
Setibanya di dalam kamar, Archie memeluk Vania dari belakang dan menyandarkan dagu di pundak Vania sedangkan tangannya tak lupa mengelus perutnya.
“Sayang, mas pengen.” Bisik Archie di telinga Vania, dan seketika itu Vania langsung membalikkan badan lalu kedua tangannya memegang wajah suaminya.
“Mas yakin mau melakukan? Katanya bisa nahan sampai si twin keluar.” Ucap Vania menggoda.
“Ternyata adek junior menginginkannya, dan maaf sudah ingkar janji.” Jawab Archie memelas.
Vania tersenyum saat melihat wajah suaminya. Vania mengangguk pasrah. Biar bagaimanapun, semenjak hamil Archie jarang meminta haknya karena takut menyakitinya, dan malam ini Vania ingin memberikan haknya.
Archie mengusap kepala Vania dengan begitu lembut dan sayang. “Mas janji akan melakukan dengan pelan pelan sayang, karena mas tidak ingin menyakiti si twin.”
Vania tersipu malu mendengar ucapan suaminya. Archie mencium bibir Vania dengan lembut.
Archie membawa Vania ke ranjang. Dengan hati berdebar-debar Archie membuka satu per satu pakaian Vania. Gerakan tangan Archie dan ciumannya membuat Vania mengeluarkan suara ******* dan seketika itu membuat gairah Archie semakin membara.
“Oh, sayang aku benar-benar kangen dengan tubuh ini. Dengan perlahan tangan Archie bergerak memainkan dua gunung milik Vania yang semakin berisi. Archie pun menikmati begitu juga Vania.
Setelah puas dengan permainan ranjang Archie mencium kening Vania dengan begitu lembut dan sayang. Dan, setelah itu keduanya terlelap dalam mimpinya.
---------------
Sesuai dengan janjinya pada Vania, Sri akhirnya datang dan membawa kedua buang hatinya. Sebelum sampai rumah Sri mampir ke indo swalayan untuk membawakan oleh oleh.
__ADS_1
Sedangkan Vania masih asyik dengan bantal dan gulingnya. Meskipun usia kandungnya masuk empat bulan, tapi dia merasa kalau dia hamil tujuh bulan.
“Sayang, kamu enggak bangun?” tanya Archie saat keluar kamar mandi.
Vania menggelengkan kepala. “Aku masih lelah mas, dan perutku rasanya tiba-tiba gak enak.” Jawab Vania.
Archie langsung mendekat ke ranjang di mana Vania masih tidur. Dia mengusap perut Vania yang sudah terlihat besar.
“Apa ini gara gara semalam?” tanya Archie sambil mengusap perutnya.
Vania menggelengkan kepala. “Aku gak tau mas, tiba-tiba saja gak enak perutku. “
“Kita pergi ke dokter saja ya?” ajak Archie menunjukkan kekhawatirannya.
“Aku enggak apa apa mas, aku buat rebahan sebentar sapa tahu enakan.” Balas Vania.
Vania menggeleng. “Aku mau tidur lagi mas.” Ucap Vania.
Dan beberapa menit kemudian Archie mendengar ketukan pintu kamarnya. Archie pun beranjak dan membuka.
“Maaf mas, di luar ada seorang wanita katanya mau bertemu dengan nona Vania?” ucap asisten rumah tangga memberitahu.
“Siapa mbak namanya?” tanya Archie pada asistennya.
__ADS_1
“Nona Sri, Mas?” jawab asisten rumah tangganya.
“Kamu langsung bawa dia ke ruang tengah dan tolong buatkan minum dan camilan untuknya.”
Tak lama setelah kepergian asistennya, Archie masuk dan membangunkan istrinya dengan lembut.
“Sayang, ada temanmu Sri.” Archie membisikkan di dekat telinganya dan seketika itu Vania membuka matanya.
“Ya ampun, aku lupa kalau hari ini aku ada janji sama Sri.” Vania menepuk jidatnya dengan keras. Sedangkan Archie tersenyum karena melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan.
Setelah mengganti pakaian dan tidak ingin membuat Sri menunggu lama. Vania cepat cepat keluar dari kamar dan menuju ruang tengah.
Vania begitu senang saat melihat Sri dan kedua buah hatinya.
----------
Vania dan Sri tak ada hentinya bercerita tentang kehidupannya setelah lulus dari sekolah. Archie yang melihat istrinya begitu bahagia pun ikut senang.
Mengingat kembali kondisi Vania yang sedang hamil kembar pun Archie terpaksa menghampiri sambil membawakan vitamin untuknya.
Vania dan Sri bersamaan menoleh saat mendengar suara kaki yang mendekat. Vania tersenyum saat melihat suaminya berjalan ke arahnya lalu menyodorkan gelas berisikan air putih.
“Sayang, ayo minum vitaminnya dulu.”
__ADS_1
Sri tersenyum saat melihat sahabatnya diperlakukan begitu baik oleh suaminya. “Akhirnya kamu menemukan laki laki yang menjadikan kamu ratu, Van.”
“Kamu juga kan?” balas Vania.