Akhir Sebuah Cinta

Akhir Sebuah Cinta
BAB 48 : Gaun Pengantin


__ADS_3

Keesokan harinya Vania bangun kesiangan, ia pun terburu-buru mengambil air wudhu dan setelahnya itu Vania keluar dari kamar untuk membantu menyiapkan sarapan.


“Selamat pagi, Bu.” Vania menyapa Mbak Lastri yang sedang sibuk di dapur.


“Pagi juga nona.” Jawab Mbak Lastri.


“Mbak Imut mana, Bu? Kok enggak kelihatan” Tanya Vania sambil mencari keberadaan Imut.


“Lagi jemur pakaian di belakang nona.” Jawab Mbak Lastri.


“Ohh.” Jawab Vania.


Vania langsung menuju wastafel lalu mencuci tempat kotor yang habis dipakai untuk masak. Mbak Lastri melihat Vania hendak mencuci pun di larang karena melihat Vania sudah rapih.


“Nona Vania mending duduk saja di sini, biar Imut yang mengerjakannya.” Ucap Mbak Lastri sambil mendudukkan Vania di kursi meja makan.


“Tapi aku ingin bantu, Bu.” Jawab Vania memelas.


"Enggak usah nona. Biar Imut atau saya yang mencuci tempat kotor itu." Ucap Mbak Lastri.


Selesai menjemur pakaian Imut langsung masuk ke dapur hendak membantu Ibunya. Namun ia melihat dan mendengar kalau Vania ingin membantu Ibunya.


“Enggak usah Mbak biar aku saja yang bantu Ibu.” Imut pun menengahi saat melihat Vania ngotot ingin membantu Ibunya.


“Ya sudah kalau itu maunya Ibu sama Mbak Imut, aku akan duduk manis dan menunggu kalian berdua.” Ucap Vania sambil memainkan ponselnya.


Selesai masak mereka bertiga langsung duduk di meja makan untuk sarapan bareng.


Beberapa menit kemudian ponsel Vania bergetar. Vania tersenyum saat melihat nama si pengirim pesan. Vania langsung membaca dan membalas pesan.


✉️Archie


Bersiap-siaplah, aku akan mengajakmu ke butik untuk mencoba baju pengantin kita. Lima belas menit lagi aku tiba.


✉️Vania


APA! Kenapa mendadak sekali, Mas?


✉️Archie


Gimana enggak mendadak sayang, besok lusa kita sudah ijab lho.


✉️Vania


Apa aku boleh ajak Mbak Imut? Soalnya hari ini aku janji mau antar Mbak Imut ke mall buat cari keperluannya.


✉️Archie

__ADS_1


Boleh. Nanti setelah dari butik mas akan mengantar kalian ke mall.


✉️Vania


Terima kasih, Mas.


✉️Archie


Sama-sama, sayangku.


Setelahnya berbalas pesan dengan Archie Vania memanggil Imut.


“Mbak Imut.”


“Iya Mbak.”


“Mbak Imut sebelum ke mall ikut saya ke butik dulu ya? Barusan mas Archie kirim pesan kalau dia mau ajak aku ke butik buat nyobain baju pengantin.”


“Iya Mbak, kalau Mbak Vania enggak bisa antar ke mall enggak apa-apa kok, kan masih ada hari lain. Mbak Vania dulukan kepentingan Mbak Vania dulu saja.


“Nanti kita dari butik langsung ke mall, Mbak. Sekarang Mbak Imut siap-siap, sebentar lagi Mas Archie sama Pak Rey tiba.


Imut yang mendengar nama Rey jantungnya langsung berdebar, pikirannya langsung tertuju pada Rey yang selalu memasang wajah dingin tiap kali bertemu dengannya.


“Kenapa tiap kali mendengar nama Pak Rey jantungku selalu berdebar sekencang ini. Jangan-jangan aku punya kelainan penyakit pada jantungku ini.” Batin Imut melamun.


