Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Sakit perut


__ADS_3

"Sudah sekitar lima menitan, Mas? Mas dan Mbak romantis bener?" goda waiter itu.


"Ahh ... sudah sana lo pergi. Ganggu kesenangan orang saja," ucap Aldo mengibaskan tangan ke udara.


Sore tiba, Audy yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah melihat Nadia pulang diantar Aldo dengan mesranya. Aldo mencium kening Nadia mereka saling melambaikan tangan saling melempar senyum.


Audy yang melihatnya penasaran. "Sudah berani cium kening aja nie?"


Nadia menghentikan langkahnya menatap Audy sambil mengibaskan rambut panjangnya. "Apaan sih, suka-suka gue lah."


Audy menggerutu tidak jelas saat Nadia masuk rumah.


Saat masuk rumah Nadia melihat kotak es cream vanila di meja makan. Kebetulan sekali Nadia memang ingin makan es cream. Nadia pun memakan es cream itu dengan lahapnya.


Audy yang selesai menyiram tanaman masuk rumah dan melihat Nadia memakan es crem itu.


"Es cream gue!" teriak Audy.


Nadia terperanjat menoleh ke sumber suara.


Audy menghampiri Nadia sambil bertolak pinggang. "Enak banget lo ya makan es cream gue."


Audy menatap Nadia meletakkan sisa es cream nya, lalu menyunggingkan senyum. "Maaf ya, Kak. habisnya es cream nya menggoda sih?


Audy melihat sisa kotak es cream nya. "Es cream sebanyak ini bisa habis. Lo mau gendut kayak gue?"


"Ya gak lah, mana ada orang makan es cream bisa gendut," ucap Nadia.


"Pokoknya gue gak mau tau, lo harus ganti es cream gue!" seru Audy.


"Iya, entar gue ganti. Bawel amat sih kayak emak-emak kompleks."


"Sekarang!"


"Besok aja gue capek." Nadia melotot ke arah Audy sambil bertolak pinggang.


Audy menghentakkan kakinya bergantian berdecak kesal.


Ayu keluar dari kamar karena mendengar suara bising dari luar. "Kalian ini kenapa sih ... setiap kali di rumah selalu saja berantem."


"Ini Nadia, Ma. Makan es cream nya Audy gak bilang-bilang."


Ayu menggeleng. "Lha wong cuma es cream saja kok, gemparnya kayak mau perang dunia saja."


Nadia tersenyum, lalu menjulurkan lidahnya kepada Audy.


"Sekarang kalian berdua masuk kamar masing-masing!" perintah Ayu.


Audy terlihat kesal masuk kamar dengan wajah masam.


Malam hari saat makan malam, Audy turun masih dengan wajah yang cemberut.


"Kenapa wajah kamu ditekuk gitu, Audy?" tanya Ayu sambil mengambil nasi.


Audy hanya diam, duduk dengan wajah masam.

__ADS_1


"Kamu masih ngambek sama adikmu gara-gara es cream kamu dimakan sore tadi," ucap Ayu sambil mengambilkan nasi untuk Audy.


"Kayak anak kecil aja, tu lihat gue sudah beliin lo tiga es cream yang sama sekaligus," celetuk Nadia menunjuk ke arah dapur


Audy menoleh tersenyum simpul melihat tiga es cream kotak di meja dapur. Namun, dia pura-pura memasang wajah masam.


"Seneng 'kan lo dapat tiga es cream kotak dari gue," ucap Nadia sambil makan.


"Gak! Gue sudah gak selera," balas Audy.


"Terserah, yang penting gue sudah beniat baik sama lo," ucap Nadia dengan gaya alay.


"Sudah-sudah waktunya makan malam. Jangan ada yang ngomong, Oke!" perintah Ayu.


Audy dan Nadia pun mengikuti ucapan mamanya. Mereka terdiam sejenak menghabiskan nasi yang ada di piringnya masing-masing.


Selesai makan, Audy mengambil tiga es cream kotak itu.


"Katanya sudah gak selera," celetuk Nadia.


"Diam lo," ucap Audy mendelik.


