Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Curang.


__ADS_3

dan ternyata berat Audy 77 kg berbeda dari yang sebelumnya.


"Lho kok cuma tujuh puluh tujuh, tadi pagi tujuh puluh lima kilo." Audy merengek.


"Berarti gue yang menang," ucap Reihan riang.


"Rusak nie timbangannya," ucap Audy.


"Mana ada rusak, timbangan kampus gak pernah rusak," sahut Levi.


Audy tampak stres mengacak-acak rambutnya. "Gimana sih."


Reihan menang membusungkan dada. "Berarti lo harus nepatin janji ke gue."


Audy memajukan bibirnya menatap Reihan sinis.


"Sudah gak usah di imut-imutin wajahnya. Gimana kalau gue traktir makan lo. Untuk merayakan hari kemenangan gue," ajak Reihan


Audy mengangguk masih memajukan bibirnya sambil menghentakkan satu kakinya.


"Gue ikut dong!" sahut Levi.


"Boleh, tapi bayar sendiri," balas Reihan berjalan membelakangi Levi.


"Pelit lo," cibir Levi.


Reihan merasa bodo amat dengan Levi. Dia berjalan menggandeng tangan Audy meninggalkan Levi di ruang olah raga. Namun, Levi memaksa ikut di belakang.


"Jangan curang lo. Masak Audy di ajak gue gak?"


Reihan merasa risih dengan Levi. "Ya sudah deh ikut. Tapi, jangan lebih dari sepuluh ribu," ucap Reihan.


"Sepuluh ribu cuma dapat nasi gak pake minum," bujuk Levi.


"Levi! Kamu bisa diam gak sih. Sudah di syukuri saja, dari pada gak sama sekali," omel Audy.


Levi berdecak kesal terpaksa menuruti perintah Audy.


Sebenarnya Reihan mentraktir Audy supaya berat badannya naik lagi. Reihan takut kalau nanti Audy tau kalau Reihan telah berbuat curang.


"Dy, hari ini lo mau makan apa saja terserah. lo juga Levi," ucap Reihan.


"Beneran?" Levi senyum sumringah.


"Ayo Levi pesen sebanyak-banyaknya buat pelampiasan," Seru Audy.


"Siap."


Audy memesan satu porsi nasi dan dua dada ayam ditambah jus alpukat. Sedangkan Levi memesan satu porsi nasi dan dua ikan lele goreng ditambah jus alpukat.


"Buset dah ... bisa rugi gue," gumam Reihan.


Mereka berdua makan dengan lahapnya sampai hanya menyisakan tulangnya saja.


"Kenyang ...," ucap Levi puas.


Reihan yang melihat hanya bisa menelan ludah. "sudah kenyang?"


"Levi mengangguk. "Thank you ya, bro."


Reihan berdecak. "Makan banyak, tapi kok badan lo tetap kurus sih, Lev?"


"Banyakan dosa kali," celetuk Audy sambil tertawa.


Reihan pun ikut tertawa. "Banyak makan uang haram."

__ADS_1


"Memang gue pejabat yang suka korupsi," balas Levi.


Audy dan Reihan tertawa saling curi pandang dan malu dengan sendirinya.


"Kelihatannya ada yang falling in love nie," goda Levi.


Audy melotot menginjak sepatu Levi.


"Auw ... sakit!" Levi segera mengangkat kakinya.


"Makanya jangan ngasal," ucap Audy.


"Yaela ... gue cuma bercanda diinjek beneran," protes Levi.


"Lagian ... bercanda lo gak lucu. Gue gak mungkin suka sama Reihan." Audy melirik Reihan.


Reihan hanya tersenyum tipis menatap Audy dan Levi yang selalu bertengkar.


"Pulang yuk!" ajak Reihan.


"Kalian duluan deh! Gue lagi nunggu si bos," ucap Levi.


"Dasar lo ... mau saja diperalat Aldo," cibir Audy sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Dari pada diperalat sama lo. Gak ada duitnya," balas Levi.


Audy menghentikan langkah melirik sinis ke arah Levi. Levi segera kabur sebelum Audy marah.


"Sudah biarin saja. Namanya juga Levi." Reihan memegang bahu Audy.


Audy mengangguk berjalan beriringan dengan Reihan.


"Rei, ke Mall dulu yuk!"


"Ngapain sih ke Mall."


"Pakaian lo 'kan sudah banyak."


