
Audy berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
"Kaki gue gemeteran nie, Rei." Audy terus merengek.
"Sudah pokoknya apapun yang terjadi~~"
"Brukk!" Audy jatuh ke tanah. Reihan juga ikut terjatuh karena tidak kuat menahan tubuh Audy. Semut merah mulai menggerayangi dan menggigit kulit mereka berdua.
"Aduh! Gue di gigit semut!" teriak Audy mengaruk tubuhnya.
"Gue juga!" Reihan membalasnya.
Mereka segera berdiri mengusir sebut itu dari tubuh mereka.
Hukuman selesai, mereka berdua duduk di kantin dengan wajah lelah dan rambut acak-acakan.
"Sialan tu anak, awas saja kalau ketemu. Gue buat perkedel nanti," ucap Audy geram terhadap Levi.
"Gue setuju. Bisa-bisanya si cungkring ngasih kita semut merah," balas Reihan.
"Jadi lapar gue," gumam Audy.
"Kalau lapar makanlah," ucap Reihan.
"Gak!" Audy menepuk lengan Reihan. "Lo jangan mempengaruhi gue lagi ya. Lo juga sama kayak Levi."
Reihan berdecak, lalu memperbaiki kerah bajunya. "Ya bedalah! Gantengan gue kemana-mana."
Audy tanpa melihat Reihan memencongkan bibir atasnya, lalu dengan sendirinya dia tersenyum dengan wajah bersemu merah.
"Ya sudah pulang yuk!" ajak Reihan.
Audy mengangguk, mengikuti Reihan dari belakang. Beberapa detik kemudian Audy tersadar.
"Rei, gue 'kan gak boleh Nadia pulang sama lo!"
"Yaelah, masak pulang bareng gak boleh. gue janji bakalan ngajak lo langsung pulang." Reihan mengangkat jarinya membentuk huruf V.
"Beneran ya, awas kalau lo bohong," ucap Audy.
"Iya ... sudah ayo ikut."
Dari kejauhan, Nadia melihat kakaknya pergi bersama Reihan. Nadia memanggil-manggil Audy, cuma Audy tidak mendengar seruan Nadia karena mereka sudah menaiki motor.
"Audy, kita ke Mall dulu ya. sebentar doang," ucap Reihan sambil mengendarai motornya.
Audy menepuk punggung Reihan. "Tu kan! Katanya langsung nganter pulang?"
"Bentar doang, nanti habis ke Mall langsung pulang," ucap Reihan menyeringai.
Audy berpikir Reihan pasti akan melakukan hal yang sama seperti kemarin. "Oke, tapi sampai jam tiga ya."
"Beres, komandan." Reihan menahan tawa, meningkatkan kecepatan motor vespanya.
__ADS_1
Sesampainya di Mall, seperti perkiraan Audy. Reihan pasti hanya mengajaknya mengelilingi Mall tidak jelas. Audy kali ini tidak akan terjebak oleh Reihan.
"Lo mau beli apa sih, Rei? Dari tadi muter-muter doang.
"Baju, kemarin ada di Mall ini," jawab Reihan.
"Salah lihat kali lo?"
"Kagak, beneran ada di Mall ini."
Audy menghentikan langkahnya. "Gue ke toilet dulu ya?"
Reihan mengangguk.
Audy dengan cerdik mengecoh Reihan, dia turun melalui tangga sampai ke lantai bawah. Audy segera mengendap keluar dari pintu Mall, lalu segera memesan ojeg online.
Reihan masih menunggu Audy duduk di kursi panjang dekat eskalator.
"Audy mana sih. Lama amat," ucap Reihan.
Setengah jam kemudian, Reihan masih menunggu Audy muncul. Reihan tidak sabar, dia akhirnya menelpone Audy.
📲" Halo, Audy!"
📲"Iya, Rei. Ada apa?"
📲"Lo ngapain saja sih di toilet, gue nunggu lo sampai jamuran."
📲"Hehehe ... gue sudah pulang dari tadi. Gue gak mau ketipu sama lo lagi."
Di rumah keluarga Lesmana, Audy sudah bersiap memakai pakaian joging lengkap dengan pengikat kepala. Kebetulan Nadia sudah pulang hendak mengawasi Audy joging.
"Sudah siap, Kak?"
"Sudah, dong. Ayo ke taman!" Audy terlihat bersemangat.
"Kak Audy berlari mengelilngi taman, cukup dua putaran saja. Nanti Nadia yang menghitung berapa menit Kak Audy bisa sampai."
