
Sore hari sepulang kuliah, Audy melihat Nadia duduk di ruang tamu sambil membaca buku.
"Nad, Kakak dengar kamu tadi marahin Reihan ya?"
Nadia mengangguk. "Gue kesel lihat tampangnya."
Audy duduk menghela napas. "Ya gak gitu juga kali, Nad? Kasian 'kan Reihan kamu marahin di depan umum."
Nadia menutup bacaannya, menatap Audy. "Jadi Kak Audy lebih kasihan sama Reihan dari pada adiknya yang mau diapa-apain."
"Kamu salah paham, Nad? Reihan yang mengantarmu pulang, Kak Audy lihat sendiri, memapahmu saat badan kamu lemas." Audy mencoba membuka pola pikir adiknya.
Nadia tersenyum sinis. "Terus kenapa pria mesum itu bisa nganterin Nadia. Hah ...!"
"Reihan kebetulan saat itu ada di cafeshop, dia khawatir sama kamu kalau Aldo mau berbuat kurang ajar sama kamu," ucap Audy menjelaskan.
"Terus Kak Audy mau bilang kalau Aldo yang ingin berbuat kurang ajar sama Nadia, gitu."
Audy hanya terdiam.
"Aldo gak mungkin kurang ajar sama Nadia, dia perhatian sama Nadia, Kak." Nadia menaruh buku bacaannya di meja, lalu beranjak dari tempatnya berjalan menuju kamar.
"Nadia! Dengerin kakak dulu, Nad!"
Nadia tidak menghiraukan panggilan audy, dia menutup pintu kamar dengan keras hingga Audy terperanjat.
Audy menggeleng, lalu naik ke atas tangga menuju kamarnya.
Di tempat lain, Aldo sedang berada di klub malam bersama seorang gadis selingkuhannya yang bernama Amanda. Aldo duduk di sofa merah sambil merangkul bahu mulus Amanda.
Amanda adalah anak kuliah jurusan akuntansi dari kampus lain. Dia sangat tergila-gila dengan Aldo. Bahkan amanda ingin melakukan apa saja asalkan Aldo tetap berada di sisinya.
"Sayang, beli minum gie. Haus." Aldo memegang tenggorokannya.
"Iya, Sayang. Sebentar Aku ke bar dulu." Amanda mencium pipi Aldo lalu berjalan menuju meja bar.
Musik rap yang menghentak membuat kepala Aldo manggut-manggut.
Lima menit kemudian, Amanda membawa sebotol bir dan dua gelas. Amanda tersenyum menatap Aldo, lalu dia menuangkan bir warna merah di itu gelas. Mereka berdua melakukan chers menikmati alunan musik rap.
Mata Aldo terfokus dengan belahan dada Amanda.
"Kamu kenapa melihat dadaku, kalau kamu mau habis ini kita bisa bersenang-senang melewati malam panjang," ucap Amanda menggoda Aldo.
"Kamu seksi malam ini." Aldo menatap nakal Nadia.
"Tentu dong, Sayang. Ini semua untuk kamu." Nadia membusungkan dada yang memperlihatkan tonjolan besar.
Aldo yang melihatnya pun menyeringai, dia kembali menenggak bir supaya hasratnya lebih liar.
__ADS_1
"Kita ke hotel yuk, Sayang?" ajak Aldo.
Amanda tersenyum membelai rambut Aldo. "Kamu gak sabaran banget sih, sayang. Kan acara belum di mulai?"
Aldo tersenyum simpul. "Gak usah ikut acaralah, aku kesini 'kan ingin bertemu denganmu." Aldo mengecup kedua pipi Amanda.
"Ya sudah terserah kamu," ucap Amanda sambil menggigit bibir bawahnya.
Aldo dan Amanda bergegas keluar klub untuk mencari hotel.
"Bos! Mau kemana!" panggil Levi yang sedang asyik berjoget.
Aldo hanya mengangkat satu tangan sambil merangkul Amanda berjalan menjauh dari pandangan Levi.
"Aku dengar kamu punya pacar baru ya, seorang selebgram?" tanya Amanda saat berada di mobil.
Aldo tanpa ragu mengangguk. "Kamu tidak keberatan, kan?"
Amanda tersenyum mengelus dagu Aldo."Tentu tidak, sayang. Yang penting kamu selalu ada untukku."
