
"Supaya Amanda gak salah paham sama gue."
Nadia sedikit menunduk sambil mengulum bibirnya. "Jadi biar lo bisa seenaknya main sama cewek murahan ini gitu."
Amanda menggebrak meja. "Jaga mulut lo ya! Lo yang murahan."
Nadia tersenyum sinis. "Gue sudah sah jadi istri pria bajingan ini. Lo cuma seorang pelakor."
Amanda hendak melayangkan tangannya ke pipi Nadia, tapi Aldo segera mencegahnya.
"Lepasin gue, Do. Biar gue kasih pelajaran sama cewek gak tau diri ini!" geram Amanda.
Nadia berdiri, lalu tangannya menjambak rambut hitam Amanda hingga kepala ikut tertarik ke belakang.
"Ach ...!" jerit Amanda.
Nadia menatap tajam Amanda, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Amanda. "Dengar ya pelakor. Selama Aldo masih jadi suami gue lo gak bakal menyentuh dia."
Amanda terlihat kesakitan. Aldo segera menyuruh Nadia untuk melepas tarikan tangannya. Nadia melepaskannya. Amanda terlihat takut dengan Nadia. dia langsung pergi meninggalkan Aldo tanpa sepatah kata pun. Aldo ingin mengejarnya, namun Nadia langsung menarik tangan Aldo, kemudian menamparnya. Aldo memegang pipinya sambil menatap tajam Nadia.
"Apa! Berani lo sama gue!" Nadia balas melotot ke arah Aldo.
Aldo kembali teringat ucapan papanya, dia tidak berani menyakiti Nadia.
"Gara-gara tu cewek, gue belain pria bajingan kayak lo. Najis!"
Aldo hanya mendengus kesal menatap Nadia.
"Kita pulang," desak Nadia.
"Tapi ..."
"Gak ada tapi-tapian. Kalau lo gak mau ikut pulang, gue aduin sama Om Tio."
Aldo mengeraskan rahang, ingin rasanya berteriak. Aldo merasa kebebasannya telah direnggut oleh Nadia. Namun, Aldo tidak bisa berbuat apa-apa. Atau, fasilitas yang selama ini dipakai akan diambil secara paksa oleh papanya. Yang bisa dilakukan Aldo hanya bisa bersabar menghadapi sifat galak Nadia.
Di rumah, Audy terlihat tengah asyik menonton film drakor kesukaannya. Tiba-tiba handphone nya berbunyi. Ryan mengirim pesan kepada Audy, katanya dia ingin besok menjemput Audy berangkat ke kampus.
Ini kesempatan Audy untuk membuat Reihan cemburu. Audy pun mengiyakan ajakan Ryan. Audy merebahkan diri ranjangnya sambil tersenyum. Dia tidak sabar melihat expresi Reihan besok.
Esok paginya, Audy berada di depan cermin, berpenampilan secantik mungkin dengan celana skinny dan kemeja biru garis-garis, ditambah syal warna-warni melingkar di lehernya. Audy terlihat cantik dengan rambut bergelombang yang tergerai indah.
Audy turun dari tangga, Nadia yang melihatnya memuji penampilan Audy.
"Kakak cantik banget?"
__ADS_1
Audy tersenyum tipis mengucapkan terima kasih.
"Nadia berangkat duluan ya, Kak?" Nadia dan Aldo pun keluar bersama. di ikuti Audy yang sedang menunggu Ryan bukan Reihan. Ryan terlihat sudah datang dengan mobil alpard berwarna hitam berhenti tepat di pintu pagar rumah Audy
Aldo yang ingin keluar pun melihat mobil yang biasa dipakai temannya. Aldo membuka kaca mobil.
"Ryan ngapain lo ada di sini," ucap Aldo.
"Gue mau nganter Audy."
"Aldo tersenyum lebar. "Sukses deh! Gue duluan ya."
Ryan mengacungkan jempol saat kaca mobil Aldo kembali tertutup.
Tak berselang lama motor vespa Reihan datang.
Audy mendekati Reihan. "Maaf, Rei. Kali ini gue gak bareng dulu ya. Soalnya sudah ada yang jemput."
"Kenapa gak bilang sih, Dy?" Reihan terlihat kesal.