"Baju gue sudah pada kegedean semua, Gue mau beli pakaian yang pas buat gue," ucap Audy.


"Ya sudah deh ayo."


Mereka berdua menuju Mall terdekat. Audy membeli dua steel pakaian.


"Penampilan lo jadi berubah gini, siapa yang nyaranin?" tanya Reihan.


"Nadia," jawab Audy singkat.


Reihan mengulum bibirnya menahan tawa. "Gak salah. Dulu lo anti banget sama Nadia."


Audy melirik kesal. "Itu 'kan dulu. Kenapa ... lo gak suka sama penampilan gue."


"Bukan gitu ... lucu aja. Tapi gue jujur suka sama penampilan lo sekarang. Lebih cantik dan punya daya tarik," puji Reihan.


"Makasih Reihan." Audy tersenyum meledek.


"Tapi sayang ... o'on nya masih di pelihara," ledek Reihan.


Audy melirik kesal menepuk bahu Reihan hingga hampir terjatuh dari eskalator.


"Lo gak kira-kira ya. Kalau gue jatuh gimana."


"Jatuh ya bangun."


"Kalau gak bisa bangun," pancing Reihan.

__ADS_1


"Sini biar gue bangunin." Audy mendelik ke arah Reihan.


Reihan sedikit salah tingkah dengan ucapan ambigu mereka berdua. Audy pun baru tersadar apa yang baru saja dia ucapkan. Mereka berdua saling curi pandang dengan wajah bersemu merah.


Di perjalanan Reihan dan Audy diam saja tidak seperti biasanya yang selalu mendebatkan hal-hal yang tidak penting. Sampai di rumah Mereka berdua hanya tersenyum dan melambaikan tangan satu sama lain.


Audy masuk rumah, dia teringat kemarin siang saat dia menimbang tubuhnya di kampus. Audy penasaran, dia kembali menimbang tubuhnya kembali. Beratnya tidak berubah 75 kg.


Audy jadi berpikir, kenapa timbangan rumah dan kampus beda. Ini pasti ada yang tidak beres. Audy berniat untuk memeriksa timbangan yang ada di kampusnya besok.


Nadia terlihat baru pulang di antar Aldo pacarnya.


"Hey, Nad?"


Nadia tersenyum. "Gimana taruhannya."


"Kakak kalah, Nad." Audy mengajak duduk Nadia di ruang tamu.


"Lha ... kok bisa. Kan sesuai pejanjian turun 10kg," ucap Nadia.


"Tadi waktu Kak Audy timbang di kampus berat Kak Audy 77 kg. Tapi pas Kakak timbang disini 75 kg," ucap Audy.


"Kok aneh."


"Kakak curiga sama Reihan. Dia 'kan pinter ngerjain orang," ucap Audy.


"Iya tu, Kak. Besok kita cek timbangannya bareng."


Audy mengangguk.


"Besok Kak Audy berangkat bareng Nadia saja. Kita lebih pagi supaya Reihan tidak tau," ucap Nadia.


Esok harinya, Nadia dan Audy berangkat lebih awal dari biasanya. Kampus masih sepi, hanya satpam dan tukang kebun yang beraktifitas. Kakak dan Adik itu segera menuju ruang olah raga. Audy kembali menimbang tubuhnya di timbangan itu.


"Tu kan, Nad. berat Kakak di sini 77 kg."


"Kok aneh ya." Nadia coba memeriksa timbangan itu.


Ternyata, dibawah timbangan itu ada sebuah keramik lantai yang diselipkan di bawah timbangan itu.


Nadia mengambil keramik itu. "Ini dia penyebabnya."


"Pasti Reihan tu yang nyelipin keramik di timbangan supaya beratnya naik."


"Coba badan Kak Audy ditimbang lagi."


Audy mencobanya sekali lagi. Ternyata beratnya Audy 75 kg.


"Awas lo Reihan." Audy mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya.


"Suruh timbang ulang lagi saja, Kak. Memang rese tu anak." ucap Nadia.


Audy mengangguk, lalu mengambil handphone nya menelpone Reihan.


📲"Halo, Reihan!"


📲"Iya ... gue mau mau berangkat."


📲"Lo gak usah jemput gue, langsung berangkat saja."


📲"Kenapa?"


📲"Gue lagi ada acara keluarga."


📲 Ya udah deh."

__ADS_1


Audy menutup panggilannya.


Bersambung ...


__ADS_2