Nadia menggerak-gerakkan bibirnya tidak jelas sambil menatap Audy menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Audy yang berada di dalam kamar membuka penutup kotak es cream itu, lalu memakannya dengan lahap.


Bunyi hp nyaring di samping Tempat duduk Audy. Itu pesan dari Reihan mengingatkan Audy dua hari lagi kantor perhutani mengadakan camping bersama.


Audy membalas pesan singkat itu. Audy masih sibuk memakan es cream, tinggal tersisa satu. Sekalian Audy menghabiskannya, lalu tidur dengan nyenyak.


Suara klakson motor dari luar terdengar sampai meja makan.


"Kak Audy ...! Kak Reihan sudah nungguin!" teriak Nadia yang sedang makan roti selai.


"Iya suruh tunggu sebentar!" sahut Audy yang berada di toilet.


Nadia mengambil tas cangklungnya berangkat menuju kampus


"Kakak lo mana?" tanya Reihan.


"Masih mandi, katanya suruh nungguin sebentar."


Reihan berdecak, hari ini ada mata kuliah pagi.


Mobil Ayla warna hitam jemputan Nadia datang. Aldo dengan pesonanya membuka pintu mobilnya.


"Pagi, sayang." sapa Aldo kepada Nadia.


Nadia tersenyum tipis. "Pagi juga, sayang?"


Aldo dan Nadia berjalan beriringan masuk mobil. Reihan hanya mematung melihat mereka.


"Kita berangkat dulu ya, Kak!" seru Nadia.


Reihan mengangguk, melihat mobil berjalan yang semakin jauh dari pandangannya. Reihan masih menunggu Audy yang dari tadi belum keluar juga.

__ADS_1


Tak berselang lama Audy datang dengan wajah pucat.


"Lo habis ngapain sih, lama amat," cibir Reihan.


"Sudah jangan banyak tanya? Ayo cepetan berangkat," ucap Audy.


Reihan mulai menghidupkan motornya, Audy kentut hingga suaranya mengalahkan bising motor vespanya Reihan.


"Buset dah ... kencang amat suara kentut lo!" Reihan menutup hidungnya.


Audy memegang pantatnya segera berlari masuk rumah menuju toilet. Reihan yang melihatnya pun kesal.


"Gue tinggal ya!" seru Reihan.


Audy mengangkat satu tangan tanda Reihan harus menunggunya.


Lima menit kemudian Audy menghampiri Reihan.


"Lo habis makan apa sih?' tanya Reihan kesal.


Audy terlihat terengah-engah memegangi perutnya. "Ini gara-gara Nadia."


"Lha kok Nadia?" tanya Reihan.


"Sudah ayo cepetan berangkat, entar di jalan gue jelasin," balas Audy.


Mereka berdua pun berangkat ke kampus. Audy duduk di belakang dengan posisi miring.


"Kemarin malam gue di kasih es cream sama Nadia. Besoknya langsung sakit perut," ucap Audy saat di perjalanan.


"Kok bisa cuma makan es cream sakit perut?" tanya Reihan.


"Gak tau ... mungkin Nadia pengen ngerjain gue." Audy kembali merasakan sakit di perutnya lagi.


Mereka berdua masih dalam perjalanan.


"Rei, stop dulu," ucap Audy.


"Stop gimana?" Reihan tampak bingung.


"Perut gue mules lagi, Rei. Cepetan lo cari toilet," desak Audy.


"Nyari toilet dimana? Ini masih setengah perjalanan lho."


"Sudah dimana kek, yang penting ada toilet. Cepetan gue udah gak tahan, Rei," rengek Audy mencoba menahan.


"Itu ada selokan, lo pup disana aja," ucap Reihan.


Audy menepuk punggung Reihan. "Lo gila ya! Masak gue harus pup disana, mana ada orang banyak lagi."


"Ya udah, lo tahan sebentar sampai kita masuk kampus."


"Aduh, Rei. Gue udah gak tahan. Cepetan dong, Rei. Ini sudah di ujung." Audy terus merengek menahan rasa sakit perutnya.


"Iya-iya ... ini gue usahain!" teriak Reihan yang ikut panik.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2