Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Mencoba Menjauh.


__ADS_3

Pagi-pagi di kampus, Aldo dan Levi sedang menunggu kedatangan Reihan. Aldo ingin membuat perhitungan dengan Reihan. Tak berselang lama Reihan sudah memarkirkan motornya sendirian. Kebetulan, ini kesempatan untuk menghajarnya.


"Woy ... sini lo!" hardik Aldo.


Reihan menaruh helm nya. "Apa ... ini masih pagi ya."


Wajah Aldo merah, matanya tajam menatap Reihan, dia mencengkram kerah baju Reihan.


"Lo bisa jauhin Nadia gak!"


Reihan tersenyum sinis. "Kalau gue gak mau lo mau apa. Lagian lo 'kan sudah putus."


Aldo semakin marah dengan ucapan Reihan, dia mengepalkan tangan besiap memukul Reihan. Namun, dengan sigap Reihan menangkis pukulan dari Aldo, lalu didorongnya Aldo hingga mundur beberapa langkah.


Aldo tidak terima, tangannya kembali mengepal menuju Reihan. Sekali lagi Reihan bisa menangkisnya dan memberi bogem mentah ke pipi Aldo.


Aldo tersungkur ke tanah, Levi membantu membangunkan Aldo. "Lo gak pa-pa, bos."


Aldo masih menatap mata Reihan.


"Apa lo ... kurang." Reihan berada di atas angin.


Aldo berdiri sambil memegang pipinya. "Awas lo ya!" Aldo pergi meninggalkan Levi di tempat.


"Curang lo," ucap Levi.


"Apa ... lo mau coba," tantang Reihan.


Levi ketakutan, lalu pergi dari hadapan Reihan. Reihan merapikan bajunya yang sedikit kusut akibat ulah Aldo tadi.


Di tempat Lain, Nadia sedang memeriksa keadaannya ke dokter kandungan. Dokter kandungan memberikan sebuah kertas dan tespek kepada Nadia.


"Selamat ya, Ibu positif hamil. Usia kandungan Ibu Nadia sudah mencapai dua minggu," ucap sang dokter dengan wajah ceria.


Nadia sejenak mematung, lalu menangis. Dokter yang merawat Nadia pun heran


"Anda baik-baik saja, Bu."


Nadia mengangguk pelan berterima kasih kepada sang Dokter, lalu beranjak keluar dari ruangan. Di sepanjang jalan Nadia masih menangis. Nadia melihat tespek itu berharap dokter yang merawatnya salah. Namun, dua garis berwarna merah sudah membuktikan kalau Nadia positif hamil.


Sesampainya di rumah, Nadia mulai bingung, apa yang harus di lakukan. Nadia duduk di kursi kayu berteriak sekencangnya. Cepat atau lambat semua orang akan tau tentang kehamilan Nadia.


Nadia segera menelpone Aldo untuk mengajaknya ketemuan di taman kompleks dekat rumahnya. Aldo menyanggupinya. Nadia segera berkemas sambil membawa surat kehamilannya.


Satu jam menunggu Aldo datang duduk di samping Nadia.


"Ada apa, Nad?" tanya Aldo pelan


Nadia menatap Aldo, lalu memberi surat kehamilannya.


Aldo membacanya. "Kamu hamil, Nad? Siapa yang menghamilimu.


Nadia menatap Aldo tajam, lalu menamparnya.

__ADS_1


"Gue cuma ngelakuin perbuatan bejat itu sama lo. Itu pun lo ngejebak gue."


Aldo terdiam, menyandarkan kedua tangan di lututnya. "Baik aku akan bertanggung jawab, tapi ada syaratnya."


Nadia terkekeh. "Syarat ... setelah lo ngejebak gue lo minta syarat."


Aldo mengangguk. "Gue minta lo jauhi Reihan."


"Oke ... lagi pula kemarin aku ngedeketin Reihan hanya untuk manas-manasin lo saja."


Aldo menatap Nadia menyandarkan kepala Nadia ke bahunya.


Di kampus, Audy terlihat sedang menpersiapkan acara camping untuk minggu depan. Reihan Terlihat sibuk memberikan pengarahan kepada juniornya. Audy hanya bisa melihat Reihan. Entah kenapa jarak antara Reihan dan dirinya seolah semakin jauh.


"Lo sudah selesai, Dy?"


Audy mengangguk, tersenyum simpul menatap Reihan.


