada asisten Maya.
“Baik, Bu.” Jawab asisten Maya sambil membungkuk.
Veli langsung meninggalkan acara peluncuran produk tersebut saat ia mendapatkan kabar dari Archie kalau Vania sekarang sakit.
Tak butuh lama supir sudah siap di depan lobby, Veli pun segera masuk ke dalam mobil.
“Pak, langsung ke jalan anggrek ya?” Ucap Veli setelah duduk di dalam mobil.
“Baik, Bu.” Jawab supirnya dengan sopan.
“Pak, agak cepetan sedikit bisa?” tanya Veli kepada supirnya.
“Baik, Bu.” Jawab supirnya sambil mengangguk dan tak lama kemudian supirnya menambahkan kecepatan.
Dua puluh lima menit kemudian, Veli sampai di depan rumah Vania. Veli langsung turun dari mobil dengan tergesa-gesa.
Ting tong
Mbak Lastri langsung membuka pintu setelah mendengar bel rumah.
“Di mana, Vania Mbak?” tanya Bunda Veli saat pintunya di buka oleh Mbak Lastri.
“Ada di dalam kamar, Bu.” Jawab Mbak Lastri. Kemudian mengantar Bunda Veli masuk ke kamar Vania.
“Sejak kapan dia sakit Mbak?” tanya Bunda Veli lagi.
“Semalam tiba-tiba mimisan, Bu.” Jawab Mbak Lastri sambil membuka pintu kamar Vania.
__ADS_1
Sesampainya di kamar Vania. Bunda Veli dan Mbak Lastri terkejut saat melihat Vania sedang membersihkan hidungnya yang keluar darah lagi.
“Vania…”
“Bunda…”
Bunda Veli dan Mbak Lastri langsung berlarian mendekat ke arah Vania. Bunda Veli membantu Vania untuk membawa ke tempat tidurnya. Sedangkan Mbak Lastri langsung membersikan tisu bekas dan di buang ke dalam sampah.
“Bunda antar kamu ke rumah sakit sekarang ya?” ajak Bunda Veli pada Vania.
Vania menggelengkan kepala.
“Vania tidak mau masuk rumah sakit lagi, Bunda. Vania sudah lelah keluar masuk rumah sakit.” Ucap Vania dengan lemas.
Setelah mimisan Vania berhenti, Bunda Veli meminta agar Vania jangan terlalu capek dan banyak pikiran.
“Apa yang ada kamu sembunyikan dari Bunda?” tanya Bunda Veli pada Vania.
Vania tiba-tiba menitikkan air matanya. Kemudian Vania bangun dan memeluk Bundanya.
Bunda Veli mengusap punggung Vania dengan lembut.
“Yakin kalau kamu hanya kangen sama Ayah dan Ibu? Tidak ada yang lain yang kamu rindukan?” tanya Bunda Veli yang mengalihkan pembicaraan nya.
Tiga puluh menit kemudian dokter Arif pun datang bersamaan dengan Archie dan Ayahnya yang. ikut khawatir setelah mendengar kabar kalau Vania sakit. Archie langsung membawa Dokter Arif itu ke kamar Vania.
Semua orang yang ada di dalam kamar Vania menatap kedatangan Archie bersama dokter Arif. Tak lama kemudian dokter Arif memeriksa Vania.
Sedangkan Vania yang di periksa oleh dokter Arif hanya diam sambil memandang wajah pamannya yang beberapa hari ini sudah membuat dirinya merindukannya.
Sedangkan Archie tersenyum saat melihat wajah Vania merah merona yang menatapnya dirinya, Archie tak percaya kalau Vania benar-benar sudah merindukan dirinya. Archie memilih mendekati Vania yang sedang terbaring lemas di atas kasur.
__ADS_1
Archie mengusap kening Vania dengan begitu lembut. Sedangkan Bunda Veli tersenyum saat melihat kelakuan adiknya.
“Kalau besok masih mimisan, tolong segera bawa Vania ke rumah sakit supaya kita bisa memastikan apa penyebabnya.” Ucap dokter Arif pada Archie.
Archie mengangguk.
“Terima kasih, dokter.” Ucap Veli bersamaan.
“Sama-sama.” Jawab dokter Arif.
Setelah itu dokter Arif pamit pergi. Sedangkan Archie meminta kepada kakaknya agar meninggalkan mereka berdua.
“Kak, di ruang tamu ada Ayah. Apa kakak bisa menemani Ayah sebentar. Aku ingin bicara sebentar dengan Vania.” Pinta Archie kepada kakaknya. Sedangkan Vania mengurungkan alisnya tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Setelah kepergian kakaknya, Archie menarik kursi dan duduk di samping Vania sambil menggenggam kedua tangannya.
“Apa kamu merindukan Om?” tanya Archie sambil mengelus pipi Vania.
Vania diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Archie.
“Cup…”
Archie mengecup tangan Vania.
“Ya sudah kalau kamu tidak merindukan Om. Kalau begitu Om akan pergi.” Ucap Archie sambil berdiri dari duduknya.
Vania menarik tangan Archie dan bangun dari tidur kemudian memeluk tangan Archie yang hendak pergi.
“Jangan pergi Om. Jangan tinggalkan Vania lagi.” Ucap Vania menahan Archie.
“Tidurlah.” Archie mengecup bibir Vania. Sedangkan Vania sedikit merasa terkejut.
__ADS_1
Setelah selesai memandangi wajah Vania yang sedikit pucat dan akhirnya tertidur, Archie melepaskan genggaman tangannya.
Archie mengecup kening Vania dengan lembut kemudian keluar dari kamarnya