"Gue lupa, semalam gue sibuk nonton drakor. Gak pa-pa, kan."
Reihan berdecak, dengan raut wajah masam dia melajukan motornya. Audy tersenyum melihat Reihan yang terlihat cemburu.
Sementara Reihan mengendarai motornya menatap tajam ke depan. Reihan hampir saja menabrak mobil yang ada di depannya karena tidak fokus. Untung saja dia segera mengerem.
Reihan tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa dia merasa marah saat Audy bersama dengan Ryan. Reihan memukul kaca spidometer kesal terhadap dirinya sendiri.
Sesampainya di kampus, Reihan melihat Audy duduk di taman siswa dengan beberapa cowok yang hendak merayunya dengan berbagai cara. Ada yang membawa bunga, berpuisi bahkan ada yang bermain sulap supaya Audy bisa tertawa.
Audy tertawa lepas melihat rayuan mereka. Bagi Audy ini hanya sebuah candaan di pagi hari. Audy tanpa sadar sudah menjadi idola baru di kampus ini setelah Nadia.
Reihan menghampiri Audy menyuruh para pria yang merayu Audy pergi.
"Reihan lo apaan sih!" omel Audy.
"Gue gak suka lihat lo dideketin sama cowok," ucap Reihan.
"Kenapa? Itu 'kan hak gue sebagai cewek cantik di kampus ini." Audy mengibaskan rambutnya.
"Gue gak suka saja." Reihan berdalih.
"Lo gak berhak ngatur hidup gue. Lo cuman sahabat gue, gak lebih dari itu," ucap Audy di depan wajah Reihan.
"Tapi, Dy ..."
__ADS_1
"Ahh ... sudahlah. Gue mau makan, lapar pagi-pagi lihat orang ngeselin." Audy pergi dari hadapan Reihan.
"Audy ...! Dengerin dulu!" Reihan mmanggil.
Audy hanya menoleh menatap sinis Reihan, lalu kembali berjalan menjauh dari Reihan. Reihan kesal menendang rumput liar yang ada di depannya.
Audy melihat Levi sedang sarapan pagi. Audy ikut duduk di depan Levi.
"Putri keong, pagi-pagi sudah cemberut saja," goda Levi sambil mamasukan satu suapan nasi ke mulutnya.
"Lo itu kalau cemburu nyebelin," cibir Audy menatap Levi.
Levi pun menjadi heran. "Apaan?"
"Makanya lo peka dong jadi cowok. Jangan ego saja yang digedein." Audy cemberut menatap Levi.
Levi semakin tidak mengerti. "Lo salah minum obat ya?"
"Gue itu dandan cantik kayak gini demi lo," ucap Audy.
"Lo kenapa sih, Dy. Gue gak paham maksud lo!" Levi ikut kesal.
Audy malah memukul meja yang membuat Levi terperanjat, lalu dia beranjak dari kursinya dengan bibir manyun.
Levi menggeleng melihat punggung Audy. "Tu bocah, makin cantik makin sarap."
Di sisi lain, Aldo dan Nadia tengah asyik duduk di tribun lapangan basket sambil ngemil makanan ringan.
"Kelihatannya Ryan cocok deh sama Audy," ucap Aldo.
"Kalau dia gak bajingan kayak lo gue setuju saja," balas Nadia.
Wajah Aldo pun menjadi masam. "Lo gak bisa ya diajak bicara baik-baik sedikit saja."
"Bisa. Asal lo gak punya maksud tertentu. Gue tau tujuan lo jodohin kak Audy sama Ryan karena lo masih dendam 'kan sama Reihan," ucap Nadia.
"Aku dendam apa! Reihan itu gak ada apa-apanya bagi gue!" seru Aldo.
"Memang gue gak tau apa. Lo pernah hampir nidurin sepupunya Reihan 'kan. Tapi, gagal karena Reihan mergokin lo. Gara-gara itu lo di keluarkan dari sekolah," ucap Nadia.
Aldo berdecak kesal.
"Kenapa? Lo kaget gue tau tentang masa lalu lo? Makanya lo jangan coba-coba bohong deh sama gue," ucap Nadia.
Bersambung ...
__ADS_1