"Itu sudah pasti, sayang. Aku memacarinya karena dia cewek femes di kampusku," ucap Aldo tersenyum sinis.
Amanda menatap Aldo, lalu mencium pipinya.
Tak berselang lama mereka sampai di suatu hotel. Amanda dan Aldo kerap melakukan hubungan terlarang jika mereka bertemu. Tubuh Amanda yang langsing dan putih dengan kulit terawat membuat Aldo menjadikan Amanda nafsu liarnya. Di tambah lagi Amanda yang tergila-gila dengan Aldo. Apapun akan di lakukan Amanda untuk mendapat simpati Dari Aldo.
Pagi Hari di hari minggu, Audy tampak memakai pakaian olah raga lengkap dengan ikat kepala dan handuk kecil yang di gantungkan di lehernya.
"Anak Mama tumben." Ayu menatap Audy dari bawah ke atas.
Audy tersenyum
"Mama seneng deh lihat kamu mau berolah raga," ucap Ayu.
Audy kembali tersenyum. "Ya udah deh, Ma. Audy mau berangkat dulu."
"Mama ikut dong?"
"Gak usahlah, Ma? Audy cuma mau lari-lari di sekitaran kompleks kok."
Ayu tersenyum. "Ya sudah deh. Mama gak mau ganggu acara jonggingmu."
"Daa, Mama." Audy memulai lari, tubuhnya terlihat berat, lemak yang menempel di tubuhnya ikut bergetar saat dia berlari. Baru beberapa meter, napasnya sudah terengah-engah.
Rencananya Audy ingin berlari sampai di gang rumahnya Reihan. Tapi apa daya, baru setengah perjalanan napasnya sudah kembang kempis. Audy terpaksa berjalan sambil menggerakan tangan menuju rumah Reihan.
Audy dan Reihan memang satu komplek, tapi beda claster. Audy claster melati, sedangkan Reihan claster anggrek. Jarak dari rumah Audy sekitar satu kilo.
Tak berselang lama, Audy sampai di rumahnya Reihan.
__ADS_1
"Reihan!" Panggil Audy saat melihat Reihan sedang menyiram tanaman.
Reihan menatap lamat-lamat, mengucek matanya, memastikan itu adalah Audy.
"Audy, itu lo ya," ucap Reihan saat melihat Audy membungkukkan badan sedang mengatur napas.
"Iya, oncom," jawab Audy.
Reihan terkekeh, menghampiri Audy. "Tumben lo olah raga."
Audy melihat Rehan kesal. "Olah raga salah, duduk di rumah salah. Mau lo itu apa sih.!"
"Bukan gitu, gak biasa saja gue lihatnya."
"Ambilin gue air dong! Haus nie, gue lupa gak bawa minuman."
"Iya tuan putri. Reihan bebalik membelakangi Audy. "Putri dugong," gumam Reihan yang terdengar oleh Audy.
"Apa lo bilang!"
Reihan langsung berlari masuk rumah mengambilkan minuman.
"Reihan ...! Awas lo ya!" teriak Audy tidak terima.
Audy baru tersadar, kenapa dia lari pagi menuju rumahnya Reihan? Bukankah di taman dekat rumahnya banyak orang joging? Apakah dia lari pagi untuk membuktikan kepada Reihan kalau dia mau berubah! Audy menepuk kedua pipinya menyadarkan dirinya sendiri.
Di satu sisi Reihan melihat Audy sedari tadi melamun. "Lo kenapa pagi-pagi sudah aneh."
Audy terperanjat saat Reihan sudah ada disampingnya. "Reihan, sejak kapan lo ada di sini."
"Sejak tadi nungguin lo selesai melamun," cibir Reihan.
Audy menatap malu, lalu mengambil termos kecil dari tangan Reihan.
"Habis ini mau lari lagi?" tanya Reihan.
Audy menggeleng. "Gue tadi baru setengah perjalanan sudah ngos-ngosan.
"Lagian ngapain sih lo joging sampai ke rumah gue. Di taman deket rumah lo 'kan banyak orang joging?"
Itu pertanyaan yang telak. Audy terdiam, dia bingung harus menjawab apa.
"Ya udah deh, lo anterin gue pulang saja." Audy mencoba mengalihkan pembicaraan.
Reihan berdecak kesal menggaruk tengkuknya. "Ujung-ujungnya gue juga yang repot."
Reihan mengambil motor vespa dari garasinya.
Bersambung ...
__ADS_1