
Keesokan harinya Reihan seperti biasa menemui Audy ke rumahnya. Audy berjalan menghampiri Reihan.
"Naik, Dy. Gue mau cerita."
"Cerita apaan."
"Naik dulu, nanti gue ceritain di jalan."
Audy duduk di belakang. Reihan melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Gue sudah tau nama ceweknya Aldo," ucap Reihan.
"Siapa memang?" tanya Audy.
"Namanya Amanda, kemarin gue gak sengaja ketemu sama dia dan Aldo."
"Bagus, Rei. Tapi, lo nglakuin ini bukan karena ingin mendapat simpati dari Nadia, kan?"
"Ya gak lah, Dy. Gue gak mau Nadia kenapa-napa sama Aldo," balas Reihan.
"Gimana kalau habis pulang kita ke rumahnya si Amanda itu."
"Oke." Reihan memarkirkan motornya di parkiran kampus. Audy menaruh helm menggantung di kaca spion.
"Nadia gak ngampus, Dy?" tanya Reihan.
"Sudah berangkat." Audy berjalan kesal mendahui Reihan. Pagi-pagi Reihan sudah menanyakan Nadia.
"Audy ... tungguin woy!" Reihan merasa aneh dengan Audy.
Siang harinya, Audy dan Reihan duduk di kantin sambil menunggu makanan datang. Nadia yang melihat mereka berdua menghampiri ingin ikut duduk satu meja.
"Cie ... mesra amat," goda Nadia.
Reihan terperanjat saat melihat Nadia.
"Gue duduk di sini boleh ya?"
Audy dan Reihan mengangguk.
"Lo mau makan apa, Nad. Biar gue pesenin," ucap Audy.
"Gak usahlah, Kak. Nadia kesini mau ngomong sama Reihan," jawab Nadia.
Reihan yang sedang makan pun tersedak, meminta minum kepada Audy.
"Mau ngomong sama gue," ucap Reihan sambil terengah.
Nadia mengangguk menyunggingkan senyum.
"Mau ngomong apa?" tanya Reihan gugup.
"Entar saja sehabis mata kuliah selesai," jawab Nadia santai.
__ADS_1
"Oke. Gue tunggu di parkiran ya."
Nadia mengangguk. "Ya sudah, gue pergi dulu ya. Ada perlu sama temen."
Nadia beranjak dari tempatnya, melambai setengah tangan tersenyum menatap Reihan. Reihan mematung, mulutnya membuka. Baru kali ini Nadia tersenyum manis di depannya.
Audy yang melihat expresi dari Reihan pun kesal, lalu menonyor kepalanya. Reihan tersadar dari lamunannya.
"Apaan sih lo!"
"Lo tu ye. Baru di senyumin sama Nadia saja sudah klepek-klepek. Apa lagi dicium, sudah meninggal kali," ucap Audy kesal.
"Tega amat nyumpahin temen sendiri. Tapi, gue seneng banget!" Reihan memegang tangan Audy dengan wajah riang.
Audy tersenyum kecut melirik Reihan. "Seneng lo ye."
"Kira-kira Nadia ngomong apa ya."
Reihan tejebak dengan pikirannya, sedangkan Audy beranjak meninggalkannya. Audy mulai merasa tersisihkan dari Reihan. Harusnya Audy tidak bertanya kepada Reihan kemarin. Kini tiap hari Reihan selalu menanyakan kabar Nadia kepadanya.
Beberapa menit kemudian Reihan tersadar dari khayalannya, dia menoleh kesamping. Audy sudah tidak ada di tempat.
Sore harinya Reihan menunggu Nadia di tempat parkir. Nadia melambaikan tangan tersenyum melihat Reihan.
"Sudah lama nunggu ya," ucap Nadia menghampiri Reihan.
"Nad, lo mau pulang dengan si jambang ini?" cibir Aldo yang juga ada disana.
"Ya jelas ini urusan gue, Nad. Lo masih cewek gue."
Nadia menatap tajam Aldo. "Gue lebih baik pulang sama Reihan dari pada pulang sama lo."
Aldo terdiam, dengan wajah geram dia masuk mobil. Raut wajah Nadia berubah kecewa saat Aldo pergi. Nadia menatap mobil Aldo yang semakin jauh dari pandangan.
"Nad, lo gak pa-pa, kan?" Reihan menyadarkan lamunan Nadia.