"Kita presentasi ke anak-anak yuk," ajak Reihan.


Audy berjalan di belakang Reihan, lalu memanggil peserta camping untuk memberikan pengarahan tentang apa saja yang di bawa saat mendaki gunung.


Levi datang ke Aula kampus. Reihan dan Audy pun heran.


"Lo ngapain di sini, Lev?" tanya Audy.


"Ngapain ... gue ikut," jawab Levi.


"Hah ...!" Audy tidak menyangka Levi mau ikut naik gunung.


Reihan berbisik kepada Audy. "Kok Levi bisa ikut sih. Gue takut kalau nanti dia gak kuat."


"Gue juga baru tau, Rei." Audy menyenggol lengan Reihan.


"Lo yakin mau ikut, Lev?" tanya Reihan.


"Lo ngeremehin gue. kurus-kurus gini gue kuat delapan ronde," ucap Levi ngasal.


"Ini naik gunung, Lev? Bukan tinju."


"Apalagi naik gunung, kecil bagi gue." Levi membusungkan dada.


"Ya sudah masukin saja," bisik Reihan.


Audy pun memberikan kertas untuk mengisi data dirinya. "Nanti gue wa lo peralatan apa saja yang harus dibawa."


"Atur saja," ucap Levi.


"Oke teman-teman kita ketemu minggu depan di sini!" seru Audy.


Para junior membubarkan diri masing-masing kecuali Levi masih berada di Aula.


"Makan yuk;" ajak Reihan.

__ADS_1


"Duluan deh, Rei." Audy sedang sibuk menulis nama peserta yang ikut camping minggu depan.


"Gak asik dong makan sendiri," ucap Reihan.


"Sama gue saja gimana?" sahut Levi.


"Ogah. Mending gue makan sendiri saja," balas Reihan.


"Ya sudah kalian berdua saja sono makan. Gue lagi diet," ucap Audy


"Kalian berdua lagi berantem ya," tebak Levi.


"Siapa yang berantem sih, Levi ...?" Audy sedikit kesal.


"Kok kayak gak akrab gitu."


"Kita baik-baik saja cungkring." Reihan merangkul Audy sehingga tubuh mereka bersentuhan. Audy tersentak, jantungnya kembali berdegup kencang. Audy segera melepas rangkulan tangan Reihan. Audy masih gugup jika berdekatan dengan Reihan.


"Ah lo, gak adik gak kakak di embat semua," cibir Levi keluar dari Aula kampus.


"Lo yakin gak makan siang?" tanya Reihan.


"Yakin, Rei. Sudah sono ah. Gue lagi nulis nama peserta nie. Nanti kalau salah gimana."


Reihan mundur perlahan meninggalkan Audy sendirian di Aula.


Audy menghela napas, duduk di kursi kayu panjang setelah Reihan pergi. Audy harus bisa menjaga jarak dengan Reihan. Audy takut kalau perasaannya semakin tumbuh. Tapi, kenapa Audy mau ya diajak Reihan menjadi wakil ketua camping. Bukankah itu malah membuat Audy semakin dekat dengan Reihan?


Sore harinya, Reihan mengajak audy pulang bareng. Awalnya Audy menolak, tapi karena Reihan terus memaksa, Audy pun tidak bisa lagi menolak penawaran dari Reihan.


"Nadia sakit apa sih, Dy?" tanya Reihan saat berboncengan dengan Audy.


"Gue gak tau. Katanya gak enak badan," jawab Audy.


"Gue habis ini mampir ya ke rumah lo."


"Mau jenguk Nadia?"


"Yoi ... sekalian mau bawa buah apel. Kali saja setelah makan buah apel dari gue, Nadia langsung sembuh."


"Segitunya lo suka sama Nadia ya."


"Sebenarnya gue sudah lama suka sama adik lo."


"O ya ... sejak kapan." Audy penasaran ingin tau.


"Sejak dia masih SMA. Makanya dulu gue nawarin lo berangkat bareng."


"Jadi dulu lo nawarin boncengan bareng karena ada mau nya." Audy merasa sedih mendengar penjelasan dari Reihan.


"Awalnya gitu. Tapi, lama-lama gue ikhlas bocengin lo tiap hari. soalnya lo orangnya asik di ajak berteman."


Wajah Audy bersembunyi di punggung Reihan. Matanya tidak kuasa menahan air mata. Reihan tidak sadar kalau ucapannya itu menyakiti hati Audy.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2