
Audy menuruti perintah Reihan, tapi sedetik kemudian dia tersadar.
"Reihan lo gila apa. Gue 'kan cewek, masak iya harus masukin kecoa di ****** ******** si cungkring ini."
"Oiya lupa gue. Ya sudah gantian lo pegang tangannya yang kuat biar gue yang masukin."
"Jangan, Rei. Gue takut sama kecoa, Rei!" teriak Levi.
Reihan tidak peduli, dengan senyum menyeringai dia memasukan kecoa itu di ****** ******** Levi.
Levi membuka mulutnya, matanya membulat, sejenak terdiam. Beberapa detik kemudian dia berteriak lari tunggang langgang merasakan geli di area ****** ********.
Audy dam Reihan yang melihat Levi berlari tidak karuan tertawa terbahak-bahak.
"Syukurin! Emang enak dikerjain!" cibir Audy.
Audy dan Reihan pun melakukan tos tangan karena berhasil mengerjai balik Levi. Reihan mengacungkan jempol kepada Audy. Senyum Audy berubah menjadi masam saat mengingat taruhannya kepada Reihan.
"Kita masih musuhan ya. Untuk hari ini saja kita kerja sama," ucap Audy.
"Memang lo bisa ngalahin gue?" balas Reihan.
"Kita lihat saja nanti, lo bakal traktir gue sebulan. Siap-siap saja miskin," ucap Audy.
Reihan mendekati Audy berbisik di telinganya. "Gak bakalan."
"Dasar lo, jambang," cibir Audy saat Reihan berjalan membelakanginya.
Di tribun lapangan Basket Aldo tampak sedang menunggu seseorang. Orang itu adalah Levi yang baru datang menghadap Aldo.
"Lo kemana saja sih, Lev?" tanya Aldo kesal.
"Sorry bos tadi ada sedikit gangguan dari Reihan dan Audy." Tubuh Levi bergidik geli.
Aldo mengibaskan tangan tidak peduli dengan masalahnya Levi. "Lagian udah gede masih saja main-main. Lo sudah nyiapin rencana buat gue ngedeketin Nadia lagi?"
"Sudah, bos. Gue sudah kirim surat dan bunga di mejanya Nadia."
"Lo yakin ini berhasil?"
"Yakin, bos. Sepertinya Nadia masih suka dengan bos Aldo, tapi dia memang gengsinya tinggi, sama kayak kakaknya," jawab Levi.
"Ya udah deh gue percaya sama lo." Aldo memegang pundak Levi.
"Bos bagi duit dong, buat beli rokok," pinta Levi sambil nyengir.
"Rokok mulu lo, hati-hati paru-paru basah, lihat saja tubuh lo kurus gitu." Aldo memberikan uang seratus ribu buat Levi.
Di kelas, Nadia melihat seikat bunga mawar dan sebuah surat berada di mejanya. Nadia membuka isi surat itu.
'Tiada kata menyerah untuk mengejarmu Nadia.
Dari orang yang selalu mencintaimu.
__ADS_1
...Aldo'...
Nanti sore sehabis jam kelas selesai, Aldo menunggunya di lapangan basket. Nadia tampak dilema. Dia masih bertanya-tanya dalam hati, siapa yang menjebaknya di cafeshop itu. Aldo atau Reihan, semua masih samar untuk diungkapkan.
Dalam hati Nadia masih sayang dengan Aldo. Apalagi beberapa hari ini dia belum melihat Aldo. Perbuatan Aldo saat di puncak, membuat Nadia kecewa sampai saat ini.
Jam makan siang, Levi yang mendapat tugas dari Aldo menghampiri Nadia saat sedang makan.
"Hey, Nadia." Levi merapikan rambut klimis belah tengahnya.
Nadia tersenyum simpul menatap Levi. "Ada apa, Lev?"
"Lihat bos gue gak? Seharian gue cari gak ada kemana ya?"
"Aldo maksudnya?"
"Siapa lagi, Nad. Bos gue yang paling baik dan tidak sombong."
"Gak tau," jawab Nadia singkat.
"Kemarin dia itu sakit, apa hari ini dia gak masuk ya?"
Nadia membulatkan mata. "Sakit. Memang Aldo sakit apa, Lev?"