“Sudah sana kamu siap-siap dulu, temani nona Vania, enggak enak kalau menolak ajakannya.” Ucap Ibunya.


“Iya, Bu. Aku akan siap-siap.” Jawab Imut lalu bergegas masuk ke kamar untuk ganti baju.


----------


Sesampainya mereka di butik A, Ketika hendak masuk kedalam butik tiba-tiba Vania teringat kalau ponsel miliknya tertinggal di mobil.


“Mbak Imut sepertinya ponselku ketinggalan di dalam mobil, bisa minta tolong di ambilkan?” pinta Vania.


Imut mengangguk, “Bisa Mbak.”


“Pak Archie sama nona Vania masuk duluan, biar saya yang temani nona Imut ambil ponsel nona Vania.” Balas Rey.


Imut akhirnya berjalan menuju parkiran mobil, sedangkan asisten Rey mengekor di berjalan di belakangnya. Jantung Imut selalu berdebar tiap kali bersama asisten Rey. Selama menuju parkiran mobil tak satupun ada yang bicara.


“Em, maaf Pak Rey bisa minta tolong pintu mobilnya di bukakan? Saya mau ambil ponsel Mbak Vania di dalam mobil.” Ucap Imut.


Setelah pintu mobil di buka, Imut langsung masuk ke dalam mobil dan mencarinya.


Rey melihat Imut tak kunjung keluar dari mobil pun ikut memasukkan kepalanya.

__ADS_1


“Gimana? Apa sudah ketemu ponsel nona Vania?” tanya asisten Rey.


“Belum. Sudah aku cari tidak ada, Pak.” Jawab Imut dengan suara bergetar.


“Aku akan menghubungi Pak Archie. Kamu terus cari takutnya jatuh di bawa kursi." Balas Rey. Kemudian Imut melanjutkan mencari di bawa kursi.


“Kenapa tiap kali aku mengajak ngobrol terdengar seperti orang ketakutan.” Batin Rey sambil menghubungi nomor Archie.


Dan tak lama kemudian sambungan teleponnya terhubung.


📱 Asisten Rey


Halo... Maaf, Pak. Ponsel nona Vania tidak ada di dalam mobil.


📱Archie


Tungguin sebentar Rey! Sayang, kata Rey ponselmu tidak ada di dalam mobil.


Dan seketika itu Vania meminta ponselnya, Archie pun langsung memberikan.


📱Vania


Halo pak Rey, tolong kamu cari di bawa kursi, sapa tahu jatuh di situ.


📱 Asisten Rey


Ini nona Imut sudah mencari di kursi bawa juga tidak ada nona?


📱Vania


Ya sudah kalau memang tidak ada. Mungkin ketinggalan di rumah.


Vania mengakhiri panggilan dan mengembalikan ponsel ke Archie. Namun, kedua mata Archie tak berkedip melihat wajah Vania yang cantik saat memakai kebaya putih.


“Kamu sangat cantik dengan kebaya ini sayang.” Ucap Archie sambil merengkuh tubuh Vania sedangkan tangan kanan ia gunakan untuk mengelus pipinya. Ia pun membisikkan sesuatu di telinganya.


Wajah Vania langsung merah merona. Vania yang malu mendengar bisikan dari Archie pun mendorongnya.


“Dasar mesum.” Ucap Vania lalu masuk ke dalam kamar ganti.


Tak butuh waktu lama Vania keluar sambil membawa kebaya warna putih tulang, dengan wajah memerah dan malu Vania mendekat ke tempat Archie yang sedang berbicara dengan pemilik butik. Archie tersenyum saat melihat Vania mendekat.


“Jadinya pakai yang mana nona?” tanya pemilik butik.


“Untuk akad nikah saya mau pakai warna putih tulang saja Mbak. Untuk pestanya nanti saya ikut mas Archie saja.” Jawab Vania malu-malu.


Akhirnya Archie memutuskan akad nikah pakai warna putih tulang, sedangkan pestanya keduanya sama-sama setuju dengan warna keemasan.

__ADS_1


__ADS_2