
Reihan mulai menghidupkan mesin, cuma bunyi tek, tek, tek.
"Kenapa lagi sih, Rei?"
"Gak tau nie, tiba-tiba gak nyala."
"Duh ... Rei kok bisa sih, Rei?" Audy begitu kesal ada-ada saja kejadian yang di alaminya hari ini.
"Gue cek bentar," ucap Reihan.
Reihan sengaja mengulur waktu supaya Audy tidak jadi ngegym bareng Nadia.
"Sudah belum sih, Rei. Lama amat!" omel Audy.
"Kayaknya harus dibawa ke bengkel deh," jawab Reihan.
"Ya sudah deh, gue mau pesen ojeg aja."
"Ngapain ... bentar lagi juga nyala mesinnya tinggal dibawa ke bengkel sebentar saja."
"Ya sudah cepet!" Audy memanyunkan bibirnya dengan wajah masam.
Reihan kembali berulah, dia sengaja memutar jalan mencari bengkel yang jaraknya jauh.
"Mana sih Rei bengkelnya. Dari tadi kita jalan gak nemu bengkel juga."
"Sabar, nanti juga ketemu."
"Kalau kayak gini gue bisa telat, Reihan!"
"Ya sudah ditelpone saja dulu adik lo," ucap Reihan.
Audy mengambil handphone dari dalam tas nya menelpone Nadia.
Audy berdecak. "Hp nya tidak aktif."
Reihan menyembunyikan senyumnya dari Audy.
"Nah itu ada bengkel!" tunjuk Reihan.
"Ya udah, cepetan gie."
"Lo tunggu di sini aja, biar gue yang kesana. Takutnya nanti baju lo kotor kena serpihan besi dan oli," ucap Reihan.
Audy mengangguk percaya.
Reihan menghampiri pemilik bengkel. "Pak tolong pasangin busy ini , sekalian nitip motor bentar. Setengah jam lagi saya kesini."
"Iya, beres," ucap pemilik bengkel.
Reihan kembali menghampiri Audy yang berdiri di pinggir jalan.
"Kok lo kesini sih, Rei. Bukan nungguin motor lo?" tanya Audy.
"sudah gak pa-pa, bapaknya baik kok."
"Terserah lo deh."
"Lo laper gak?" tanya Reihan.
"Laper sih, kaki juga pegel," jawab Audy.
"Di sebrang ada warteg tu, makan yuk."
Audy berpikir sejenak. "boleh deh."
"Rei lo mau pesen apa?" tanya Audy.
"Lo duluan saja yang pesen."
__ADS_1
"mbak saya mau ati ampela sama telor, terus sayurnya kangkung sama capcay," ucap Audy.
"Minumnya apa, Mbak?" tanya pelayan warteg itu.
"Es teh saja," jawab Audy.
"Saya juga, Mbak. Es teh satu!" sahut Reihan.
"Kok lo gak makan sih, Rei?" tanya Audy.
"Gue masih kenyang, lo saja yang makan."
"Gak asyik lo," cibir Audy.
Audy mulai makan dengan lahap, lima menit kemudian, Audy menghabiskan makanannya.
"Kenyang ya," ucap Reihan tampak bahagia.
"Kenyang, Rei. Ayo Antar gue pulang!" ajak Audy.
"Bentar, motornya masih diperbaiki," ucap Reihan.
"Lama amat sih! Gue naik ojeg sajalah ya?"
"Gak usah." Reihan berusaha menahan Audy.
"Tapi kalau gue nungguin motor lo selesai gue bisa telat," rengek Audy.
"Kagak, tenang saja. Lagian lo 'kan habis makan. Biar nasinya turun dulu di perut lo."
Setengah jam kemudian Reihan mengambil motornya. "Makasih, Pak!"
"Sama-sama," ucap bapak pemilik bengkel.
Reihan menghampiri Audy. "Ayo naik."
Audy dengan wajah masam melihat Reihan. "Pantat lo majuin dikit.
Reihan melajukan motornya dengan pelan.
Audy kembali protes. "Rei, pelan amat. Kalau kayak gini kapan sampainya."
"Kata bapak pemilik bengkel harus pelan dulu, takutnya kalau ngebut nanti mogok lagi motornya," alasannya Reihan.
Audy kembali merengek. "Aduh, Reihan ini sudah jam empat, Kalau lo pelan kayak gini sampai rumah jam berapa."
"Sabar, yang penting sampai rumah," ucap Reihan sambil menyembunyikan senyumnya.