"Siap, Nad!"
"Mulai." Nadia mengaktifkan stopwath yang ada di tangannya. Audy mulai berlari sekencangnya. Baru satu putaran Audy sudah tidak kuat untuk melanjutkannya. Dia duduk di rumput dengan napas yang tersenggal.
Nadia menghampiri Audy. "Kok duduk, Kak. Semangat dong demi traktiran gratis selama satu bulan."
"Istirahat sebentar, Nad. napas gue rasanya mau copot," ucap Audy tersenggal.
"Satu putaran lagi, Kak. Semangat dong!"
Audy mencoba berdiri, lalu kembali berlari sekuat yang dia bisa. Dengan langkah gontai, akhirnya dia bisa menyelesaikan dua putaran mengelilingi taman.
Nadia bersorak memberi selamat. Audy terduduk letih.
"Akhirnya gue bisa dua putaran," ucap Audy dengan suara serak.
__ADS_1
"Pertahanin, Kak. Jangan mau kalah sama Reihan.
Reihan tidak sengaja lewat melihat Audy habis berolahraga. "Cie ... cie ... sudah turun berapa kilo, Bu!"
"Reihan! Siap-siap saja lo traktir gue selama satu bulan. Gue bakal ngabisin duit lo!" teriak Audy saat Reihan sudah menjauh.
"Nah gitu, dong. Punya jiwa kompetisi," ucap Nadia.
"Kita pulang yuk! Kak Audy sudah tidak Kuat lagi."
"Lha ... ini baru pemanasan, Kak. belum push up, sith up sama angkat beban," ucap Nadia.
"Besok-besok saja, Nad. Napas Kak Audy tinggal separo," ucap Audy.
"Ya udah deh." Mereka berdua pun pulang.
Esok paginya, Audy berangkat bersama dengan Nadia memakai taksi. Untuk saat ini Audy tidak mau dibonceng Reihan sampai taruhan mereka berakhir.
Di pintu gerbang kampus Audy melihat Levi, Audy masih kesal dengan kelakuan Levi yang kemarin mengerjainya dengan semut merah. Audy mengepalkan tangan, mengeraakan rahangnya. Dengan teriakan sempurna Audy memanggil nama Levi.
Levi menoleh, dari jarak dua meter sudah terlihat Audy yang menatapnya tajam. Pemuda kurus dengan kacamata besar itu segera berlari dari pada di hajar sama Audy.
"Jangan Lari lo!" Audy mengejar Levi. Tentu saja Audy tidak bisa mengimbanginya.
Levi menjulurkan lidah mengejek Audy. Baru beberapa menit Audy sudah membungkukkan badannya dengan napas tersengal.
"Hahaha ... Hey gendut kalau bisa kejar gue." Levi terus saja mengejek Audy. Kali ini dia menyodorkan pantatnya kepada Audy. Audy pun semakin geram di buatnya.
Tiba-tiba Reihan mendekapnya dari belakang. "Kena lo. kali ini lo gak bisa lari Lagi."
Tubuh kurus Levi tidak bisa berkutik melawan kuncian Reihan yang begitu kuat.
"Apa-apaan ini, kalian curang beraninya main keroyokan!"
"Bagus, Reihan." Audy tersenyum licik mengepalkan tangan di depan Levi.
"Mau ngapain lo. Ada pak Bambang tu, kalian mau dihukum lagi," gertak Levi.
Audy tidak bergeming.
"Audy, lo cari kecoa. Dia takut sama kecoa."
"Oya ...." Audy terkekeh dia segera mencari kecoa di gudang barang.
"Lepasin dong, Rei. Gue janji habis ini gue traktir lo," rayu Levi.
"Gue kagak butuh, gue mau balas dendam sama lo. Enak saja lo ngasih semut merah saat gue dihukum. Badan gue bentol-bentol gara-gara lo. Sekarang lo harus ngrasain apa yang gue dan Audy rasain," ucap Reihan.
"Damai deh, Rei." Levi terus berontak, tapi tenaga Reihan terlalu kuat.
Audy datang dengan membawa kecoa. di dekatkannya kecoa itu di wajah Levi.
"Hah ...! please jangan! Gue takut!" Levi tidak berani menatap kecoa yang dibawa Audy.
__ADS_1
"Audy, masukin kecoa itu di ****** ********. Biar dia tau rasa," ucap Reihan.
Bersambung ...