"Gak ... gak pa-pa. Ayo kita pergi." Nadia sedikit kaget, dengan spontan mengajak Reihan pergi.
Audy yang hendak menemui Reihan malah melihat Reihan pergi dengan Nadia. Reihan lupa kalau sore ini dia ada janji dengan Audy. Audy berdiri lemas dengan mata sembab melihat Reihan berboncengan dengan Nadia.
"Kok lo jahat sih, Rei. Sama gue." Audy bermonolog di depan lapangan parkir yang mulai sepi. Tanpa sadar bulir bening menetes di pipinya.
"Nad, kita mau kemana?" tanya Reihan saat di perjalanan.
"Terserah lo saja deh, Rei."
"Kita ke cafe sajalah ya."
Nadia mengangguk.
Reihan membawa Nadia ke cafe tempat biasa Reihan nongkrong. Cafe yang unik dengan lampu kerlap-kerlip yang dipasang di setiap pilar. Nadia dan Reihan duduk lesehan saling berhadapan sambil menikmati minuman hangat.
"Rei."
__ADS_1
"Iya, Nad." Reihan terlihat gugup. Ini pertama kalinya dia duduk berdua dengan Nadia.
Nadia terdiam sejenak. "Gue minta maaf ya selama ini nuduh lo yang gak-gak."
"Maksudnya." Reihan tidak paham.
"Pokoknya gue mau minta maaf sama lo. Lo mau 'kan maafin gue." Nadia memegang tangan Reihan.
Reihan terkejut, salah tingkah. "I-iya gue maafin lo. Memang lo salah apa sih sama gue, Nad."
Nadia terdiam, belum bisa mengatakan sekarang. Reihan minum seteguk cappucino panas untuk mengurangi rasa gugupnya. Suasana menjadi lengang, hanya suara musik melankolis yang menambah suasana jadi lebih romantis.
"Lo kalau butuh bantuan bilang saja ke gue, Nad."
Nadia tersenyum. "Makasih, Rei."
"Lo ada masalah sama Aldo?" tanya Reihan.
Nadia tersenyum simpul. Reihan memberanikan diri memegang tangan Nadia. Jantung Reihan berdegup kencang saat Nadia tidak menolak di pegang tangannya. Wajah Nadia terlihat sayu, ada sesuatu yang di sembunyikan. Mereka berdua berada di cafe selama satu jam, lalu Nadia mengajak pulang.
Di rumah, Audy terlihat resah dengan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat tidak bersahabat duduk di teras. Audy sedang menunggu Nadia. Audy ingin marah dengan Reihan, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan.
Reihan Dan Nadia datang berboncengan berdua. Wajah mereka berdua terlihat ceria saling melempar senyum. Nadia melambaikan tangan saat Reihan pergi, lalu dia masuk rumah melihat Audy duduk di teras dengan wajah masam.
"Kak Audy?" sapa Nadia tersenyum melewati Audy.
Audy tersenyum kecut melihat Nadia. Mau marah tapi adiknya sendiri. Audy seperti orang aneh, sudah jelas-jelas dia pasti cemburu, tapi dia masih saja menunggu kedatangan Nadia. Apa yang dia tunggu hanya membuat dia sakit hati.
Audy terperanjat saat Nadia menepuk bahunya dari belakang. Nadia minta maaf tidak sengaja membuat kakaknya kaget.
"Ada apa, Nad?" Audy menyembunyikan rasa kesalnya.
"Nadia mau ngomong sama, Kakak."
"Duduk saja di sini, Nad?"
Nadia duduk di teras samping Audy.
"Kakak jujur ya sama Nadia."
"Iya."
"Kakak suka ya sama Reihan?" tanya Nadia santai.
Jantung Audy serasa mau copot saat Nadia bertanya seperti itu. Audy harus jawab apa? Jangan-jangan Nadia juga suka sama Reihan. Terus nasibnya gimana?
Audy tertawa lepas. "Ya gak lah, Nad. Mana mungkin Kakak suka sama Reihan."
"Nadia gak percaya. Nadia pernah lihat Kak Audy senyum-senyum sendiri saat di bonceng sama Reihan."
Audy kembali tertawa. "Itu cuma iseng saja, Nad. Kak Audy sudah biasa bercanda sama Reihan dan Levi. Kamu tau sendiri, Kan?"
Bersambung ...
__ADS_1