Audy pun nemukul helm yang dipakai di kepala Reihan. Handpone Audy berbunyi, itu Dari Nadia.
📲"Kak Audy ada dimana?"
📲"Iya, Nad. Ini lagi di perjalanan. Tadi motornya Reihan mogok."
📲"Yah, Kak. Nadia sudah telat nie, pelatih fitnes Nadia sudah gak bisa nunggu lagi. Dia banyak urusan."
📲"Yah, Nad. Tungguin dong."
Nadia mematikan handponenya sepihak.
📱"Nad, Nadia. Yah di matiin."
"kenapa?" tanya Reihan.
Audy kembali memukul helm yang di pakai Reihan. "Gara-gara lo, gue gak jadi fitnes lagi."
"Memang kenapa?"
"Nadia sudah berangkat duluan."
__ADS_1
Reihan tersenyum menang. "Ya sudah lewat jalur alternatif saja biar lebih cepat."
Reihan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
"Katanya motor gak boleh jalan kencang, Rei!" teriak Audy berusaha mengalahkan suara angin.
"Gak pa-pa yang penting lo cepet sampai rumah," balas Reihan.
Lima belas menit kemudian Reihan sudah berada di depan rumah Audy.
"Lo kenapa?" tanya Reihan.
"Lo nyetirnya gak kira-kira, gue 'kan duduknya miring. Ya gue takut jatuhlah. Tadi itu sama saja gue naik rollercoaster tau gak!" hardik Audy.
"Iya maaf yang penting 'kan lo sudah sampai rumah," jawab Reihan.
"Percuma juga gue sampai rumah, Nadia sudah berangkat." Audy memarahi Reihan sambil membuka helmnya.
Reihan tersenyum nyengir. "Gue pulang dulu ya."
Audy menghela napas melihat punggung Reihan yang semakin jauh dari penglihatannya.
Di rumah Ayu menegur Audy. "Kamu itu kemana saja sih, ditunggu adik kamu gak datang-datang."
"Maaf, Ma. Tadi motornya Reihan mogok di jalan. Habis itu montirnya lama banget benerinnya motornya," jawab Audy duduk kelelahan di ruang tamu.
"Kamu itu niat gak sih ikut Nadia ngegym. Adik kamu itu sudah baik nungguin kamu dari tadi."
'Iya, Ma. Iya! Baru dateng dimarahin mulu," ucap Audy.
Ayu mendengus menatap anak sulungnya. Audy menaiki tangga menuju kamarnya.
beberapa jam kemudian, Nadia pulang dari tempat gym. Audy terlihat duduk di ruang tamu sambil ngemil keripik kentang kesukaannya. Nadia duduk disamping kursi Audy menaruh tasnya di bawah.
"Tadi Kakak kemana saja sih ...?" tanya Nadia.
"Sorry banget, Nad. Tadi motornya Reihan mogok."
"Reihan lagi."
Suasana lengang. Audy masih asyik memakan kripik kentangnya.
"Tunggu deh, Kak." Nadia mulai merasakan ada yang tidak beres.
Audy menatap Nadia.
"Kak Audy taruhannya sama Reihan, kan? Jangan-jangan ini siasat Reihan supaya Kak Audy malas berolahraga."
Audy terdiam, lalu mematung membuka mulutnya.
"Ach ... Reihan ...!" Audy baru terpikir hal itu. Pantas saja Reihan akhir-akhir ini sering mengajaknya makan. Suasana rumah menjadi heboh, untung saja mamanya sedang pergi ke toko kue nya.
Audy segera mencari timbangan, 90 kg berat Audy, naik lima kilo. Audy menjerit panik, waktunya tinggal tiga minggu lagi.
"Aduh ... gimana ni, Nad?" rengek Audy.
"Kak Audy tenang dulu dong? Atur napas."
Audy mulai ngatur napasnya, hirup dalam-dalam, lalu dihembuskan.
"Tenang saja masih ada tiga minggu. Nadia akan bantu Kak Audy. Tapi, itu juga tergantung Kak Audy."
"Apa, Nad?"
"Kak Audy harus jaga pola makan, jangan mau di ajak makan Reihan lagi. Modus." Nadia memberi tau kepada Audy.
"Baik, Nad? Kakak Akan berusaha mengikuti saranmu."
"Ini harus di lakukan, Kak. Kalau gak Kak Audy akan memberi camera keluaran terbaru kepada Reihan secara cuma-cuma," ucap Nadia
__ADS_1
Bersambung ...