"Mach nya kambuh, akhir-akhir ini si bos sering menyendiri, gak tau kenapa," ucap Levi.
Nadia tampak khawatir. Levi pun tersenyum melihat wajah khawatir dari Nadia.
...***...
Aldo berjalan menuruni tangga tersenyum menghampiri Nadia.
"Gue tau lo akan datang," ucap Aldo.
Nadia terdiam menatap lekat Aldo.
Aldo berdiri dihadapan Nadia, lalu memegang kedua lengannya. "Gue akan nunggu lo sampai kapanpun, Nadia."
Nadia tanpa sadar meneteskan air mata, lalu bersandar di dada bidang Aldo.
"Maafin gue ya, Do."
Aldo tersenyum menyeringai, rencananya membujuk Nadia berhasil. Aldo memegang kepala hingga punggung Nadia.
"Gak ada yang salah, Nadia. Kita saja yang kurang dewasa menyikapi perbedaan," ucap Aldo.
Nadia terisak menatap Aldo, lalu menganggukkan kepala. Aldo menyeka pipi Nadia.
"Gue janji sama lo akan lebih dewasa lagi dalam menyikapi masalah," ucap Nadia.
"Gue juga janji sama lo, bakal lebih ngejagain lo," balas Aldo.
Sepasang sejoli itu saling menautkan jari kelungking masing-masing.
__ADS_1
"Gue antar pulang ya?"
Nadia mengangguk, dengan senang hati bersedia.
Di tempat lain, Audy sudah bersiap berolah raga. Sambil menunggu Nadia pulang, Audy mengangkat barbel seberat lima kilo di halaman rumah.
Ayu yang melihat anak sulungnya sedang bersemangat itu menghampirinya sambil membawakan jus buah untuk Audy.
"Semangat betul latihannya."
"Iya dong, Ma. Audy 'kan gak mau kalah dari Reihan."
"Jadi Reihan yang membuat kamu semangat latihan," goda Ayu.
Audy tanpa sadar mengangguk.
"Eh, bukan gitu maksudnya, Ma. Audy sedang taruhan sama Reihan. Bukan karena Audy suka sama Reihan lho ya," ucap Audy salah tingkah.
Ayu tersenyum menyelidik. "Siapa yang bilang kamu suka sama Reihan. Mama cuma tanya saja, jawabanmu kemana-mana?"
Audy tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuknya.
"Sudahlah, Mama mau masak dulu. Itu jangan lupa jus apelnya diminum." Ayu masuk ke dalam rumah.
Tak berselang lama Audy melihat mobil ayla berwarna hitam berhenti di depan pintu pagarnya. Nadia turun dari mobil itu bersama dengan Aldo.
Entah kenapa Audy menjadi cemberut saat melihat Nadia bersama dengan Aldo.
"Gue langsung balik, Nad."
Nadia mengangguk, terdenyum sambil melambaikan tangannya. Nadia membuka pintu pagar melihat kakaknya sedang mengangkat barbel.
"Sudah lama di sini, Kak?" tanya Nadia.
"Lumayan sih, Nad."
Nadia menahan senyum saat melihat Audy mengangkat barbel. Terlihat aneh.
"Nadia ganti baju dulu ya, Kak."
Audy mengangguk.
Tanpa disengaja Reihan lewat depan rumah melihat Audy sedang mengangkat barbel. Reihan menghentikan motornya, lalu memarkirkannya di pinggir gang rumah Audy.
"Audy! Ngapain lo ngangkat barbel, bikin capek saja! Mending nonton film sambil ngemil, biar tambah gemuk." seru Reihan.
"Sudah gak usah banyak ngomong! Siap-siap saja lo traktir gue pas hari H nya."
"Yakin lo!"
Audy mngacungkan jari tengah. Reihan terkekekeh melihat kelakar Audy, lalu kembali melajukan motor vespanya. Reihan punya rencana untuk mengerjai Audy saat latihan.
Nadia keluar lengkap dengan baju olah raga. Nadia terlihat cantik dan seksi. baju yang dipakainya pun begitu pas di tubuhnya. Audy sedikit terperangah melihat kecantikan adiknya. Pantas saja Nadia digandrungi para pria di kampus.
__ADS_1
Bersambung ...