
Archie tersenyum saat melihat minuman apa yang Vania bawa untuknya apalagi Vania begitu ramah.
“Gak usah senyum senyum.” Nyinyir Vania kemudian duduk di kursi seberang.
Archie pun tersenyum kecut saat mendengar nyinyiran itu.
Dan setelah itu Imut yang tadinya di dalam gudang memilih keluar karena penasaran.
“Eh, ada tamu ya Mbak.” Kata Imut saat melihat seorang laki-laki yang duduk dekat Ibunya.
Mbak Lastri pun memanggil Imut dengan isyarat tangan. Imut pun mendekat ke arah mereka bertiga.
“Imut, kenalkan ini namanya mas Archie, dia adalah tunangannya nona Vania.” Mbak Lastri memperkenalkan Imut.
“Mas Archie, ini anak saya namanya Imut. Baru sebulan tinggal sama kita.” Mbak Lastri juga memperkenalkan Archie.
Archie pun manggut-manggut saat Mbak Lastri memperkenalkan Imut.
“Salam kenal mas. Ternyata aslinya lebih tampan ya Mbak Vania.” Kata Imut cengengesan.
“Hush, memangnya kamu pernah lihat mas Archie?” tanya Mbak Lastri.
“Ya taulah, Bu! Lagian juga fotonya selalu ada di samping Mbak Vania tiap kali tidur.” Ucap Imut.
Deg, seketika itu jantung Vania berdetak kencang. Archie yang mendengar ucapan Imut semakin yakin kalau Vania masih mencintainya.
“Silahkan di minum mas, mumpung masih hangat.” Ucap Mbak Lastri agar suasana tidak tegang.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Imut dan Mbak Lastri pamit masuk ke kamar untuk istirahat dan ingin memberi waktu agar Vania leluasa bicara dengan Archie.
Setelah kepergian Vania dan Imut ruang tamu jadi hening.
__ADS_1
Satu detik
Lima menit
Lima belas menit
“Om akan pulang kalau sudah tidak ada yang kamu tanyakan lagi.” Ucap Archie lalu berdiri dari kursinya.
Vania yang tadinya diam langsung mendongakkan wajahnya memandang wajah pamannya.
“Selamat malam. Jangan lupa langsung istirahat.” Ucap Archie lalu melangkah keluar.
Tiba-tiba terdengar suara kilatan petir yang menggelegar. Vania yang ketakutan reflek berlarian dan mendekap tubuh Archie dari belakang. Archie merasakan pelukan Vania seketika jantungnya berdetak kencang.
Archie pun membalikkan badannya kemudian memeluknya dengan erat. Archie semakin yakin kalau Vania masih mencintainya. Archie menangkupkan kedua tangannya di wajah Vania. Archie pun mencium kening Vania begitu lama.
----------
Setelah berada didepan pintu gudang Vania merasakan debaran yang begitu kencang. Vania mondar-mandir seperti setrikaan saat berada didepan pintu gudang.
Ceklek
Vania yang mendengar pintu gudang pun gelagapan. Archie terkejut saat melihat Vania ada di depan pintu.
“Ini sudah larut malam? Kenapa kamu belum tidur?” Vania Archie salah tingkah saat mendengar ucapan Archie.
“Em, a-anu itu Om, aku lupa kalau di gudang itu.” Ucap Vania gugup.
Archie yang melihat Vania salah tingkah pun mengecup bibirnya kemudian Archie meninggalkan Vania mematung di depan gudang.
Vania yang mendapatkan serangan dari pamannya jantungnya semakin berdetak semakin kencang. Vania memegang bibir sambil tersenyum.
__ADS_1
Archie pun menoleh ke arah Vania dengan seringai senyum bahagia. Archie semakin yakin cinta Vania masih ada untuknya.
----------
Keesokan harinya, Vania keluar kamar dengan malu-malu, dan belum sempat bertemu dengan penghuni rumah, Vania mendengar ketukan pintu. Vania berjalan menuju pintu.
“Selamat pagi nona.” Sapa Rey sambil membungkuk.
“Selamat pagi juga mas Rey?” jawab Vania dengan sopan.
Rey tersenyum senang karena Vania masih memanggil dirinya dengan mas.
“Maaf nona, saya kemari mau mengantarkan baju untuk Pak Archie.” Ucap Rey kembali.
“Masuk saja mas! Om Archie mungkin masih ada di kamar.
Rey pun masuk kedalam rumah Vania. Dan tak lama kemudian Imut memanggil Vania.
“Mbak Vania, sarapannya sudah se-lesai, maaf ternyata ada tamu.” Ucap Imut kemudian menundukkan wajahnya.
“Iya Mbak, sebentar saya akan mengantarkan mas Rey ke kamar Om Archie.” Jawab Vania kepada Imut.
“Ayo mas aku tunjukkan kamar mas Archie,” ajak Vania pada Rey dan setelah itu Rey berjalan di belakang Vania.
Kini mereka berlima duduk di meja makan. Ini pertama kalinya Imut makan bersama calon suami Vania dan asisten calon suaminya.
Imut yang merasa tidak pantas duduk dan makan satu meja pun menyudahi sarapannya.
“Aku tinggal kebelakang dulu Mbak? Oh ya Mbak Vania nanti sebelum berangkat kuliah ada yang ingin aku sampaikan.” Ucap Imut.
Vania mengangguk, “Iya Mbak.”
__ADS_1
Dan setelah itu Imut mendorong kursi kebelakang dan meninggalkan mereka bertiga di meja makan.